
..."Jangan mempermainkan rasa sabar seseorang hanya karena kau tahu dia baik dan tidak tegaan, sebab jika api itu menyala besar kau akan sulit memadamkannya."...
......____________________......
Aleta tampak gelisah, ia terus saja membolak-balikkan tubuhnya saat hawa dingin menerpa dirinya sehingga membuat bulu kuduknya meremang. Aleta terduduk dan mengerjapkan mata kemudian menatap jam yang menggantung di badan kapal, jarum jam tersebut menunjukkan pukul 01.15 dini hari.
"Sial, aku tidak bisa tidur! rasanya lama sekali jarum jam itu berputar!" gerutunya berdecak kesal.
Ketika ombak laut yang cukup kuat menghantam kapal, Aleta terbelalak ketakutan. Ia merasakan sendiri bagaimana kapal itu terombang-ambing mengikuti arus ombak yang menghantamnya.
Belum lagi bohlam lampu yang berkedip-kedip secara tiba-tiba, membuat Aleta semakin bergidik ngeri. Ia berniat keluar dari ruang itu untuk menghampiri Damar.
.
.
.
.
Diketuknya pintu kamar, namun tak terdengar sautan apapun dari dalam sana. Aleta menyentuh handle pintu yang ternyata tak terkunci. Ia menyembulkan kepalanya guna melihat situasi dari dalam kamar.
Damar nampak tenang dan nyaman saat tidur di atas ranjang yang empuk. Aleta berjinjit perlahan mendekati Damar lalu mengibaskan tangan di depan wajah Damar, memastikan bahwa pria itu benar-benar tertidur pulas sehingga tak merasakan apapun saat kapal itu berayun tak tentu arah.
Setelah tak ada reaksi apapun dari Damar, Aleta berusaha menarik selimut tebal yang saat itu melekat ditubuh Damar. Dengan hati-hati ia menariknya, hingga Damar ikut sedikit tergeser.
Susah payah Aleta menarik selimut itu yang tak jua terlepas dari tubuhnya. Namun Aleta tak menyerah sampai disitu, ia terus berusaha untuk mengambil selimut tersebut.
"Hei wanita bodoh!"
Damar mengigau, membuat Aleta segera menghentikan aksinya dan segera berjongkok menyembunyikan diri di samping ranjang.
"Huft, hampir saja!" ucapnya lega sambil mengusap dadanya.
Aleta mengangkat kepalanya guna memeriksa keadaan Damar yang ternyata masih tertidur pulas. Kembali Aleta berdiri dan menarik selimut itu untuk segera terlepas dari tubuh Damar.
Kali ini usahanya sedikit lebih berani tak seperti sebelumnya yang begitu hati-hati. Ia sedikit kesal, sebab Damar tetap saja mengejeknya wanita bodoh meski pria itu dalam keadaan tidur.
Ditariknya selimut itu yang hampir terlepas hingga membuat Damar terjatuh dari ranjang. Dengan kasarnya Aleta mengambilnya dari tubuh Damar.
"Rasakan itu kepala batu! enak saja kau menyebutku wanita bodoh!" umpatnya sebelum pergi.
...***...
Sejuknya hawa pagi menyapa lembut Damar yang masih tertidur di bawah lantai. Sinarnya menusuk penuh arti dari balik tirai kapal dan anginnya pun ikut bersemayam tanpa pilih-pilih.
__ADS_1
Terdengar suara kicauan burung-burung yang bersautan saat berterbangan di atas langit, mungkin burung-burung itu hendak menyapa alam dan seluruh isinya.
Damar mengerjap lalu merasakan punggungnya yang terasa sakit akibat tidur di bawah lantai. Setengah terkejut dan tak percaya, bagaimana bisa ia terjatuh dari ranjang sementara yang ia tahu kemarin malam ia masih berada di atas ranjang.
"Tidak mungkin aku bisa terjatuh saat tidur!"
Gumam Damar mengerinyit sambil mengingat kembali kejadian apa yang di alaminya.
.
.
.
.
Setelah membersihkan diri Damar tengah siap untuk menyantap sarapan paginya. Ia pun melangkah keluar dan berjalan santai menuju ruang makan.
Langkah kakinya terhenti saat melihat Aleta tertidur di sofa, ia menghampiri dan berkacak pinggang sambil memasang raut wajah sinis saat melihat Aleta tertidur dengan selimut tebal miliknya.
"Rupa-rupanya wanita ini pelakunya! hebat sekali dia bisa membuatku tertidur di bawah lantai," ucap Damar ketus.
Damar berjongkok menatap wajah Aleta yang masih tertidur pulas. Pandangannya tak lepas pada wajah Aleta yang terlihat begitu teduh dan damai. Damar menyingkap anak rambut yang menghalangi wajah cantik Aleta.
"Cantik" Puji Damar sambil mengulas senyum.
...***...
Emir tengah menunggu Aleta di teras depan rumahnya sejak tadi, ia berharap hari ini Aleta akan menceritakan yang sebenarnya padanya agar ia bisa melanjutkan rencana selanjutnya.
Mondar-mandir di depan pintu rumah sambil menggerutu. Ia tidak ingin anaknya itu dekat dengan Damar sebelum rencana yang ia susun berjalan dengan lancar.
Saat ini ia sangat membutuhkan Aleta untuk membantunya melancarkan segala aksinya. Emir tidak akan pernah berhenti untuk menghancurkan keluarga Damar sampai semua dendamnya terbalaskan.
"Lama sekali anak itu datang? aku sudah bosan menunggunya di rumah kumuh ini!" ucap Emir jengkel.
Ting!!
Satu pesan masuk dari ponselnya. Emir melihat pesan tersebut yang di kirim oleh Kemal.
°Kemal°
Anakmu saat ini sedang bersama Damar, sepertinya mereka melakukan sebuah perjalan menggunakan kapal pesiar. Kau kalah satu langkah dari pria muda itu kawan.
Emir mendengus kesal dan marah saat mendengar kabar mengenai keberadaan Aleta saat ini. Sorot matanya tajam hingga terlihat kilatan-kilatan merah diikuti kepalan kuat tangannya.
__ADS_1
"Aarghhh, berengsek!!!"
Jerit kemarahan Emir menggelegar di setiap sudut rumahnya. Emosinya memuncak mengetahui bahwa dirinya selalu gagal untuk menjatuhkan Damar.
...***...
Damar menikmati keindahan laut setelah menyelesaikan sarapannya, menghirup udara segar yang berhasil masuk di rongga hidungnya. Pagi itu sepertinya ia terlihat begitu senang, meski ia tak tahu apa yang membuat dirinya bahagia.
Aleta menyusul Damar setelah terburu-buru menghabiskan sarapannya. Ia kembali berusaha meminta Damar agar mengantarnya pulang, dengan beribu alasan yang tak jelas.
"Damar, sebaiknya kita pulang saja!" ucapnya lagi dan lagi.
Damar hanya melirik sekilas sambil mengeluarkan semirknya. Ia tak mudah percaya begitu saja dengan alasan yang Aleta ucapkan. Cukup mudah baginya mengetahui kebohongan akan ucapan yang Aleta lontarkan.
"Kau ingin kita pulang?" tanya Damar.
Aleta mengangguk cepat dan yakin.
"Baiklah, kita akan pulang sebelum kau menjawab pertanyaan-pertanyaan dari ku!" kata Damar setelah terbesit satu ide untuk menjebaknya.
Berpikir sebentar. "Ok!" serunya cukup yakin.
Damar tersenyum puas saat Aleta berhasil masuk kedalam perangkapnya.
"Cepat katakan apa yang ingin kau tanyakan!" ucap Aleta tak sabar menunggu pertanyaan dari Damar.
Sambil menyilangkan tangan di depan dada Damar siap mengajukan beberapa pertanyaan pada Aleta.
"Pertanyaan pertama, kenapa kau mengubah namamu menjadi Kyla?"
Aleta terdiam sejenak. "Karena aku tak suka memakai nama itu." Jawabnya bohong.
Damar melirik, ia tahu bawa Aleta tengah berbohong.
"Pertanyaan kedua, Sejak kapan kau pergi dari panti?"
"Saat aku berumur 7 tahun." Jawab Aleta yang kali ini jujur.
"Lalu, kenapa orangtua mu membuang mu ke panti asuhan?" lanjut Damar.
Aleta kembali terdiam menjawabnya, ia juga tak tahu pasti alasan Ayahnya menitipkannya di panti itu.
"Kenapa tidak menjawab?" tanya Damar melihat ke arahnya.
Aleta menggelengkan kepalanya pelan sambil merunduk.
__ADS_1
"Kau tidak tahu atau memang tak ingin menjawabnya?" tanya Damar memastikan arti gerakan kepala Aleta.
...💕💕💕...