
..."Dunia ini tak hanya ada hitam dan putih. Ada area abu-abu, dimana sesuatu yang kau anggap salah tidak sepenuhnya salah. Begitu juga sebaliknya."...
...__________________________...
Selepas makan siang Erick dan juga suster yang berjanji akan mengantarkannya untuk melihat jenazah pria yang belum terindentifikasi, melangkah menuju gedung instalasi pemulasaraan jenazah.
Beruntung Dokter mengizinkan Erick untuk melihat jenazah tersebut, meski harus memenuhi persyaratan terlebih dahulu. Suster itu melangkah bersamaan dengan mendorong kursi roda yang tengah diduduki Erick.
Langkah perlahan tapi pasti, keduanya pun berhenti tepat di depan pintu masuk gedung. Sorot mata sang suster dan juga Erick terarah kepada segerombolan orang yang sedang berdiri berkerumun di depan pintu masuk ruang jenazah.
Tampaknya segerombolan orang itu sedang memerhatikan suasana di dalam ruangan sebab terdengar suara bariton pria yang tengah marah.
"Ada apa?" tanya sang Suster berbisik kepada salah satu security yang berjaga di depan pintu kaca.
"Pencurian di ruang jenazah," jawab S**ecurity itu antusias sambil ikut berbisik.
"Pencurian? di ruang jenazah itu?" sang Suster mengulang pertanyaannya karena terkejut. Baru kali ini, ia mendengar ada pencurian di dalam ruang jenazah.
"Iya, dan yang dia curi pun barang dengan harga yang cukup bernilai harganya." Perjelas Security memasang raut wajah berapi-api.
"Apa itu?" tanyanya penasaran seraya memasang raut wajah yang sama dengan Security itu.
"Jam rolex seharga mobil." Security itu menjawab dengan pasti.
Refleks sang suster membulatkan bibir sebelum menutup dengan tangan akibat rasa keterkejutan yang luar biasa. Pantas saja jam itu menjadi incaran pencuri namun, yang membuatnya kembali bertanya siapa pelaku yang bisa dengan bebas masuk ke dalam ruang jenazah itu dan siapa pemilik jam rolex itu.
Belum sempat dijawab Security, Erick menegur sang Suster untuk segera membawanya menemui jenazah yang membuatnya berpikir sejak pagi tadi.
__ADS_1
"Bisa lanjutkan tujuan kita kemari, Suster!" tegur Erick melirik dari ujung Ekor matanya.
"Aah, iya!" sahutnya tersadar akan teguran yang disingung oleh Erick.
Suster itu kembali mendorong kursi roda dan melangkah masuk menuju ruang jenazah, melewati segerombolan orang yang tengah memadati di depan pintu.
Begitu berhasil melewatinya, segera suster itu mengetuk pintu sebelum akhirnya melangkah masuk bersama dengan Erick yang terduduk di kursi roda. Kali ini pusat perhatian orang-orang yang berada di luar mengarah kepada Erick.
"Ada apa?" tanya Erick tegas meski dengan raut wajah datarnya.
Suasana yang sempat menegangkan berganti menjadi hening sejenak saat pihak kepolisian, ketua tim ahli forensik serta dua anggota tim ahli yaitu Stevia dan Agatha serempak menoleh ke arah Erick dan Suster yang juga berdiri di belakangnya.
"Siapa yang memperbolehkan kalian berdua untuk masuk ke ruangan ini," tegur salah satu pihak kepolisian masih dalam raut wajah marahnya sambil berkacak pinggang.
"Keluar, kalian dilarang untuk masuk." Belum sempat membalas ucapan, polisi itu kembali bersuara dan memerintah agar Erick dan Suster itu segera keluar dari ruangan.
"Biar aku yang bicara," tutur Erick tanpa melihat ke arahnya.
"Kalian tahu di jaman era modern seperti sekarang, kita diberikan kemudahan untuk menemukan apapun. Salah satu hal yang paling mudah, ketika kalian membeli sesuatu barang dengan harga yang cukup fantastis, kalian sudah pasti akan mendapatkan surat keterangan keaslian barang tersebut." Erick menerangkan sebelum memberitahukan tujuannya datang ke ruangan jenazah itu.
"Kalian tidak perlu merasa khawatir jika barang tersebut dicuri sebab pelaku tidak akan bisa menukarnya dengan sejumlah uang ataupun menjual kembali tanpa adanya bukti surat keterangan keaslian barang." Erick menyambung kembali ucapannya.
"Barang itu tidak akan ada artinya bagi sang pelaku jadi percuma saja dia mengambilnya karena barang tersebut tidak lagi berharga." Perjelas Erick panjang lebar seraya menatap seseorang yang kini tengah gugup.
Erick sengaja mengatakan hal itu di depan orang-orang yang ada di dalam ruangan, agar segera menemukan pelaku dengan caranya sendiri. Untung saja ia mendengar sedikit percakapan yang dilakukan suster itu bersama security, sehingga ia tahu kejadian perkara yang telah terjadi di ruangan itu.
Kini, mata Erick serta mata sang pelaku saling beradu pandang. Erick dapat menangkap dengan jelas gelagat salah tingkahnya saat ia menerangkan terkait barang mahal tersebut.
__ADS_1
tiba-tiba Erick berdiri dari duduknya dan berjalan perlahan menghampiri pelaku. Suster yang melihat sontak membantu Erick namun, lagi-lagi Erick menahan tangan sang suster untuk tak perlu membantunya.
"Bisa berikan barang itu!" pinta Erick menengadahkan telapak tangan di depan Agatha.
Agatha membeku menatap Erick yang meminta dirinya untuk menyerahkan barang milik jenazah itu. Sebelum bersuara ia terlihat menelan saliva guna mencoba menutupi ketegangan yang luar biasa di depan mereka semua termasuk Erick yang masih menunggunya untuk menyerahkan barang tersebut.
"Apa maksud Anda?" tanya Agatha pura-pura tidak tahu dan memulai kembali drama kepalsuan yang sempat dibuatnya.
Erick terlihat menyunggingkan senyum saat menanggapi perkataan Agatha sebelum akhirnya berbisik di samping telinganya.
"Akan ku beritahu rahasia penting yang harus kau ketahui, barang yang kau ambil itu memiliki kode rahasia di dalamnya dan kau tahu apa artinya itu?" bisik Erick sambil merasakan kegugupan Agatha.
Agatha membalas dengan melirik dari ujung ekor matanya. Meski tak menjawab, Erick dapat mengetahui dari bahasa matanya, jika gadis itu ingin sekali tahu apa arti dari kode tersebut.
"Itu adalah kode pelacak, jadi sia-sia saja kau menyembunyikannya. Berikan padaku, jika ingin kariermu aman!" cakap Erick mengintimidasi agar segera memberikan jam rolex tersebut.
Sejenak Agatha menimbang-nimbang ucapan Erick, ia takut jika perkataan Erick hanya untuk menakut-nakutinya agar ia bisa memberikan jam tersebut dan ia harus menanggung akibat yang ia tuai sendiri.
Agatha mengeluarkan jam tangan rolex itu dari saku jasnya dan meletakkan jam rolex di atas telapak tangan Erick. Pandangan mata sengitnya tak lepas dari Erick, meski keduanya masih menjadi sorotan semua orang termasuk yang berada di luar ruangan.
Mereka terkejut sekaligus tak menyangka, jika anggota dari tim ahli forensik itu berani mengambil barang milik orang yang telah mati hanya untuk kesenangannya semata.
"Tepati janji Anda." Agatha membalas bisikan di telinga Erick setelah menyerahkan jam tersebut di depan semua orang yang menyorotinya.
Erick menyeringai sambil mengedikkan kepala pelan, tanda bahwa ia tidak akan pernah ingkar janji pada ucapan yang telah ia lontarkan, Ia akan menepatinya setelah Agatha menyelesaikan urusannya bersama ketua tim ahli forensik.
...*♥️**T E R I M A K A S I H R E A D E R S♥️*...
__ADS_1