
Suara tembakan memekakkan telinga, membuat Aleta terkejut dan ketakutan. Damar dengan sigap melindungi Aleta, memeluk tubuh wanita itu dan mencoba membawanya pergi dari sana.
Devano terkulai tak berdaya di atas lantai kayu, dari belakang kepalanya mengeluarkan banyak sekali darah akibat peluru yang berhasil menembus masuk ke dalam kepalanya.
Kemal tercengang melihat Devano tertembak mati, ia lupa dengan keberadaan Erick. "Bodoh, tidak berguna!" umpat Kemal pada Devano.
Sorot matanya pun beralih ke arah Aleta yang kini sedang melangkah bersama Damar. Kemal keluar dari tempat persembunyiannya dan segera mencegah Damar yang hendak membawa Aleta pergi.
"Berhenti!" sentak Kemal.
Langkah kaki keduanya pun terhenti dan segera membalikan badan, melihat Kemal yang berdiri tak jauh dari jarak mereka. Tampak Kemal sedang menggenggam sesuatu di tangannya.
"Kembalikan dia, atau kau ingin melihatnya mati!" ancam Kemal menunjukkan sebuah alat berupa tombol berwarna merah.
Kedua netra mata Damar melebar begitu mengetahui alat yang dipegang Kemal itu, tombol dari alat peledak. Ia menoleh ke arah Aleta, memastikan jika Aleta tidak menyimpan alat peledak di tubuhnya.
Mendengar ancaman Kemal, Aleta pun segera mendorong tubuh Damar untuk menjauh darinya dan Aleta melangkah kembali mendekati Kemal. Damar sempat terpaku sejenak saat Aleta mendorong tubuhnya, seakan membenarkan ucapan Kemal, setelah sebelumnya Damar menepis pikiran buruknya yang menanggapi ucapan Kemal hanya sebuah bualan belaka.
"Dia tidak ada hubungannya dalam masalah ini. Tolong biarkan dia pergi, kau boleh menyakitiku sesuka hatimu." Aleta berlutut di kaki Kemal, memohon agar tidak menyeret Damar dalam masalah kedua orangtuanya itu.
"Benarkah, aku bisa melakukan sesuka hatiku?" tanya Kemal sengaja mengulang ucapan Aleta agar didengar Damar.
"Ya." Jawab Aleta dengan lantang dan tegas.
"Apa kau mendengarnya, anak muda!" serunya pada Damar sambil menyeringai penuh kemenangan.
Kemal pun mulai menunjukkan sikap kasarnya di depan Damar. Tangannya yang ringan mengayun kuat ke arah Aleta. Bunyi tamparan terdengar nyaring sekali, setelah Kemal mendaratkan kelima jarinya di pipi Aleta. Kemal melakukannya berulang-ulang kali, hingga membuat tubuh ringkihnya tergolek di atas lantai yang dingin dan kotor.
"Bajingan!" Tangan Damar terkepal kuat memperlihatkan garis vena, matanya menyala disertai rahang yang ikut terkatup. Damar sangat marah, kakinya dengan cepat menghampiri.
Bukk!!!
Damar menendang kuat perut Kemal dengan kakinya, membuat Kemal terjungkal ke belakang. Kembali Damar menghampiri dan berdiri di atas Kemal yang kemudian bertekuk sambil menarik jaket kulit yang dipakai Kemal, sehingga membuat pria bertongkat itu dipaksa terduduk.
Tanpa basa-basi Damar kembali memberikan bogem mentah di atas pipinya, secara brutal Damar membalaskan cara yang sama seperti yang dilakukannya pada Aleta. Ia tidak menyukai Kemal yang secara berani melukai wanitanya itu, terlebih di depan mata kepalanya.
"Terima ini, berengsek!" hardik Damar terus-menerus meninju Kemal, sampai membuat seluruh wajah pria itu babak belur.
Tiba-tiba suara tembakan kembali terdengar dari dalam ruangan. Satu peluru berhasil menancap di lengan kekarnya dan membuat Damar menghentikan aksi brutalnya. Rupanya orang yang secara sengaja menembak Damar, adalah Emir.
Pria tua itu berdiri di ambang pintu dengan pistol di tangannya. Ia dan sebagian anak buahnya berhasil meloloskan diri dari pertempuran yang terjadi di luar gedung. Kini Erick turut menjadi salah satu tawanannya.
Alona bertugas mengamankan Erick, mengunci kedua tangan Erick dengan borgol serta terus menodongkan pistol di keningnya. "Cepat jalan!" perintah Alona pada Erick.
Erick tidak dapat melakukan apapun saat melihat Damar terkena luka tembakan. Ingin rasanya ia membalas perbuatan Emir namun, pistol miliknya telah disita Alona.
Sementara Aleta berusaha untuk bangun dan merangkak menghampiri Damar yang terduduk sembari menutup luka di lengan kirinya karena darah terus mengalir. Cepat-cepat Aleta merobek sebagai lengan di kemeja panjang yang dikenakannya, kemudian kain itu di kaitkan di lengan Damar.
"Argh!" Damar terus mengerang saat Aleta membantu menutupi lukanya dan mengikat kain itu dengan kuat, agar darah berhenti keluar.
Emir berjalan mendekati mereka sambil terus menodongkan pistol ke arah Damar dan juga Kemal. Diperiksanya Kemal terlebih dahulu, guna memastikan pria itu tak lagi bernapas, lalu matanya beralih ke arah Damar dan Aleta.
"Singkirkan mereka!" perintah Emir kepada salah satu anak buahnya.
Lengan Aleta ditarik paksa oleh anak buah Emir, hingga membuat Aleta harus terpisah dengan Damar. Aleta terus berontak, berusaha melepaskan diri dari pria bertubuh tegap.
"Jangan bermimpi untuk bisa mendapatkan anakku," terang Emir menatap sinis Damar.
"Kau tidak berhak mengaturku," balas Damar seraya menatap Emir dengan berani.
Emir menyeringai. "Rupanya, kau ingin cepat-cepat menyusul kedua orangtuamu ke alam baka," sarkas Emir bersiap mengarahkan pistol ke arah Damar.
"Hentikan Ayah, jangan lakukan itu!" pekik Aleta menghentikan aksi ayahnya yang hendak membunuh Damar.
Sayangnya Emir menghiraukan jerit sang anak, ia semakin yakin untuk menancapkan peluru ke kepala Damar. "Sampaikan salamku pada kedua orangtuamu," ejeknya.
"Tidak ..., aku mohon hentikan semua ini!!" Aleta memekik sambil berusaha lepas dari genggaman tangan pria tegap yang menahan kedua lengannya.
"Kau pikir dengan membunuhku, hidupmu akan tenang begitu saja." Damar membuka suaranya. Perlahan berdiri dan melangkah menantang Emir.
greb!
Damar menangkap pistol yang masih dalam genggaman Emir. "Lakukan! ayo tembak aku," tantangnya seraya mengarahkan pistol milik Emir ke dada bidangnya.
"Oh, kau mencoba menantangku! baiklah, karena kau yang memintanya, akan aku lakukan," terang Emir tak main-main.
"Tidak, aku mohon!" lirih Aleta seraya menggelengkan kepala, memberikan isyarat agar Damar berhenti menantang ayahnya.
"Tapi sebelum kau menembakku, ada satu hal yang ingin aku katakan." Jedanya sejenak. "Tolong jadilah Ayah yang baik untuknya dan berhenti melimpahkan semua masalah padanya. Dia, sudah banyak menderita." Damar memberikan pesan untuk Emir.
__ADS_1
Emir berdecak kesal, sebab pesan yang disampaikan Damar sama persis dengan pesan yang disampaikan Emilio kepadanya, sebelum Emilio meregang nyawa.
"Sudah cukup bicaramu, sekarang saatnya ku kirimkan kau ke Neraka, sana!" sungutnya sembari mengarahkan pistol.
"Tidak Ayah, jangan lakukan itu!" Aleta berteriak dan memberontak. "Sebaiknya, aku yang akan mati," jedanya, "Di tubuhku, terpasang alat peledak." Aleta berhasil mengalihkan ayahnya yang hendak membunuh Damar. Namun, ucapan itu membuat semua orang yang berada di dalam ruangan mendelik hebat.
Mereka bergidik ngeri dan saling beradu pandang, sebelum akhirnya satu-persatu anak buah Emir memilih keluar dari ruangan, sebab takut jika boom yang ada di tubuh Aleta dapat meledakkan seluruh isi ruangan. Kini Alona ditinggalkan sendiri bersama dengan Erick.
"Kau tidak ikut kabur bersama teman-teman mu yang lain?" tanya Erick penasaran.
"Untuk apa? aku tidak takut apapun." Jawabnya yakin dan penuh percaya diri.
"Syukurlah. Dengan begitu, akan berkurang para penjahat di Negeri ini," sindir Erick yang seketika berhasil membuatnya berpikir, mengenai keselamatan hidupnya sendiri.
"Ck, berengsek!" Alona berdecak frustasi sebelum melangkah pergi dari sana. Ia tak ingin mati sia-sia, hanya karena menunduk patuh pada bos besarnya.
Melihat Alona yang lari terbirit-birit, membuat Emir menyeringai puas karena berhasil memprovokasinya. Erick pun bisa bebas tanpa pemantauan semua anak buah Emir. Dengan susah payah, ia meraih pistol miliknya yang sempat terjatuh di atas lantai.
Saat pistol berhasil ia genggam dan berniat untuk berjalan menghampiri Emir, tiba-tiba saja matanya terbuka lebar. Erick mendapati Kemal yang berusaha bangun dan berjalan ke arah ketiganya.
Hendak berteriak untuk menyadari Kemal di sana, namun terlambat. Pria bertongkat itu, justru sudah lebih dulu memukul tengkuk Emir dan berhasil merebut pistol dari tangannya.
Sontak Damar dan Aleta serta Emir terkejut. Mereka pikir Kemal tak lagi sadarkan diri, ternyata pria itu hanya berpura-pura dan mengambil waktu yang pas untuk kembali melancarkan aksi.
"Kau!" seru Emir tak percaya dengan posisi tubuh terduduk di lantai dan memegangi tengkuk lehernya.
"Tidak perlu terkejut, seperti itu." Kemal menyeringai sambil memegangi sudut bibirnya yang babak belur selepas dihajar Damar.
"Bagaimana bisa?" tanya Emir mengerinyitkan dahi.
"Kenapa? kau tidak senang melihat keadaanku sekarang," keluh Kemal menatap bengis.
Suasana dalam ruangan semakin menegang, saat Kemal mulai kembali menunjukkan tombol peledak yang masih dipegangnya. Tombol tersebut ia jadikan alat untuk mengancam Emir dan Damar. Ia tahu betul kelemahan kedua orang itu.
"Aleta akan ku jadikan alat untuk menakuti mereka." Kemal bergumam sembari menatap Damar dan juga Emir, sebelum beralih ke arah Aleta.
Tanpa basa-basi, Kemal mengarahkan pistolnya tepat menghadap Aleta dan pelatuk ia tekan, hingga mengeluarkan peluru dari dalamnya.
"Tidak!" teriak Damar dan Emir secara bersamaan, begitu melihat Kemal menembak ke arah Aleta.
Aleta menutup kedua matanya rapat-rapat dan menundukkan sedikit wajahnya. Bunyi dari tembakan begitu nyaring hingga membuat semua memekik ketakutan, terkecuali Kemal.
Kedua netra mata Aleta membulat sempurna, tatkala mendapati pria itu mati tepat di depan mata kepalanya.
Aleta gemetar ketakutan, kakinya lemas seperti tidak memiliki tenaga. Dari dalam ruangan bau-bau darah segar mulai menyengat dan masuk ke dalam rongga-rongga hidung mereka.
Kemal berjalan menghampiri Aleta. "Emir, sahabatku yang menusukku dari belakang!" ucap Kemal, "Aku ingin kau merasakan hal yang sama seperti aku dahulu, merebut calon istriku dan menghamilinya," sambung Kemal sambil membelai rambut Aleta.
Damar terlihat kesal, ingin sekali ia kembali memberikan pelajaran pada manusia bejat itu. Tangannya terkepal kuat-kuat, darah mendesir merangkak naik di wajahnya. Ia tak bisa menahan amarah, begitu melihat Kemal yang mulai berani melecehkan Aleta di depan matanya. Baru saja hendak melangkah, kakinya terhenti sebab Emir berjalan cepat menghampiri Kemal.
"Bedebahh! terima ini, berengsekk!" Emir menghajar Kemal dengan pukulan tinjunya.
Keduanya pun terlibat adu kekuatan, saling meninju satu sama lain. Aleta sempat bergeming, melihat ayahnya bertarung melawan Kemal.
"Sebaiknya, kita pergi dari sini!" ucap Damar saat menghampiri Aleta dan menarik tangannya untuk ikut.
Namun, Aleta justru melepaskan tangannya dari genggaman Damar. Ia menolak untuk ikut bersama Damar. "Aku tidak bisa pergi," ujarnya.
Damar mengerutkan dahi. "Tempat ini berbahaya, kita harus pergi!" jelas Damar kembali menarik tangan Aleta.
Tangan Damar ia tepis kembali. "Aku tidak bisa meninggalkan Ayahku. Jika kau ingin pergi, pergilah! kau tidak pantas berada di sini," balas Aleta.
"Apa kau gila? bagaimana bisa aku pergi tanpamu!" geram Damar dengan meninggikan nada bicaranya.
Keduanya sempat terdiam sesaat, sebelum Erick datang menghampiri dan meminta Damar segera keluar dari ruangan. Damar mencengkeram erat tangan Aleta, hingga sang empunya sulit untuk melepaskannya.
"Kita tidak punya banyak waktu, ikuti saja yang aku katakan tanpa harus menolaknya!" ucap Damar memberi perintah setelah berhasil menarik Aleta untuk berjalan keluar.
Tiba-tiba bunyi tembakan kembali terdengar. Sontak ketiganya memutar tubuh dan melihat ke arah sumber suara. Derap langkah kaki kecil Aleta menghampiri perlahan sang ayah, yang tergolek begitu saja di atas lantai kayu usang.
Matanya kembali berkaca-kaca, ia menangis melihat ayahnya terbujur kaku di tempat dengan banyak darah yang keluar dari dalam perutnya. Tepat setelah di depan ayahnya, Aleta menghamburkan tubuhnya di atas tubuh Emir, memeluknya erat sambil menangis histeris.
"Nak .... maafkan kesalahan ayah selama ini! ayah tidak becus menjagamu, karena keegoisanku, kau harus menanggung semua beban ini. Sekarang, ayah akan menebus semua kesalahan yang ayah perbuat. Kau harus tetap hidup, jalani kehidupanmu dengan bahagia bersamanya, seperti yang Ibumu inginkan. Ayah sangat menyayangimu. Ayah pergi ya, Nak!"
Emir menyampaikan ucapan terakhirnya pada Aleta, sebelum akhirnya ia menutup kedua matanya dan menghentikan napas. Emir telah tiada di atas pangkuan sang anak, ia pergi dan meninggalkan Aleta yang kini tidak lagi memiliki orangtua.
"Ayah ... jangan tinggalkan Aleta, lagi!!" jeritnya seraya menangis sesenggukan dan memanggil serta mengguncangkan tubuh sang ayah untuk membuka mata.
Melihat Aleta dalam keadaan rapuh, Damar hendak menghampiri namun, segera dihentikan Erick yang kali ini bernada tegas, tidak peduli Damar itu bosnya.
__ADS_1
"Kita harus pergi secepatnya!" terang Erick seraya memegangi pundak Damar kuat-kuat dan menatap tajam.
"Aku akan pergi dari sini bersama dengannya," tekad Damar tegas dan mencoba melangkah.
"Bos, ini terlalu bahaya buat anda!" Erick mengingatkan agar Damar berhenti memikirkan orang lain.
"Apa kau pikir, itu tidak bahaya untuknya?" ketus Damar. "Dia itu istriku dan sudah sepantasnya, aku sebagai suami harus menyelamatkan dia, meski nyawa taruhannya." Damar memperjelas ucapannya pada Erick, agar ajudannya itu paham.
Erick bergeming tak mampu membalas ucapan Damar. Kini ia paham, kekuatan cinta yang ada pada Damar ternyata mampu membuatnya berubah 180 derajat dari Damar yang kejam menjadi Damar yang tidak tegaan, bahkan rela menukar nyawanya dengan keselamatan Aleta.
Kemal tertawa keras bak orang yang sedang dirasuki iblis jahat. Ia membanggakan dirinya karena telah berhasil memusnahkan Emir, manusia yang sedari dulu ingin ia bunuh. Kini tinggal Aleta yang akan ia musnahkan, setelah semua keluarga Emir satu-persatu mati di tangannya, barulah ia puas karena telah berhasil membalaskan dendam yang selama ini ia rasakan.
"Menyusul 'lah, dengan kedua orangtuamu yang malang itu!" ejek Kemal bersiap menembak.
Dor!!!
Peluru berhasil keluar dari dalam pistol dan menancap di punggung Damar, yang saat itu berusaha menyelamatkan Aleta. Sontak Aleta terkejut mendapati Damar yang tiba-tiba memeluknya dari belakang, ia belum sadar, jika Damar tertembak oleh Kemal.
Kemal kembali mengeluarkan peluru sebanyak tiga kali, semua peluru tersebut tertancap di punggung Damar. Aleta hendak memutar tubuhnya, tapi Damar melarangnya. "Jangan lihat ke belakang, aku ingin memelukmu seperti ini!" tuturnya dengan suara menahan rasa sakit.
Erick tak tinggal diam, ia berlari menghampiri Kemal dan menghujani Kemal dengan pukulan dan tendangannya, hingga membuat pistol serta tombol peledak itu terlepas dari tangan Kemal. Seluruh tubuh Kemal habis babak belur dihajar oleh Erick.
Sementara Aleta mulai merasakan ada sesuatu yang salah dengan Damar, ia pun berbalik namun, Damar kembali memeluknya lebih erat. Pelukan yang Damar berikan justru terasa berbeda, sebab tubuhnya memberikan beban penuh kepada Aleta.
Damar memandang wajah Aleta sejenak dan tersenyum manis. "Cantik ... istriku sangat cantik," puji Damar sambil tangannya mengusap wajah Aleta, sebelum akhirnya ia mengecup satu-persatu indera di wajah Aleta, mulai dari kedua mata, hidung dan bibir Aleta.
Tanpa sengaja Aleta memegangi punggung Damar saat hendak membalas pelukan pria itu. Betapa terkejutnya ia, saat tahu jika telapak tangannya dipenuhi dengan darah. Ia melihat kembali wajah Damar yang kian lama terlihat semakin memucat dengan keringat yang terus mengucur deras di dahinya.
"Aku ... men ... cint ... aimu ... Aleta, san ...gat!" ungkap Damar dengan nada bicara putus-putus.
Aleta menggelengkan kepala, menepis kenyataan yang harus ia terima, lagi dan lagi. Belum usai rasa sedihnya akan kehilangan sang ayah, kini ia harus menerima kenyataan yang teramat pahit.
Aleta memegang kedua pipi Damar dan memandang tak percaya, jika harus kehilangan pria yang begitu dicintainya, pria yang berhasil membuatnya merasa nyaman dan tenang bila didekatnya.
"Jangan pergi, aku mohon!" pinta Aleta sungguh-sungguh seraya mengangkat kedua tangan Damar dan menciumnya.
"Ma ... af," ucap Damar melemah.
"Aku tidak akan menjawab pernyataan cintamu, kau harus berjanji tidak akan pergi meninggalkanku!" ancam Aleta dengan suara Isak tangisnya.
Damar mengeluarkan walkman dari dalam saku celana dan diberikan kepada Aleta, "Ba ... wa ... ini!"
Damar melepaskan alat peledak di tubuh Aleta, tanpa sepengetahuannya. "pergi .... lah!" pinta Damar mendorong tubuh Aleta untuk menjauh dan keluar dari ruangan itu.
Aleta bersikeras untuk tidak pergi, ia tetap berusaha untuk menahan tubuhnya di tempat. "Aku akan pergi bersamamu!" tegas Aleta semakin menjadi-jadi suara tangisnya. Derai air mata sudah sejak tadi menerobos keluar tanpa henti.
Tak lama Bunda Azra dan tim kepolisian datang dan masuk ke dalam ruangan. Bunda Azra menghampiri Aleta, ia sempat dikejutkan dengan seisi ruangan yang dipenuhi dengan mayat dan juga darah.
Ia datang terlambat karena mengurus pembongkaran di kantor Kemal dan juga di kediaman Emir bersama tim kepolisian. Ia juga baru mendengar kabar mengenai penyekapan Aleta yang dilakukan Kemal.
Suasana semakin memanas kala Kemal berhasil meraih pistol dan menembakkan ke segala arah, hingga menghabiskan seluruh isi peluru. Akhirnya tim kepolisian mengambil langkah tegas, salah satu dari mereka menembak Kemal karena berusaha melawan aparat kepolisian.
"To ... long ba .. wa dia per ... gi!" pinta Damar pada bunda Azra.
Tanpa menunggu lama, bunda Azra segera membawa Aleta pergi. Ia menarik tangan Aleta kuat-kuat, sebab tahu Aleta tidak akan mau pergi, jika tidak dipaksa. Bukan karena ia tidak sayang padanya, tapi itu untuk keselamatan Aleta juga.
"Tidak!!!" pekik Aleta menggelengkan kepala sambil terus menangis dan memberontak. Tangannya yang sempat memegangi tangan Damar, kini terlepas begitu saja meski tangan kanan Aleta masih saja terulur, berharap Damar menariknya.
"Ku harap di kehidupan selanjutnya, aku bisa bertemu denganmu, lagi!"
Netra mata Damar terus memandangi kepergian Aleta dengan derai air mata, hingga akhirnya Damar tergeletak tak berdaya di atas lantai kayu, tepat di samping Emir. Damar menutup kedua matanya perlahan sambil memegangi erat-erat cincin pernikahan miliknya yang sempat ia lepas.
...T H E E N D...
...T E R I M A K A S I H...
...S A Y A N G B A N Y A K -...
... B A N Y A K S A M A...
...K A L I A N, P E M B A C A ...
...S E T I A...
...'M A R R I A G E O F T H E ...
... G A M E'...
...♥️...
__ADS_1
*next akan ada extra part, ditunggu ya ❤️