
..."Mereka tidak tahu apa-apa, tapi pandai mengarang cerita. Biasanya ingin tahu tanpa peduli....
..._______________________...
Tampaknya sinar mentari masih enggan menampakkan kilaunya kepada bumi. Suasana pagi pada pukul tujuh itu masih terlihat gelap dengan kabut yang cukup tebal saat menutupi sebagian rumah di lingkungan desa tersebut.
Wanita yang ditugaskan Emir untuk menemui saksi mata, meringkuk kedinginan di atas kursi yang sedang ia duduki. Rupanya semalaman ia juga tak tidur karena terus mengawasi pemilik rumah yang dipikirnya akan kabur diam-diam dalam pemantauannya.
"Bu, Bapak pergi ke ladang ya," ujar sang Suami sambil membuka pintu rumahnya.
"Iya Pak, hati-hati." Sang Istri yang berada di halaman belakang menyahuti pamit sang Suami.
Pemilik rumah itupun melangkah keluar dari rumah namun, tiba-tiba ia dikejutkan dengan sosok misterius yang berdiri dihadapannya dengan menundukkan kepala dan membiarkan rambut panjangnya tergerai hingga menutupi seluruh wajahnya, tampak menyeramkan.
"Astaga!" jerit sang pemilik rumah seraya memegangi dadanya akibat terkejut.
"Berikan aku air," pinta wanita itu tiba-tiba dengan suara gemetarnya.
"Ka--u si--apa?" tanyanya terbata-bata karena takut.
"Berikan aku air," ulangnya sekali lagi sambil menambahkan nada pengucapannya.
"I--i--ya ba--baik," sahutnya semakin ketakutan. Ia melangkah ke dalam rumah dan memanggil sang Istri untuk membawakan air hangat.
Pasangan suami dan istri itupun melangkah keluar dari dapur sambil membawakan air namun, keduanya berhenti sejenak saat menatap wanita menyeramkan itu tengah duduk mematung di dalam rumah.
"Pak," lirih sang Istri memanggil sang Suami dengan menggenggam erat lengannya.
Suaminya hanya membalas dengan menepuk pelan genggaman tangan sang Istri, memberitahukan bahwa akan baik-baik saja. Mereka kembali melanjutkan langkah dengan perasaan was-was.
Gelas yang berisikan air hangat diletakkan di atas meja. "I--ni minumlah," ucap pemilik rumah.
Wanita itu segera meneguk air hingga tandas dan setelahnya, ia meletakkan gelas tersebut dengan cara dibanting. Pemilik rumah terkejut dan hendak melangkah mundur saat mendapati tatapan sorot mata tajam darinya.
"Cepat katakan, dimana kau melihat dua korban ledakkan itu dibawa?" tanyanya dengan cara memaksa.
"Pak!" seru sang Istri melihat ke arah sang Suami untuk segera mengatakannya.
__ADS_1
Pemilik rumah itu ragu untuk mengatakannya, sebab ia telah berjanji tidak akan memberitahukan apapun mengenai keberadaan pasangan korban itu pada seorang wanita paruh baya yang paling disegani di Desa tersebut.
"Cepat katakan!" bentak wanita itu sekali lagi setelah menggebrak meja.
"Kami tidak tahu," jawab Pemilik rumah berbohong.
Wanita itu berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri sang pemilik Rumah dengan menodongkan senjata tajam ke arah Pemilik rumah itu.
"Jangan berpura-pura! aku tahu kau yang menjadi saksi mata itu," ujar wanita itu seraya mendekati mata pisau ke leher Pemilik rumah.
Pasangan suami-istri itu gemetar ketakutan saat melihat bilah pisau yang tajam dan juga runcing mengarah pada mereka. Sang Istri menggenggam erat tangan Suaminya sambil menggelengkan kepala pelan, tanda bahwa Suaminya tak perlu berbohong demi keselamatan diri mereka.
"Berhenti bermain-main denganku, cepat katakan dimana kau melihatnya!" hardiknya sebelum menggoreskan luka di pipi pria paruh baya itu.
"Aahh!" jerit sang Istri begitu melihat Suaminya terluka akibat kesengajaan yang dilakukan wanita yang tak mereka kenal.
"Cepat katakan, B0d0h!" umpatnya yang semakin berang karena tak kunjung mendapat jawaban dari pemilik rumah itu.
Sang Istri segera mendorong tubuh wanita itu agar tak lagi melukai suaminya. Ia merangkul sang suami dan mencoba menghalangi tindakan kejahatan itu dengan cara meneriakinya.
Suara jerit dari rumahnya membuat kebisingan di lingkungan daerah itu, sehingga membuat penduduk setempat yang tinggalnya tak jauh dari sana datang menghampiri rumahnya, guna memeriksa yang terjadi di sana.
Ketika ingin melukai Istri dari pemilik rumah, wanita itu justru segera menoleh ke arah jendela rumah. Ia melihat beberapa kerumunan orang yang hendak mendatangi rumah itu.
"Ah, shitt!"
Wanita itu segera meloloskan diri dari sana dengan berlari menuju pintu belakang yang langsung menuju bukit tempat ledakan itu terjadi. Ia pun berhasil kabur dari sana meski, gerak-geriknya terlihat mencurigakan.
Salah seorang bodyguard Damar menoleh ke arah wanita itu yang hendak berjalan tergesa-gesa begitu menuruni bukti dan berlalu melewati gedung bekas ledakkan. Ia pun mengikuti kemana wanita itu pergi dengan jarak yang tak bisa terlihat olehnya.
...***...
Aleta belum juga terlihat membuka matanya setelah cukup lama tak sadarkan diri dari kejadian beberapa waktu lampau. Seorang wanita paruh baya berjalan menghampiri untuk kembali memeriksa keadaan kondisi tubuh Aleta.
Meski hanya berbekal alat medis seadanya, wanita paruh baya itu berharap Aleta segera sadar dan bisa melewati masa kritisnya. Wanita itu mengelus kepala Aleta dengan lembut, ia prihatin melihat kondisi Aleta seperti itu.
'Tega sekali dia membuat anaknya seperti ini! tidak cukupkah pria gila itu melukai hatinya?' gumamnya menampakan raut wajah kekesalan yang ditujukan untuk Emir.
__ADS_1
Sementara di tempat tidur yang berbeda, Damar merintih perih pada punggung badannya. Segera wanita itu menghampiri untuk melihat kondisi Damar yang baru saja terbangun dari tidur yang cukup lama.
"Aarghh!" jerit Damar tak kuasa menahan perih.
"Berbaliklah, aku akan memberikan cairan pada punggungmu," tuturnya seraya meneteskan cairan pada punggung Damar setelah Damar membalikkan badannya.
"Tahan sebentar, mungkin ini akan terasa perih di kulitmu." Wanita itu melanjutkan ucapannya.
"Aarggghhh!" Damar memekik, garis vena di lengannya terlihat jelas dan wajahnya merah padam saat menahan rasa sakit serta perih pada lukanya itu.
Setelah selesai memberikan cairan wanita itu menggantikan perban steril dan merekatkannya menggunakan kain kasa yang memutar melingkari punggung badan hingga melewati pundak.
"Untuk saat ini, tidurlah menyamping." Wanita itu memberikan pesan sebelum berlalu pergi.
"Tunggu!" Damar menghentikan kepergiaannya.
Wanita itu memutar badannya kembali. "Ada apa?" tanya wanita itu.
"Dimana wanitaku?" tanya Damar begitu terpikirkan dengan Aleta.
Wanita paruh baya itu terdiam sejenak saat menafsirkan pertanyaan Damar yang mengatakan kata wanitaku dalam pengucapannya.
"Maksudmu dia!" terang Wanita itu menoleh ke arah tempat tidur Aleta yang hanya bersebelahan dengan Damar.
"Aleta!" panggil Damar saat melihat wajah Aleta yang tengah memejamkan mata. "Bagaimana kondisi dia?" tanya Damar khawatir, terlihat dari raut wajahnya.
"Kau mengenal wanita itu?" tanyanya mengintrogasi sebelum ia menjawab pertanyaan dari Damar.
Damar mengangguk pelan tanpa memberitahukan lebih lanjut kepada wanita paruh baya yang belum ia kenal sama sekali. Ia harus berhati-hati memberikan informasi kepada orang yang belum ia selidiki lebih dulu.
Netra mata wanita itu menilik raut wajah Damar yang terlihat keseriusan saat menjawabnya meski, ia tak ingin tahu banyak dari mulut Damar jika ia belum dengar sendiri dari Aleta. Ia berniat menanyakan identitas Damar setelah Aleta tersadar.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Damar sekali lagi.
"Wanita mu, mengalami syok berat sehingga belum mau membuka mata dan dia mengalami luka di pergelangan tangan. Untuk saat ini kita hanya menunggu dia sadar." Wanita paruh baya itu menjelaskan secara gamblang.
Saat melangkahkan kaki keluar dari ruangan kecil itu, ia menghentikan langkah dan berbalik melihat Damar yang terus memerhatikan Aleta dengan raut wajah penyesalan dan kecemasan.
__ADS_1
"Hei anak muda!" panggilnya hingga membuat Damar menoleh ke arahnya. "Hidup ini singkat. Saat masih muda, kita menjalani hidup seolah-olah akan selalu bahagia, padahal tidak selalu begitu. Hal yang berharga, hal yang kita jaga dan hal yang kita sukai, sirna lebih cepat daripada dugaan kita. Itulah Hidup." Wanita itu melanjutkan kembali langkahnya setelah memberikan pesan pada Damar.
...❤️❤️❤️...