
..."Aku tahu sikapmu itu hanya sebuah kepalsuan, tapi entah kenapa aku justru menyukainya."...
..._______...
Pagi-pagi sekali Damar sudah bangun dari tidurnya. Saat ini ia tengah menikmati udara embun pagi di pekarangan rumahnya, sambil menyesap secangkir teh hangat kesukaannya.
Sejuknya embun pagi dan harumnya udara kala itu, tak menyurutkan niatnya hanya untuk bermalas-malasan di atas ranjang, seperti yang dilakukan Aleta saat ini.
Ya, Aleta memang masih bergelut dengan selimut tebalnya. Ia belum juga terlihat membuka matanya, walau gorden kamarnya telah terbuka lebar dan sedikit berayun akibat hembusan angin pagi yang sejuk.
Kringg....
Kringgg....
Aleta terlonjak kaget, ketika mendengar suara nyaring jam weker yang berdering keras disamping telinganya. Ia refleks terduduk dan mencari keberadaan suara yang kini tertutupi oleh selimut tebalnya.
Begitu ditemukan, ia segera mematikan suara deringnya dan meletakkannya kembali di atas nakas.
"Sial, gendang telingaku hampir saja pecah! Sejak kapan jam weker itu berada didekatku?"
Gumam Aleta sembari memeriksa telinganya. Ia juga menoleh ke arah gorden yang tertiup angin, pikirnya tidak biasanya pelayan di rumah membuka pintu balkon sepagi ini.
"Apa pelayan disini yang membukanya? Tapi biasanya mereka datang ke kamar ini, jam delapan pagi dan ini masih pukul 6!" tambahnya mengerinyit setengah berpikir.
Aleta melangkah ke arah balkon berniat untuk menutup kembali pintu kaca itu. Namun bukannya menutup pintu, ia justru tertarik dengan hembusan angin yang terasa menyejukkan dan menyegarkan tubuhnya.
Ia berdiri di depan pagar pembatas balkon sambil merentangkan kedua tangan dan menutup kedua matanya, merasakan kesejukannya sambil menghela napas.
Sementara dari kejauhan, tampak Damar tengah mengamati tingkah Aleta. Ia sedikit terlihat menyunggingkan senyumnya, tatkala berhasil membuat Aleta terbangun sepagi ini.
Damar, orang yang sengaja meletakan jam weker disamping Aleta dan juga membuka gorden dan pintu balkon. Sebelum berada di halamannya, ia masuk kedalam kamar Aleta untuk sekedar melihat keadaannya setelah kejadian acara pesta kemarin.
"Akan ku buat kau jatuh cinta denganku, dengan begitu akan mudah untukku membongkar semua rahasia busukmu bersama si tua bangka itu! Kalian harus membayar semua penderitaan yang aku alami. Tidak peduli seberapa buruknya rasa trauma yang akan kau alami setelah ini."
Gumam Damar sambil menatap Aleta sinis. Ia berencana membuat Aleta jatuh ke pelukannya dan membuatnya hancur serta menderita seumur hidup, meski Damar harus mengambil resiko lebih jauh.
...•••...
__ADS_1
Setelah menyelesaikan sarapannya bersama Damar, Aleta diminta untuk berkemas, sebab mereka akan melakukan perjalanan honeymoon.
Namun ia tidak diberitahukan kemana tujuan yang akan mereka kunjungi. Aleta pun sempat menolak untuk tak pergi bersama Damar, sebab masih merasa lelah dengan acara kemarin. Tetapi dengan cepat Erick memperlihatkan kembali surat perjanjian yang ditanda-tanganinya.
"Bisa-bisanya kalian mengancamku dengan surat itu," keluh Aleta kesal.
"Ini keinginan anda sendiri, Nona!" balas Erick santai.
"Itu bukan keinginanku, tapi paksaan dari Bosmu," sahut Aleta jengkel seraya menoleh sinis ke arah Damar.
"Tidak perlu banyak bicara, lakukan saja perintahku!" sela Damar sebelum melangkah pergi.
Aleta hanya bisa menghela napasnya, lagi dan lagi. Mengontrol perasaannya agar tidak tersulut emosi dengan ucapan Damar yang selalu membuat isi kepalanya ingin meledak.
Aleta kembali ke kamar untuk merapihkan pakaian-pakaian yang akan dibawanya selama seminggu kedepan. Sambil memasukkan pakaian kedalam koper, Aleta terus saja menggerutu.
"Untuk apa juga melakukan perjalanan honeymoon, jika aku dan dia tidak benar-benar menikah! Buang-buang waktu saja!" gerutu Aleta tak habis pikir.
Sementara di ruang kerjanya, Damar memberikan amanat pada Erick untuk menggantikannya selama seminggu kedepan. Ia tidak ingin pekerjaannya terhenti, meski saat ini ia sedang mengambil cuti.
"Laporkan semua tugas kantor padaku, tidak ada satupun yang boleh kau lewatkan," perintahnya tegas.
"Dan satu lagi, jangan menyetujui kerjasama dari pihak manapun sebelum aku kembali. Lakukan saja apa yang aku perintahkan," tambahnya lagi.
"Ya, saya mengerti!" Erick mengangguk paham.
"Kalau begitu kau boleh keluar," perintahnya.
"Maaf Bos, apa tidak sebaiknya anda menggunakan pesawat pribadi saja?" tanya Erick menyela.
"Tidak, aku dan wanita itu akan tetap naik pesawat umum!" jawabnya yakin.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi," pamit Erick.
Erick melangkah pergi dan segera menyiapkan mobil untuk keberangkatan Damar dan Aleta ke bandara, ia juga telah membawakan koper Damar bersamaan dengan koper Aleta untuk diletakkannya didalam bagasi mobil.
...•••...
__ADS_1
Tepat pukul 11.00 am, Damar dan Aleta telah siap berangkat menuju bandara dengan mengenakan pakaian casual. Damar tampak begitu keren, Aleta sempat terpukau beberapa saat, tatkala mengamati penampilan Damar yang berbeda dari biasanya.
Sementara Aleta justru terlihat sangat biasa saja, kendati mengenakan pakaian casual yang sama seperti Damar, penampilannya justru terlihat tidak begitu bagus, rambutnya yang tercepol asal dan polesan tipis di wajahnya yang hampir tak terlihat sedikitpun, membuat dirinya dan Damar jauh berbanding terbalik.
"Jangan hanya diam saja, cepat masuk!" tegur Damar dari dalam mobil.
Aleta pun melangkah masuk kedalam mobil dengan perasaan rendah diri, setelah menilai penampilannya begitu buruk.
Mobil mulai melesat menuju bandara. Setibanya, Erick segera membukakan pintu untuk keduanya dan menurunkan koper-koper mereka. Setelahnya itu berpamitan pada Damar dan Aleta sebelum akhirnya Damar melangkah masuk kedalam bandara, tak lupa ia juga menyemangati honeymoon mereka yang dibalas dengan tatapan sengit dari keduanya.
Aleta mengejar langkah Damar yang telah berjalan meninggalkannya. Setelah melakukan check-in dan menitipkan koper di bagasi, mereka pun duduk di bangku sambil menunggu jadwal keberangkatan.
Damar duduk santai sambil memainkan ponselnya, sementara Aleta yang duduk tak jauh darinya hanya mengedarkan pandangan, melihat orang-orang disana yang tampak sibuk berlalu lalang.
"Perhatian, para penumpang pesawat Turkish airlines dengan nomor penerbangan AS325 tujuan Maldives dipersilahkan untuk masuk kedalam pesawat udara melalui pintu A12, terima kasih."
Begitu mendengar pengumuman, Damar pun berdiri dari duduknya, ia menghampiri Aleta yang masih duduk terdiam, sebab ia tidak tahu kemana tujuan mereka akan pergi.
"Ayo," ucap Damar mengulurkan tangannya dihadapan Aleta.
Aleta mengerjapkan mata saat melihat sikap Damar, ia mendongak melihat wajah Damar yang begitu hangat mengalahkan raut wajahnya yang dingin dan arogan.
Tanpa sadar Aleta meraih tangan Damar dan melangkah bersama memasuki pintu pesawat. Kini mereka sudah duduk di kursi first suite class.
Tak butuh waktu lama pesawat akhirnya lepas landas. Menaiki pesawat udara merupakan hal baru yang dirasakan Aleta, ada rasa takut dan gelisah saat merasakan pesawat itu mulai melayang diatas udara.
Namun dengan sigap Damar menggengam tangan Aleta erat dan disandarkannya kepala Aleta di bahu kekarnya, sikapnya yang tiba-tiba begitu hangat dan lembut membuat Aleta curiga dengan maksud perlakuan Damar terhadapnya.
"Pejamkan saja matamu, tidak perlu merasa cemas," ucap Damar seraya mengelus lembut tangan Aleta.
Bibir Aleta terkatup saat mendengar dan melihat sikapnya yang tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat. Ia bingung harus membalas ucapan pria yang kini menenangkan rasa takutnya.
"Apa sikapnya kali ini hanya sebuah kebohongan? Tapi kenapa aku hanya diam saja, seolah aku menerima semua perlakuannya padaku, bodoh!"
Aleta merutuki dirinya sendiri, meski batinnya terus berontak ingin sekali menolak sikap Damar, namun sentuhan pria itu justru membuatnya luluh seketika.
Tak lama Aleta tertidur di bahu Damar setelah terus bergelayut dengan perasaan bimbang. Damar juga tak henti-hentinya mengelus tangan Aleta, meski sang empunya telah tertidur lelap di bahu kekarnya.
__ADS_1
...♡♡♡...