Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
85 - Kegelisahan Emir


__ADS_3

..."Kau akan tahu bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang selalu memaafkan dan menghargai mu, terlepas perlakuan buruk dirimu padanya."...


...__________________...


Erick melihat jam rolex itu memanglah mirip dengan milik Damar, hanya saja kode rahasia yang tertera dibalik jam itu sangat berbeda.


Setelah mengamati bukti serta melihat jenazah pria itu, Erick pun bisa bernapas lega sebab terbukti kedua mayat itu bukanlah Damar dan juga Aleta.


"Terima kasih karena Anda telah membantu mengungkap pencurian ini," tutur pihak kepolisian tulus berterima kasih kepada Erick seraya mengulurkan tangan.


Erick mengulum senyum dan membalas uluran tangannya sambil berkata, "itu sudah kewajiban saya sebagai warga negara untuk membantu menegakkan hukum di Negeri ini."


"Baiklah. Untuk data korban bernama Damar Emilio Kyler dan Aleta Quenby Kyler, kami akan melakukan pencarian secepatnya di tempat kejadian dan sekitar area lokasi," terang Polisi itu tegas.


"Ya, saya serahkan semua kepada pihak kepolisian." Erick menyerahkan semua tugas pencarian kepada pihak polisi sebab dirinya masih dalam kondisi kurang sehat namun, ia berjanji akan membantu mencari setelah dirinya recovery.


"Baiklah. Kalau begitu saya pamit undur diri, Pak," pamit Erick melanjutkan ucapannya.


"Ya, sekali lagi saya ucapkan terima kasih," ucapnya tulus.


"Sama-sama, Pak."


Selesai berbicara dengan pihak kepolisian Erick pun kembali ke ruang kamar rawat inapnya dengan dibantu suster yang setia mendorong kursi roda saat itu.


...***...


Malam itu, Emir tampak gelisah. Ia berulang-ulang kali menghubungi ponsel Aleta namun, tak mendapat sautan apapun dari sang pemilik ponsel.


Mondar-mandir di depan tempat tidur dengan raut wajah tak tenang. Siaran berita di televisi selalu ia putar guna memastikan bahwa nama Aleta tak berada dalam data korban ledakan.


Emir juga meminta seluruh anak buahnya mendatangi lokasi kejadian untuk mencari keberadaan Aleta yang sampai saat ini belum juga terdengar kabarnya.


Kenapa aku harus mempercayai rencana manusia itu! Akibat perbuatannya anakku harus menjadi korban. Berengsek!


Emir mengumpat kekesalan yang ditujukan untuk Kemal. Ia menyesali rencana itu karena telah membuat Aleta hilang dalam data pencarian korban.


Tiba-tiba dari depan pintu kamar terdengar suara ketukan pintu. Tanpa mendengar jawaban dari Emir, kaki tangan kepercayaannya itu segera masuk setelah mengucapkan permisi dari ambang pintu.

__ADS_1


Ia menghampiri Emir sambil memberitahukan bahwa ada seorang saksi mata yang melihat beberapa orang telah membawa korban wanita yang ciri-cirinya sama persis dengan Aleta.


Beberapa lembar foto diberikan kepada Emir untuk meyakinkan bahwa ucapan saksi mata itu benar adanya. Terlihat dari beberapa foto pakaian yang terakhir Aleta kenakan serta Sling bag yang selalu Aleta pakai.


Netra mata Emir terbelalak hebat tatkala melihat foto yang benar-benar membuktikan bahwa itu adalah anak semata wayangnya.


"Kita kesana sekarang!" seru Emir memerintah agar membawanya menemui saksi mata itu.


"Baik, Tuan." Ia membungkukkan badan, tanda bahwa mengerti dengan ucapan Emir.


Setelah mengambil overcoat lalu, memakainya. Emir melangkah pasti menuju mobil bersama dengan orang kepercayaannya yang kini tengah membukakan pintu mobil untuk Emir.


Sebelum masuk ke dalam mobil, Emir memberikan pesan padanya, "jangan sampai Kemal mengetahui hal ini." Emir mengucapkan dengan tegas.


"Baik, saya mengerti Tuan."


Mendengar kepatuhan dari sikap dan ucapannya, Emir pun segera memasuki mobil dengan duduk di belakang kemudi.


Sementara tanpa sepengetahuan Emir, ternyata Kemal telah meminta salah satu anak buah Emir untuk memberitahukan apapun yang sedang Emir lakukan, termasuk saat ini.


Anak buah itu melaporkan pada Kemal melalui sambungan ponsel, memberitahukan bahwa Emir pergi dengan tergesa-gesa.


Mendengar info yang telah diberikan, Kemal menyeringai penuh arti. Lantas ia memberi perintah orang suruhannya untuk mengikuti kemana perginya Emir, setelah menutup sambungan.


"Ikuti dia," perintah Kemal tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.


"Baik, Tuan."


Meninggalkan kepergian orang suruhannya itu, Kemal bergumam dalam hati.


Kau pikir bisa menyembunyikannya dariku, kau tak cukup pintar Emir! Aku harap dia mati setelah kau berhasil menemukannya. Rupanya mudah sekali menepuk dua lalat.


Kemal menyunggingkan senyum puas sambil menyesap wine yang ada di gelas hingga tandas, ungkapan kemenangan rencana yang ia lakukan telah mendapat keuntungan.


...***...


Mobil Emir berhenti tepat di depan rumah kayu yang umum dibangun di daerah pedesaan itu, meski memiliki halaman luas namun rumah yang ditempati warga disana cukup kecil.

__ADS_1


Emir turun dari mobil dan melangkah menghampiri pintu rumah yang saat ini diketuknya. Ia menunggu sang pemilik rumah untuk segera membukanya.


"Iya!" sahut pemilik rumah setelah mendengar suara ketukan pintu. Ia menghampiri guna melihat kedatangan seseorang yang bertamu malam-malam seperti ini.


Siapa orang-orang diluar itu?


Gumamnya setelah mengintip dari celah gorden. Ia melihat beberapa orang yang berdiri di depan pintu rumahnya dengan pakaian serba hitam, tampak mengerikan ditengah suasana mencekam akibat ledakan dari gedung itu hingga membuat arwah-arwah dari para korban seperti bergentayangan dilingkungan pedasaan tersebut.


"Permisi!" Panggil Emir tak sabar menunggu sang pemilik rumah untuk membukanya.


"Siapa, Pak?" tanya sang Istri terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara dari depan rumahnya.


"Ssstt!" sang Suami segera menutup rapat mulut Istrinya untuk tak bersuara.


"Kenapa Pak?" tanyanya pelan sambil mengerinyit bingung, setelah menyingkirkan tangan Suami dari mulutnya.


"Di luar ada orang-orang berpakaian serba hitam, mereka terlihat mencurigakan." Sang Suami menjelaskan.


"Siapa mereka, tanya Pak," pinta Istrinya penasaran.


"Jangan Bu, Bapak takut mereka orang jahat. Dari pakaiannya saja sudah bisa dilihat, kalau mereka bukan orang baik-baik." Perjelasnya pada sang Istri.


"Iya benar juga ya, Pak. Lagipula mana ada orang baik yang bertamu malam-malam begini," imbuh sang Istri membenarkan ucapan suaminya.


"Kita lapor saja Pak, biar mereka diusir agar tak lagi kembali ke sini," usul sang Istri.


"Mau lapor gimana, Buk, sementara mereka ada di depan rumah?" tanyanya menggelengkan kepala.


"Ah, iya benar juga." Sang Istri menyilangkan tangan di depan dada sambil berpikir untuk mengusir mereka dari rumahnya tanpa harus bertemu dengan orang-orang itu.


Emir menoleh tajam ke arah kaki tangannya, seakan mengungkapkan kekecewaan padanya. Sudah cukup lama menempuh perjalanan dan mendapatkan hasil yang tak diharapkan membuat Emir kesal.


Emir pun kembali melangkah masuk ke dalam mobil dengan raut wajah kecewa. Wanita yang menjadi orang kepercayaannya itu cepat-cepat menghampiri Emir untuk meminta maaf.


Ia bersungguh-sungguh jika memang alamat rumah yang diberikan saksi mata itu adalah benar dan sesuai yang tertera di dalam lembaran kertas memo.


"Jika kau memang yakin, tunggu di sini sampai besok pagi dan seret saksi mata itu kehadapan ku!" perintah Emir sebelum meminta sang supir untuk melajukan mobilnya.

__ADS_1


...T E R I M A K A S I H...


__ADS_2