
Mobil terparkir tepat di tepian danau dan setelahnya Damar keluar dari dalam mobil tanpa menunggu Erick untuk membuka pintu mobilnya. Damar tak sabar ingin bertemu dengan Emir, tidak lebih tepatnya ia sudah tak sabar membebaskan Aleta dari ruang lingkup Emir.
Derap langkah kakinya menghampiri Emir yang tengah berdiri menghadap danau dengan ditemani semua anak buahnya termasuk Alona.
Sementara Erick mengikuti segera langkah Damar yang berjalan di belakangnya. Tangan kirinya memegang sebuah pistol, berjaga-jaga jikalau Emir serta anak buahnya itu melukai Damar dan dirinya.
Meski lawannya tak sebanding, Erick tidak merasa takut sedikitpun. Ia yakin bisa melawan mereka semua walaupun hanya dengan menggunakan pistol.
Damar berhenti tepat di belakang tubuh Emir. Ia menilik perawakan pria tua itu, ternyata tubuhnya masih tampak kekar dan kedua pundaknya pun tegap sempurna, tak terlihat sedikitpun tanda gestur tubuh yang sejalan dengan perkembangan usianya.
"Sudah lama sekali tidak bertemu," sapa Emir begitu membalikkan badan dan menatap Damar dengan berani. "Bagaimana kabarmu?" tanya Emir basa-basi.
"Tidak perlu basa-basi, cepat katakan di mana kau sembunyikan Aleta." Damar membalas dengan tatapan sengit.
Mendengar ucapan Damar, lantas Emir terkekeh kecil. Menafsirkan pertanyaan bodoh yang terlontar dari mulut Damar. "Aku ini Ayah kandungnya jadi, kenapa kau mengatakan hal seperti itu!" balas Emir mempertegas kalimatnya.
"Ayah macam apa, yang tega membuat anak perempuannya menderita selama ini," sindir Damar dengan berani, bahkan kini ia berbalik mentertawakan Emir.
"Jaga mulutmu itu baik-baik, jika tidak ingin ku robek!" hardik Emir sembari menarik kasar kerah kaos yang dipakai Damar.
Damar memperlihatkan smirknya tepat di depan wajah ayah mertuanya itu. Selisih tinggi mereka tidak terlalu jauh, sehingga Emir dapat dengan jelas melihat ekspresi wajah Damar yang sedang mengejeknya.
Begitu santai Damar menyingkirkan cengkraman tangan Emir pada kaos hitamnya. "Aku benar, kan. Kau memang tidak pantas disebut sebagai seorang Ayah." Suara lantang Damar berhasil membuat nyali Emir sedikit menciut untuk membalas ucapannya itu.
...****...
Aleta mengerjapkan mata perlahan setelah tersadar dari pingsannya selama beberapa menit. Ia mengalihkan wajahnya dari sorotan lampu penerangan yang terarah tepat di wajahnya.
Akibat kilauan lampu tersebut, Aleta sulit melihat sekeliling tempat untuk mengetahui di mana ia berada saat ini. Tangan yang terikat tali beserta kakinya, menyulitkan Aleta untuk bergerak—sekedar memindahkan posisi duduknya agar tidak tersorot lampu.
"Kenapa aku diikat seperti ini? Apa Ayah sengaja melakukannya," gumam Aleta sejenak berpikir tujuan sang ayah membekuk dirinya di ruangan yang begitu terasa dingin dan menyeramkan.
Tak lama Aleta mendengar derap langkah kaki seseorang yang diiringi dengan suara tongkat kayu. Perlahan suaranya semakin jelas terdengar di kedua telinganya.
Saat seseorang itu tiba dihadapannya, Aleta tercengang. Seseorang yang begitu dikenalnya berdiri tegak sambil memandang Aleta dengan tatapan mengerikan. Ia adalah, Kemal si pria bertongkat.
"Lepaskan aku!" Aleta membuka suara lebih dulu.
Tak ada balasan yang keluar dari mulutnya, bahkan bergerak sedikitpun enggan dilakukan. Sampai tiba di mana, salah seorang pria membawakan sebuah ember aluminium yang berisikan air yang sangat dingin beserta potongan kasar es balok yang mengembang di atasnya.
"Letakkan di sana!" perintahnya seraya menunjuk tepat ke arah kaki Aleta.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Aleta pelik, begitu melihat isi dari ember tersebut.
Lagi-lagi Aleta tak menerima jawaban, hanya perlakuan kasar dari pria yang saat itu sedang berjongkok di depannya untuk melepaskan sepatu yang Aleta kenakan. "Cepat angkat kakimu!" Perintahnya pada Aleta setelah menggeser ember tepat di depan Aleta.
Aleta menggelengkan kepala cepat tanda ia menolak untuk melakukan yang pria itu katakan. Namun, pria itu tidak suka mendengar penolakan dari Aleta, ia mengangkat kedua kaki Aleta secara paksa dan meletakkannya di dalam ember tersebut.
__ADS_1
Rasa dingin seketika menerpa di kedua kakinya, sontak Aleta menarik kembali kakinya untuk keluar dari ember yang berisikan air es. Sayang, pria itu menahan kaki Aleta, sehingga Aleta harus merasakan dinginnya air itu.
"Lepaskan aku! Cepat lepaskan!" jerit Aleta disertai ekspresi meringis karena tidak sanggup menahan rasa dingin yang hampir terasa di sekujur tubuhnya.
"Aku akan melepaskanmu, sampai orang itu bersedia untuk mengantikanmu," balasnya sambil duduk santai di depan Aleta.
"Apa maksudmu?" tanya Aleta tak paham.
Kemal hanya menyeringai dan kembali memerintahkan Devano untuk memasangkan sebuah alat di tubuh Aleta. Devano mengambil alat itu dari atas meja dan segera memasangnya.
Aleta kembali dibuat tercengang. Bagaimana tidak? belum cukup ia menahan dingin pada kedua kakinya yang hampir membeku dan mati rasa, kini ia dibuat ketakutan, sebab alat yang akan dipasangkan pada tubuhnya itu berupa bahan peledak.
"Jauhkan alat itu dariku, aku tidak mau memakainya!" tolak Aleta berusaha mengalihkan tubuhnya dari alat peledak yang akan dipasangkan oleh Devano.
"Diam!" hardik Devano seraya melayangkan tangan di atas pipi Aleta.
Meski mendapatkan tamparan, Aleta terus memberontak. Wanita itu menolak memakainya. "Aku tidak mau!" Jeritnya berulang-ulang kali.
Butuh beberapa menit Devano memasangkan alat peledak itu di tubuh Aleta, yang akhirnya berhasil ia lakukan. "Kau menyulitkan pekerjaanku," bentak Devano sambil menyeka keringat yang ada di keningnya.
Setelahnya Devano pergi dari sana dan meninggalkan Aleta bersama Kemal. Ia tak ingin mendengar percakapan antar keduanya.
"Kau hanya perlu diam di sini sampai orang itu datang. Jangan melakukan apapun, jika tidak ingin mati." Kemal memberikan pesan yang terdengar seperti mengintimidasi.
Aleta menatap tajam ke arah Kemal. "Apa yang kau inginkan dariku? kenapa kau selalu menyakitiku?" tanyanya.
"Lalu, kenapa kau melampiaskannya padaku!" tutur Aleta tak terima.
"Itu karena Ayahmu menghamili calon tunanganku!" Tiba-tiba Kemal meninggikan nada bicaranya sambil memasang wajah marah.
"Maksudmu, calon tunanganmu itu, Ibuku?" tanya Aleta memastikan penafsirannya.
"Ya. Elvina adalah calon tunanganku. Rencana pernikahan yang aku impikan bersamanya, gagal total karena ulah Ayahmu yang bejat itu!" maki Kemal sembari mendengus kesal.
"Jadi kau it--" ucap Aleta terpotong.
"Benar. Akulah dalang dibalik cerita peperangan keluarga kalian! Aku sengaja melakukannya karena ingin membalaskan dendamku pada Ayahmu dan juga Ibumu," jeda Kemal. "Menghasut Ayahmu untuk membenci keluarga Emilio dan meraup keuntungan uang dari perusahaannya, itu semua ide dari rencanaku," imbuhnya merasa puas.
"Berarti rumor mengenai Ibuku yang berselingkuh dengan Ayah Damar, tidak benar adanya!" seru Aleta tak menyangka.
Kemal tertawa keras saat mendengar ucapan Aleta. Ia mengingat kembali kejadian beberapa tahun silam, saat masih duduk di bangku kuliah bersama Elvina dan juga Emir.
Satu penjuru Universitas itu tahu, jika Elvina memiliki seorang kekasih keturunan bangsawan. Namun, hubungan mereka ditentang oleh ayah Emilio, itulah mengapa kisah cinta mereka kandas di tengah jalan. Meski begitu mereka berpisah secara baik-baik.
Mendengar Elvina tidak memiliki hubungan lagi dengan Emilio, lantas Kemal pun melangkah maju untuk mengantikan posisi Emilio. Kedua keluarga juga ikut menjodohkan Elvina dan Kemal, hingga tiba di mana Kemal mengenalkan Elvina pada sahabatnya, Emir.
Ketiganya sering menghabiskan waktu bersama, sehingga membuat Emir menyimpan rasa pada Elvina. Namun, ia tak berani mengatakannya, karena tidak ingin merusak persahabatan antara dirinya dan juga Kemal.
__ADS_1
Selepas kelulusan, semua mahasiswa kampus di jurusan mereka hendak merayakan party di salah satu hotel berbintang di Istanbul.
Mereka berpesta hingga larut malam dan pulang dalam keadaan mabuk berat. Saat itu Kemal meminta Emir untuk mengantarkan Elvina pulang lebih dulu, sebab ia masih memiliki acara lain dengan teman satu club seni.
Hujan turun cukup lebat saat malam itu, sehingga membuat Emir menghentikan laju mobilnya. Ia tidak ingin mengambil resiko untuk terus berkendara.
Akhirnya Emir menepikan mobilnya. Suasana di dalam mobil tampak hening seketika. Keduanya yang masih dalam keadaaan mabuk, lantas terpengaruh untuk berciuman, sebelum akhirnya Emir dan Elvina melakukan hal tak terduga di dalam mobil.
Esok paginya Elvina menceritakan kejadian malam kemarin kepada Kemal. Ia memberanikan diri untuk mengatakan sejujurnya pada calon tunangannya itu, agar tidak ada penyesalan dalam diri Elvina di kemudian hari.
Kemal sangat marah begitu mengetahuinya. Dengan emosi yang meluap-luap, ia menghampiri Emir dan meninju pria itu sampai tak sadarkan diri.
Berselang beberapa bulan kemudian, Elvina diketahui positif hamil setelah melakukan tespack beberapa kali. Ia pun segera meminta Kemal untuk mengakhiri pertunangannya dan menyudahi hubungan mereka namun, Kemal menolak.
Ia mengejar Elvina untuk tidak membatalkan pertunangan. Nasib naas menimpanya. Kemal dilarikan ke Rumah Sakit lantaran menolong Elvina yang saat itu hendak menyeberang jalan namun, tidak melihat kedatangan sebuah mobil sedan yang melaju cukup kencang.
Akibat kecelakaan itu, Kemal harus merelakan satu kakinya diamputasi, itulah sebabnya ia selalu berjalan menggunakan tongkat meski sudah menggunakan kaki palsu.
Saat berada di Rumah Sakit, Kemal tidak pernah lagi bertemu dengan Elvina dan Emir. Sampai tiba di mana ia mendengar kabar bahwa Elvina dan Emir akan segera menikah dua Minggu lagi.
Mendengar kabar yang tidak mengenakan itu, Kemal pun bertekad dalam kurun waktu dua minggu itu, ia akan menghancurkan hubungan Emir dan Elvina—membalaskan rasa sakit yang ia rasakan saat itu.
Begitu keluar dari Rumah Sakit, Kemal langsung menemui Emir dan berpura-pura mendukung Emir untuk menikah dengan Elvina. Kemal berhasil membuat Emir mempercayai dirinya, keduanya pun sering menghabiskan waktu berdua. Emir selalu menceritakan hubungannya pada Kemal.
Sampai di waktu yang tepat, Kemal secara tidak sengaja bertemu dengan Elvina di sebuah cafe, sebelumnya ia berniat menghampiri namun, rupanya Emilio datang menghampiri Elvina lebih dulu.
Kemal menyeringai penuh arti, ia pun memotret keduanya yang terlihat sedang asyik berbincang dan bersenda gurau. Hasil gambar itu nantinya akan diberikan kepada Emir, upaya Kemal memanas-manasi.
Kentara sekali kemarahan Emir saat Kemal menunjukkan beberapa lembar foto Elvina bersama dengan Emilio. Mengetahui respon ketidaksukaan Emir, lantas Kemal berinisiatif untuk memalsukan cerita dan menambahkan kata-kata agar Emir semakin panas dan emosi.
"Ayahmu itu memang bodoh, sama sepertimu! mudah sekali untuk ditipu," ejek Kemal sebelum melangkah pergi.
Aleta tidak dapat membalas ucapan Kemal, sebab ia membenarkan umpatan tersebut. Ia dan Ayahnya memanglah sama-sama bodoh. Keduanya mudah sekali terkecoh dengan orang-orang yang berada didekat mereka.
"Sekarang kau mengerti 'kan, anak manis," goda Kemal berbisik seraya menepuk pundak Aleta.
Aleta membalasnya dengan ekspresi wajah kesal, mata tajamnya menatap Kemal dengan perasaan tak suka. Namun, Kemal tidak memperdulikannya, ia justru tersenyum puas menanggapinya.
Kemal berdiri tegak setelah tubuhnya membungkuk saat berbisik di telinga Aleta. Kemudian, ia melangkah pergi dari ruangan berukuran sepetak itu.
Terdengar nada siulan dari mulut pria bertongkat itu, nada yang sama seperti kejadian lampau, saat di mana ia menyiksa Aleta dengan memukul punggungnya menggunakan balok kayu.
Aleta menatap kepergian Kemal, entah kenapa ia justru merasa sedih. Tak ada jeritnya lagi untuk meminta Kemal melepaskan dirinya.
"Aku akan menebus kesalahan yang diperbuat kedua orangtuaku, agar semua ini selesai."
...️❤️❤️❤️...
__ADS_1