
“Saya terima nikah dan kawinnya, Silvana Raihana Gunadhya, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai.”
“Sah saudara-saudara?”
“SAH ! BARAKALLAH”
Semua orang bergembira, ada yang menangis terharu, ada yang tertawa, dan ada yang bertepuk tangan. Tapi tidak dengan seorang gadis berumur 16 tahun, berambut panjang sepunggung, yang memakai gaun berwarna putih. Claudia Ariadna Mahendra, putri semata wayang dari Silvana Raihana Prambudi, perempuan yang baru saja melakukan ijab kabul tadi. Claudia menahan amarahnya, dia sangat kesal ketika tau ibunya menikah lagi, dan berita pernikahan ini malah justru ia dengar dari neneknya.
Ada yang aneh memang dengan bundanya, sebulan yang lalu tiba-tiba Silvana mengirimnya ke rumah sang nenek di singapura, padahal selama ini walaupun neneknya meminta supaya Claudia diperbolehkan berkunjung, Silvana tidak pernah memberi ijin.
Betapa terkejutnya Claudia, ketika seminggu lalu neneknya bertelepon ria dengan eyang dari pihak bundanya. Neneknya yang telah lama pindah ke Singapura ini terkejut, mantan besan yang merupakan teman karibnya semasa sekolah itu, mengatakan bahwa anaknya sudah menemukan calon suami baru, dan akan segera menikah. Saat sang nenek memberitahu Claudia perihal kabar pernikahan bundannya, malam itu juga Claudia kembali ke Indonesia. Ketika sampai di Indonesia, apa yang didapatinya sungguh membuat hati Claudia hancur.
Bundanya ternyata sudah melakukan proses lamaran, pengajian bahkan siraman. Iya, semua prosesi itu telah di lakukan sang bunda, tanpa kehadiran dirinya. Claudia merasa di buang, apapun alasannya ia tidak bisa menerima, ini tidak benar, sebagai orang terdekat seharusnya sang bunda menanyakan pendapat Claudia terlebih dahulu. Bundanya sangat egois, dan Claudia tidak bisa terima dengan kondisi ini, rasanya ia ingin menghancurkan pernikahan bundanya sekarang juga.
“De, ade ga makan sayang?” tanya Nesya eyangnya, sambil membelai punggung Claudia dengan lembut. Nesya yang sudah mengurusnya sejak ia berumur 6 tahun ini, sangat tahu kalau sekarang Claudia sedang menderita. Apalagi ia tahu Claudia benar-benar anak yang keras kepala dengan harga diri yang tinggi, persis seperti Ayahnya.
“Kenapa ga sekalian aja eyang suruh ade makan racun tikus, biar bunda seneng ade mati sekalian disini !”
Jawab Claudia dengan kesal, tapi ia tidak menaikan nadanya, karena ia tahu sang nenek punya riwayat penyakit jantung. Itulah salah satu alasan ia tidak melakukan aksi penghancuran di pesta pernikahan bundanya.
“Kok ade ngomongnya gitu? Kan bundanya lagi bahagia, kalo ade kaya gini nanti bundanya sedih gimana?”
“Emang bunda peduli, ada ade apa gak !”
Claudia akhirnya menangis sejadi-jadinya, dan berbalik sambil berlari meninggalkan eyangnya, yang juga hanya bisa menangis melihat cucu kesayangnya itu sangat bersedih.
Karena berlari tanpa melihat sekeliling, Claudia menabrak seorang pria hingga ia tejatuh. Apesnya, minuman yang dipegang oleh pria itu tumpah, dan mengenai bajunya.
“Ma…ma….maaf…”
Pria itu terlihat sangat kesal dan marah, dia pun memanggil pelayan yang bertugas di acara itu, tapi ia berusaha tersenyum. Bagaimana pun pria itu tidak sendirian, dan ia sedang bersama dengan orang-orang yang terlihat penting.
“Kamu gpp? Bisa berdiri?” mengulurkan tangannya ke Claudia.
“Bisa pak, maaf saya tadi lari ga liat.” Balas Claudia yang acuh dan tidak meraih tangan pria tersebut.
“Oh ya gpp, tapi baju saya basah gini, gimana ya?”
“Hah?”
Claudia yang sedari tadi menunduk, langsung mendangak, dan melihat pria di depannya itu bajunya sudah basah terkena tumpahan softdrink.
“Ya ampun pak, maafin saya. Aduh gimana ini!”
Pria itu terpaku melihat Claudia, karena sejak tadi ia menunduk wajahnya tidak terlihat. Perawakan Claudia cukup menarik, tubuh dan wajah kecil has orang asia timur namun bermata biru has orang eropa. Dan iya, dia mendapatkan kecantikannya dari sang Ayah, yang masih memiliki darah, Indonesia, Rusia, dan Jepang.
“Pak? Bapak?” suara Claudia menyadarkan lamunan pria itu, ia langsung menaruh gelasnya di nampan pelayan yang tadi dia panggil, dan menarik tangan Claudia.
“Saya tinggal sebenar ya, kamu ikut saya”
“Pak saya mau dibawa kemana?”
“Udah kamu ikut aja”
Pria itu menarik tangan Claudia, dan mereka berjalan melewati tamu undagan lainnya. Claudia berusaha berkali-kali melepas tangan besar pria itu, namun tidak berguna, pria itu terlalu kuat. Awalnya Claudia sudah percaya diri, dia tak pernah takut dengan orang lain, karena Claudia bukan perempuan lemah seperti kelihatannya, ia pemegang sabuk hitam Judo dan aikido. Jadi dia tau teknik melawan orang yang jauh lebih besar dan lebih kuat darinya. Namun, sekali lagi pesta ini membuatnya tertahan, ia tidak mungkin berusaha membanting orang yang sedang menggandeng tangannya.
Pria yang kira-kira memiliki tinggi 185cm ini, bertubuh bidang dan kekar ini terlihat seperti orang penting, beda dari tamu yang lain, mungkin dia masih termasuk keluarga dari pihak lelaki.
“Masuk.” Seru pria itu dingin.
“Hah kita mau ngapain”
__ADS_1
“Udah saya bilang masuk!”
“EH LO JANGAN MACEM-MACEM YA! KYAAAAAA”
Tubuh kecil Claudia langsung dibopong oleh pria itu, seperti membopong karung beras, mereka masuk kedalam dengan Claudia yang meronta-ronta. Banyak orang yang melihat Claudia di bopong, namun tak ada satupun yang berani menegur, apalagi pria itu mendelik tajam kearah orang-orang lain. Pria itu tanpa kesulitan dan tidak menggubris pukulan Claudia, terus membopongnya masuk kedalam ruang ganti.
Dengan hati-hati pria itu menurunkan tubuh mungil Claudia, lalu mengunci pintu ruang ganti tersebut. Dengan sigap Claudia langsung mengambil kesempatan untuk memukul pria itu, tapi belum sempat ia memukul, pria itu langsung menangkis pukulan Claudia.
“HEH OM, LO MAU NGAPAIN BAWA GW KEMARI, MAU MESUM YA?!” Jawab Claudia sambil masih memasang kuda-kudanya.
“Pak…om…. HEH…Gw masih 27 tahun, berenti manggiil gw om atau pak!. Nama gw Aksa panggil gw kak Aksa”
“DIH, OGAH BANGET GW MANGGIL LO KAK, KENAL JUGA KAGAK. EMANG SEJAK KAPAN EMAK GW KAWIN SAMA BAPAK LO, SAMPE GW HARUS MANGGIL LO KAKAK!”
Pria itu mendekati Claudia, dan saat semakin dekat dia menurunkan reseleting belakang dari gaun yang dikenakan oleh nya. Panik bukan kepalang, Claudia berusaha memukul kembali, namun lagi pukulannya gagal.
“HEH BISA GA LO JADI CEWE JANGAN BRUTAL !, SUMPAH YA GW GA TAU DEH LO BAKALAN LAKU APA GA DIMASA DEPAN, MANA ADA COWO YANG MAU AMA TUKANG PUKUL KAYA LO!”
Wajah Claudia memerah, kesal sudah pasti, dia marah karena mendapatkan penghinaan seperti itu, kalau cowo yang bernama Aksa ini ga pake acara bopong-bopong Claudia tiba-tiba, ga mungkin gadis mungil ini berusaha berkali-kali mengeluarkan jurusnya.
“LEPASIN GA !!!!!”
“OK GW LEPASIN, TAPI LO LIAT SEKARANG DI DEPAN KACA, KONDISI LO KAYA GIMANA?!”
‘Maksudnya gimana, emang gw kenapa?’ gumam Claudia dalam hati.
Dan bener aja, begitu Claudia berbalik dan menghadap kaca, baju depan Claudia sudah basah, sampai pakaian dalamnya kelihatan, dengan shock Claudia menutupi dadanya dengan tangannya, sambil berteriak.
“KYAAAAAAAAAAAAAAA”
“DUH BERISIK BANGET SIH, BIASA AJA BISA GAK?, Udah itu ganti baju lo sama gaun yang ada disana, gw balik badan ga bakal ingintip”
“EH, emang lo kira gw pedofil apa…udah cepet ganti, apa perlu gw yang gantiin?” goda Aksa ke Claudia sambil tersenyum
“GAK !, Udah lo muter sana, jangan ngintip”
“Iya iya bawel”
Aksa akhirnya berputar, pria tampan ini hanya bisa tersenyum karena melihat tingkah Claudia. Aneh memang, bahkan Claudia yang sedang ganti baju pun agak bingung dengan sikap Aksa, yang terus tertawa dan tersenyum saat berbalik badan.
‘Dih nih orang se’ep kali otaknya, udah gila apa ketawa sendiri’ gumam Claudia sambil memutar jari telunjuknya kearah kepala. Tanpa sadar Claudia jadi memperhatikan Aksa dari kaca.
“Udah nih, lo boleh muter lagi”
“Mana sini coba gw li…..”
Aksa terdiam, dia melihat dan memeriksa dari ujung kepala sampai ujung kaki Claudia. Ya bisa di bilang dia terpesona, karena Claudia memang cantik. Apalagi saat ini gaun yang Claudia pakai adalah gaun cadangan untuk mempelai wanita.
“HEH LO KENAPA!” tanya Claudia bingung.
“Ehm, gpp. Sekarang, gantian”
“Gantian, apa?”
“Gantian bantuin gw ganti baju” seru Aksa sambil membuka kancing bajunya.
“APA!!!!! LO EMANG UDAH SARAP…. YA KALI GW GANTIIN BAJU LO.”
“Ayo udah cepet bantuin gw!”
“GAK !!!!”
__ADS_1
Aksa terus memaksa Claudia, dan saat dia semakin mendekat, dengan sigap Claudia langsung membanting tubuh Aksa.
GUBRAK, Suara tubuh Aksa yang jatuh memenuhi ruang wardrobe yang sepi tak ada orang kecuali mereka berdua.
“DUH SAKIT TAU! DASAR CEWE GORILA!” tukas Aksa yang sekarang sudah tergeletak di lantai.
“BODO AMAT, TAU RASA LO EMANG ENAK, MESUM DASAR, MATI AJA SANA, COWO MESUM”
Claudia bahkan sempat menendang perut Aksa, lalu berlari sambil membuka kunci kamar ganti itu.
“HAHAHAHAHAHAHA, kamu masih aja kaya gitu, aku malah jadi makin pengen milikin kamu…Claudia…Aduh tapi ini beneran sakit, gila kamu ngebanting aku ga pake perasaan banget…duh…” Aksa tertawa dengan keras, sambil senyum-senyum sendiri, setelah Claudia keluar ruangan. Lalu ia berusaha untuk bangun
Claudia merasa hari ini, hari apesnya. Udahlah bundanya hari ini nikah sama orang yang bahkan dia ga tau itu siapa, ditambah lagi ketemu sama cowo mesum kaya orang tadi. Yaudah mungkin memang lebih baik dia tinggal sama neneknya di singapura.
“Kesel, hari ini semuanya ga ada yang berjalan sempurna, kenapa sih hari ini ade sial terus”
Claudia terus berjalan sambil menendang batu yang ada di depannya. Dari kejauhan, terdengar eyangnya memanggil, namun ia pura-pura tidak mendengar.
“ADEEEEEEE….ADUH JANTUNG EYANG SAKIT….”
Mendengar eyangnya berteriak sambil bilang jantungnya sakit, Claudia langsung memutar Arahnya mendekati sang eyang.
“Eyang gpp? Yaampun eyang ngapain sih lari-lari, udah tua juga”
“Eh, sembarang eyang masih muda, baru juga 46” seru eyangnya sambil memencet hidung Claudia.
“64 eyang, jangan suka korupsi umur deh” balas Claudia sambil manyun.
“Hahaha…iya iya…tapi ini kenapa cucu eyang ganti kostum? Cantik banget ini, udah siap di pinang dengan bissmillah juga apa?”
“DIH, Eyangnya mah…gak, ini tadi ade nabrak orang rese, terus ade ganti baju deh, udah gitu yah, tadi masa orang itu mau mesum eyang sama ade”
“Mesum gimana?”
“Iya jadi tadi dia minta ade buka…..”
“Eyang…”
Saat Claudia sedang bercerita dengan eyangnya tiba-tiba terdengar suara yang ga asing, persis di sampingnya.
“Ya ampun Aksa, kamu darimana aja. Eyang cariin kamu, udah ketemu sama ade’mu?”
‘apa Aksa, tunggu cowo tadi kan namanya Aksa’ gumam Claudia.
“Duh belum eyang, jadi mana yang namanya Claudia…”
‘ya mampus deh gw, tar dia bilang lagi sama eyang gw udah banting dia’ Claudia bingung dia ga mampu melihat kesamping kanannya, dia takut itu cowo yang sama, dan eyangnya pasti marah banget, tapi satu sisi Claudia ga pernah liat cowo ini di pertemuan keluarga atau bahkan pas arisan bulanan.
“Duh kok belum, de…ayo salim ini abangmu, anaknya papa Bram..”
Claudia berbalik, ia terkejut namun Aksa malah tampak santai dengan senyum licik dan alis mata terangkat sebelah.
“Hi adik kecil, kenalin nama saya Aksara Faresta Priambudi, KAKAK tiri kamu, kita akur-akur ya de” Ujar Aksa dengan santai dan penuh penekanan.
“GAK MUNGKIN…DASAR COWO MESUM !!!!!!”
Dengan spontan Claudia menonjok wajah mulus milik Aksa, sampai dia terjatuh ditanah, saat itu semua orang melihat kearahnya termasuk mama dan papa barunya. Dan sang eyang?, hanya bisa melotot tidak percaya melihat apa yang Claudia lakukan.
__ADS_1