
Aksa dengan langkah beratnya berjalan masuk ke arah lobi Royal High Cempaka, sebuah hotel mewah yang cukup terkenal, restoran di hotel ini sangat terkenal membuat popularitas tempat itu jadi meroket.
Satu hal lagi, hotel ini adalah milik keluarga Zen. Suatu hal yang bahkan tidak di ketahui oleh Claudia (lebih tepatnya Claudia tidak peduli sama sekali dengan harta keluarganya), namun Aksa tahu saat memulai penyelidikan soal keluarga dari gadis kesayangannya itu.
Sejujurnya Aksa sama, sekali tidak ingin bertemu dengan Silvana saat ini. Apalagi setelah beberapa hari lalu ia mendapatkan sebuah bencana besar, yang ia yakini bisa menghancurkan hidupnya.
Kejadian itu sangat cepat hingga Aksa bahkan tidak ingat kapan hal itu terjadi, ia tidak tahu menahu apa yang membuatnya mau saja mengikuti permainan Syakilla. Pria ini akhirnya menyadari sejak awal dia sudah masuk kepusaran permainan yang jelas siapa pemenangnya. Merasa bodoh dengan tindakannya Aksa cuma bisa termenung.
Tersadar atas semua kebodohannya, tidak seharusnya ia mengamini apa yang diminta oleh Syakilla. Membuat Claudia cemburu atas kedekatannya dengan mantan kekasihnya itu.
Akan tetapi semua sudah terlambat, yang harus Aksa pikirkan adalah bagaimana caranya agar semua masalah ini selesai dengan baik, ia sudah tidak bisa membuang-buang waktu lagi.
Menyadari bahwa ada kemungkinan besar jika Reiki terlibat dalam rencana Syakilla, membuat darah Aksa mendidih. Namun, ia telah berbuat kesalahan sekali dan tak ingin mengulanginya lagi. Ia tidak menghendaki Claudia bertambah benci dengannya.
“Ka…”
Aksa langsung membalikan badannya, ia tersenyum melihat siapa yang memanggilnya.
“Bunda…” jawab Aksa sambil memeluk Silvana. Ia rindu mendengar suara perempuan yang menjadi ibu sambungnya itu.
Mereka berdua pun akhirnya dipandu untuk masuk ke ruang VIP di restoran itu, Silvana walaupun dia telah bercerai dengan Zen, dia memang masih memiliki saham di perusahaan keluarga milik Zen, karena itulah meskipun tak berstatus sebagai istri dari ayah kandung Claudia, perempuan ini masih di hormati seperti dahulu.
“Bunda kenapa ngajak aku kesini? Kita kan bisa makan di mall deket rumah sakit?” tanya Aksa, ia benar-benar tidak nyaman makan di tempat ini.
“Kenapa emangnya kamu ga suka kalau bunda ajak kamu makan disini?” Silvana hanya tersenyum menanggapi protes Aksa.
“Gak enak nanti kalau ketemu sama om Zen” setahu Aksa, selama Zen ada di Indonesia dia memang sering mengunjungi hotel ini, ayah dari wanita yang ia cintai itu selalu mengecek seluruh bisnisnya dengan teliti.
Silvana hanya mengangguk, kemudian tertawa. “Kamu lebih takut ketemu sama Zen atau sama Claudia?”
Wajah Aksa langsung tegang saat mendengar nama Claudia disebut, ia memang belum siap menemui gadis itu, entah kemana larinya semua keberanian yang ia miliki.
Aksa kini menatap wajah Silvana dengan ekspresi sedih, sepertinya setengah nyawanya sudah menghilang ketika Claudia menghardiknya ketika ia memukul Reiki di puncak.
Silvana memahami semua kesedihan yang dirasakan putra sambungnya itu, tapi apa boleh buat, ia sudah memperingatkan Aksa agar tidak kalah dari emosinya sendiri, namun dengan jelas hasilnya tidak seperti yang diharapkan oleh Silvana.
“Ka, sebenernya ada hal penting yang harus bunda sampaikan” suara Silvana yang bergetar mempertegas kebingungan Aksa, dia merasa bahwa ada yang salah dengan bundanya itu.
Hal yang sangat jarang memang, ketika Silvana memaksanya untuk bertemu diluar, bahkan sampai menyewa ruangan VIP seperti ini. Dari awal memang terasa janggal, namun pria ini terlalu pusing memikirkan apa saja yang ingin di bicarakan oleh ibu sambungnya itu.
__ADS_1
Mata Aksa langsung terbuka lebar, sepertinya ia sudah paham apa yang ingin dibicarakan oleh Silvana.
“Maksud bunda….Claudia…” Aksa ketakutan, entah berita buruk apa yang akan ia dengar sekarang.
Silvana mengangguk, ia memang ingin membicarakan soal Claudia dan hal yang lain, tapi saat ini ia ingin mempersiapkan hati putranya itu agar lebih kuat, ketika pernikahan Claudia terjadi.
Masalahnya rencana pernikahan Claudia dan Reiki, jika berjalan sesuai yang di inginkan, hanya tinggal hitungan bulan saja. Silvana tidak yakin jika Aksa mendengarnya dari orang lain, dia akan menerimanya dengan baik.
“Berat buat bunda kabarin untuk ke kamu, tapi pernikahan Claudia akan di laksanakan setelah dia selesai ujian nasional” seru Silvana sambil menatap Aksa dengan tatapan menenangkan.
Tapi siapa juga yang bisa tenang, ketika mendengar gadis yang dicintainya akan segera menikah dengan orang lain. Dunia Aksa seakan runtuh saat itu juga, walaupun ia sudah tahu bahwa Reiki ingin segera menikahi Claudia, tapi dia tidak menyangka bahwa akan secepat ini juga.
Sepertinya drama yang ia lakukan dengan Syakila membuatnya menjadi lengah, ia tidak menydari Reiki dan dirinya kini tengah melakukan lomba marathon dengan satu sama lain.
“Aksa, bunda cuma berharap di acara ulang tahun Claudia nanti kamu bisa datang, mungkin bunda egois minta kamu untuk lakuin ini tapi Claudia pasti sedih kalau kamu kamu ga dateng”
Iya, Silvana entah mengapa merasa ada yang janggal, ia masih ingin Aksa datang dan menyadarkan anak perempuannya itu. Ia memang menyayangi Reiki dan juga Aksa secara seimbang, namun sebagai seorang ibu, Silvana mendapati hubungan anaknya dengan Reiki seperti telalu dipaksakan.
Sayangnya, berkali-kali ditanya pun Claudia tidak mau memberitahu dan menceritakan apapun perihal hubungannya dengan Reiki pada dirinya.
Aksa yang tadinya menunduk dengan tatapan kosong, kini menggelengkan kepalanya pelan, seakan merasa dunianya kini gelap.
Baginya selama ini walaupun berhubungan dengan Syakilla, di hatinya cuman ada Claudia, tidak ada yang lainnya. Ia merasa cuma gadis itu yang bisa mencairkan kebekuan yang ada di hatinya.
Kehidupannya yang dipenuhi dengan cacian, kegelapan yang datang dan membuatnya terjerumus kepada hal-hal buruk, belum lagi peliknya desakan juga tuntutan dari orang-orang sekitar, membuat Aksa seperti sebuah benteng nan rapuh.
Hanya Claudia saja yang bisa membuatnya menjadi seorang manusia kembali, ia mereas hidupnya akan baik-baik saja jika gadis itu ada disisinya. Jadi, mana mungkin dia bisa datang ke acara ulang tahun gadis yang sangat ia cintai itu, disaat ia tahu bahwa Reiki pasti akan mengumumkan pernikahannya di saat yang sama.
“Kalau Aksa dateng kesana, Aksa gak yakin bisa nyembunyiin perasaan marah dan sedih yang Aksa rasain. Aksa tahu kala Aksa melakukan suatu kebodohan yang ga termaafkan, tapi itu semua karena Aksa bingung gimana caranya merubah pikiran Claudia, dia jelas menolak Aksa mati-matian bukan karena dia ga cinta sama Aksa bunda, tapi karena alasan lain…” Aksa mengepalkan tangannya, ia mengingat dengan jelas ketika Claudia mengakui perasaan cintanya namun berusaha sekuat tenaga menolak Aksa.
Silvana mengerutkan dahinya, berarti yang dia pikirkan selama ini benar, ada yang tak beres mengenai Reiki dan putrinya itu.
“Ka,entah kenapa bunda merasa hatinya Claudia cuma terpaut sama kamu, kalau kamu mau menang dari Reiki berkali-kali bunda ingatkan kamu jangan pakai emosi, kamu gak akan mendapatkan apapun ka…”
Aksa cuma bisa mengangguk, ia kalah di awal jadi mungkinkah ia bisa menang di akhir? Padahal ia tahu akan sulit baginya untuk menang ketika Claudia masih keras kepala.
Silvana terdiam sesaat, ia menepuk pelan pundak Aksa, memberikan pemuda itu asupan semangat, menyatakan bahwa ia tak sendirian, dan semuanya bisa jadi baru di mulai. Saat itulah Silvana teringat dengan hal lain yang harus ia sampaikan.
Perempuan ini tidak berencana mendengarkan kesedihan Aksa saja, namun ada hal yang lebih penting tentang masa depan putranya itu. Apalagi kalau bukan masalah Syakilla.
__ADS_1
“Satu lagi bunda mau tanya sama kamu, apa kamu tahu alasan kenapa papa kamu maksa banget supaya kamu nikah sama Syakilla?”
“Setahu Aksa itu karena papanya Syakilla sahabatnya papa dan masih saudaraan juga kan sama keluarga besarnya papa” tutur Aksa bingung, kenapa tiba-tiba Silvana yang sangat membenci Syakilla justru membawa-bawa nama gadis itu di perbincangan mereka.
Benar saja, Bram memang tidak mengungkapkan alasan sebenarnya mengapa dia memaksa Aksa menikahi Syakilla.
“Udah bunda duga kamu cuma tahu sampe disitu aja”
“Maksud bunda???”
“Papa kamu…papa kamu mau kamu menikah dengan Syakilla bukan cuma karena alasa kekeluargaan aja ka…” Silvana menatap Aksa dengan wajah yang serius, bagi perempuan ini hal yang terjadi pada Aksa itu seperti perdagangan manusia, ia jelas tidak senang.
Aksa terdiam, menatap bundanya dengan tatapan curiga, ia tidak mengerti apapun perihal rencana Bram.
“Nenek kamu….memberikan satu syarat untuk mas Bram….kalau kamu mau jadi penerus keluarga Priambudi, kamu wajib menikah sama Syakilla itu syaratnya”
Aksa menatap bundanya tak percaya, apalagi ini. Kenapa masalah datang padanya silih berganti, bahkan saat ia belum menyelesaikan masalah yang ia hadapi sebelumnya.
“Kenapa jadi makin berat kaya gini sih masalah yang harus Aksa hadepin bun….”
“Ka, percaya deh ketika seseorang itu dicoba, cuma ada dua hal kemungkinannya. Yang pertama sebagai ujian dari Tuhan, dan yang kedua sebagai pengingat kalau kamu sebagai hambanya mungkin sering lalai untuk beribadah”
Aksa menyadari mungkin ini peringatan, ia memang tidak pernah menyadari bahwa ia banyak berbuat kesalahan, di titik ini mau tak mau ia harus merubah dirinya menjadi lebih baik.
Makanan mereka datang lalu ibu dan anak ini pun menyantap makanan mereka sambil berbincang, berusaha mengetahui kabar satu sama lain. Hingga ponsel Silvana berbunyi.
Ada sebuah pesan dari Bram, Silvana mengerutkan dahinya saat melihat tautan yang dikirim oleh Bram, matanya bahkan melebar setelahnya.
“Kakak….” Panggil Silvana dengan suara bergetar. Membuat Aksa langsung menatap wajah bundanya dengan ketakutan. Sepertinya ia baru saja mendapatkan masalah baru.
“Ini apa-apaan ini?!!!!” Silvana sangat marah, ia menyodorkan ponselnya kepada Aksa.
“B…b…bun….bunda…Aksa bisa je…jelasin…” ketakutan Aksa terjadi, dan dia tahu benar apa yang akan ia bayar sebagai kompensasinya.
Silvana langsung berdiri dari duduknya, ia tidak menunggu lagi. “Kamu ikut bunda sekarang, papa kamu minta ketemu”
“Tapi bunda…” Aksa menatap Silvana tidak ingin ikut dengan bundanya.
Namun perempuan itu tidak ingin mendengar alasan, Aksa harus ikut suka atau tidak. “SEKARANG KAK!!!”
__ADS_1