
"Pagi bun" sapa Aksa pada ibu sambungnya itu.
Hari ini Aksa bangun pagi-pagi sekali, dia sudah siap dengan setelan baju formalnya untuk bekerja. Ya Aksa memang CEO muda, ia memiliki perusahaan di bidang media. STARLIGHT media corp, adalah perusahaan yang di bangun oleh Aksa, 5 tahun lalu saat ia masih berstatus mahasiswa S2. Ia membangun perusahaan itu tanpa bantuan dari ayahnya. Sebenarnya Bram ingin Aksa hanya fokus di perusahaan pertambangan dan perkebunan kelapa sawit miliknya, namun Aksa memilih untuk fokus di perusahaannya sendiri, toh menurut Aksa papanya masih sanggup untuk mengurusnya sendiri, tapi meski pun begitu ia tetap membantu papanya, setiap 3 minggu sekali Aksa akan ke perusahaan papanya dan mengurus semuanya.
"Papa mana bun?" tanya Aksa ketika tak melihat batang hidung sang ayah.
"Masih mandi, tadi dia telat sholat subuhnya jadi telat juga mandinya" jelas Silvana yang disambut anggukan oleh Aksa.
"Ka mau roti apa nasi goreng ?" tanya Silvana seraya menuangkan susu coklat kesukaan Aksa kedalam gelas.
"Roti aja bun. Oh iya bun, ade mana kok ga ikut sarapan?" jawab Aksa sambil menarik kursi untuk duduk.
"Dia gak mau keluar kamarnya dari tadi malem" jawab Silvana sambil mengembuskan napasnya kasar.
Aksa yang tadinya duduk, langsung berdiri lagi ketika mendengar Claudia belum keluar kamar sejak tadi malam. Ia langsung mengambil roti, dan mengoleskan selai strawberry kesukaan Claudia, lalu menaruhnya di atas piring, tak lupa Aksa menuangkan jus yang telah di buat bundanya. Hari ini jeruk, wortel dan nanas.
"Lho ka, mau kemana kamu bawa makanan begitu?" tanya Silvana dengan heran
"Aksa, mau keatas. Kasian dari kemaren ade belum makan kan bun?" jawab Aksa
Silvana hanya tersenyum saja melihat perhatian yang Aksa berikan pada putrinya itu.
Aksa langsung berjalan menaiki tangga menuju lorong kamar Claudia. Ia mengetuk kamar adik sambungnya itu berkali-kali tak lupa sambil memanggil nama Claudia. Hasilnya nihil tak ada yang membuka pintunya, Aksa pun meletakan piring dan jus yang dia bawa diatas nakas yang berada di samping pintu kamar Claudia. Aksa bergegas turun ke bawah dan memberitahu bundanya, kalo Claudia tak menjawab atau membuka pintunya.
"Bunda..." Teriak Aksa
"Apa ka?" jawab Silvana
Aksa berlari melawati papa dan bundanya, ia membuka lemari yang didalamnya terdapat box besi berisi kunci cadangan seluruh ruangan di rumah ini. Sedangkan melihat Aksa yang sepertinya panik, Silvana dan Bram mengikuti Aksa masuk kedalam gudang tempat menyimpan makanan.
"Claudia kenapa Sa?" tanya Bram pada Aksa
"Aksa ga tau dia kenapa, tapi kok perasaan Aksa ga enak Pa, Aksa mau ambil kunci cadangan dulu" Aksa mengobrk abrik tempat kunci tersebut.
"Bi...bi Sumi...." Silvana memanggil pekerjanya
"Iya bu?" jawab bibi tersebut
"Bi tolong panggilin pak ujang, suruh cepet kesini" pinta Silvana panik
Bibi Sumi yang sedari dulu mengurus semua keperluan Aksa itu pun, langsung berlari keluar, memanggil pak ujang yang melupakan salah satu pengurus rumah tempat mereka tinggal. Aksa masih terus mengobrak abrik tempat kunci, tangannya gemetaran karena panik.
"Ya ampun, mana sih itu kunci, kenapa sih barang kalo lagi dicari gak ada, tapi kalo lagi ga di cari dia nongol dimana-mana!" ujar Aksa kesal.
__ADS_1
"Bu...ibu panggil saya?" pak Ujang datang berlari dan ikut masuk ke dalam gudang makanan.
"Iya pak, bapak tau ga kunci cadangan kamar Claudia dimana, ini kita cari-cari kok ga ada pak ?" tanya Silvana
"Kalo kunci cadangan kamar non Claudia mah udah di minta bu sama non Claudianya sendiri" jawab pak Ujang
"Hah, yaudah kalo gitu pak ujang panggil mang Asep, sama pak Usman, suruh bantuin Aksa buat..."
Belum sempat Silvana menyelesaikan kalimatnya, Aksa langsung kabur dan berlari ke kamar Claudia. Ia langsung berusaha mendobrak kamar Claudia, berkali-kali tapi pintu kamar Claudia tidak kunjung terbuka. Ia akhirnya berusaha menendang pintu kamar adik sambungnya, persis seperti adegan yang sering ada di film film atau di drama Korea. Tapi apa yang terjadi, kaki Aksa malah sakit luar biasa, apalagi tadi malam kakinya masih bengkak, bekas di injak Claudia.
"AAAAAAARRRRRRGGGGGGGGHHHHHHHH SAKIIIIIT......" teriak aksa
"Ya Allah tolong Aksa ya Allah, kenapa kalo di sinetron gampang banget dobrak pintunyaaaaaa" lanjut Aksa
"Aksa kamu ngapain sih?" tanya Bram datang bersama mang Asep dan yang lainnya.
"Aksa mau tendang pintunya pa, kaya di film film tapi malah kaki Aksa yang sekarang nyutnyutan" seru Aksa sambil meringis memegang kakinya
"Ya ampun, kamu tuh sekolah tinggi-tinggi sampe s2, punya perusahaan besar tapi kok lawak. Itu pintu dari jati belanda mau kamu dobrak gimana caranya. Udah minggir kamu, biar mang Asep jebol aja kuncinya." Seru Bram yang hanya geleng-geleng meliat kelakuan anaknya.
Tak sampai 30 menit mang Asep telah berhasil membongkar pintu kamar Claudia, betapa terkejutnya mereka ketika melihat Claudia sudah terkapar dilantai, badannya sangat panas. Aksa yang melihat itu langsung sigap membopong tubuh adiknya itu, ke atas tempat tidurnya. Ia nampaknya lupa bahwa kakinya sakit.
Silvana langsung memeriksa putrinya itu, ya mereka tak perlu pergi ke dokter, kecuali memang sangat parah dan butuh perawatan khusus.
"Bentar mas aku telepon rumah sakit dulu" jawab Silvana
"Halo, iya sus, tolong bilang dokter Andi untuk gantiin saya praktek hari ini, sekalian saya minta tolong kasih tau dokter Reiki saya butuh RL infus ya, suruh dia dateng kerumah saya gitu, ok..makasih sus" Silvana menutup teleponnya.
"Bunda, Claudia kondisinya gimana?" tanya Aksa cemas
"Dari kecil Claudia emang punya hipotensi, jadi kalo dia stress bakalan pingsan kaya gini, bunda udah keterlaluan juga kayanya ngehukum dia. Tapi tadi malem tuh sebenernya kenapa sih ka? Sampe kamu di injek gitu sama Ade??" Silvana penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Aksa, hingga membuat putrinya emosi jiwa.
"Eh,,,uhm ga kok bun, uhmmm...Aksa ya uhmmm...cuma kasih tau ade aja kalo eyang sempet kambuh. Oh iya bun eyang mana, Aksa ga liat ada eyang?" kilah Aksa yang mulai kebingungan untuk menjawab pertanyaan Silvana.
"Sa, kamu ditanyain bundamu kok malah balik tanya lagi eyangmu dimana. Eyang tadi pergi sholat subuh di masjid sama ibu-ibu majlis ta'limnya, terus lanjut kajian. Nah sekarang kamu jawab dulu, kamu ngapain si ade sampe dia jadi begini" tanya Bram dengan wajah serius
"Aaaaa papa Aksa udah telat, pergi dulu ya pa...."
'GUBRAAAAK' belum selesai Aksa menyelesaikan salam untuk pamit ke kantor ia sudah keburu jatuh duluan. Saat tadi seraya pamit Aksa melangkahkan kakinya, dan benar-benar sangat sakit. Aksa tidak bisa bangun, dan hanya meringis dalam posisi tengkurap.
Melihat Aksa jatuh, Bram, Silvana dan yang ada disana berusaha membantunya untuk berdiri. Aksa akhirnya duduk di sofa kecil, yang ada di kamar Claudia. Silvana langsung memeriksa kaki putra sambungnya itu sambil menggelengkan kepalanya.
"Sayang si Aksa kenapa itu" tanya Bram.
__ADS_1
"Duh luar biasa emang kalian berdua ya, bunda punya anak bisa kompak begini, tapi di hal yang negatif, pusing tau ga!" tukas Silvana.
"Hehehe pa, kayanya kaki Aksa retak deh" jawab Aksa sambil tertawa dan meringis di waktu yang bersamaan.
"HAH!!! TAPI TADI KAMU LANGSUNG BOPONG CLAUDIA!!!" seru Bram agak menaikan suaranya.
"Tadi pas Aksa mau dobrak pintu ala drama-dram korea gitu pa, kaki Aksa bunyi 'KREEEEK' gitu, terus langsung ngilu, tapi pas liat Claudia pingsan tadi Aksa lupa kalo kayanya kaki Aksa retak plus cantengan, hehehehe"
Ya saat ini Bram yang pusing, kadang konyolnya Aksa ini yang membuat orang ga akan percaya, kalo putranya ini akan jadi pemimpin dari usaha yang dia bangun. Bagaimana mungkin Aksa yang tahu kakinya retak tapi masih lari nyelonong masuk dan membopong Claudia, memang Aksa ini agak ajaib.
"OJAAAAAN OJAAAAAN, Aksa kamu papa sekolahin tinggi-tinggi kok masih aja error, ya gusti salah apa hamba, punya anak pinter tapi lebih sering errornya" Bram cuma bisa memijat pelan kepalanya.
"Udah mas, bawa aja deh si kakak kerumah sakit. Itu takutnya retaknya parah" titah Silvana ke suami dan anaknya itu.
"Yaudah ayo, kamu nih udah tua masih aja konyol, Aksa aksa...Tolong bantu saya pak Ujang, dan pak Usman tolong suruh si Rizky siapin mobil" pinta Bram pada pekerjanya
Mereka pun segera bergegas untuk pergi ke rumah sakit, meninggalkan Silvana dengan Claudia dan bi Sumi. Silvana hanya terduduk di ujung ranjang melihat anaknya sekarang terlihat gelisah karena panas tubuhnya. Bi Sumi dengan sigap langsung mengambil thermometer dan bantal dingin yang memang di taruh di freezer, ia melapisi bantalan gel itu dengan handuk supaya dinginnya tak langsung terkena tubuh Claudia.
"Ini bu..." serah bi Sumi ke Silvana
"Makasih bi" ujar Silvana
Silvana pun langsung membenarkan bantalan putri kesayangannya itu, sembari menaruh thermometer di tubuh anaknya itu.
"Non Claudia cantik banget ya bu, saya waktu pertama kali liat dia di nikahan ibu ampe terpesona, banyak lho bu tamu-tamu cowo yang ngomongin anak ibu, pengen kenalan gitu tapi pada takut, apalagi ngeliat kejadian non Claudia ninju mukanya mas Aksa, sampe mimisan lagi"
"Hahaha, iya saya tahu bi. Ini anak sebenernya kalau kaya dulu aja, lebih kalem pasti banyak yang suka, cuma gimana ya bi keras kepalanya itu lho turunan bapaknya" jelas Silvana sembari membelai wajah Claudia dengan mata sendu.
"Kalo boleh tau bu, kenapa ga ibu biarin aja non Claudia ketemu sama bapaknya?" tanya bi Sumi pelan.
"Saya takut bi, kalo biarin ade ketemu sama papanya, nanti dia gak mau tinggal sama saya lagi, jadi saya ga akan kasih dia ketemu sama papanya, apalagi Aksa kalo dia tau Claudia pergi, saya ga ngerti apa yang bakal terjadi" jawab Silvana sambil berbalik dan kini menghadap bi Sumi
"Sejujurnya bu, waktu pak Bram bawa ibu kesini, terus di kenalin ke saya. Saya jadi keinget bu Aini. Setelah bu Aini meninggal, dirumah ini ga ada kecerian sama sekali, nyonya Indah juga gak pernah mau ketemu den Aksa. Disini cuma jadi tempat singgah doang, tapi setelah ibu kesini, terus ada non Claudia juga, Mas Aksa ketawa terus, saya seneng banget bu, terima kasih... sungguh bu, saya sudah mengabdi disini 22 tahun, tapi baru kali ini saya melihat kebahagian yang luar biasa untuk pak Bram dan den Aksa" bi Sumi menangis haru
"Saya yang justru terima kasih, karena bibi udah mau urusin Aksa, sampe Aksa gede begini, semua itu karena bibi. Doain Claudia ya bi, supaya dia bisa nerima kondisi keluarganya sekarang ya begini" minta Silvana sambil menggenggam tangan bi Sumi
"GAK..... ADE GAK MAU...ADE MAU AYAH, ADE MAU AYAH!!!!!! KEMBALIIN AYAH ADE!!!!! HUAAAAAAAAAAAAAA BUNDA JAHAT.... ADE GA MAU!!!!"
Tiba tiba Claudia menjerit sekeras-kerasnya, sambil memukul mukul lemah kasurnya. Ia histeris mendengar ibunya menjelaskan, bahwa ia memang tidak akan boleh bertemu lagi dengan sang Ayah, apalagi ibunya menyebut nama Aksa. Kenapa harus laki laki mesum satu itu, sudahlah tadi malam dia ga bisa tidur karena Aksa mencuri ciuman pertamanya. Ralat bukan cuma first kiss tapi second kiss nya juga, sial rasanya Claudia mau berubah jadi godzilla saking kesalnya.
__ADS_1