ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 40


__ADS_3

“Barangnya udah masuk semua?” Silvana memeriksa barang bawaan untuk pergi selama 3 hari 2 malam, kepada Aksa dan Reiki. Entah bagaimana caranya, dua orang yang punya niatan saling membunuh ini bisa akur.


Ya, Silvana punya banyak cara sebenarnya, salah satunya memanas-manasi kedua orang pria yang sedang bersaing itu untuk menunjukkan calon menantu seperti apa mereka.


Cara itu sangat ampuh, tanpa disadari oleh mereka berdua baik Aksa maupun Reiki saling bahu membahu membereskan barang, agar bisa terta rapih di dalam bagasi mobil. Saat di tanya apakah barang sudah masuk semua pun, secara bersamaan mereka mengangguk.


Silvana sampai tertawa melihat kedua orang itu, seandainya tidak ada pertikaian soal Claudia, mungkin kedua orang ini bisa jadi sahabat karib, karena Reiki dan Aksa sebenarnya cocok untuk berteman, hanya situasi mereka saja yang menjadikan mereka menjadi rival.


Jika Silvana, Aksa dan Reiki sedang sibuk dengan barang bawaan mereka, maka lain lagi dengan Nesya, Claudia, dan Syakilla. Ketiga perempuan ini sedang sibuk mempersiapkan bahan makanan untuk di masak esok hari.


“Eyang, ini yang buat sayur asem di taruhnya dimana ya?” tanya Syakilla berusaha turut aktif membantu.


“Di taruh di tempat yang warna biru aja Killa” jawab Nesya sambil mempacking daging untuk barberque di villa nanti.


Syakilla tersenyum dan dengan cekatan dia membereskan semuanya, dikesempatan kali ini tidak mungkin gadis itu bersikap tidak baik, ini kesempatan langka untuk merubah imagenya di depan keluarga Aksa.


“De, Killa eyang tinggal dulu ya, mau telepon bi Sumi buat beli bumbu bakar-bakarannya, mumpung dia masih di supermarket”


Syakilla mengangguk, namun tidak dengan Claudia, gadis itu lebih banyak melamun.


Menyadari bahwa Claudia hanya melamun saja sejak tadi, Syakilla tersenyum sinis.


‘Claudia, kamu baru gini aja udah stress, gimana kalau rencana aku sama Reiki udah masuk tahap akhir, bisa-bisa kamu bunuh diri lagi hahaha. Ups, tapi nggak aku tahu Reiki bisa aja ngelenyapin aku, kalau aku mancing kamu buat nyalahin diri sendiri nantinya. Kamu beruntung banget Claudia, pewaris satu-satunya grup Alvaro, salah satu pengusaha terkaya di asia, naksir berat sama kamu, bahkan mas Aksa ku pun….juga…..’ Syakilla bergumam dalam hatinya, tapi tatapannya menjadi kosong.


Dengan jelas dia masih bisa mengingat hari dimana Aksa mencampakkannya, ya semua karena Claudia. Dengan sangat jelas, gadis ini menyimpan dendam yang sangat besar pada adik tiri Aksa itu.


‘Bersikap baiklah Syakilla, ini baru diawal, kamu bisa melihat wajah sedih perempuan bodoh yang ada disamping kamu nantinya. Tidak, bukan hanya sedih tapi frustasi’ ucap Syakilla dalam hatinya sekali lagi.


“Di…kok kamu bengong?” Syakilla menepuk pundak Claudia, dan memasang wajah khawatir. Ya, mantan tunangan Aksa ini berusaha bersikap baik, dia akan mulai dari memposisikan diri sebagai calon kakak ipar, yang perhatian pada adik iparnya.


Karena tepukan pelan di pundaknya, secara reflek Claudia melepas tepung yang sedang di pegangnya, tentu saja bungkusan plastiknya rusak dan debu tepung bertebaran kemana-mana.


“Ya ampun Claudia, kamu beneran gak apa-apa?” tanya Syakilla sekali lagi, dia juga memeriksa dahi Claudia.


Gadis itu langsung menepis tangan Syakilla, entah kenapa sejak awal Claudia tidak merasa nyaman dengan calon tunangan kakaknya itu. Ia merasa ada yang janggal pada Syakilla, namun sekali lagi, mungkin saja itu hanya karena Claudia cemburu.

__ADS_1


“Ma…maaf kak, aku gak apa-apa…biar aku beresin” Claudia merasa tidak enak hati pada Syakilla karena sudah menepis tangan perempuan itu. Ia pun bergegas mengambil sapu, dan membereskan apa yang dia tumpahkan tadi.


Hening kembali melanda diantara dua orang itu, Syakilla juga membantu membereskan, tapi Claudia nampak tidak tertarik untuk berbincang dengan perempuan yang kini tengah membantunya.


‘Gak bisa begini, aku harus mulai obrolan. Aku butuh kepercayaan dari Claudia kalau mau berhasil ngerebut mas Aksa dari dia’ Syakilla nampaknya benar-benar berniat untuk membuat Claudia membuka matanya, jika Aksa akan jadi miliknya kelak.


“Claudia…” seru Syakilla


Claudia terdiam, dan melihat kearah Syakilla sesaat, sebelum kembali membereskan tumpah tepung yang cukup banyak dilantai.


“Ya kak…” ucap Claudia pelan.


“Maaf ya…” Syakilla mulai menunduk dan menangis.


Kenapa minta maaf tiba-tiba pikir Claudia, apa yang sedang dipikirkan tunangan kakaknya itu, apalagi perempuan ini sampai menangis.


“Ka…kakak kenapa nangis?” Claudia mengambil tisu yang ada di atas meja, lalu memberikannya pada Syakilla.


“Aku tahu, kamu ngerasa gak nyaman kan karena ada aku disini…apa aku mendingan pulang aja ya, aku gak mau ngerusak suasana”


“Di…” Syakilla menarik tangan Claudia dan menggenggamnya.


“Kamu harus tahu, aku seneng banget pas mas Aksa bilang dia bakalan punya adik perempuan. Seumur hidup aku kesepian, aku ga punya saudara karena aku anak tunggal. Sejujurnya aku pengen banget punya adik perempuan, kita bisa belanja bareng, kesalon bareng, atau bisa ngapain aja sama-sama”


“Mungkin rasa sayang seperti itu yang juga di tunjukkan sama mas Aksa ke kamu. Kami berdua sama, kepingin punya adik, jadi baik aku dan mas Aksa mungkin menunjukkan rasa sayang kami dengan cara yang berlebihan.”


“Aku pengen kita berdua dekat, karena bagaimana pun aku bakalan jadi kakak ipar kamu. Tapi aku ingin memposisikan diri bukan seperti itu, aku ingin kita berteman, bersahabat dan jadi seperti saudara kandung” ujar Syakilla masih dengan air mata yang berlinang.


Claudia tertegun, beberapa kalimat yang di ucapkan oleh Syakilla benar-benar menusuk ke hatinya. Iya, ada kemungkinan Aksa salah menginterpretasikan rasa kesepiannya karena menjadi anak tunggal, dengan rasa cinta yang besar antar lawan jenis. Tentu saja, kemungkinan seperti itu ada, kalau tidak Aksa tidak mungkin bisa secepat ini, memutuskan untuk bertunangan dengan Syakilla.


Lalu apa yang diungkapkan Syakilla mengenai dirinya sebagai calon kakak ipar Claudia, itu juga jadi satu bukti bahwa kedua orang itu sudah serius mengikat janji sehidup semati nantinya.


Alasannya, karena Claudia tahu Aksa pasti akan sangat marah pada Syakilla, jika perempuan ini bicara yang tidak-tidak tentang masa depan mereka berdua, apalagi dengan jelas Aksa meminta Claudia berkali-kali untuk menjadi calon istrinya kelak.


“Claudia, kamu pasti sadarkan. Mas Aksa awalnya gak mau bertunangan sama aku…” Syakilla kini mulai terisak, ia tidak ingin membuat Claudia tidak percaya padanya. Karena semua hal yang berhubungan tentang perkembangan hubungan Aksa dan Syakilla, terlalu cepat hingga tidak masuk akal. Perempuan ini harus segera memberi Claudia alasan untuk percaya padanya.

__ADS_1


Adik tiri Aksa ini melihat kearah Syakilla, dia tahu persis Aksa memang menolak mentah-mentah kehadiran Syakilla di kehidupannya. Bahkan saat bersama dengan Claudia saja, Aksa sangat anti jika nama perempuan itu disebut.


Memang tidak masuk akal jika tiba-tiba Aksa datang dan melamar Syakilla begitu saja. Itulah salah satu alasan mengapa Claudia, tidak bisa menerima Syakilla dengan mudah.


“Hari dimana kita ketemu, siangnya mas Aksa telepon aku. Dia bilang mau bicara penting…ternyata ini…” Syakilla menunjukan cincin berlian yang ada di jari manisnya.


Sekarang gantian Claudia yang ingin menangis, dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana bersikap, ini sudah terlalu jauh. Aksa bahkan mendahuluinya untuk melupakan perasaan mereka satu sama lain. Claudia jadi semakin merasa bodoh, karena dia terjebak dalam situasi yang membuatnya tidak bisa berpikiran jernih.


“Mas Aksa bilang, ingin mulai semuanya lagi sama aku dari awal. Karena dia baru sadar, cuma aku yang memang benar-benar cinta sama dia. Dan pernikahan kami memang sudah sewajarnya terjadi” lanjut Syakilla, sambil menyentuh cincin berliannya itu.


Sebenarnya Syakilla tidak berbohong, cincin yang tengah dipakainnya itu memang hadiah dari Aksa saat Syakilla baru lulus kuliah. Semua karena Bram yang memaksa Aksa memberikan cincin.


“Claudia, aku mohon bantu aku supaya bisa lebih akrab sama keluarga ini, sama calon suami aku juga…..aku cuma bisa minta tolong sama kamu…tolong bantu aku Di…aku bener-bener gak bisa hidup tanpa mas Aksa….” Syakilla menunduk, dia benar-benar menampakkan rasa frustasinya pada Claudia.


Gadis itu menarik nafas panjang sambil berlinang air mata, dia tidak menyangka pada akhirnya memang sesakit ini jalan yang harus ditempuh.


“Iya…aku akan bantu kakak…”


“Beneran Di?”


“Iya kak…aku akan bantu supaya kakak bisa makin akrab sama orang rumah, sama kak Aksa juga”


Tangisan Syakilla kini berganti menjadi senyuman cerah, dia langsung menarik Claudia kedalam pelukannya.


“Terima kasih Claudia…aku janji aku akan jadi istri yang baik buat mas Aksa, dan kakak perempuan yang menyangi kamu seperti adik kandungku sendiri” seru Syakilla sambil menaruh dagunya di pundak Claudia.


Air mata Claudia mengalir, namun gadis ini memaksa untuk tersenyum, sambil menepuk-nepuk punggung Syakilla dengan lembut.


‘Berbahagialah kak Aksa, ini sudah yang terbaik. Aku pun akan mengikhlaskan semua perasaan aku sama kakak dari sekarang’ gumam Claudia dalam hati.


Gadis ini mengingat semua kenangan yang terjadi antara dirinya dan Aksa, pertengkaran mereka, perdebatan dan juga afeksi yang ditunjukan oleh kakak dan adik tiri itu, satu sama lain.


Hanya saja, yang tidak diketahui oleh Claudia, gadis yang tengah memeluknya dengan erat kini, sedang tersenyum sinis sambil tetap mempertahankan air matanya.


‘Well, selamat datang di permainan Claudia, waktunya bersenang-senang. Aku akan pastikan, kamu benar-benar membantuku untuk mendapatkan mas Aksa’ raut wajah Syakilla berubah menjadi tatapan benci.

__ADS_1


__ADS_2