
Disuatu siang yang agak mendung, Icha terduduk sambil meminum segelas teh dingin.
Gadis manis berhijab itu duduk sambil membaca sebuah buku. Ya buku itu cukup spesial, karena sahabatnyalah yang menjadi author dari buku tersebut.
Suasana yang nyaman seperti ini membuat Icha menjadi lebih fokus untuk membaca. Ia sangat senang karena sudah lama tak punya waktu senggang untuk bersantai.
Selama beberapa tahun terakhir ini Icha sibuk mengurus kehidupan kuliahnya dan juga membantu ibunya mengurus panti asuhan yang mereka dirikan.
“Icha, ini cakenya” seru Melvin.
“Makasih Vin” ucap Icha sambil tersenyum.
Saat ini gadis itu tengah berada di cafe milik salah satu sahabatnya, Melvin.
Pria berkacamata yang merupakan otaku akut ini, sekarang tengah membuka usaha baru. Besok adalah grand opening cafenya dan ia meminta sahabat-sahabatnya untuk datang, sayangnya minus Claudia.
“Lagi baca apa Cha?” Tanya Melvin penasaran.
Icha tersenyum lalu mengangkat buku yang tengah ia baca.
Melvin langsung mengangkat alisnya, ia tahu benar siapa pengarang buku tersebut.
“Ngapain sih baca buku ‘dia’ ga berfaedah” Melvin sinis, ia seakan tak suka ketika nama ‘Mehrima Adinda Rizky’.
“Bukunya bagus kok” jelas Icha.
Sayangnya Melvin cuma diam tanpa, tak lama ia menghela nafas panjang. Icha yang melihat temannya begitu tertekan secara tiba-tiba tersenyum lemah.
“Rim sayang lho sama kamu Vin, tapi mungkin dia belum siap buat nerima perbedaan kalian dan lagi kamu kan tau sendiri, Rima juga bukan orang yang mudah untuk menerima perubahan...” seru Icha.
Melvin mengangguk pelan, ia merasa sedih saat mengingat gadis yang entah sejak kapan mengisi relung hatinya itu.
2 tahun lalu saat Rima menemani Melvin ke acara toys fair, Melvin entah bagaimana mencium Rima saat keduanya hendak kembali dari acara tersebut.
Bukannya senang seperti yang di perkirakan Melvin, Rima justru menangis dan meminta diturunkan di tengah jalan. Padahal Melvin yakin benar bahwa gadis itu juga menyukainya.
“Yaudahlah, bisa apa lagi gw selain menunggu sambil berdoa” ucap Melvin sembari menghela nafas kasar.
Icha mengangguk setuju, setelah itu Melvin pun pamit lagi menuju ke dapur karena masih banyak yang harus di urus.
__ADS_1
Lemabar demi lembar dibaca seksama oleh Icha, hingga ia menemuka sesuatu yang menarik.
“Kenapa hidup tak pernah menjadi mudah?...
Bahkan untuk merasakan kedamaian butuh effort yang cukup besar..
Akan tetapi kenyataannya jika hidup menjadi terlalu mudah, manusia bisa dengan gampangnya kehilangan gairah hidupnya...
Lalu mana yang lebih baik ? Entahlah...
Karena baik untuk ku belum tentu baik untukmu...
Pada akhirnya, manusia tak punya hak untuk menjadi TUHAN dan memutuskan mana yang terbaik bagi manusia lain...
Yang aku tahu saat ini adalah aku sedang berusaha untuk berdamai dengan diri sendiri, agar semuanya menjadi lebih seimbang”
Icha berhenti membaca, ia pun melanjutkan untuk meminum minumannya sambil menenangkan pikirannya.
‘Berdamai dengan diri sendiri...apa itu juga artinya aku harus menyerah soal ka Reiki? Ini sudah hampir 5 tahun dan dia sama sekali belum menunjukan kalau dia ingin berhenti untuk mengejar cinta semunya itu...’ gumam Icha dalam hati.
Di belahan bumi lain, Reiki tertunduk lesu. Pria ini baru saja pulang dari tempat yang di kunjunginnya bersama Zen.
“Ki, om gak menyalahkan kalau kamu mencintai Claudia, tapi bukan berarti memberikan kamu hak untuk menyakiti pihak lain...selama ini om diam karena om tahu pada dasarnya kamu bukan pribadi yang kejam...namun sepertinya kamu masih berkeras untuk sesuatu yang mustahil kamu dapatkan...pertanyaan om sekarang, sampai kapan kamu mau mengejar bayangan Claudia dengan hasil yang dalam lubuk hati kamu pun, kamu sudah tau endingnya gak akan baik. Om minta tolong kamu berhenti menyakiti diri sendiri, dengan buang-buang waktu memaksakan perasaan kamu ke seseorang yang sama sekali tidak merasakan hal yang sama”
Reiki menutup matanya, perasaannya yang sudah karuan semakin parah setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Zen.
Pria ini pun bangkit dari sofa di kamarnya dan berjalan menuju tempat tidurnya. Ia ingin terlelap dengan cepat, lalu melupakan semua hal yang tengah terjadi padanya.
Hingga surat dari Icha kembali menarik perhatiannya.
Ia pun menjulurkan tangan dan meraih surat yang ditujukan untuknya. Sambil menghela nafas panjang Reiki mulai membaca kembali setiap tulisan dari Icha dengan seksama.
Ka Reiki...
Apa kabar ? Apa kakak sehat disana ? Semoga kakak selalu dalam lindungan Tuhan.
Ka mohon maaf kalau Icha mengganggu, Icha tahu kalau kakak sama sekali tidak ingin berhubungan lagi dengan Icha.
Icha pun sadar kalau kakak sudah memblock semua akses untuk Icha berkomunikasi dengan kakak, dan Icha maklum untuk hal itu.
__ADS_1
Karenanya sekali lagi Icha minta maaf sudah lancang menitipkan surat kepada ka Eros untuk kakak baca.
Ka, selama ini Icha tak pernah berhenti untuk berdoa, 5 tahun ini tiada hari dimana Icha berhenti menyebutkan nama kakak dalam doa Icha, dan isi doa itu hanyalah memohon kakak agar di tunjukan jalan yang terbaik.
Namun Icha paham kapasitas Icha sebagai seorang hamba yang tak bisa memaksakan takdir manusia lainnya, karena itu Icha memutuskan untuk ‘berhenti’.
Ya kak, mungkin selama ini hal yang paling kakak ingin dengarkan adalah ‘Icha berjanji untuk tidak ikut campur dan berhenti untuk meminta kakak menghentikan semua kejahatan yang sudah atau akan kakak lalukan’.
Tapi satu hal kak sebelum Icha 100% menyerah, mau tak mau Icha harus mengatakannya dengan jujur. Icha ingin berdamai dengan diri Icha sendiri.
Ka, Claudia tahu semuanya...
Dia tahu benar tetang apa yang kakak lakukan, tapi dia memilih untuk diam.
Menurut kakak kenapa dia melakukan hal itu?, Padahal selama bertahun-tahun dia punya banyak kesempatan untuk mengkonfrontasi kakak.
Icha tidak berhak mewakili Claudia, walaupun Claudia banyak bercerita, rasanya bukan hak Icha untuk menjelaskan.
Tapi satu hal, kalau kakak berani berbuat maka kakak juga harus berani bertanggung jawab...
Pertanyaannya sekarang adalah, apa kakak bisa dengan ikhlas menghadapi kenyataan yang seperti ini, lalu jujur pada Claudia dan mempertanggung jawabkan apa yang sudah kakak perbuat?
Semoga surat terakhir yang Icha tuliskan untuk kakak, mampu menyadarkan kakak.
Terima kasih ka, maaf membuat waktu kakak terbuang untuk sebuah surat yang tak ada harganya ini. Semoga kakak selalu sehat, dimanapun kakak berada.
Tertanda
. Icha.
Ya, satu surat terakhir dari Icha bukan hanya menjadi hari terburuk bagi Reiki, karena mengetahui bahwa Claudia sudah tau tentang tipu muslihatnya, namun juga dengan anehnya mampu membuat Reiki merasa sangat hampa saat dirinya berkali-kali membaca,
‘Semoga surat terakhir yang Icha tuliskan untuk kakak, mampu menyadarkan kakak.’
Bukan hanya mampu membuat Reiki semakin bersedih, tapi mulai timbul perasaan aneh yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, bahkan saat bersama dengan Claudia.
Jadi, inikah pertanda permainan pemuda ini sudah cacat sejak awal ? Atau hanya alarm palsu yang membuat dirinya harus menyerah.
Entahlah, pengharapan terakhirnya adalah apa yang akan di katakan oleh Claudia, nantinya.
__ADS_1