
Boneka teddy bear, itulah yang kini sedang Aksa peluk dengan erat. Ia memandang boneka itu dengan wajah sedih, karena yang ia tahu pemilik asli dari teddy bear ini sudah lupa akan dirinya.
Perlahan Aksa menutup matanya, dan mencoba mengenang kembali pertemuan pertama dirinya dengan si empunya boneka.
Saat itu dirinya sedang berada dirumah sakit, ibunya Aini kritis. Ia tidak menyangka semua ini akan terjadi, kejadiaannya begitu cepat. Baru saja beberapa menit yang lalu dia di telepon oleh ibunya, ditanya ada dimana dan disuruh cepat datang ke restoran untuk makan malam bersama. Tidak sampai satu jam kemudian, Aksa dihubungi oleh polisi yang menyatakan orang tuanya terlibat kecelakaan beruntun.
Kini ia duduk di depan ruang UGD, karena kecelakaan yang terjadi kepada kedua orang tuanya lumayan parah, bukan hanya Aksa yang menunggu di ruang UGD itu. Beberapa dari keluarga korban yang lain menunggu bersama Aksa ada yang pingsan, tidak lain dan tidak bukan karena anggota keluarganya wafat.
Kondisi yang seperti itu, membuat Aksa semakin ketakutan. Ia sangat khawatir dengan kondisi kedua orang tuanya itu, mereka sudah ada di ruangan UGD sejak 1 jam yang lalu, tapi tidak ada perawat yang mengabarkan kondisi orang tuanya itu.
Dokter Silvana dimana?" tanya seorang perawat yang tiba-tiba berlari keluar dari ruang UGD.
Perawat itu menanyakan keberadaan seorang dokter pada perawat lainnya, hingga seorang perempuan dengan rambut yang di kuncir sembarang datang dengan seorang anak kecil yang memegang boneka teddy bearnya. Dokter itu sangat cantik, hingga beberapa keluarga pasien yang menunggu di luar sempat terpesona dengan paras dan tubuh dokter tersebut. Perempuan yang lebih mirip model ketimbang dokter ini berjalan kearah UGD dengan cepat.
"Dokter..." seru perawat.
"Apa sih ga usah teriak-teriak begitu" tukas dokter tadi pada perawat.
"Lho kok si kecil diajak dok?"
"Ade ga ada yang jagain dirumah, tolong kamu panggilin Siska suruh anterin Claudia ke ruangan saya aja ya"
"Ok Dok"
"Terus mana keluarga korban?"
"Itu Dok.."
Perawat tadi menunjuk kearah Aksa yang sedari tadi menunduk, Silvana menghela nafas panjang. Anak ini kemungkinan besar akan jadi yatim piatu beberapa jam kedepan pikirnya.
"Nak, nama kamu siapa?" tanya Silvana lembut
"Aksa dok"
"Ok Aksa, dengerin saya ya. Apapun yang terjadi semuanya itu sudah takdir dari tuhan, saya ingin kamu tetap berdoa dan ikhlas. Kalau kamu ikhlas keajaiban bisa saja terjadi. Kamu paham kan ?" jelas Silvana yang berjongkok agar setara dengan Aksa yang kini sedang duduk.
"Iya Dok"
"Good...ok doakan saya supaya bisa menolong orang tua kamu" Silvana berlalu dan masuk ke ruang UGD.
15 menit berlalu, Syakilla pun pergi meninggalkan Aksa untuk membeli minuman dan Aksa duduk sendirian. Gadis kecil yang tadi memeluk teddy bear itu juga belum di jemput oleh asisten Silvana.
Gadis itu memeluk teddy bearnya dengan erat sembari sesekali melihat kearah Aksa. Ia pun semakin penasaran dan ingin mendekati Aksa yang hanya diam tanpa bergerak sama sekali.
"Custel..."
"Iya de?"
"Kakak itu apa?"
"Oh, kakak itu papa sama mamanya lagi sakit. Bundanya ade lagi nolongin mereka di dalem" jawab suster yang ada di ruang administrasi UGD dan Rawat jalan.
"Oh...itu" jawab anak kecil ini sambil tetap memperhatikan Aksa.
Anak itu sepertinya penasaran, ia bahkan beberapa kali memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Beberapa kali ia berdiri lalu duduk, hingga para suster yang ada disana tertawa, ya anak ini memang secara tidak langsung jadi idola para dokter, perawat, staff dan pekerja di rumah sakit itu.
Gadis kecil tadi akhirnya tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi, ia menarik-narik ujung baju para perawat itu, hingga mereka menunduk lalu memangku anak kecil yang masih memakai pampers ini.
"Apa de?" tanya perawat yang memangkunya itu.
"Ade mau ecana boyeh ga custel" seru gadis kecil itu sambil mengacungkan jarinya, anak tadi berusaha memberitahu bahwa ia ingin mendatangi Aksa.
"Mau kemana?" tanya perawat yang tidak sadar.
"Akak itu" jawab si kecil sambil menunjuk sekali lagi.
"Duh jangan ah, nanti suster kena marah sama bunda"
"Ga, kan ade mau olongin akak itu"
Para suster yang ada disana saling menatap, mereka pun bingung harus jawab apa, masalahnya walaupun si kecil ini minta ijin dan tidak di ijinkan, dia akan berusaha dengan cara apapun supaya kemauannya di turuti.
Gadis kecil ini terus menatap dan berusaha bertingkah imut, sehingga para suster tersenyum, mereka pun mengiyakan dengan syarat anak dari dokter Silvana ini tidak boleh ketempat lain selain tempat Aksa duduk.
Sambil berlari anak kecil yang jalannya belum beres ini pun mendekati Aksa, dan saat tepat berada di depan Aksa, gadis ini memegang kedua tangan Aksa yang sangat dingin. Ia terkejut mendapati tangannya di pegang oleh si kecil.
"Kamu..."
__ADS_1
"Akak amanya capa?"
"Aksa..."
"Oh..."
Gadis kecil ini pun sekarang berusaha duduk di samping Aksa, sangat menggemaskan karena dia tidak menggapai kursinya dengan baik, Aksa yang melihat itu pun langsung membantu gadis mungil tersebut.
"Maacih ka..."
Aksa gemas melihat gadis kecil itu, seakan dia bebannya berkurang, dia pun hanya memperhatikan anak kecil yang di kuncir dua tersebut.
"Nama kamu siapa.." tanya Aksa pelan
"Ama aku Aliadna...umul aku cegini..." jawab si gadis kecil dengan menunjukkan tangan kanannya, dengan jumlah 2 jari yang di buka, sedangkan tangan kiri dengan jumlah jadi 1 yang terbuka.
"Oh umur kamu 3 tahun"
"Iya..." jawab gadis itu cepat sambil memeluk teddy bearnya.
"Akak..."
"Ya?"
"Apa akak ga angis?"
"Hah???"
Apa yang baru dikatakan gadis ini? Apa dia gak salah dengar, kenapa dia harus menangis, bukannya disaat ini jika menangis artinya kalah? Pikir Aksa.
"Kenapa harus nangis?"
"Kan akak edih?"
"Anak kecil sok tau, kata siapa aku sedih..." jawab Aksa sambil memalingkan wajahnya.
"Mata akak biyang itu..."
"Mata..."
"Ayah biyang, kalau kita cedih dan banyak hal belat yang teljadi, kita ga mesti puya-puya kuat. Di dunia ini cetiap manucia itu utuh nangis, ayah biyang cama ade kalau anak cowo nangis, itu gak belalti dia lemah, tapi dia butuh waktu untuk memahami dan menelima kondisi dilinya dan lingkungan sekitalnya"
Mata Aksa membelalak, anak ini bahkan belum bisa bicara dengan lancar, tapi ia apa yang dikatakannya sangat bijak dan tepat sasaran. Mata anak kecil ini seperti mengintip kedalam hati Aksa.
"Ade uga ga tau cih, ayah omong itu. Uhm, waktu aka Iki ga ica menang olimpiade walaupun udah belajal, aka Iki nangis kok. Tapi aka Iki tetep kuat pas ada peltandingan judo, malah menang awan akak-akak yang tubuhnya besaaaaal" gadis kecil ini menggerakan tangannya berkali-kali saat bilang 'besar', seakan mendeskripsikan seberepa besar lawan tadi. Melihat tingkah gadis kecil ini Aksa tertawa, jujur ia merasa terhibur dengan tingkah gadis kecil di depannya ini.
"Ung, jadi akak angis aja, gak apa apa. Kalau akak mau jadi olang yang uat halus jujul cama dili cendili"
Aksa diam, entah kenapa ucapan bocah kecil itu mengena didalam hatinya. Tangisanya yang sejak tadi ia tahan pecah juga, ia menangis tanpa suara. Tanpa sadar Aksa memeluk gadis kecil itu dengan erat, sedangkan bocah kecil itu, berusaha menenangkan Aksa dengan jari-jarinya yang mungil. Sekitar 10 menit Aksa tetap dalam posisi seperti itu.
"Ade..." panggil seorang wanita paruh baya.
"Ung ante Cikaaa"
Aksa tersadar jika dia sedari tadi memeluk erat gadis kecil itu. Karena seseorang datang di depan mereka Aksa pun melepaskan pelukannya secara perlahan.
"Masnya gak apa-apa?" tanya Siska, asisten Silvana.
"Akaknya apa apa ante, api cekalang dah ga.... coalnya akaknya dah angis..." seru gadis kecil itu sambil menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
Belum sempat Aksa menjawab, gadis kecil ini sudah menjawab, yang justru tidak membuat Aksa marah, malah tersenyum. Biasanya Aksa paling benci jika pembicaraannya di potong atau di selak.
"Ahahaha gitu toh...yaudah masnya gak apa apa ya kita tinggal"
"Ih...ante Cika, ade acih mau cama akak ini..." jawab gadis itu sambil menggelembungkan pipinya. Aksa yang melihatnya tersenyum walaupun air matanya masih mengalir.
"Eh jangan gitu dong de, liat tuh udah jam 10 lewat, ade mesti bobo...ayo ke kantornya bunda aja..."
"Ga mau...ade mau sama akak ini aja ante...."
"Ade ga boleh begitu..."
Aksa memperhatikan perdebatan dua orang tersebut, sangat lucu menurutnya, karena gadis kecil itu terus bergerak gerak tanpa henti, hingga Siska kesulitan. Karena suster itu nampak sudah lelah Aksa pun berpikir untuk ikut mengantarkan bocah kecil itu ke ruangannya.
"Ung....maaf sus, kalau boleh biar saya ikut anterin aja. Mungkin nanti adenya mau ikut suster" Aksa langsung menawarkan untuk mengantar, karena firsatnya adegan komedi di depannya ini tidak akan selesai, jika dia tidak ikut mengantar.
"Lho masnya gak apa-apa emangnya?" tanya Siska yang tahu Aksa sedang menunggu keluarganya.
__ADS_1
"Gpp sus, sebentar aja" jawab Aksa sambil tersenyum.
Dilain pihak gadis kecil didepannya ini sangat senang, matanya berbinar cerah saat mendengar Aksa akan mengantarnya.
"Aha ide agus...ayo ayo akaaaa...endong!!!" seru gadis itu yang kini sudah berdiri diatas kursi, sembari meminta untuk di gendong.
"Ya ampun manjanya, eh nanti pacarnya kakak ini marah lho.." goda Siska yang baru pertama kali melihat anak kecil di depannya ini bertingkah begitu manja. Memang tidak bisa di pungkiri anak muda di depannya ini sangat tampan, mungkin jika umurnya 20 tahun lebih muda dari saat ini, ia akan ikut antri untuk jadi pacar si pemuda tampan itu.
Aksa tersenyum sambil menggendong anak yang ada di depannya itu, dengan lembut ia membopong gadis kecil ini ditangannya. Sedangkan saat mendengar kalimat bahwa pacar Aksa bisa saja marah karena kelakuan gadis kecil ini kelewat manja, anak itu justru mendekatkan wajahnya ke leher Aksa.
"Ga laaaah, kan akak ini cayon cuaminya ade...hehehe" seru gadis kecil itu lirih.
Aksa yang mendengarnya hanya terdiam, wajahnya terasa panas. Apa yang dia dengar dari gadis kecil ini membuat kepalanya pusing, padahal banyak perempuan yang mengatakan cinta kepadanya, tapi ia tidak pernah merasakan debaran seperti ini.
"Duh maaf ya mas, jadi ngerepotin"
"Iya sus.."
Mereka pun akhirnya berjalan melewati para suster yang tadi menjaga gadis kecil itu. Siska lalu memberikan pesan jika dia akan membawa anak itu ke kantor dokter Silvana, sedangkan untuk Aksa, jika ada sesuatu yang terjadi Siska memerintahkan para suster itu untuk menghubunginya.
Dengan hening mereka berjalan, melewati beberapa ruangan. Kantor dokter Silvana berada dilantai paling atas. Siska pun membuka pintu ruangan Silvana, dengan jelas disana ada ruangan dengan tempat tidur dan dapur kecil.
"Nah sudah sampai, ayo turun de" pinta Siska.
Anak kecil itu pun turun. Aksa juga akhirnya berpamitan pada Siska lalu mengucapkan terima kasih pada gadis kecil itu, lalu keluar dari ruangan.
"Nah de, ayo kita ganti baju terus minum susu, abis itu bobo deh" tukas Siska sambil menarik pelan tangan Silvana.
Gadis kecil yang sedari tadi terdiam itu, tiba-tiba berlari keluar. Ternyata tadi Aksa sempat mengatakan sesuatu padanya saat masih menggedong gadis kecil itu. 'Makasih malaikat kecilku, hari ini adalah salah satu hari paling buruk buat hidup aku. Tapi kamu datang tiba-tiba, membuat hari ini ga seburuk kelihatannya' itulah yang di ucapkan Aksa dengan nada lirih, dan saat gadis kecil itu melihat wajah Aksa, ia hanya tersenyum dengan wajah sangat sedih. Gadis kecil ini berpikir bahwa hidup Aksa selalu menyedihkan, hingga untuk bisa menangis saja sudah merupakan suatu kemewahan bagi pemuda itu.
"Ade, ade mau kemana de..." seru Siska yang ikut berlari keluar.
Gadis kecil ini berlari ke lorong yang mengarah ke lift. "AKAAAAAAK" teriak gadis kecil itu
Aksa menangis, benar sekali saat itu ia tak bisa berbohong karena masih rasa khawatir luar biasa, walaupun ia sudah jauh lebih baik. Suara yang memanggilnya itupun menghentikan air matanya itu, ia yang sedang menunggu lift pun menengok kearah sumber suara tadi. Aksa langsung berlari menghampiri gadis kecil itu.
"Lho kenapa?" tanya Aksa bingung.
"Uhm ini...."
Gadis kecil ini menyodorkan boneka teddy bear yang ia peluk sedari awal pertemuannya dengan Aksa.
"Ini namanya kumacha, kumacha itu cahabatnya ade...akaknya bawa kumacha aja biar alo angis ada temennya"
Aksa terdiam, apa karena tadi bilang sesuatu makanya gadis kecil ini khawatir. Dari yang Aksa lihat tubuh gadis kecil ini bergetar, sepertinya anak ini sangat menyanyangi teddy bearnya itu.
"De, ga usah kakak udah baik baik aja kok" seru Aksa pelan sambil membelai rambut coklat gadis kecil itu.
"Akak awa aja, ade acih buat akak, biar bisa bubu hali ini" celetuk gadis kecil ini sambil memaksa aksa menerima teddy bearnya itu.
Aksa tersenyum, ia tersentuh dengan ketulusan gadis kecil itu. Mau tak mau ia akhirnya menerima boneka kesayangan milik gadis kecil yang ada didepannya.
"Akaknya kalau mau nangis sama kumacha aja ya...ade itip kumacha.." Aksa hanya mengangguk sambil beberapa kali sambil terus menyetuh lembut pucuk kepala gadis kecil itu.
Anak perempuan ini pun langsung tersenyum bahagia ketika Aksa memenuhi keinginannya.
"telus sini sini ka" pinta anak itu agar Aksa mendekatkan dirinya. Aksa pun kembali mengikuti kemauan gadis kecil ini.
'CUP' anak perempuan mungil itu berjinjit dan mencium sekejap bibir Aksa. Aksa terdiam, ia benar-benar kaget. Gadis kecil ini sudah menciumnya, dan sepertinya anak mungil itu pun tak mengerti dengan apa yang dilakukannya.
"Bunda kayo agi angis cama ayah di gituin, nanti bunda nangisnya belenti deh"
Ya benar sekali, saat ini semua air mata Aksa berhenti. Wajahnya memerah luar biasa seperti tomat, jantung Aksa juga sama sekali tidak bisa diatur, bedebar sangat kencang. Ia tidak pernah merasakan apapun seperti ini sebelumnya, bahkan saat Syakilla menciumnya yang ia rasakan hanya kehampaan.
Kecupan kecil ini membuat otak Aksa jadi tidak berfungsi dengan baik, bagaimana bisa ia berdebar tak karuan saat di cium bocah ingusan ini.
"Hehehe muka akak kaya tomat...meyaaaaaah hehehe" gadis itu tertawa melihat wajah Aksa yang menjadi merah.
"Adeeeeeee" teriak Siska, yang memanggil gadis kecil itu.
"Akak ade di panggil ante heheh Bye bye akak....tante Cikaaaa ade mau dodot..."
Ya Aksa memang menggila, ia jatuh cinta.
__ADS_1