ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 64


__ADS_3

Rasa tenang menghinggapi hati Claudia, dia merasa lebih baik dari sebelumnya. Sakit kepalanya juga sudah berkurang, dan yang terpenting ia mulai bisa berdamai dengan kenyataan.


Hanya satu saja yang sedikit merusak ketenangannya, apalagi kalau bukan Aksa yang kini tengah menyuapinya buah. Permasalahannya pria itu menatapnya seperti dirinya itu makhluk ajaib, ia merasa tak nyaman tentunya.


“Kenapa liatin aku kaya gitu kak?” seru Claudia sambil menatap Aksa dengan tatapan aneh.


Aksa terdiam, dia tak bisa berhenti tersenyum. Ia merasa Claudia sedikit banyak bisa menerimanya kembali. Mungkin masih ada celah untuk bersama dengan gadis yang ia cintai itu.


“Hmmm gak…rasanya aku kaya mimpi, bisa duduk sambil suapin kamu kaya gini…apalagi kamu ngajakin aku ngedate lagi hehehe” ujar Aksa sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal.


Claudia yang tadinya berniat memasang wajah jutek akhirnya menyerah, melihat tingkah Aksa ia tak sanggup menahan tawanya. Senyuman tipis tersungging di wajahnya, tentu hal itu tidak luput dari pengelihatan Aksa.


“Kamu akhirnya senyum juga….” Memang sedari tadi Claudia terus cemberut, dan terkadang melamun, seakan tengah sibuk dengan pikirannya sendiri.


Nyali Aksa tidak begitu besar jika sudah berhubungan dengan Claudia, terlebih ia telah berbuat kesalahan yang sukar di maafkan.


Claudia langsung menatap Aksa sesaat dengan tatapan tajam, sebelum gadis itu membuang wajahnya dan menarik selimutnya lalu menatap layar TV tanpa banyak bicara.


Aksa menghela nafasnya dengan pelan, ia lalu lanjut lagi menyuapi Claudia yang jelas-jelas kini sedang ngambek.


Melihat Aksa yang tidak merespon seperti biasanya, Claudia jadi tak enak hati. Pada dasarnya juga hubungan mereka tidak jelas, dan sudah barang tentu Claudia tak punya hak untuk marah dengan lelaki yang kini tengah merawatnya.


Akan tetapi hatinya merasa sakit, ia tahu ada kemungkinan Aksa memang benar di jebak oleh Reiki, tapi ia tetap kesal karena jika Aksa tidak memutuskan untuk bertemu dengan Syakila saat itu, kejadian seperti ini tak akan pernah terjadi.


Entahlah dalam sekejap dunia Claudia jungkir balik, ia dipaksa untuk memutuskan banyak hal penting yang mempengaruhi masa depannya nanti dalam tempo waktu cukup singkat.


Ia belajar jika hidup ini tak selalu terlihat seperti penampakannya. Orang baik bisa berubah jadi jahat dan orang jahat bisa saja berubah jadi baik. Memang hal yang paling tak pasti di dunia ini adalah manusia itu sendiri.


Pikiran seseorang bisa merubah masa depan banyak orang, itulah yang dialami Claudia saat ini, ia juga masih tak tahu apa yang harus dilakukannya saat berhadapan dengan Reiki nanti.


Namun saat ini yang pasti, seperti perjanjiaannya dengan Eros, ia akan sekuat tenaga membantu seniornya itu mencari bukti-bukti, terutama soal video Aksa dan Syakila.


Tangan Claudia kini menarik tangan Aksa yang duduk di sampingnya, Aksa tersenyum sambil menggenggam balik tangan Claudia, ia kemudian mencium kening Claudia, yang tentu saja membuat gadis itu sedikit terkejut.


Aksa mengelus lembut kepala Claudia, ia tatap lekat-lekat seluruh bagian wajah Claudia, entah kapan lagi ia bisa berada sedekat ini dengan gadis yang amat ia cintai.


Tapi tangan Aksa berhenti membelai rambut Claudia, saat gadis itu menarik perlahan lengan Aksa sembari menatap wajah kakak sambungnya tersebut.

__ADS_1


“Kapan kakak mau jelasin ke aku soal video itu….siapa perempuan yang lagi sama kakak? Tolong jawab aku kak….” tanya Claudia tiba-tiba.


Pertanyaan Claudia sekali lagi bagai petir di siang bolong, Aksa langsung menunduk dan tak mampu menjawab.


Dengan sekuat tenaga Aksa menjawab, siapa yang ada di video itu sebelum akhirnya menundukan kepalanya.


Saat mendengar nama Syakila keluar dari mulut Aksa, ia semakin yakin bahwa selama ini dirinya telah di tipu oleh Reiki dan Syakila. Kemarahannya benar-benar memuncak, Claudia rasanya ingin pingsan karena harus menahan amarahnya.


Claudia menutup mata, ia merasa kepalanya kembali sakit. Ia tahu benar bahwa dirinya sama sekali tak bisa tenang. Namun jika tidak sekarang, entah kapan bisa bicara lagi dengan Aksa.


Gadis itu mulai bicara, suaranya bergetar hebat. “Aku sadar kak, hubungan kita ini gak jelas statusnya….aku pun ga punya hak untuk tau alasan kakak melakukan hal itu dengan Ka Syakila, terlebih kalian udah punya niatan untuk menikah…tapi….”


Air mata mulai menetes, Claudia tak mampu berbicara dengan melupakan rasa sakitnya. Ia kembali ingin berteriak tentang seberapa hancur hatinya saat ini.


Menyadari adik sambungnya menangis, Aksa yang sedari tadi hanya bisa menunduk karena malu dengan apa yang telah ia perbuat, langsung mengangkat kepalanya.


Betapa sakit hatinya saat melihat Claudia terluka akibat perbuatannya sendiri, gadis yang sangat ia cintai itu menangis tak karuan, membuat Aksa juga tak bisa menahan air matanya lagi.


“Claudia…” seru Aksa sambil menangis.


Melihat Aksa yang juga menangis, membuatnya  mencengkram selimut yang ia gunakan. Ia meneruskan kalimatnya yang tadi sempat terputus, sambil mengatur nafasnya.


“CLAUDIA…” teriak Aksa.


Setelah mendengar apa yang diucapkan oleh gadis yang disayanginya, Aksa langsung menarik Claudia dalam pelukannya. Saat ini Aksa bahkan tak bisa berpikir dengan jernih. Yang ia tahu dirinya hanya tak ingin Claudia menangis lagi, ia mau melihat senyum Claudia.


Mengapa ia begitu bodoh, selama ini kecemburuan dan obsesi menghalangi akal sehatnya. Ia tak butuh balasan cinta dari Claudia, yang ia sungguh-sungguh butuhkan adalah melihat Claudia bahagia seutuhnya.


“Maaf…maaf…maafin aku…maafin semua kebodohan aku….aku gak pantes ada disamping kamu lagi, maafin aku Di…” ujar Aksa.


Claudia hanya diam, sambil menangis dalam hati ia memaafkan Aksa. Membiarkan semua yang rasa sakit hatinya luruh dengan tangisan, begitupula Aksa.


Disaat keduanya sudah lebih tenang, Aksa mulai melepaskan dekapannya.


“Aku mau kasih tau kamu semuanya Di…dari awal sampai akhir…” tutur Aksa sembali mengeratkan kedua tangannya dengan tangan Claudia.


Semua hal secara detail di jelaskan oleh Aksa, dari mulai mengapa dia terlihat seperti memacari Syakila, hingga malam sebelum kejadian diambilnya video itu.

__ADS_1


Mata Claudia terbelalak, mereka berdua memang sudah masuk kedalam jebakan Syakila, dan mungkin juga Reiki. Semua yang terjadi pada mereka berdua terlihat begitu alami hingga tak ada satu pun tersadar jika keduanya sudah ambil bagian dalam permainan.


“Pas aku sadar, aku udah di ranjang. Tapi aku sama sekali ga inget yang terjadi di malam sebelumnya, yang aku inget itu terakhir cuma aku ngobrol sama Syakila karena aku mau berhenti main sandiwara bareng dia…” jelas Aksa.


“Waktu kakak kesana, ada yang aneh gak sama gerak geriknya Syakila?” tanya Claudia.


Aksa mencoba menggali lagi ingatannya, hingga ia menyadari memang ada yang tidak biasa malam itu.


“Seinget aku Syakila sama sekali gak nyaman, aku ajak ngomong juga kurang nyambung, dan satu lagi dia terus-terusan liat handphonenya sambil ngecek jam…. padahal biasanya kalau lagi sama aku dia gak akan pegang handphonenya…” tutur Aksa.


Ok, ini semakin jelas. Menurut Claudia, Syakila pasti tengah menunggu seseorang untuk memberinya perintah atau membantunya, dan mungkin saja keduanya. Yang mengganjal bagi gadis itu adalah, jika menurut Aksa dia tak sadarkan diri saat itu, bagaimana Syakila mampu membawa Aksa sampai ke kamar. Apalagi Aksa pernah bilang jika Syakila tak biasa membawa barang berat.


Perempuan laknat itu butuh orang lain untuk membantu Aksa masuk ke kamarnya lalu melakukan hal yang di rencanakannya.


“Di, apa ada orang yang kamu curigain ?” tanya Aksa.


Claudia langsung menatap Aksa, sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.


“Gak ada ka, kalau ada ya cuma Syakila aja…aku rasa dia sebegitu cintanya sama kakak sama ngehalalin semua cara…”


Tentu saja gadis ini berbohong, ia tak mungkin mengatakan dengan lantang jika ia mencurigai keterlibatan Reiki, masalahnya Aksa sudah keburu kesal pada tunangannya itu.


Aksa kembali meminta maaf pada Claudia, ia berkali-kali menciumi punggung tangan Claudia, bahkan sampai ingin bersujud, tetapi Claudia tak menerimanya dan mengatakan lebih baik Aksa meminta maaf pada Tuhan ketimbang dirinya. Karena sadar atau tidak ia sudah melakukan perbuatan dosa.


“Aku udah maafin kakak, sekarang yang terpenting kita sama-sama intropeksi diri ya ka….”


“Kamu percaya sama aku Di?” tanya Aksa.


Claudia hanya mengangguk, ia bahkan menghapus air mata yang masih mengalir di pipi Aksa.


Mereka berdua tertawa, bersiap menyambut hari yang baru. Hingga pintu kamar Claudia terbuka dan Silvana dengan mata sembab masuk kedalam kamar putrinya.


“Kak, kamu turun sekarang….” Seru Silvana sembari menepuk pundak Aksa.


“Bunda kenapa?” tanya Claudia khawatir, karena ibunya jarang sekali menangis.


“Orang tuanya Syakila sama nenek kamu udah ada dibawah minta ketemu…”

__ADS_1


Aksa dan Claudia saling bertatapan, baru saja mereka bisa bernafas sekarang apa lagi yang harus mereka hadapi.


__ADS_2