ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 16


__ADS_3

Rasa kesal, marah, pengen nonjok orang, itulah yang bisa mengekspresikan perasaan Aksa saat ini. Melihat Reiki terus menggenggam tangan erat tangan Claudia, seakan menyatakan jika Claudia adalah miliknya, bukan milik siapapun kecuali milik pria itu. Parahnya lagi Claudia juga tidak terlihat terganggu, ia dengan pasrah menerima apa yang dilakukan oleh Reiki.


"Jadi gini Bram, kedatangan kami kesini sebenarnya karena putra kami Reiki ini meminta kami selaku orang tuanya untuk melamar Claudia" seru Satyo ayah dari Reiki.


Aksa hanya diam, sambil menahan emosi negatif di hatinya, ia dia sudah tahu karena bundanya sudah memberitahu semuanya.


 


 


Beberapa jam yang lalu.


 


 


"Ka....ini bunda nak...buka pintunya sayang.." seru Silvana sambil mengetuk pintu kamar Aksa.


Aksa langsung berdiri dan meletakan teddy bear yang sedari tadi dia peluk. Ia pun membukakan pintu kamarnya dan menyambut Silvana.


"Masuk bund..." seru Aksa.


Silvana pun masuk, lalu ia sadar bahwa Aksa sedang galau berat, apalagi saat melihat teddy bear yang terduduk manis di samping bantalnya. Tentu saja Silvana mengenali boneka beruang tersebut, karena itu adalah boneka pemberian Zen, mantan suaminya untuk Claudia saat putrinya itu berumur 2 tahun. Sejak saat itu Claudia selalu tidur ditemani oleh Kumacha, teddy bear kesayangannya.


Aksa langsung mempersilahkan Silvana untuk duduk di sofa yang terdapat dikamarnya. Silvana tahu, nampaknya Aksa sedikit banyak punya firasat tidak baik, ia nampak gelisah.


"Aksa gak mau basa basi bund, apa nanti tamunya bunda sama ayah itu ada hubungannya sama Claudia?" tanya Aksa serius.


"Iya" jawab Silvana singkat.


"Terus mereka mau kesini ngapain bunda?"


"Ngelamar Claudia"


Aksa membelalakan matanya, ia tidak bisa fokus rasanya semua terasa dingin, gelap dan kupingnya tak bisa mendengar apapun.


"Mereka itu orang tuanya dokter Reiki, yang kemaren dateng kesini ngurusin ade" lanjut Silvana menjelaskan.


Tubuh Aksa bergetar, dia sudah memikirkan hal terburuk, dan semua itu harus ia hadapi sekarang. Hal ini sebenarnya sudah diperkirakan oleh Aksa, dokter itu pasti ada rasa dengan Claudia, dan melihat kedekatannya dengan adik tiri Aksa itu bisa disimpulkan pula bahwa Claudia merasa nyaman dengan kehadiran dokter itu.

__ADS_1


Kenapa Aksa bisa mengetahuinya?, 1 tahun lalu Claudia pernah pingsan karena demam tinggi, dia akhirnya dirawat di rumah sakit karena DBD dan Typhus. Khawatir mendengar kabar tersebut, Aksa pun langsung bergegas untuk datang dengan niatan mau menemani dan menjenguk Claudia, tapi saat ia sampai di rumah sakit dia terkejut. Seorang pemuda sudah ada disamping Claudia, pria itu sepertinya dokter.


Pria tadi mengelus lembut kepala Claudia yang sedang menangis di ruang UGD, saat itu sedang dilakukan pemasangan infus. Pemuda tampan itu pun berkali-kali mencium dahi Claudia. Emosi dan cemburu saat itu seperti membakar tubuh Aksa, apalagi saat ia mendengar bahwa para perawat membicarakan tentang Claudia yang merupakan tunangan dokter muda tersebut. Ya tak lain dan tak bukan itulah Reiki, pemuda yang ada disisi Claudia saat itu pada akhirnya membuat Aksa menelepon Silvana.


Silvana yang melihat Aksa tertunduk dengan tubuh yang gemetar, hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan pelan. Sebenarnya ia juga bingung, satu sisi ia merasa jika putrinya itu menikah dengan Reiki, maka mereka akan terhindar dari masalah. Sedangkan satu sisi lain, ia telah berjanji kepada Aksa bahwa ia akan merestui hubungan Aksa dengan Claudia, bila kedua anaknya itu punya perasaan yang saling bersambut, tentunya opsi kedua ini bisa membuat hubungan Silvana dengan Bram retak. Bagaimana pun Bram sudah menganggap Claudia sebagai anaknya, walaupun Claudia masih belum bisa menerima Bram 100% menjadi ayah sambungnya.


"Bunda...bunda masih ingat janji bunda 5 tahun lalu sama Aksa kan..." tanya Aksa lirih


"Ka...dengerin bunda, kita sama-sama tahu ini ga akan mudah. Ditambah lagi Claudia sama Reiki itu bondingnya ga sembarangan. Claudia gak bisa lepas gitu aja dari Reiki, dan satu lagi yang kamu belum tau. Reiki itu masih keponakannya papa Claudia" seru Silvana


"Terus? Emang Aksa peduli? Aksa cuma mau Claudia jadi milik Aksa bunda. Bunda tau betapa pentingnya Claudia buat Aksa, kalau bisa Aksa tukar nyawa Aksa buat dapetin Claudia, Aksa akan lakukan itu" tukas Aksa dengan frustasi.


"Bunda tau, bunda paham. Tapi kamu ga bisa kaya gini ka, semakin kamu ga bisa control emosi kamu, semakin ga mungkin juga Claudia jatuh ketangan kamu. Bunda udah bilang bunda akan restuin, tapi bukan berarti bunda bakal bantuin kamu buat dapetin hati Claudia"


"Bunda !!! apa bunda mau Aksa ancurin semuanya...." seru Aksa sedikit meninggi.


"Ka, coba sekarang kamu tunjukin ke Bunda, apa kamu lebih baik daripada Reiki. Yang kamu harus tau dengan pasti ka. Baik kamu maupun Reiki punya perasaan yang sama, tapi bedanya kalian itu, Reiki lebih pintar ngambil hati Claudia, dia tenang berpikiran panjang. Kalau dia diposisi kamu, ga mungkin dia sekarang mau ngamuk-ngamuk atau ngancem bunda kaya gini" jawab Silvana tenang.


"Bunda ga paham perasaan aku, kalau kaya gini Aksa bakalan ngancurin acara papa sama bunda, biar Aksa bilang kalau Aksa jatuh cinta sama adik Aksa sendiri, biar semua orang tahu !!" Aksa yang sangat emosi berdiri dari duduknya sambil menjambak rambutnya sendiri, ia seperti orang yang sudah hilang akal, walaupun dia tidak membentak Silvana, perempuan ini tahu anak lelakinya ini harus disadarkan.


'PLAAAAK' suara tamparan memenuhi ruangan itu, Aksa kini sudah jatuh tersungkur di depan sofanya. Ga main-main Silvana memang memukul Aksa dengan sekuat tenaga, hatinya benar-benar sakit melihat putranya itu jadi begini hanya karena mendengar ada orang yang mau melamar Claudia.


Satu hal lagi, apa harus Silvana ingatkan Aksa, bagaimana perasaannya saat harus berkorban, bagi orang yang dia cintai. Apa yang dialami oleh Aksa belum ada setengahnya dari apa yang sudah dilalui oleh Silvana.


"B..Bunda..." seru Aksa shock melihat bundanya menangis.


"Kalau kamu mau kaya gitu terserah, tapi yang pasti bunda lebih milih untuk bercerai dengan papa kamu, ketimbang liat anak perempuan bunda satu-satunya hancur di tangan kamu. Semua pilihan ada di kakak sekarang, kamu mau bunda restuin atau ga bunda restuin, kita liat setelah acara nanti malem. Yang pasti hari ini mereka dateng cuma mau diskusi, mau gimanapun baiknya papa kamu, Claudia itu masih punya ayah kandung, bunda sama papa kamu ga akan bisa nikahin Claudia tanpa persetujuan bapaknya itu" seru Silvana sambil berjalan pelan menuju pintu kamar Aksa.


Aksa terdiam, ia seperti tersadar dengan maksud Silvana. Kebodohan apa yang sudah dia lakukan tadi. Ini belum berakhir, perjuangannya untuk menjadi suami bagi Claudia baru dimulai. Dia harus membuktikan bahwa perasaannya itu tulus, bukan obsesi yang membutakan.


"Bunda...." Aksa berlari lalu memeluk Silvana dengan erat. Ia menangis sejadi-jadinya. Kotak air mata Aksa memang pasti rusak jika berada di depan Silvana, dia memang menganggap perempuan ini sebagai ibunya sendiri, bahkan sejujurnya dia merasa bisa lebih menjadi seorang 'anak', saat berada di depan Silvana ketimbang saat bersama alm ibunya, Aini.


"Bunda, maafin Aksa bunda....maafin Aksa..."


"Sayang, bunda ga marah. Buat bunda Aksa juga udah seperti anak kandung bunda sendiri, walaupun kamu ga berasal dari Rahim bunda, tapi bunda bener-bener sayang kamu seperti halnya Claudia. Bunda marah sama kamu karena bunda kecewa, Aksa ternyata sebegini lemahnya. Kalau baru masalah kaya gini aja, Aksa udah bertindak begini, berpikiran bodoh dan ga mikirin semuanya dengan baik, gimana nanti kalau mau ngadepin papa kamu dan keluarganya. Kamu ga akan bisa bertahan nak" Silvana mengelus punggung Aksa yang kini menangis sampai sesunggukan.


"Iya bunda, Aksa udah berpikiran bodoh, maafin Aksa tadi udah kasar sama bunda..." Aksa merenggakan pelukannya, sambil menatap ibunya itu.


"Maafin bunda juga tadi udah nampar Aksa, bunda bantuin buat ilangin bekas merahnya itu ya" jawab Silvana, dan Aksa hanya mengangguk-angguk saja.

__ADS_1


Kembali ke saat ini.


"Satyo, Keiko...kami sebenarnya selaku orang tua menyambut niat baik kalian. Silvana dan saya juga menyerahkan semua keputusannya pada putri kami, tapi seperti yang kalian tahu, ayah kandung Claudia kan tidak ada disini, jadi kami juga belum bisa kasih kepastian apapun" jawab Bram yang langsung di iyakan oleh semua yang ada disitu.


Keiko pun akhirnya melihat kearah Claudia, ia tersenyum manis dan Claudia pun juga ikut tersenyum. Sejujurnya apa yang dikatakan Icha pada Claudia sejak tadi membuat dirinya berpikir berkali-kali. Apa seharusnya dia memang bersama Reiki saja, tapi kenapa saat melihat Aksa yang kini duduk di sebrang bersama bundanya, membuat hati Claudia berdebar kencang.


"Di chan..." seru Keiko sambil mengelus kepala Claudia.


"Ung iya tante..." jawab Claudia terkejut.


"Di chan, menurut kamu gimana? Kalau Reiki jadi suami kamu?" seru Keiko lembut.


Jantung Aksa tidak baik-baik saja, dia melihat kearah Claudia dengan harap-harap cemas, sungguh ia berharap gadis itu menolak lamaran orang-orang itu.


Disisi lain Reiki menyadari bahwa Aksa sangat fokus melihat kearah Claudia, senyum manis Reiki pun langsung menghilang, bagaikan di telan bumi. Ia semakin menggenggam erat tangan gadis mungil itu.


Semua orang juga jadi melihat kearah Claudia, karena gadis kecil ini hanya menunduk dan kebingungan. Ia masih sangat bimbang untuk menerima lamaran tersebut.


"Ade...uhm....Ade...kayanya ma..."


Kalimat Claudia seketika terhenti, saat ada orang yang memotong pembicaraan Claudia.


"Zenbu...Mitayo..." ujar Reiki lirih.


Mata Claudia membelalak, ia langsung melihat kearah Reiki, sedangkan Reiki yang sedari tadi masih melihat kearah Aksa perlahan merenggangkan genggaman tangannya.


Claudia pun melihat arah pandangan Reiki, ya Aksa sama sekali belum menyadarinya, karena kakak Claudia itu malah bingung dengan apa yang di dengarnya. Namun tidak dengan Claudia, hatinya makin berdebar tak karuan, gadis ini ketakutan.


'Tidak mungkin, ga mungkin ka Iki liat itu...' gumam Claudia dalam hatinya, dan saat wajahnya menghadap kepada Reiki, ternyata Reiki sudah menatap Claudia lagi, senyum pun ia tampakkan kembali.


"Iki kun?" Keiko bingung, kenapa anaknya tiba-tiba menggunakan bahasa Jepang, yang posisinya hanya bisa dipahami oleh dirinya dan Claudia.


"Kak...Ka Reiki...." Claudia ketakutan melihat Reiki, apa sebenarnya maksud Reiki, ini semua menjadi semakin menjadi momok yang menakutkan bagi Claudia, lamaran tiba-tiba ini juga jadi semakin terjawab.


Reiki dan Claudia punya kebiasaan untuk tidak memakai bahasa lain kecuali bahasa Jepang, saat sedang bicara tentang sesuatu yang sangat rahasia atau saat mereka sedang berduaan saja, dan itupun jika ada kemungkinan orang lain mendengarkan atau menguping pembicaraan mereka.


Sedangkan wajar bagi Claudia untuk tahu bahwa saat ini sebenarnya Reiki sedang sangat marah, karena Reiki tiba-tiba menggunakan bahasa Jepang disaat banyak orang lain bersama mereka, suatu hal yang sangat jarang dilakukan oleh Reiki, dan terakhir ia lakukan saat bertengkar mulut dengan Zen, pasca Claudia di bawa kabur oleh ayahnya itu.


"Zenbu mitayo...watashi wa subete wo mita..." seru Reiki sambil tersenyum manis, sedangkan Claudia dia hampir tak bisa membendung air matanya lagi.

__ADS_1


 


 


__ADS_2