
Holaaa semuanya apa kabar?
Bertemu lagi dengan Author...
semoga semuanya dalam keadaan sehat dan terhindar dari penyakit apapun ya, dan kalau sedang dalam keadaan kurang sehat semoga cepat sembuh...amiiin.
Ok, gak bosan-bosan kami akan mempromosikan cerita kami yang lain...
Tsundere boy & Otaku Girl
dan
LOVE FROM STALKER
Jangan lupa untuk mampir ya teman-teman >___<
Untuk yang baca cerita kami mohon like dan sharenya juga, supaya author lebih semangat meneruskan ceritanya....
Oh iya kalau mau tanya-tanya bisa gabung ke grup chatnya MOXYAAL, sebisa mungkin akan kami jawab...
Sip tanpa berlama-lama lagi, inilah chapter 76 yang ke-pending updatenya sampai 2 minggu hehehe...
Selamat membaca, XOXO MOXYAAL...
------------------------------------------------------------------------------------
“Ini udah tahun ke empat, tapi kamu gak mau pulang juga de…kamu udah gak sayang ya sama eyang?” uca[ Nesya yang sudah sangat kangen dengan cucunya itu.
Selama 4 tahun Claudia cuma pulang sekali itupun cuma 1 minggu karena harus mengurus semua dokumen kelulusannya, setelah itu gadis ini tidak pernah lagi kembali bahkan saat hari raya sekali pun.
“Ih eyang bukan gitu, tapi kan kuliah ade disini belum selesai…” ucap Claudia lirih.
__ADS_1
Apa karena kuliah Claudia memilih tidak pulang ? tentu saja itu cuma alasannya, dia masih bisa kembali ke rumah saat liburan namun ia tak berniat untuk melihat wajah Aksa lagi.
Walaupun sudah beberapa tahun, hatinya masih sakit bahkan hanya dengan mendengar nama pria yang ia cintai itu. Bukan karena benci pada Aksa, tapi ia lebih membenci dirinya sendiri yang tak mampu melakukan apapun untuk membebaskan Aksa dari semua jebakan Syakila dan Reiki.
“Alasan aja itu eyang tau, kamu kan bentar lagi lulus berarti bisa pulang kan?” tanya Nesya dengan sinis, ia mau Claudia pulang. Dirinya sudah semakin tua dan mungkin umurnya tak akan panjang lagi, maka dari itu ia ingin cucu kesayangannya itu pulang agar bisa bersama-sama dengannya.
“Eyang, kan kita udah pernah bahas ini sebelumnya…ade mau cari kerja disini, lagi pula perusahaan ayah kan juga pusatnya disini, terus belum lagi tante Linda juga mau bikin usaha baru disini, banyak yang ade mesti urusin…” Claudia punya beribu alasan yang jelas untuk tidak pulang ke rumah itu, tentu saja ia memang menyibukan diri dengan banyak hal sehingga alasannya itu tak terlihat sebagai omong kosong belaka.
“Kalau eyang mau, eyang aja yang kesini nanti kita ke Sapporo eyang kan bilang pengen nyobain main salju disana…” ucap Claudia berusaha merayu eyangnya agar Nesya saja yang datang berkunjung.
“Susah ngomong sama kamu de, eyang itu maunya kamu nemenin eyang disini, kalo masalah jalan-jalan sih itu beda lagi…yaudahlah besok eyang coba lagi buat ngerayu kamu…”
Ucapan Nesya disambut gelak tawa oleh Claudia, mereka pun akhirnya mengakhiri percakapan tersebut.
Claudia disisi lain tidak langsung berdiri dari duduknya, ia menghela nafas sambil memandang suasana musim gugur. Waktu memang tidak mau menunggu, bersama atau tidak dengan lelaki yang ia sangat cintai itu waktu juga tak ingin menunggu.
Sejujurnya setiap kali Nesya menghubunginya, timbul rasa ingin tahu yang cukup besar dalam hatinya. Bagaimana kabar Aksa, apa saja yang dilakukan pria itu atau bahkan apa Aksa sudah melakukan tes DNA pada anaknya?. Semua itu selalu muncul di benak gadis yang sebentar lagi akan lulus kuliah itu.
Tapi tidak, sejak awal dirinya sudah memutuskan segala hal yang berhubungan dengan Aksa. Ia tidak ingin jadi duri dalam daging, bagaimana pun suka atau tidak suka Aksa kini sudah menjadi milik perempuan lain, sehingga dirinya tak lagi memiliki hak untuk mengharapkan Aksa bisa bersama dengannya.
Claudia menutup matanya, membiarkan nafasnya seirama dengan hembusan angin musim gugur yang berhembus lembut. Terkadang ia masih bisa melihat Aksa tersenyum di depannya, menggenggam erat tangannya. Betapa rindunya Claudia akan hal tersebut, namun disisi lain ia juga benci karena harus hidup dalam bayang-bayang seseorang yang jauh dari jangkauannya.
Sekeras apapun dia berusaha melupakan Aksa, ingatan itu segera menyergapnya kembali, hingga pada satu titik gadis ini pasrah dengan perasaannya, membiarkan rasa cinta yang teramat dalam membekas begitu saja.
Setelah beberapa saat termenung, sebuah tepukan di pundak membuatnya kembali tersadar.
“Ka Reiki??” ucap Claudia.
Reiki tersenyum, lalu memilih duduk disamping Claudia. “Kamu ngapain disini sendirian???” seru Reiki penasaran.
“Eyang abis telepon aku nyuruh pulang, biasa udah kangen banget katanya sama aku” seru Claudia sembari tertawa kecil.
__ADS_1
Reiki cuma mengangguk, entah bagaimana lelaki ini ketakutan jika Claudia memilih untuk pulang ke Indonesia, ia merasa jika gadis yang dicintainya itu ingin kembali maka Aksa pasti akan jadi rintangan berat yang harus di hancurkannya untuk kedua kalinya.
“Kamu mau pulang?” tanya Reiki lirih.
Claudia menggeleng, walaupun ingin gadis ini tak bisa, tak mampu. Apalagi setelah dirinya menutupi kejahatan pria yang kini tengah duduk disampingnya.
Apa Claudia sudah gila? Ya mungkin saja, bagi gadis ini membenci seseorang yang selalu menjaganya sejak masih kecil dan menyayanginya dengan sepenuh jiwanya bukanlah perkara mudah.
Reiki selama 4 tahun ini menunjukan sikapnya seperti dahulu, pribadi yang hangat dan baik hati. Pikir Claudia setelah Aksa menikah mungkin Reiki bisa bernapas sedikit lebih lega lalu kembali menjadi dirinya yang dulu.
Lagipula apalagi yang bisa dilakukan gadis ini? Bahkan jika ia memberitahu Aksa bahwa dirinya telah di jebak oleh Syakila dan Reiki tidak akan ada yang berubah terlebih dengan Syakilla yang saat itu hamil.
Claudia sudah lelah baik secara mental dan fisik ia sudah benar-benar tak sanggup lagi, ia ingin hidup tenang, dan sepertinya jika ia memberitahu Aksa maka kehidupan yang damai hanya akan jadi ilusi semata.
Ia yakin Aksa akan memberontak lalu berusaha lebih keras untuk mendapatkannya kembali, sedangkan Reiki dan Syakila juga tak mungkin berpangku tangan, pada akhirnya akan semakin banyak orang yang tersakiti jika Claudia ngotot untuk membuka semua kebenarannya, ia masih berpegang teguh pada keyakinan jika suatu saat nanti Reiki akan sadar dan berhenti sendiri.
Bagaimana pun ia yakin kalau pada dasarnya Reiki adalah orang yang baik. Lalu apakah Claudia juga sudah memberitahu pada Reiki jika ia mengetahui semua siasat yang di lakukan tunangannya itu? Tidak juga, Claudia memilih untuk bungkam dan tidak mengatakan apapun, karena saat pergi meninggalkan semua yang ia miliki tujuannya sangat jelas, ia ingin menata masa depannya agar memiliki kehidupan lebih baik nantinya.
Walaupun sudah berdamai dengan keadaan bukan berarti Claudia bisa menerima Reiki jadi calon suaminya kembali, pertunangan mereka memang belum putus namun bukan berarti ada kemajuan diantara mereka. Claudia hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan pada Reiki bahwa dirinya tak bisa menikahi pria itu.
“Sebentar lagi kamu wisuda, S3 aku juga udah mau selesai” ucap Reiki tiba-tiba.
“Ya terus???” Seru Claudia sambil memiringkan kepalanya.
Reiki tiba-tiba berdiri dan berlutut di hadapan Claudia, lalu menggenggam kedua belah tangan gadis itu.
Oh tidak, sepertinya Claudia tahu apa yang akan dikatakan oleh Reiki.
“Kak, kalau kakak mau nyinggung soal kapan kita menikah jawaban aku masih sama kak..maaf tapi aku gak bisa…biarin aku hidup tenang kak, aku capek sama semua drama yang datang ke kehidupan aku tiba-tiba…aku udah lelah dengan semua cerita patah hati dan lain-lainnya, bagi aku sekarang semuanya aku pasrahin aja sama yang diatas, perkara soal menikah aku memang belum siap, aku masih muda dan mau lihat dunia luar kaya apa…maaf ya ka..” Nampaknya gadis ini tak bisa lagi menunda untuk mengatakan apa yang selama ini ada di benaknya.
Reiki menghela nafas pelan, ia menggantungkan kepalanya dengan perasaan sedih. Tapi tidak, ia tak akan menyerah sudah banyak yang ia korbankan dan lakukan dalam usahanya mendapatkan Claudia.
__ADS_1
Penolakan sekali tidak akan berdampak apapun pada perasannya. Ia akan terus berusaha mendapatkan Claudia, walaupun harus menunggu selama apapun.
‘Maaf Di…tapi aku ga bisa nyerah gitu aja…dan tidak untuk alasan apapun’