ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 17


__ADS_3

“Zenbu mitayo (aku lihat semua)….watashi wa subete wo mita (aku melihat semuanya) …”


Claudia rasanya ingin menangis, gadis ini bingung. Sedih dan malu, apa yang sudah dia lakukan, Reiki sudah tahu semuanya. Pikiran Claudia berkelana, bagaimana jika seluruh keluarganya tahu dia, dan kakak tirinya itu sudah melakukan sesuatu yang seharusnya di lakukan oleh pasangan bukan kakak dan adik. Perut Claudia rasanya bergejolak, dia ingin muntah, kepalanya juga sangat sakit.


Reiki yang tahu gadis yang ia cintai ini kondisinya tidak bagus, mulai berpikir apa yang harus dia lakukan, namun pria itu masih menunggu reaksi Claudia. Bila perkiraannya tidak meleset, Claudia pasti akan mengiyakan tentang lamarannya ini.


“De…kamu gak apa-apa?” tanya Nesya kepada Claudia.


Claudia lalu mengangguk pelan, ia melihat kearah Aksa, dan teringat apa yang terjadi tadi siang. Saat dia melihat Aksa bersama Syakilla berpelukan, tepat di ruangan ia berada sekarang. Gadis ini pun mengangguk beberapa kali, ia melihat kearah Keiko. Sepertinya Claudia memang harus menerima lamaran dari Reiki, ia bisa apa Aksa juga hanya mempermainkan dirinya.


‘Tadi aku bingung harus apa, tapi ka Aksa juga udah punya calon sendiri. Mungkin ini yang terbaik, kalau aku nikah sama ka Reiki, semuanya akan berjalan normal…’gumam Claudia sambil menatap Aksa sebentar.


“Tante…” seru Claudia lirih.


“Ya sayang?”


“Claudia terima lamarannya ka Iki…”


Semua orang disana terkejut, Silvana dan Aksa apalagi. Apa yang tadi sudah dikatakan oleh Reiki, sehingga membuat Claudia yang tadinya terlihat akan menolak Reiki langsung berubah 180 derajat. Aksa sama sekali tidak bisa menahannya lagi, namun disampingnya Silvana menarik tangan Aksa yang sudah bersiap untuk bangun, wanita itu menggenggam tangan Aksa dengan erat.


“Bunda…” seru Aksa pelan.


Silvana hanya menggeleng pelan, sambil menatap wajah anak lelakinya itu. Ia seperti mengisyaratkan Aksa untuk menunggu.


Berbeda dengan Silvana dan Aksa yang kaget, Bram, Satyo dan Keiko terlihat sangat senang. Mereka tak henti-hentinya tersenyum, Keiko juga berkali-kali menciumi calon menantunya itu.


Lalu bagaimana dengan Reiki, ia tersenyum. Gampangnya rencana Reiki berhasil, tapi dia tidak puas karena selama Aksa masih tinggal bersama Claudia, maka kemungkinan Claudia berpikir ulang akan semakin besar.


Reiki tahu Aksa sama seperti dirinya, benar-benar mencintai gadis mungil itu. Ini menjadi tantangan terberat bagi Reiki, karena ia tahu Aksa bukan pria yang bodoh, mereka lawan yang seimbang, tapi dia tahu Aksa banyak memiliki kelemahan. Emosi, itulah yang menjadi kelemahan Aksa.

__ADS_1


Seperti sekarang ini, Reiki hanya butuh melakukan sesuatu tanpa usaha yang besar, untuk membuat Aksa kebakaran jenggot. Ia sudah sadar sejak tadi Aksa berusaha untuk berdiri dan seperti ingin memukulnya, namun semua itu terhalang. Silvana yang duduk disamping Aksa berkali-kali berusaha menenangkan Aksa, dan semua hal yang Silvana lakukan itu membuat rencana Reiki agak sedikit meleset, tapi dia tidak terlalu mempermasalahkannya, karena tujuan utama sudah tercapai, Claudia sudah setuju untuk menikahinya.


“Walaupun Claudia setuju…” Silvana tiba-tiba bicara, ia perlahan melihat kearah Reiki yang terkejut, karena Silvana yang sedari tadi diam saja mulai mengeluarkan suaranya. “Kita masih tetap harus menunggu ayahnya Claudia dulu” lanjut Silvana.


“Ana benar, kita tunggu dulu Zen datang ke Indonesia, baru kita bicarakan lagi soal pertunangan dan pernikahannya” seru Nesya.


Keiko dan Satyo pun setuju, tapi tidak dengan Reiki. Menunggu Zen terlalu lama, ia ingin segera tukar cincin dengan gadis kesayangannya itu, setidaknya setelah itu dia akan lebih tenang, menunggu calon mertuanya tak lagi jadi masalah.


“Eyang,tante dan om…maaf kalau Reiki lancang, tapi kalau di perbolehkan, sampai om Zen datang, apa boleh Reiki dan Claudia tukar cincin saat ini juga. Bukan gimana-gimana, Reiki cuman takut banyak orang yang akan melakukan apapun buat ngerebut Claudia dari Reiki, dan Reiki gak mau itu terjadi” Reiki dengan senyum teduhnya melihat kerah Aksa.


“Kenapa lo segitu takutnya Claudia di ambil orang?” seru Aksa tiba-tiba, ia sudah tidak peduli lagi, rasanya Aksa sudah habis kesabarannya, melihat tingkah Reiki yang berkali-kali memancingnya.


Claudia kaget, Aksa dari tadi tidak beraksi sama sekali, tapi kenapa saat Reiki bilang ingin tukar cincin sekarang, dia baru berani bicara?, Claudia bingung dengan sikap Aksa yang begitu. Lalu bagaimana dengan pria yang duduk persis disamping Claudia?, reaksi Reiki adalah ia hanya tertawa, ia tau Aksa sudah tidak tahan lagi, pra itu pasti sekarang ingin menghabisinya di tempat.


“Bukan apa-apa sih, cuman kita semua kan tahu Claudia cantik banget” Reiki langsung menyentuh lembut pucuk kepala gadis manis itu. “Akan banyak lelaki yang berusaha bertindak tanpa berpikir tentang ‘POSISINYA’ untuk mendekati Claudia” senyum Reiki kearah Aksa sekarang bukan senyum manis lagi, tapi senyum sinis. Aksa menyadari kurang lebih Reiki sudah sadar jika dia juga mencintai Claudia.


“Orang yang saling mencintai itu, tidak membawa apapun untuk dirinya dan yang ia cintai, tapi kemudian mereka belajar untuk saling mengisi dengan proses yang tidak sebentar. Didalam prosesnya ada kebahagiaan, kepercayaan, kesedihan, amarah, dan yang terbesar adalah pengorbanan” Aksa yang terus berkata seperti itu membuat Claudia akhirnya menyadari sesuatu, sedangkan Silvana ia merasa bangga dengan apa yang dilakukan oleh Aksa.


“Karenanya menurut gw, ketika seseorang yang saling mengasihi itu bertemu dan memadu kasih, mereka ingin jalan dengan selaras, itulah mengapa hubungan kedua belah pihak yang akhirnya menikah akan menjadi 1, tidak ada ‘AKU’ ataupun ‘DIA’ namun cuma ada ‘KITA’. Posisi yang lo tadi bilang ke gw, itu cuman omong kosong, karena kalau lo mencintai seseorang lo pasti percaya tuhan akan membimbing lo kepada takdir yang terbaik, ‘APAPUN POSISI ORANG TERSEBUT’. Jadi, kalo lo yakin udah di posisi 0 bersama ade gw, kenapa sekarang harus buru-buru banget untuk ngiket dia kaya gitu? ” lanjut Aksa sambil pelahan menatap kearah Reiki.


“Hahaha, saya paham dengan pemikiran kamu, tapi nampaknya kamu juga mesti tau, dua orang yang bersama itu juga harus saling direstui. Dan saya yakin kamu sebagai ‘KAKAK’nya Claudia pasti turut merestui kami kan ?, Oh iya, satu lagi kenapa saya buru-buru ngiket Claudia, karena saya khawatir apa yang seharusnya ga terjadi jadi malah terjadi, hal-hal buruk yang nantinya berdampak ga baik pada hidup Claudia, saya rasa kamu juga sudah tahu maksud saya tentang hal-hal buruk itu apa” Reiki menarik tangan Claudia dan mencium punggung tangannya itu, lalu melirik kembali kearah Aksa sambil tersenyum.


Aksa sudah sangat marah, namun belum sempat ia membalas, Silvana sekali lagi berbicara menyela persaingan sengit dari kedua pemuda itu.


“Intinya menurut tante Ki, kalau kamu percaya Claudia cinta sama kamu kenapa harus buru-buru tunangan sekarang” Silvana berusaha menjelaskan pada Reiki kalau semua ada waktunya, tak perlu terburu-buru seperti ini.


“Iki kun, mama setuju sama tante Ana, kita tunggu dulu om Zen pulang ke Indonesia.” Keiko juga sependapat dengan Silvana, menurut Keiko, hari ini mereka datang hanya untuk menanyakan kesediaan Claudia saja. Dia juga merasa hari ini, Reiki bertindak sangat aneh, tidak seperti biasanya. Aksa yang mendengar pembelaan kedua orang itu tersenyum puas.


Claudia sangat senang mendengar ayahnya mau pulang ke Indonesia, apalagi dia bisa bertemu dengan pria yang sangat ia rindukan itu, rasanya semua perasaan tidak enaknya langsung hilang begitu saja. Satu lagi yang membuat Claudia senang, karena dia tak perlu langsung memakai cincin dan terikat dengan Reiki, itu berarti dia masih punya waktu untuk memikirkan semuanya lagi.

__ADS_1


Beda dengan Claudia, Reiki sangat kesal, senyum diwajahnya mulai hilang, ia mengepalkan tangannya. Rencanannya sudah hampir terjadi, tapi kenapa Silvana dan ibunya sendiri harus menentangnya.


Tanpa disadari siapapun, nampaknya Bram memperhatikan gerak-gerik Reiki. Ia tersenyum, karena menyadari Reiki begitu mencintai Claudia, dan dia bukan cuma lelaki yang mau main-main saja dengan anak gadisnya itu. Walaupun nampaknya terburu-buru, sebagai seorang ayah, apa yang dikatakan Reiki tadi memang menyadarkan Bram. Dengan kecantikan Claudia, dan sifatnya yang supel sangat mungkin banyak lelaki, yang akan memanfaatkan Claudia hanya untuk nafsu belaka.


“Gak-gak, gapapa biarin aja Claudia sama Reiki tuker cincin, kamu bawa cincinnya kan Ki?” Bram langsung berinisiatif untuk merestui apa yang Reiki pinta tadi.


Reiki mengangkat wajahnya, kepalanya memang sedari tadi agak menunduk. Namun begitu Bram bilang seperti itu, senyum indahnya kembali lagi, dan kini lebih lebar dari sebelumnya. Akan tetapi Claudia tidak sesenang itu, baru saja bisa bernapas, sekarang harus begini lagi.


“Bawa Om…” Reiki mengeluarkan cincin pasangan dari kantong celananya.


“Mas…” Silvana berusaha menghentikan Bram.


“Hal baik itu harus disegerakan, saya yakin Zen pasti ngerti, nanti saya yang akan jelasi ke Zen. Reiki apalagi yang kamu tunggu, ayo cepet Ki pasang cincinnya di tangan Claudia, nanti buat pesta pertunangan kalian, kita barengin aja sama pertunangan Aksa”


“PAPA!!!” Aksa langsung berdiri sambil teriak, tapi tak di gubris oleh Bram, karena sejak awal dia sudah tau Aksa tak suka dengan Syakilla, tapi hanya itu satu-satunya cara, agar Aksa bisa hidup nyaman nantinya.


Ok, pertunangan Aksa, ini informasi baru bagi Reiki, dia tidak tahu bahwa papa sambung dari Claudia ini sudah punya jodoh sendiri untuk Aksa, setidaknya ini akan memudahkan langkah Reiki.


“Oh aku setuju banget om, kalau pertunangan aku dan Claudia nanti di barengin sama pertunangannya ka Aksa. Gpp kan Reiki manggil Aksa begitu?. Gimanapun juga nanti Aksa kan bakalan jadi kakak ipar Reiki juga”


Aksa hanya melotot kearah Reiki, siapa juga yang mau dipanggil kakak sama manusia nyebelin macem Reiki.


Dengan perlahan Reiki membantu Claudia untuk berdiri, dia bahkan kini berlutut di depan Claudia.


“Claudia sayang, aku kenal kamu dari kamu baru lahir, aku ada di samping kamu saat pertama kali kamu belajar untuk bicara , saat pertama kali kamu jalan, saat pertama kali kamu bisa berlari pun aku juga ada disana, semua hal pertama kamu, selalu ada aku disamping kamu. Karena itu, aku ingin jadi pria pertama yang ada dihati kamu, menjadi seseorang yang pertama dan terakhir untuk menami hidup kamu, sampai ajal menjemput kita. Claudia Ariadna Mahendra, Boku no tameni maiasa misoshiru wo tsukutte hoshii (Aku harap kamu membuat sup miso setiap pagi untukku)” Reiki berharap, sangat berharap Claudia mengulurkan tangannya. Dan ya, Claudia mengangguk dan mengulurkan tangannya, Reiki sangat senang dia pun memeluk dan mencium kening Claudia, sedangkan Aksa dia rasanya mau mati sekarang.


 


 

__ADS_1


__ADS_2