ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 26


__ADS_3

Nesya bergegas kearah taman belakang,


disana Silvana sedang menikmati meminum teh, sudah kebiasaan wanita itu, untuk


melepas lelah sehabis pulang kerja dengan duduk dan memandangi taman bunga yang


hanya di batasi oleh kolam renang.


“Na….” seru Nesya dengan panik.


Silvana langsung melihat kearah sumber


suara, wanita itu pun bangkit dari duduknya, ia kebingungan mengapa ibunya


seperti orang yang panik begitu.


“Lho bu, ada apa?”


“Na, Icha ilang…tadi Alif telepon ade, Mey


katanya udah nangis-nangis”


Silvana langsung menaruh majalah yang


tengah ia baca. Ia langsung menggenggam tangan Nesya.


“LAH KOK BISA?!”


“Ibu juga gak tau, ayo kita pergi bantu


cari Icha”


“Ayo bu…”


Saat mereka berjalan masuk ke dalam rumah,


tiba-tiba Nesya menghentikan langkahnya, dia sepertinya harus memberitahu bahwa


ada kemungkinan Zen berada di mall yang sama dengan mereka nantinya.


“Bu? Kenapa?” Silvana khawatir, ia takut


ibunya sakit karena tiba-tiba berhenti melangkah.


“Na, ibu lupa kasih tau kamu”


“Soal apa bu?”


“Pagi tadi mami mu telepon ibu, dia bilang


Zen udah sampe Jakarta”


Silvana terdiam, mantan suaminya itu


seharusnya sampai di Jakarta minggu depan, kenapa dia malah sudah kembali ke


Indonesia sekarang?. Apalagi Zen tidak membalas email dan chat dari Silvana,


lalu bukankah setidaknya pria itu bisa meneleponnya, ini benar-benar membuat


Silvana kesal.


Datang dan pergi seperti ini memang


kelakuan khas dari Zen, kadang ia bingung kenapa bisa mereka dulu berdua


menikah. Kalau bukan karena Zen yang pantang mundur dalam mendapatkan hati


Silvana, tidak mungkin rasanya wanita itu mau di persunting oleh Zen,


gampangnya Silvana benci orang yang tidak memberikan kabar dengan jelas.


“Terus kalo dia dateng kesini hubungannya


apa bu sama aku?, kan kita janjian ketemuannya juga masih minggu depan, itu


juga kalo dia mau”


“Kamu itu ya, kenapa sih masih aja sinis


sama Zen”


“Aku ga suka sama sifatnya dia yang suka


tiba-tiba dateng terus pergi gitu aja, gak kasih kabar lagi”


“Ana, kamu gak boleh ngomong gitu, kemaren


kamu kawinan juga kamu ga kasih kabar ke anakmu, harusnya kamu juga intropeksi


diri”


“Kok ibu ngomongnya gitu sih, kan Ana cuma


bilang ga suka sama sifatnya dia yang seenaknya sendiri”


“Ibu harus kaya gini, kamu mesti tau Bima


yang jemput Zen tadi pagi. Mereka juga ikut buat cari Mey”


“Hah…kalo gitu…”


“Egois kamu turunin dulu, sekarang yang


penting kita bantuin Mey sama Alif cari Icha”


Silvana mengangguk, memang ini bukan


saatnya dia memikirkan rasa kesalnya dengan Zen.


“Yaudah bu Ana ganti baju dulu, sekalian


telepon mas Bram..”


“Ok cepet ya ibu tunggu”


Aksa sedang merebahkan dirinya di atas


kasur, sesaat ia menutup matanya dan mengingat apa yang sudah dikatakan Nesya


padanya tadi.


“Eyang tau apa yang membuat Reiki begitu


ingin cepat-cepat memperistri Claudia” seru Nesya dengan wajah serius.


“Maksud eyang?” Aksa bingung, kenapa


tiba-tiba Nesya menyuruh pulang, dan membicarakan prihal Reiki, yang tentu saja


tidak ingin Aksa pikirkan saat ini.


“Apa waktu Claudia sakit, kamu nyium ade,


pas Reiki masih ada dirumah ini?”


Mata Aksa membelalak, tebakan Nesya tepat,


ia memang melakukan itu pada Claudia, tapi semuanya tidak direncanakan. Saat


itu Aksa memang cemburu, bagaimana tidak sikap Claudia sangat berbeda


dengannya.


Ketika melihat Reiki yang begitu mesra


dengan Claudia, rasanya Aksa ingin membuktikan bahwa Claudia hanya akan jadi


miliknya saja, dan seharusnya Reiki mundur. Salah memang karena lagi-lagi Aksa


kalah dengan kecemburuannya sendiri.


Dilain pihak Nesya hanya menghela nafas


panjang, dia tidak percaya Aksa sebodoh itu. Dugaannya tepat saat mengira bahwa


pasti ada hal yang membuat Reiki marah besar, hingga mempercepat keinginannya


untuk mempersunting Claudia.


Nesya hanya bisa menggeleng-gelengkan


kepalanya sambil memijat batang hidungnya, sedangkan Aksa, hanya bisa tertunduk


malu dan menyesal, kebodohannyalah yang membuat semua kejadian buruk ini


menimpanya.


“Bener dugaan eyang…Aksa…kan udah


berkali-kali eyang bilang sama kamu, jangan gegabah. Sabar dan tunggu waktu


yang tepat sampai Claudia udah resmi jadi istri kamu, baru kamu boleh nyentuh


dia” seru Nesya dengan serius.


Wanita ini sudah berkali-kali


memperingatkan Aksa, bahkan ketika Silvana menarik Aksa untuk bicara saat


Claudia mengamuk, tepat sebelum Nesya, Silvana dan Claudia pindah kerumah ini,


Nesya sudah menyatakan bahwa dia akan mendukung Aksa, tapi Aksa harus menahan


diri.


Sedangkan Silvana, dia meminta Aksa untuk


tidak mengerjai Claudia, karena akan sulit untuk Aksa akrab dengan Claudia jika


dia terus membuat gadis cantik itu marah, tempramen Claudia pasca bundanya


menikah memang meledak-ledak, gadis itu berubah 360 derajat, padahal tadinya


Claudia termasuk gadis yang manis dan hampir tidak pernah membentak orang lain.


“Eyang, Aksa tau kalo Aksa salah, tapi


Aksa ga bisa ga nyentuh Claudia…rasanya Aksa mau mati kalo ga bisa ada di deket

__ADS_1


Claudia” seru Aksa dengan nada frustasi.


“Kamu ga bisa ngendaliin emosi kamu,


hasrat kamu, itu yang bikin Reiki bisa menang dari kamu, karena dia bisa sabar


dan menunggu tapi kamu gak”


Aksa hanya diam, apa yang dikatakan oleh


Nesya sama seperti dengan yang diucapkan oleh Silvana, dia berusaha untuk


merubah dirinya, tapi jika berhubungan dengan Claudia Aksa selalu tidak tenang.


Ia pun benci dengan dirinya yang selalu kalah dengan emosinya sendiri, baik itu


amarah ataupun hasratnya pada Claudia.


“Eyang tau kemarin malam kamu ngapain sama


Claudia, kamu jangan coba-coba bohong sama eyang ya”


Aksa langsung bersujud di depan Nesya, ia


berkali-kali memohon ampun pada eyangnya itu, apa yang dilakukannya pada


Claudia kemarin malam memang sudah kelewat batas, beruntung bagi Claudia,


karena gadis itu pingsan, jika tidak mungkin kini Aksa harus bersiap di


pisahkan dari gadis itu.


“Eyang, Aksa mohon ampun eyang…Aksa tau


Aksa ngelakuin hal yang buruk, maafin Aksa eyang…” Aksa terus mencium kaki


Neysa, karena baginya Nesya bukan hanya sekedar nenek sambung. Aksa yang sejak


kecil tidak mendapatkan kasih sayang dari neneknya, merasakan memiliki keluarga


dari Silvana dan Nesya. Ia merasa lengkap, bahkan jauh sebelum Bram menikahi


Silvana, karena Nesya selalu menjadi tempat Aksa mengadu saat Silvana sibuk dan


tidak bisa dihubungi.


“Kamu harusnya minta maaf sama Tuhan,


bukan sama eyang…”


Aksa mengangguk, dan Nesya membuat


berhenti bersujud di depannya, ia meminta Aksa untuk duduk di depannya, sambil


menghapus air mata cucunya itu.


“Dengerin eyang, sekali lagi eyang tau


kamu melakukan hal tidak pantas sama Claudia sebelum kalian resmi menikah, maka


jangan salahkan eyang kalau kamu harus bunuh eyang dulu untuk dapetin Claudia”


“Bisa janji sama eyang ?”


Aksa mengangguk, lalu Nesya tersenyum dan


menarik Aksa kedalam pelukannya, bagaimana pun Nesya memang tidak bisa marah


pada anak ini, karena dia tahu betapa sulitnya menjadi Aksa.


Lamunan Aksa terhenti ketika ia mendengar


suara ketukan pada pintu kamarnya. Dia langsung duduk dan berteriak agar yang


mengetuk, membuka pintu kamarnya sendiri, tanpa harus Aksa yang membuka dari


dalam.


“Masuk…”


Ternyata Claudia yang ada di luar, Aksa


langsung berdiri dan berjalan kearah gadis itu.


“Ka…” seru Claudia tanpa melihat wajah


Aksa.


“Masuk Di….” Aksa menarik pelan Claudia


supaya masuk ke dalam, seraya menutup pintunya.


Bohong kalau Claudia merasa nyaman berada


di kamar Aksa, dia masih mengingat apa yang mereka berdua lakukan di kamar itu


semalam. Claudia bahkan masih tidak bisa menatap wajah Aksa dengan baik.


Aksa sepertinya tidak terlalu


memperdulikan sikap Claudia saat ini, dia sudah cukup pusing, dengan yang


duduk di sofa.


“Kak, aku mau minta tolong…”


“Duduk sini dulu, aku mau ngomong…” jawab


Aksa sambil menepuk-nepuk sofanya.


“Apa ka, aku buru buru…”


Tangan Claudia langsung ditarik oleh Aksa,


karena dia tau gadis ini ragu-ragu untuk duduk disampingnya.


“Di, aku mau minta maaf soal yang kemaren


malem”


Pria itu menggenggam erat tangan Claudia,


suaranya bergetar seperti ingin menangis, tapi gadis itu gagal menotice karena


terlalu malu, bahkan wajah Claudia memerah saat Aksa menyentuh tangannya.


“A…a…apaan…sih…minta maaf apa…” jawab


Claudia terbata-bata.


Aksa kini tersenyum, Claudia memang


terlalu imut baginya. Hal-hal bodoh seperti ini yang membuat Aksa benar-benar


tidak bisa lepas dari gadis itu. Bahkan Claudia kini seperti robot rusak yang


menggerakan kepalanya tanpa henti ke kanan dan kiri.


Claudia yang membuat Aksa gemas dengan


tingkahnya itu, akhirnya memotivasi Aksa untuk membuat Claudia menatap dirinya.


Aksa menempatkan kedua tangannya ke pipi Claudia, secara otomatis gadis itu pun


berhenti bergerak tak karuan.


“Di, aku mau ngakuin sesuatu ke kamu…”


Aksa yang tadi tersenyum, kini menatap


wajah Claudia dengan sangat serius.


“Yang kemarin itu salah, aku gak bilang


yang aku lakuin ke kamu itu benar. Aku gak mau ngerusak kamu, tapi kamu harus


tau kalo aku ga menyesal udah melakukan itu sama kamu”


Gak menyesal?, Aksa bilang minta maaf dan


selanjutnya bilang kalau dia tidak menyesal. Apa pria ini sudah tidak waras?.


Kalau tidak menyesal kenapa minta maaf, seharusnya Aksa segera menjauhi Claudia


jika merasa bersalah. Itulah yang ada di benak Claudia, gadis itu berpikir


keras, sepertinya Aksa memang harus ke dokter.


“Ka…”


Aksa melepas tangkupannya dari pipi


Claudia, ia kembali menunduk sambil menyatukan tangannya.


Namun ekspresi Aksa kembali berubah, dia


tertawa dan menghadapkan wajahnya pada Claudia, dia langsung menyeringai sambil


mengarahkan satu tangannya kearah Claudia.


“Kalo kamu ga pingsan, mungkin sekarang di


perut kamu lagi proses bikin buah cinta kita” seru Aksa sembari mengelus perut


rata Claudia.


“Apaan sih ka…” tukas Claudia sambil


cemberut.


Kemudian ada jeda beberapa saat, mereka


berdua terdiam. Claudia juga bingung mau membahas apa, dia ingin segera pergi


mencari Icha, tapi sepertinya suasananya tidak cocok untuk membahas itu


sekarang.


Aksa memperhatikan wajah Claudia dari

__ADS_1


samping, ia mempertimbangkan apa yang harus ia katakan sekarang, haruskah dia


menyatakan perasaannya dengan lebih jelas pada gadis itu?. Kepalanya penuh


dengan rencana untuk membawa lari Claudia dan lainnya, tapi jika ia memaksakan


hal itu kepada Claudia sekarang, sudah pasti dia akan di benci seumur hidup


oleh gadis itu.


‘Claudia, aku cinta sama kamu, aku pasti gak


akan bisa hidup dengan baik kalau gak bersama dengan kamu. Bagi aku kamu


segalanya, bantu aku Di, aku harus apa’ gumam Aksa frustasi. Baiklah,


hancur-hancur sekalian, apalagi yang harus ditakutkan, lebih baik pahit diawal


lalu manis diakhir, ketimbang harus main kucing kucingan dengan perasaan


sendiri.


Aksa mengambil nafas panjang, lalu menutup


matanya sebelum bicara tentang perasaannya pada Claudia.


“Di, aku cinta sama kamu. Kalau kamu


gimana?, perasaan kamu ke aku?”


Claudi langsung melihat kearah Aksa, gadis


ini sungguh tidak ingin mendengar apa yang dikatakan oleh Aksa sekarang,


pernyataan cinta terumit yang sama sekali tidak ia harapkan seumur hidup. Akan


lebih mudah jika Claudia hanya cinta sepihak, kenapa Aksa harus menyatakan


rasanya pada gadis itu.


“A…aku….sebagai saudara


ya….sa….sa…saya..ng…” jawab Claudia berusaha berkelit.


Aksa tidak sabar, ia pun membawa gadis itu


dalam pelukannya. Ia menaruh dagunya tepat diatas kepala Claudia, sedangkan


Claudia kini berada di dada Aksa, gadis itu dengan jelas bisa mendengar debaran


jantung Aksa. Sangat kencang, hingga dalam keheningan itu suara debarannya


jantung bisa terdengar dengan jelas. Claudia hanya bisa menutup mata, ia ragu


ingin membalas pelukan pria itu atau tidak.


“Claudia, aku ga pernah liat kamu sebagai


adik ku, buat aku sosok kamu itu sebagai perempuan bukan seorang adik” seru


Aksa memperat pelukannya pada gadis itu.


Saat ini Claudia tidak bisa membalas


pelukan dari Aksa, satu sisi ia ingin bersama pria itu, namun ia bisa melihat


dengan jelas, jika mereka bersama akan banyak orang yang terluka.


Gadis itu ingin menangis, tapi apa cukup,


bukan saatnya untuk ikut melankolis seperti ini. Setidaknya diantara dirinya


dan Aksa harus ada satu orang yang kewarasannya masih terjaga, kalau kakaknya


itu tidak mampu menjaga pikirannya, maka biarlah Claudia yang mengambil alih


semuanya.


“Tapi ka, gimana soal masalah ka Reiki,


terus Syakilla…”


Aksa merenggangkan pelukannya, dia kini


mendorong pelan tubuh Claudia, hingga mereka dapat bertatapan satu sama lain.


“Aku tau, masalah Reiki dan papa kan, aku


akan beresin semuanya…”


Claudia menggelengkan kepalanya, dan lalu


tersenyum. Aksa agak kaget melihat perubahan ekspresi Claudia, saat ini gadis


itu berusaha menaikan mood. Dia sama sekali tidak ingin membahas ini semua


dengan serius.


“Hahaha…Ka…gak semudah itu, apalagi papa


aku udah dateng ke Jakarta buat bahas soal pernikahan aku sama ka Reiki, aku


gak mau kecewain dia” seru Claudia sambil mencubit pipi Aksa.


Aksa sepertinya sudah tertular, ekspresi


wajahnya melembut, dia jadi ikut terbawa Claudia, kini pria itu manyun sembari menyilangkan


tangannya di dada.


“Gak, kamu gak akan menikah sama siapapun


kecuali aku” seru Aksa berpura-pura ngambek.


Tak ada tawa yang ada saat ini Claudia


yang memandang Aksa dengan tatapan aneh.


“Kok kamu liatin aku gitu?” tanya Aksa


sambil bertingkah polos.


“Kayanya otak kakak mesti di servis deh”


“Enak aja di servis…kamu aja sini yang


kakak servis”


Aksa mengelitiki Claudia, hingga Aksa dan


adiknya itu tertawa, karena tidak tahan geli Claudia pun akhirnya dengan tidak


sengaja memeluk Aksa supaya pria itu berhenti.


Keduanya sekali lagi saling menatap satu


sama lain, Aksa pun menarik pinggang Claudia agar semakin dengan dirinya, hingga


tidak ada jarak sama sekali.


Aksa menempelkan dahinya pada dahi gadis


itu, mereka terus begitu hingga Claudia cuman bisa menutup matanya. Rasanya


Aksa ingin sekali mencium gadis itu, tapi ini bukan saat yang tepat.


“Claudia, gimana kalau kita kabur aja….”


“Kaaaak…” Claudia hanya memutar bola


matanya dengan malas, Aksa memang keras kepala. Apa dia tidak bisa lihat kalo


sedari tadi Claudia menolaknya.


“Atau apa kita bikin baby aja sekarang?”


Mendengar apa yang dikatakan Aksa, dengan


cepat Claudia melepas pelukan mereka, lalu mengambil bantal yang ada di


belakangnya. Ia dengan semangat memukul Aksa dengan bantal itu.


“GIIIIILLLLLAAAAAA”


“Dih aku serius…duh…aduh Di udah…Time


out…”


Aksa membuat gesture huruf ‘T’ dengan


kedua tangannya, meminta Claudia untuk berhenti memukulinya.


“Kakak becandanya gak lucu….”


“Aku gak bercanda….”


Claudia malas meladeni Aksa, dia langsung


berdiri di depan pria itu, sambil menaruh tangannya di pinggang.


“Ayo kak cepet aku mau ke mall sentosa,


Icha ga bisa di hubungin, aku khawatir. Kalo kakak gak mau ikut yaudah aku aja,


atau aku minta jemput ka Reiki…”


“Hah, gak gak, aku aja yang anterin kamu.


Enak aja kamu dianterin lelaki gak jelas gitu, masa calon istri aku yang


anterin cowo lain…”


“Ngaco ih, udahan becandanya aku tunggu di


bawah…”


‘Di, aku ga pernah becanda, aku serius. Kamu


segalanya buat aku” gumam Aksa di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2