
Nesya bergegas kearah taman belakang,
disana Silvana sedang menikmati meminum teh, sudah kebiasaan wanita itu, untuk
melepas lelah sehabis pulang kerja dengan duduk dan memandangi taman bunga yang
hanya di batasi oleh kolam renang.
“Na….” seru Nesya dengan panik.
Silvana langsung melihat kearah sumber
suara, wanita itu pun bangkit dari duduknya, ia kebingungan mengapa ibunya
seperti orang yang panik begitu.
“Lho bu, ada apa?”
“Na, Icha ilang…tadi Alif telepon ade, Mey
katanya udah nangis-nangis”
Silvana langsung menaruh majalah yang
tengah ia baca. Ia langsung menggenggam tangan Nesya.
“LAH KOK BISA?!”
“Ibu juga gak tau, ayo kita pergi bantu
cari Icha”
“Ayo bu…”
Saat mereka berjalan masuk ke dalam rumah,
tiba-tiba Nesya menghentikan langkahnya, dia sepertinya harus memberitahu bahwa
ada kemungkinan Zen berada di mall yang sama dengan mereka nantinya.
“Bu? Kenapa?” Silvana khawatir, ia takut
ibunya sakit karena tiba-tiba berhenti melangkah.
“Na, ibu lupa kasih tau kamu”
“Soal apa bu?”
“Pagi tadi mami mu telepon ibu, dia bilang
Zen udah sampe Jakarta”
Silvana terdiam, mantan suaminya itu
seharusnya sampai di Jakarta minggu depan, kenapa dia malah sudah kembali ke
Indonesia sekarang?. Apalagi Zen tidak membalas email dan chat dari Silvana,
lalu bukankah setidaknya pria itu bisa meneleponnya, ini benar-benar membuat
Silvana kesal.
Datang dan pergi seperti ini memang
kelakuan khas dari Zen, kadang ia bingung kenapa bisa mereka dulu berdua
menikah. Kalau bukan karena Zen yang pantang mundur dalam mendapatkan hati
Silvana, tidak mungkin rasanya wanita itu mau di persunting oleh Zen,
gampangnya Silvana benci orang yang tidak memberikan kabar dengan jelas.
“Terus kalo dia dateng kesini hubungannya
apa bu sama aku?, kan kita janjian ketemuannya juga masih minggu depan, itu
juga kalo dia mau”
“Kamu itu ya, kenapa sih masih aja sinis
sama Zen”
“Aku ga suka sama sifatnya dia yang suka
tiba-tiba dateng terus pergi gitu aja, gak kasih kabar lagi”
“Ana, kamu gak boleh ngomong gitu, kemaren
kamu kawinan juga kamu ga kasih kabar ke anakmu, harusnya kamu juga intropeksi
diri”
“Kok ibu ngomongnya gitu sih, kan Ana cuma
bilang ga suka sama sifatnya dia yang seenaknya sendiri”
“Ibu harus kaya gini, kamu mesti tau Bima
yang jemput Zen tadi pagi. Mereka juga ikut buat cari Mey”
“Hah…kalo gitu…”
“Egois kamu turunin dulu, sekarang yang
penting kita bantuin Mey sama Alif cari Icha”
Silvana mengangguk, memang ini bukan
saatnya dia memikirkan rasa kesalnya dengan Zen.
“Yaudah bu Ana ganti baju dulu, sekalian
telepon mas Bram..”
“Ok cepet ya ibu tunggu”
Aksa sedang merebahkan dirinya di atas
kasur, sesaat ia menutup matanya dan mengingat apa yang sudah dikatakan Nesya
padanya tadi.
“Eyang tau apa yang membuat Reiki begitu
ingin cepat-cepat memperistri Claudia” seru Nesya dengan wajah serius.
“Maksud eyang?” Aksa bingung, kenapa
tiba-tiba Nesya menyuruh pulang, dan membicarakan prihal Reiki, yang tentu saja
tidak ingin Aksa pikirkan saat ini.
“Apa waktu Claudia sakit, kamu nyium ade,
pas Reiki masih ada dirumah ini?”
Mata Aksa membelalak, tebakan Nesya tepat,
ia memang melakukan itu pada Claudia, tapi semuanya tidak direncanakan. Saat
itu Aksa memang cemburu, bagaimana tidak sikap Claudia sangat berbeda
dengannya.
Ketika melihat Reiki yang begitu mesra
dengan Claudia, rasanya Aksa ingin membuktikan bahwa Claudia hanya akan jadi
miliknya saja, dan seharusnya Reiki mundur. Salah memang karena lagi-lagi Aksa
kalah dengan kecemburuannya sendiri.
Dilain pihak Nesya hanya menghela nafas
panjang, dia tidak percaya Aksa sebodoh itu. Dugaannya tepat saat mengira bahwa
pasti ada hal yang membuat Reiki marah besar, hingga mempercepat keinginannya
untuk mempersunting Claudia.
Nesya hanya bisa menggeleng-gelengkan
kepalanya sambil memijat batang hidungnya, sedangkan Aksa, hanya bisa tertunduk
malu dan menyesal, kebodohannyalah yang membuat semua kejadian buruk ini
menimpanya.
“Bener dugaan eyang…Aksa…kan udah
berkali-kali eyang bilang sama kamu, jangan gegabah. Sabar dan tunggu waktu
yang tepat sampai Claudia udah resmi jadi istri kamu, baru kamu boleh nyentuh
dia” seru Nesya dengan serius.
Wanita ini sudah berkali-kali
memperingatkan Aksa, bahkan ketika Silvana menarik Aksa untuk bicara saat
Claudia mengamuk, tepat sebelum Nesya, Silvana dan Claudia pindah kerumah ini,
Nesya sudah menyatakan bahwa dia akan mendukung Aksa, tapi Aksa harus menahan
diri.
Sedangkan Silvana, dia meminta Aksa untuk
tidak mengerjai Claudia, karena akan sulit untuk Aksa akrab dengan Claudia jika
dia terus membuat gadis cantik itu marah, tempramen Claudia pasca bundanya
menikah memang meledak-ledak, gadis itu berubah 360 derajat, padahal tadinya
Claudia termasuk gadis yang manis dan hampir tidak pernah membentak orang lain.
“Eyang, Aksa tau kalo Aksa salah, tapi
Aksa ga bisa ga nyentuh Claudia…rasanya Aksa mau mati kalo ga bisa ada di deket
__ADS_1
Claudia” seru Aksa dengan nada frustasi.
“Kamu ga bisa ngendaliin emosi kamu,
hasrat kamu, itu yang bikin Reiki bisa menang dari kamu, karena dia bisa sabar
dan menunggu tapi kamu gak”
Aksa hanya diam, apa yang dikatakan oleh
Nesya sama seperti dengan yang diucapkan oleh Silvana, dia berusaha untuk
merubah dirinya, tapi jika berhubungan dengan Claudia Aksa selalu tidak tenang.
Ia pun benci dengan dirinya yang selalu kalah dengan emosinya sendiri, baik itu
amarah ataupun hasratnya pada Claudia.
“Eyang tau kemarin malam kamu ngapain sama
Claudia, kamu jangan coba-coba bohong sama eyang ya”
Aksa langsung bersujud di depan Nesya, ia
berkali-kali memohon ampun pada eyangnya itu, apa yang dilakukannya pada
Claudia kemarin malam memang sudah kelewat batas, beruntung bagi Claudia,
karena gadis itu pingsan, jika tidak mungkin kini Aksa harus bersiap di
pisahkan dari gadis itu.
“Eyang, Aksa mohon ampun eyang…Aksa tau
Aksa ngelakuin hal yang buruk, maafin Aksa eyang…” Aksa terus mencium kaki
Neysa, karena baginya Nesya bukan hanya sekedar nenek sambung. Aksa yang sejak
kecil tidak mendapatkan kasih sayang dari neneknya, merasakan memiliki keluarga
dari Silvana dan Nesya. Ia merasa lengkap, bahkan jauh sebelum Bram menikahi
Silvana, karena Nesya selalu menjadi tempat Aksa mengadu saat Silvana sibuk dan
tidak bisa dihubungi.
“Kamu harusnya minta maaf sama Tuhan,
bukan sama eyang…”
Aksa mengangguk, dan Nesya membuat
berhenti bersujud di depannya, ia meminta Aksa untuk duduk di depannya, sambil
menghapus air mata cucunya itu.
“Dengerin eyang, sekali lagi eyang tau
kamu melakukan hal tidak pantas sama Claudia sebelum kalian resmi menikah, maka
jangan salahkan eyang kalau kamu harus bunuh eyang dulu untuk dapetin Claudia”
“Bisa janji sama eyang ?”
Aksa mengangguk, lalu Nesya tersenyum dan
menarik Aksa kedalam pelukannya, bagaimana pun Nesya memang tidak bisa marah
pada anak ini, karena dia tahu betapa sulitnya menjadi Aksa.
Lamunan Aksa terhenti ketika ia mendengar
suara ketukan pada pintu kamarnya. Dia langsung duduk dan berteriak agar yang
mengetuk, membuka pintu kamarnya sendiri, tanpa harus Aksa yang membuka dari
dalam.
“Masuk…”
Ternyata Claudia yang ada di luar, Aksa
langsung berdiri dan berjalan kearah gadis itu.
“Ka…” seru Claudia tanpa melihat wajah
Aksa.
“Masuk Di….” Aksa menarik pelan Claudia
supaya masuk ke dalam, seraya menutup pintunya.
Bohong kalau Claudia merasa nyaman berada
di kamar Aksa, dia masih mengingat apa yang mereka berdua lakukan di kamar itu
semalam. Claudia bahkan masih tidak bisa menatap wajah Aksa dengan baik.
Aksa sepertinya tidak terlalu
memperdulikan sikap Claudia saat ini, dia sudah cukup pusing, dengan yang
duduk di sofa.
“Kak, aku mau minta tolong…”
“Duduk sini dulu, aku mau ngomong…” jawab
Aksa sambil menepuk-nepuk sofanya.
“Apa ka, aku buru buru…”
Tangan Claudia langsung ditarik oleh Aksa,
karena dia tau gadis ini ragu-ragu untuk duduk disampingnya.
“Di, aku mau minta maaf soal yang kemaren
malem”
Pria itu menggenggam erat tangan Claudia,
suaranya bergetar seperti ingin menangis, tapi gadis itu gagal menotice karena
terlalu malu, bahkan wajah Claudia memerah saat Aksa menyentuh tangannya.
“A…a…apaan…sih…minta maaf apa…” jawab
Claudia terbata-bata.
Aksa kini tersenyum, Claudia memang
terlalu imut baginya. Hal-hal bodoh seperti ini yang membuat Aksa benar-benar
tidak bisa lepas dari gadis itu. Bahkan Claudia kini seperti robot rusak yang
menggerakan kepalanya tanpa henti ke kanan dan kiri.
Claudia yang membuat Aksa gemas dengan
tingkahnya itu, akhirnya memotivasi Aksa untuk membuat Claudia menatap dirinya.
Aksa menempatkan kedua tangannya ke pipi Claudia, secara otomatis gadis itu pun
berhenti bergerak tak karuan.
“Di, aku mau ngakuin sesuatu ke kamu…”
Aksa yang tadi tersenyum, kini menatap
wajah Claudia dengan sangat serius.
“Yang kemarin itu salah, aku gak bilang
yang aku lakuin ke kamu itu benar. Aku gak mau ngerusak kamu, tapi kamu harus
tau kalo aku ga menyesal udah melakukan itu sama kamu”
Gak menyesal?, Aksa bilang minta maaf dan
selanjutnya bilang kalau dia tidak menyesal. Apa pria ini sudah tidak waras?.
Kalau tidak menyesal kenapa minta maaf, seharusnya Aksa segera menjauhi Claudia
jika merasa bersalah. Itulah yang ada di benak Claudia, gadis itu berpikir
keras, sepertinya Aksa memang harus ke dokter.
“Ka…”
Aksa melepas tangkupannya dari pipi
Claudia, ia kembali menunduk sambil menyatukan tangannya.
Namun ekspresi Aksa kembali berubah, dia
tertawa dan menghadapkan wajahnya pada Claudia, dia langsung menyeringai sambil
mengarahkan satu tangannya kearah Claudia.
“Kalo kamu ga pingsan, mungkin sekarang di
perut kamu lagi proses bikin buah cinta kita” seru Aksa sembari mengelus perut
rata Claudia.
“Apaan sih ka…” tukas Claudia sambil
cemberut.
Kemudian ada jeda beberapa saat, mereka
berdua terdiam. Claudia juga bingung mau membahas apa, dia ingin segera pergi
mencari Icha, tapi sepertinya suasananya tidak cocok untuk membahas itu
sekarang.
Aksa memperhatikan wajah Claudia dari
__ADS_1
samping, ia mempertimbangkan apa yang harus ia katakan sekarang, haruskah dia
menyatakan perasaannya dengan lebih jelas pada gadis itu?. Kepalanya penuh
dengan rencana untuk membawa lari Claudia dan lainnya, tapi jika ia memaksakan
hal itu kepada Claudia sekarang, sudah pasti dia akan di benci seumur hidup
oleh gadis itu.
‘Claudia, aku cinta sama kamu, aku pasti gak
akan bisa hidup dengan baik kalau gak bersama dengan kamu. Bagi aku kamu
segalanya, bantu aku Di, aku harus apa’ gumam Aksa frustasi. Baiklah,
hancur-hancur sekalian, apalagi yang harus ditakutkan, lebih baik pahit diawal
lalu manis diakhir, ketimbang harus main kucing kucingan dengan perasaan
sendiri.
Aksa mengambil nafas panjang, lalu menutup
matanya sebelum bicara tentang perasaannya pada Claudia.
“Di, aku cinta sama kamu. Kalau kamu
gimana?, perasaan kamu ke aku?”
Claudi langsung melihat kearah Aksa, gadis
ini sungguh tidak ingin mendengar apa yang dikatakan oleh Aksa sekarang,
pernyataan cinta terumit yang sama sekali tidak ia harapkan seumur hidup. Akan
lebih mudah jika Claudia hanya cinta sepihak, kenapa Aksa harus menyatakan
rasanya pada gadis itu.
“A…aku….sebagai saudara
ya….sa….sa…saya..ng…” jawab Claudia berusaha berkelit.
Aksa tidak sabar, ia pun membawa gadis itu
dalam pelukannya. Ia menaruh dagunya tepat diatas kepala Claudia, sedangkan
Claudia kini berada di dada Aksa, gadis itu dengan jelas bisa mendengar debaran
jantung Aksa. Sangat kencang, hingga dalam keheningan itu suara debarannya
jantung bisa terdengar dengan jelas. Claudia hanya bisa menutup mata, ia ragu
ingin membalas pelukan pria itu atau tidak.
“Claudia, aku ga pernah liat kamu sebagai
adik ku, buat aku sosok kamu itu sebagai perempuan bukan seorang adik” seru
Aksa memperat pelukannya pada gadis itu.
Saat ini Claudia tidak bisa membalas
pelukan dari Aksa, satu sisi ia ingin bersama pria itu, namun ia bisa melihat
dengan jelas, jika mereka bersama akan banyak orang yang terluka.
Gadis itu ingin menangis, tapi apa cukup,
bukan saatnya untuk ikut melankolis seperti ini. Setidaknya diantara dirinya
dan Aksa harus ada satu orang yang kewarasannya masih terjaga, kalau kakaknya
itu tidak mampu menjaga pikirannya, maka biarlah Claudia yang mengambil alih
semuanya.
“Tapi ka, gimana soal masalah ka Reiki,
terus Syakilla…”
Aksa merenggangkan pelukannya, dia kini
mendorong pelan tubuh Claudia, hingga mereka dapat bertatapan satu sama lain.
“Aku tau, masalah Reiki dan papa kan, aku
akan beresin semuanya…”
Claudia menggelengkan kepalanya, dan lalu
tersenyum. Aksa agak kaget melihat perubahan ekspresi Claudia, saat ini gadis
itu berusaha menaikan mood. Dia sama sekali tidak ingin membahas ini semua
dengan serius.
“Hahaha…Ka…gak semudah itu, apalagi papa
aku udah dateng ke Jakarta buat bahas soal pernikahan aku sama ka Reiki, aku
gak mau kecewain dia” seru Claudia sambil mencubit pipi Aksa.
Aksa sepertinya sudah tertular, ekspresi
wajahnya melembut, dia jadi ikut terbawa Claudia, kini pria itu manyun sembari menyilangkan
tangannya di dada.
“Gak, kamu gak akan menikah sama siapapun
kecuali aku” seru Aksa berpura-pura ngambek.
Tak ada tawa yang ada saat ini Claudia
yang memandang Aksa dengan tatapan aneh.
“Kok kamu liatin aku gitu?” tanya Aksa
sambil bertingkah polos.
“Kayanya otak kakak mesti di servis deh”
“Enak aja di servis…kamu aja sini yang
kakak servis”
Aksa mengelitiki Claudia, hingga Aksa dan
adiknya itu tertawa, karena tidak tahan geli Claudia pun akhirnya dengan tidak
sengaja memeluk Aksa supaya pria itu berhenti.
Keduanya sekali lagi saling menatap satu
sama lain, Aksa pun menarik pinggang Claudia agar semakin dengan dirinya, hingga
tidak ada jarak sama sekali.
Aksa menempelkan dahinya pada dahi gadis
itu, mereka terus begitu hingga Claudia cuman bisa menutup matanya. Rasanya
Aksa ingin sekali mencium gadis itu, tapi ini bukan saat yang tepat.
“Claudia, gimana kalau kita kabur aja….”
“Kaaaak…” Claudia hanya memutar bola
matanya dengan malas, Aksa memang keras kepala. Apa dia tidak bisa lihat kalo
sedari tadi Claudia menolaknya.
“Atau apa kita bikin baby aja sekarang?”
Mendengar apa yang dikatakan Aksa, dengan
cepat Claudia melepas pelukan mereka, lalu mengambil bantal yang ada di
belakangnya. Ia dengan semangat memukul Aksa dengan bantal itu.
“GIIIIILLLLLAAAAAA”
“Dih aku serius…duh…aduh Di udah…Time
out…”
Aksa membuat gesture huruf ‘T’ dengan
kedua tangannya, meminta Claudia untuk berhenti memukulinya.
“Kakak becandanya gak lucu….”
“Aku gak bercanda….”
Claudia malas meladeni Aksa, dia langsung
berdiri di depan pria itu, sambil menaruh tangannya di pinggang.
“Ayo kak cepet aku mau ke mall sentosa,
Icha ga bisa di hubungin, aku khawatir. Kalo kakak gak mau ikut yaudah aku aja,
atau aku minta jemput ka Reiki…”
“Hah, gak gak, aku aja yang anterin kamu.
Enak aja kamu dianterin lelaki gak jelas gitu, masa calon istri aku yang
anterin cowo lain…”
“Ngaco ih, udahan becandanya aku tunggu di
bawah…”
‘Di, aku ga pernah becanda, aku serius. Kamu
segalanya buat aku” gumam Aksa di dalam hati.
__ADS_1