ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 59


__ADS_3

Terkadang walaupun kita sudah berusaha semaksimal mungkin, jika sudah garisan takdir tak bersimpangan dengan yang kita harapkan, usaha kita bisa jadi nihil hasil.


Lalu apakah perjuangan yang telah dilakukan jadi sia-sia?, tidak juga. Pada intinya semua proses dalam mengusahakan sesuatu yang diinginkan, seharusnya membuat kita menjadi pribadi lebih baik.


Aksa sadar betul dengan hal yang dipaparkan diatas, ia sudah berusaha dengan berbagai cara, namun pada akhirnya setiap langkahnya mendekati Claudia, ia malah semakin jauh.


Langkah kaki pria ini dalam menapaki masa depan dengan kekasih hatinya itu, nampaknya harus berakhir disini. Namun tidak, Aksa tidak ingin memikirkan hal lain dahulu, walaupun perasaan bersalah dan perang batin kini tengah menyertai benaknya.


Mata Aksa kini fokus menatap lurus kearah Claudia yang tengah berbaring lemah tak berdaya, sudah 3 jam dan dia tak terbangun juga. Ia merasa gadis kesayangannya itu sangat terluka, satu sisi ia merasa lega karena jika reaksi Claudia seperti ini Aksa yakin bahwa dirinya masih punya tempat di hati gadis itu.


Namun naasnya situasi yang terjadi saat ini bagaikan membalikan meja, boomerang tersendiri Aksa. Hanya doa saja yang bisa ia panjatkan pada Tuhan, agar Claudia mau mendengar semua penjelasan darinya.


‘Claudia, aku salah dan aku sadar benar dengan kebodohan yang aku lakuin. Aku cuman mau kamu percaya kalau aku gak akan pernah menghianati kamu, kejadian itu pun terjadi di luar kuasa aku Di…’ gumam Aksa dalam hatinya.


“Siaaaaaal….seandainya aku bisa bilang semuanya sama kamu…saat ini juga…” Aksa menggenggam tangan Claudia, ia merasa tak berdaya. Hatinya bagai tercabik-cabik jika membayangkan, saat bangun nanti Claudia akan menepis genggaman tangannya itu dan lebih memilih, untuk kembali secepatnya kepada Reiki.


Iya Reiki, satu-satunya nama yang sama sekali tidak ingin Aksa ingat juga dengar. Beberapa saat lalu ia yakin bahwa tunangan Claudia itu berusaha untuk menemui gadis yang kini tengah ia genggam tangannya dengan erat.


Suara gaduh membuat Aksa bersiap untuk turun, namun ia membatalkan niatnya. Bi Sumi dengan cepat mendatangi kamar Claudia, lalu meminta agar Aksa tidak turun.


“Den Aksa, jangan turun ya…” tutur Bi Sumi dengan wajah panik.


Aksa mengernyitkan dahi, ia tahu benar mengapa tidak diperbolehkan turun. Rasa amarahnya semakin besar, ingin rasanya ia memaki Reiki yang tidak sadar, bahwa Claudia semakin kurus dari terakhir kali Aksa menemuinya.

__ADS_1


Buat apa punya gelar dokter kalau hal remeh seperti menyadari bahwa tunangannya dalam kondisi tidak sehat saja, Reiki tak mampu. Kalau bisa Aksa ingin meninju wajah Reiki, sampai babak belur tentu saja.


“Kenapa Aksa ga boleh turun bi, ada si Reikampret ya di bawah” tanya Aksa sambil menatap bi Sumi dengan tatapan menuntut penjelasan akurat, atas yang terjadi sedari ia menjaga Claudia.


“Duh den Aksa, gak boleh begitu, namanya mas Reiki bukan yang mas Aksa ucap tadi” tutur bi Sumi


Aksa cuma bisa cemberut ia pun akhirnya terduduk di ujung tempat tidur, sambil  menghela nafas.


“Bibi tau kalo den Aksa gak suka sama mas Reiki, tapi jangan berantem dulu…Bibi kasihan liat non Claudia….”


Memang betul, sebenarnya pertikaian kedua lelaki ini dalam memperebutkan Claudia pada akhirnya cuma jadi sarana yang justru menyakiti perasaan dan mental Claudia lebih dalam.


Bukannya tidak menyadari hal itu, namun Aksa tidak melihat ada jalan lain. Terlebih menurutnya, Reiki mustahil di ajak bicara baik-baik. Dalam hal ini kedua pria yang mencintai Claudia itu, cuma bisa menyelesaikan masalah dengan cara selain ‘diskusi’ seperti halnya orang normal.


Perempuan paruh baya tersebut hanya bisa tersenyum, ia salah satu orang yang sangat sadar, seberapa posesifnya Aksa terhadap Claudia. Wajar pikir bi Sumi jika Aksa ingin menghajar lelaki yang dianggapnya telah menelantarkan Claudia.


“Den Aksa, dengerin bibi…ada baiknya den Aksa juga intropeksi diri….memang betul mas Reiki itu mungkin tertutup mata hatinya, karena merasa non Claudia sudah jadi miliknya, tapi den Aksa juga harus sadar, bahwa non Claudi bukan cuman stress karena mas Reiki doang” Bi Sumi menatap Aksa sambil tersenyum, memang bagi Aksa bi Sumi lebih dari asisten rumah tangga. Beliau juga adalah ibu yang selalu membantu Aksa, karenanya pria ini tak pernah kasar pada bi Sumi.


Mata Aksa membelalak, ia seperti tertampar atas apa yang diucapkan oleh wanita yang telah ia kenal sejak masih kecil itu. Merasa malu Aksa cuma bisa tertunduk lesu.


Nyatanya memang benar bahwa Aksa adalah penyebab utama dari stress yang di derita oleh Claudia, Aksa merasa bahwa ia masih sangat jauh dari kata dewasa. Mungkin inilah penyebab mengapa Tuhan masih menjauhkan jodohnya dengan Claudia.


“Aksa mesti apa bi…” ujar Aksa sambil menutup matanya, ia sangat frustasi dan putus asa. Mencoba bangkit lagi pun rasanya sulit.

__ADS_1


Bi Sumi perlahan menepuk pundak Aksa. “Den, ada alasannya kenapa anak bayi itu sering jatuh saat masih belajar jalan…Tuhan itu merancang makhluknya untuk selalu berusaha dan belajar memperbaiki diri, persis seperti anak bayi yang tanpa lelah melangkah, sembari terus belajar. Den Aksa sudah sadar kalau berbuat kesalahan, sekarang pekerjaan rumahnya cuma bagaimana kesalahan ini membuat aden semakin jadi manusia yang baik, memperbaiki kualitas den Aksa sebagai manusialah, belum terlambat kok”


“Tapi Aksa merasa jadi manusia gagal bi, liat aja sekarang….buat melindungi perempuan yang Aksa cintai selama ini aja Aksa gak mampu. Claudia sampai pingsan begini, semua memang salah Aksa”


Menjadi melankolis, itulah yang kini dirasakan Aksa. Ia merasa lemah karena menangis, tapi selalu teringat akan hal yang dikatakan oleh Claudia saat pertemuan pertama mereka.


“Akan selalu ada ‘Tapi’ setiap kali kita berusaha den, dan itu jelas bukan alasan untuk berhenti berusaha juga terus berdoa. Pada akhirnya manusia sudah tugasnya berjuang, urusan keinginan kita terkabul atau tidak serahkan saja pada gusti Allah, yang terpenting den Aksa sekarang mau berubah jadi lebih baik. Dengeri bibi ya den, hidup, mati dan jodoh itu rahasia Tuhan, manusia seperti kita ini gak tahu apa-apa…yang kita pikir baik buat kita belum tentu baik dalam artian yang sesungguhnya” ucap bi Sumi sambil mengusap kepala Aksa.


Aksa cuma bisa mengangguk, ia memang harus memperbaiki diri. Silvana pun sudah mengatakannya, lalu apalagi yang ia tunggu. Perkara Claudia mau mendengar dan percaya pada ucapannya, cuman bisa diserahkan pada yang punya hidup dan dunia saja.


“Ibu tadi bilang ke mas Reiki, kalau ibu mau non Claudia disini aja dulu sementara waktu sampai sehat….” Lanjut bi Sumi.


Wajah Aksa langsung cerah, ia senang mendengar kabar dari bi Sumi. Berarti permohonannya untuk meminta maaf pada gadis yang ia cintai, akan jadi lebih mudah.


“Terus si kampret gimana bi?” tanya Aksa sumeringah


“Itu di bawah masih ngobrol, kata ibu den Aksa jangan turun jagain aja non Claudia..udah ya den, bibi mau kebawah lagi…”


Aksa tentu saja senang, ia mengangguk berkali-kali. Tebakannya Reiki pasti dalam hati sedang meledak-ledak.


 


 

__ADS_1


“Semoga ini pertanda baik…” seru Aksa.


__ADS_2