ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 28


__ADS_3

Alif kini berada di café yang disinggahi oleh Icha, disini ia ditemani oleh Yudha dan Shiva yang sudah terlebih dahulu menunggunya.


“Jadi tadi mba yang itu emang ada makan disini mas, yang terakhir saya liat sih dia agak ribut sama salah satu costumer lain, cuma karena gak sampai parah, kami kira ada selisih paham aja” jawab salah satu pelayan café, yang tengah ditanyai oleh ketiga orang tersebut.


Mata Alif membelalak, apa yang dia dengar sama sekali tidak masuk akal, dia kenal betul siapa Aisyah Syafira Adhitama. Ribut?, adiknya itu tidak pernah ribut atau bertengkar dengan orang lain. Icha bahkan tidak pernah menaikan suara dalam kondisi sekesal apapun.


“Ribut gimana mbak maksudnya?” tanya Shiva yang tidak percaya dengan cerita staff café itu.


Alif hanya diam, jantungnya berdegup dengan kencang, ia berkali-kali menyalahkan diri sendiri, karena tidak segera mendatangi adiknya lepas acaranya selesai.


“Lif, lo duduk dulu” Yudha yang menyadari sahabatnya itu terguncang, segera meminta Alif untuk duduk.


“Ga, gw gpp kok Yud” Alif tidak ingin hanya duduk dan menunggu kabar, dia harus menemukan adiknya itu, itu adalah kewajibannya sebagai seorang kakak, bagaimanapun Icha adalah tanggung jawabnya, sebagai seorang kakak dia harusnya melindungi Icha, tapi apa yang terjadi?, dia merasa gagal.


“Gw tau bro, lo pasti khawatir. Tapi kalo lo tumbang disini gimana caranya kita cari Icha. Percaya deh, Icha tuh anak baik pasti dia di lindungin sama Tuhan, lo banyak berdoa aja” jawab Yudha berusaha menenangkan sahabatnya itu.


“Tapi…”


“Lif lo bisa ga dengerin Yudha sekali aja, lo berdiri disini terus pucet gitu, yang ada gw ga fokus nanyanya, udah sana lo duduk cepetan” tukas Shiva dengan mengacungkan tangannya kearah salah satu bangku. Shiva yang bersikap begitu langsung membuat Yudha dan Alif takut, Shiva memang sangat tegas, makanya mereka berdua agak segan pada gadis itu.


Makanya walaupun Yudha adalah pacar Shiva, dia tetap tidak berani membantah pada ketua club taekwondo SMP Pallas itu, ya daripada di smackdown nanti mending dengerin aja.


Shiva lantas lanjut memesan minuman untuk kedua orang itu, selepasnya ia kembali bertanya kepada para staff yang ada di situ.


Dari luar café Aksa dan Claudia melihat Shiva, mereka pun bergegas masuk ke dalam café.


“Lif, gimana?” tanya Claudia tanpa basa basi.


“Di, bang Aksa”


“Udah ada kabar belum dari Icha Lif” Aksa ikut bertanya.


“Belum bang” jawab Alif lemas.


Claudia langsung melihat kearah Shiva, dia mendatangi sahabatnya yang sedang menanyakan perihal Icha.


“Jadi tadi sebelum dia ribut sama cowo itu, temen kakak nyamperin bangku di depannya”


Icha tidak mungkin bicara pada orang yang tidak dia kenal. Jadi aneh kalau tiba-tiba dia mendatangi secara tiba-tiba. Pasti orang itu dikenal baik oleh Icha, hingga gadis itu berani menyapa secara langsung.


“Maaf mba kalau saya boleh tau, mba masih inget ciri-ciri cowo itu gak ya?”


“Hmm masih ka, soalnya tadi café kan baru buka jadi masih sepi. Kulitnya putih, mukanya itu agak asia gitu deh, kaya oppa oppa korea gitu ka. Tingginya kurang lebih 170an, pake kacamata, ganteng banget sih, sampe kita juga pada perhatiin” jawab staff tersebut sambil berusaha mengingat yang lain.


“Mungkin Melvin apa ya Di?” tanya Shiva dengan wajah serius.


“Gak mungkin Shiv, kan Melvin hari ini ada jadwal kebaktian di gerejanya. Lagi pula tinggi Melvin gak sampe 170an, dia sama Alif aja tinggian Alif” jawab Claudia.


‘Muka asia, mirip oppa korea…Astaga jangan-jangan…’ Claudia mulai curiga, jangan-jangan yang ditemui oleh Icha adalah Reiki.


“Sorry mba aku mau tanya, cowok yang tadi ribut itu di tengkuk kanannya ada tahi lalatnya apa gak?” seru Claudia dengan cepat.


“Tahi lalat….sebentar saya inget-inget dulu ka…” jawab pelayan itu sembari menutup matanya.


“Kok lo nanyanya gitu Di?” tanya Shiva pada Claudia penasaran.


“Gw mikir, cowo yang tadi di sebutin mbanya kok mirip sama ka Reiki” jawab Claudia dengan wajah serius.


“Aaaaa…iya iya, ada tahi lalatnya, tapi saya ga inget itu dikanan atau dikiri kak, cuman karena dia sempet nunduk beberapa kali, jadi ga sengaja keliatan”


Sudah cukup, itu sudah pasti Reiki. Claudia langsung mengajak Shiva berterima kasih pada pelayan dan staff café tersebut.


“Woy, ayo semuanya kita keluar dari sini” seru Claudia.

__ADS_1


“Kamu udah dapet info soal Icha de?” tanya Aksa.


Claudia melihat kearah semua orang yang ada disana, dia tersenyum kecil.


“Aku tau siapa yang ribut sama Icha tadi, jadi lebih baik kita ketempat orang itu” seru Claudia dengan percaya diri.


“Emang dia ribut sama siapa Di?” seru Yudha bingung, kepada Claudia.


Claudia menatap Aksa, otaknya bekerja, berusaha mencari cara supaya Aksa tidak tahu bahwa pria yang ribut dengan Icha tadi adalah Reiki, lagipula ini masih dugaannya, walaupun hampir benar.


“Gw ga bisa kasih tau siapa, cuman sekarang aku minta tolong sama kak Aksa terus Alif, bisa gak kalian cari ka Diah, terus Shiva sama Yudha, ayo ikut gw”


“Diah? Merliana Faradiah, maksud lo Di?” tanya Alif pada Claudia


“Iya siapa lagi ka Diah yang Icha kenal selain Diah yang itu” Claudia lantas menuliskan alamat Diah dan mengirimkannya pada Alif.


“Ini…” Alif mengecek ponselnya, dan melihat pesan yang dikirimkan oleh sahabatnya itu.


“Itu alamatnya ka Diah”


“Biar gw cari sendiri Di, jadi lo bisa sama bang Aksa…”


Gadis ini menggeleng, dia memutuskan untuk membuat Aksa dan Alif jauh dari dirinya, Shiva, dan Yudha. Ini akan lebih baik bagi mereka, karena dalam kondisi seperti ini, Aksa pasti mengambil kesempatan untuk ribut dengan Reiki, jelas Claudia tidak mau itu terjadi.


“Gak Lif, gw yang ngeliat kondisi lo kaya gini malah jadi lebih takut lo yang kenapa-kenapa daripada Icha. Ka Aksa, kakak kan jago cari jalan, jadi bisa kan ka, kakak bantu aku temenin Alif” pinta Claudia.


Aksa sebenernya agak bingung, wajah Claudia yang bimbang menyiratkan bahwa ada yang disembunyikan gadis itu, namun Aksa berusaha menyingkarkan pikiran negatifnya. Tidak mungkin Claudia melakukan sesuatu yang tidak baik, disaat sahabat kesayangannya hilang tanpa jejak sama sekali.


“Yaudah kalian duluan keluar, biar saya aja yang bayarin minuman yang tadi dipesen” seru Aksa, sambil menghela nafas.


Mereka semua mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Alif langsung berdiri, dan mengambil jaket juga tasnya. Tanpa banyak tanya ia langsung keluar dari café tersebut, di ikuti oleh Yudha dan Shiva. Sedangkan Claudia, menunggu Aksa yang tengah memesan air botol, pria itu membayar semuanya, hingga Claudia tidak enak hati meninggalkan kakak tirinya itu.


“Kakak beli air minum buat siapa?” tanya Claudia


“Iya, tapi kenapa beli disini, mahal kak, kan bisa di minimarket” bisik Claudia di telinga Aksa sambil berjinjit.


Aksa tertawa melihat gadis itu, disaat begini bisa-bisanya Claudia masih berpikir beli air minum di café mahal. Itulah gadis yang di cintai, walaupun Aksa tau Claudia menyadari dirinya tidak akan bangkrut hanya karena membeli 5 botol air mineral, tapi Claudia memang tidak suka membuang-buang uang untuk hal yang sebenarnya masih bisa didapat dengan harga murah.


Pria yang gemas akan tingkah laku gadis itu, langsung mencubit pipi Claudia.


“Sayang, kamu gemas banget sih. Jangan gitu ah, buat apa kakak kerja mati-matian 5 tahun ini, bikin perusahaan kalo buat beli air minum yang harganya sedikit lebih mahal aja masih kamu kritik. Lagian sekalian kok, jadi gak mampir-mampir lagi”


Wajah Claudia memerah, Aksa memang ekspresif, tapi jangan lupa tadi di mobil, Claudia sudah menolak mentah-mentah pernyataan cinta kakak tirinya itu. Entah kenapa, gadis itu juga sepertinya lupa, bahwa tadi dia sudah hampir meloncat dari mobil yang ia tumpangi, karena Aksa terus menerus memborbardirnya dengan pertanyaan dan pernyataan bahwa mereka saling mencintai dan harus menikah.


“Jangan panggil sayang-sayang, aku ini adeknya kakak” jawab Claudia dengan wajah muram, sambil memegang tangan Aksa yang masih setia mencubit pelan pipinya.


“Iya iya, kamu itu adek aku, temen aku, sahabat aku, musuh aku, rival aku, kekasih aku, calon istri aku, dan calon ibu dari anak-anak aku” jawab Aksa sambil menghela nafas, ia pun menurunkan cubitannya.


Claudia terdiam, dia tidak mau mendengar apa yang dikatakan Aksa, terlalu sakit untuknya.


“Aku….aku tunggu diluar…kakak cepetan ya…” jawab Claudia yang langsung membalikan badannya seraya berjalan keluar café.


Aksa hanya termenung melihat gadisnya itu menahan tangis, ia rasanya ingin menculik Claudia, dan membelikan apapun yang gadis itu mau, supaya hatinya jadi lebih senang. Tapi, sepertinya saat-saat untuk menyenangkan dan memuaskan hati Claudia masih jauh. Ia hanya bisa menatap gadis itu berjalan menjauhinya, sambil menghela nafas dengan kasar.


Dilain pihak, Shiva, Yudha dan Alif terkejut, saat melihat seseorang menghubungi Alif beberapa kali.


“Lif, angkat apa gak ini…” jawab Shiva ragu.


“Ini orang ngapain sih neleponin gw” wajah Alif sangat kesal saat melihat nama yang terpampang di ponselnya.


“Coba angkat aja Liv, mungkin dia tau Icha ada dimana” seru Yudha.


“Iqy apaan sih, gak mungkin dia tahu Icha dimana” Shiva langsung mencubit tangan Yudha.

__ADS_1


“Duh, tapi bisa aja kan dia tahu. Sayang bisa jangan cubit-cubit aku dulu gak”


“Ya abisnya kamu ngada-ngada aja sih Qy” seru Shiva yang tetap mencubit Yudha, pacarnya. Kedua orang itu hanya membuat Alif menggelengkan kepala.


“Kalian kenapa?” tanya Claudia yang keluar dari café.


“Nih lo liat aja Di” seru Alif menyodorkan ponselnya pada Claudia.


Mata Claudia membelalak, dia tidak percaya orang itu masih berani menghubungi Alif.


“Eros…apa masih belum puas dia nerima bogem mentah gw, lo sama Shiva?”


“Gak tau gw, tapi kok daritadi dia telepon gw sampe 27 kali Di, apa jangan-jangan dia tau Icha ilang lagi ya?”


“Yaudah coba sini handphone lo, biar gw yang angkat..”


Alif dengan sukarela menyerahkan ponselnya pada Claudia, dan gadis itu langsung mengangkat telepon yang sedari tadi berdering.


“Halo Lif..”


“Heh Eros, lo ngapain lagi teleponin Alif” tegur Claudia dengan suara tinggi, dia benar-benar kesal dengan pria bernama Eros itu.


“Oh apa kabar Dewi kematian SMA Pallas, kangen juga gw denger suara lo” jawab Eros dengan santai sambil tertawa kecil.


Kuping Claudia panas, rasanya memang ia ingin membantai Eros. Jika mengingat apa yang dahulu Eros lakukan pada Icha, hingga gadis itu ketakutan masuk sekolah selama 2 minggu, rasanya membuat Eros bungkam saja tidak cukup.


“Hah, dewi kematian, oh ok, jadi lo mau gw cabut nyawanya sekalian, hah!!!!”


“Weits, gak gak. Udah cukup lo ngebantai gw sama geng gw dulu. Lagi gw udah tobat, semua berkat My angel Icha, lagian lo itu ya sama senior gak ada sopan-sopannya sama gw” tukas Eros, masih dengan sikapnya yang menyebalkan itu.


“Heh Eros lo jangan banyak bacot ya, walaupun lo senior gw lagi gak mood buat nganggep lo sebagai kakak kelas, udah syukur lo gw masih ngehormatin lo sebagai sesama manusia” seru Icha dengan raut wajah super kesal dan marah.


“Hahaha iya iya, gw juga males berurusan sama kalian semua, tapi ini beda, gw mesti tau soal Icha, gw denger Icha ilang”


Eros, memang senior yang berpanguruh di SMA mereka. SMA Pallas, didirikan berdampingan dengan PAUD, TK, SD,SMP, dan SMA. Sedangkan Eros adalah putra pemilik yayasan.


Banyak yang tunduk pada Eros, apa yang dia ingin harus didapatkannya. Begitu pula saat Claudia dan teman-temannya masih SMP kelas 8, Eros yang saat itu menjadi ketua osis karena tidak ada yang berani menjadi saingannya, naksir berat kepada Icha, padahal saat itu Eros sudah kelas 12.


Ia berkali-kali mengganggu Icha, dan memaksa gadis itu untuk pacaran dengannya, tapi selalu di tolak oleh sahabat Claudia itu. Dia kesal karena mendapatkan penolakan, membuat Icha di jauhi satu kelas. Ini membuat gadis itu selalu main ke kelas Alif atau Claudia, bahkan mulai ada bullying pada Icha. Walaupun begitu, ia tetap teguh untuk tidak berpacaran.


Mengetahui Icha di ancam dan di bullying karena Eros, Alif, Shiva dan Claudia, menantang Eros dan teman-temannya bertanding secara sportif. Kejadian inilah yang membuat Claudia di kenal sebagai Dewi kematian SMA Pallas, karena walau masih SMP, Claudia sanggup menghajar teman-teman Eros. Hingga anak buah dari pria itu pun pada akhirnya jadi fans setia dari Claudia.


“Tau darimana lo…”


“Claudia, mungkin gw udah tobat, tapi jaringan mata-mata gw luas, gw denger calon mama dari anak-anak gw ilang, ya wajarlah gw nyariin dia sekarang. Tadinya gw mau ngomong sama calon kakak ipar gw, kalo gw CA-LO-N adek iparnya ini langsung meluncur membantu mencari Icha. Tapi, kayanya gak ada gunanya ya, apa kalo gw ketemu dia mendingan gw culik sekalian gw kawinin aja di tempat?”


“Eros Bratadikara Nayaka, sekali aja lo berani nyakitin Icha gw abisin lo di tempat” ancam Claudia kepada Eros.


“Wihhhh, ngeri aku takut…yaudah ya bye, gw mau menjemput tuan puteri dulu”


“Gimana Di?”


“Dimatiin Lif…” Claudia mengepalkan tangannya, dia geram pada Eros.


“Di itu bang Aksa udah selesai kayanya” ucap Yudha.


“Kita pergi sekarang?” tanya Aksa sambil membagikan air mineral dan cemilan, untuk di perjalanan.


Claudia menatap Aksa, didalam hatinya ia berdoa semoga Reiki tidak terlibat dalam masalah ini, entah apa yang akan terjadi jika Aksa tahu bahwa Reiki ada hubungannya dalam masalah ini, paling tidak Claudia berharap Reiki hanya bertemu saja dengan sahabat karibnya itu.


“Yaudah kita pisah dari sini ya, jangan lupa keep contact ya…” seru Shiva.


Semua mengangguk, mereka pun berangkat mencari Icha.

__ADS_1


__ADS_2