
Halo semuanya jumpa lagi dengan author...
hahaha gimana semua sehat kan ya? kalau kurang sehat semoga cepet-cepet diangkat penyakitnya ya...
Author disini mau promosi nih, cerita baru yang sedang kami kerjakan judulnya..
'LOVE FROM STALKER'
Semoga para reader disini berkenan untuk baca ya, jangan lupa like dan sharenya ya untuk semua cerita yang sudah kami buat, tentunya kalau reader suka..
karena like dan share itu gratis tis tis...hehehe
oh iya\, jangan lupa juga cek cerita kami ***'Tsundere boy and Otaku girl' ***ya reader...
Sekali lagi terima kasih karena sudah selalu membaca karya kami yang banyak sekali kekuranganya, terima kasih juga untuk reader yang selalu meninggalkan komentar positif, ini menjadi penyulut sehingga kami lebih semangat dalam menulis.
Nah, sampai disini dulu ya semuanya...
Oh ya bocoran, next episode akan lompat ke beberapa tahun setelahnya, jadi di chapter ini setengahnya adalah penjelasan ketika Icha dan Reiki ketemu, semoga kalian jadi lebih paham akan ceritanya ya..
Sampai jumpa di next chapter, sehat-sehat terus ya semuanya AMIIIIN !!!
XOXO MOXYAAL
----------------------------------------------------------
Sepanjang perjalanan Claudia terdiam, ini akan jadi titik balik kehidupannya dan Claudia sadar betul tentang itu. Siap tak siap sudah jadi keputusannya tentu ia tak bisa mundur lagi.
“Eyang…semua bakalan baik-baik aja kan? Pilihan ade udah bener kan???” tanya Claudia sambil menyandarkan kepalanya kepada Nesya sambil menitikan air matanya.
Nesya menghela nafas pelan, ia pun mengelus kepala Claudia perlahan.
“Eyang yakin yang ade pilih ini yang terbaik, ade tinggal menjalankan semuanya dengan sepenuh hati. Masa depan kamu masih panjang sayang, dan gak ada salahnya untuk berhenti sejenak dan istirahat saat kamu udah bener-bener gak tau harus apa de…” jelas Nesya pada cucu kesayangannya itu.
Iya Claudia memang sudah lelah dengan semua masalah yang dihadapinya, ia lelah baik secara mental mau pun fisik. Ia harus mulai menata masa depannya dan tak bisa berdiri di tempat yang sama tanpa melakukan apapun.
“Kamu gadis yang kuat, ade yang eyang kenal bukan gadis yang mudah menyerah dengan keadaan..” Neysa memeluk Claudia dengan erat, berusaha menyiratkan bahwa gadis itu tidak sendirian keluarganya ada untuk selalu mendukungnya.
Tentu gadis itu mengangguk, ia merasa lebih baik ketika mendengarkan eyangnya bahwa ia mampu melalui semua ini.
Ketika sampai dibandara dirinya sudah di tunggu oleh ayahnya. Claudia memang tidak memberitahu siapapun kalau dia akan pergi ke luar negeri, bahkan Icha sekali pun tak mengetahui bahwa Claudia akan pergi meninggalkan mereka.
“Sayaaang…” ucap Zen sambil tersenyum.
“Ayaaaaaaah…” Claudia berlari kearah ayahnya dengan senyuman sangat lebar, ia langsung melompat dan memeluk Zen, ia sangat merindukan ayahnya tentu saja.
“Zen…ibu titip ade ya…”
“Iya bu, pasti Zen jaga tuan putri kita yang limited edition ini” seru Zen sambil bercanda, Nesya pun tertawa.
“Iiiih ayah mah….” Claudia langsung mencubit lengan ayahnya, karena tak suka digoda seperti itu, malu pikirnya.
“Yaudah ibu Zen pamit ya…”
__ADS_1
“Ade juga ya eyang” seru Claudia memeluk erat eyangnya.
“Iya, ade jaga kondisi disana ya, jangan lupa sholat…dengerin kata ayahmu jangan nakal…” tutur Nesya.
Claudia mengangguk lalu mencium kedua belah pipi eyangnya, sembari mengucapkan salam perpisahan.
Tak ada yang aneh disitu mereka semua mengobrol dengan santai sambil menunggu gate di buka, dan Zen juga paham bahwa putrinya tidak ingin membicarakan soal Aksa, tapi ada satu hal yang harus disampaikan oleh Zen.
“Ayah kita ngapain lagi nunggu disini? Emang gak bisa kita langsung aja ke lounge?” seru Claudia.
“Ade, ada yang mau ayah sampein…sebenernya…”
Claudia mengernyitkan dahinya, bingung apa yang ingin disampaikan oleh ayahnya. Seolah ragu mau bertanya gadis mungil itu cuma bisa diam, menanti ayahnya menjelaskan.
“ZEEEEEEEEN……….” Teriak seorang perempuan dengan hijabnya.
Mata Claudia langsung membelalak, wajahnya memucat bagai melihat karakter di film horor. Ia kenal siapa yang tadi meneriakan nama ayahnya.
Mereka adalah Keiko dan Satyo atau yang secara resmi adalah calon mertuanya. Belum sampai disitu di belakang kedua orang itu ada satu orang yang berjalan dengan senyum lebar di wajahnya, siapa lagi kalau bukan Reiki.
Padahal jelas bagi Claudia ia sama sekali tidak menginginkan untuk bertemu dengan Reiki, karena alasan itu jugalah dirinya memilih untuk meninggalkan tanah air.
Tapi badai itu justru datang tepat dihadapannya tanpa ia duga. Timbul pertanyaan besar di benak Claudia kenapa Reiki dan kedua orang tuanya bisa berada di bandara sama seperti mereka.
“Claudia, om Satyo, tante Keiko sama Reiki kebetulan juga harus pergi karena ada urusan, jadi kemarin mereka bilang mau bareng sama papa….gak apa-apa kan de??” tanya Zen sedikit khawatir.
“Jelas gak apa-apa dong, iya kan sayang?” lanjut Keiko.
Apakah Claudia bisa menjawabnya? Tentu tidak. Kalau ditanya apa di keberatan Reiki pergi bersama mereka jelas gadis ini sangat keberatan. Akan tetapi, permasalahannya para orang tua ini bahkan tidak mengetahui bahwa Reiki sudah melakukan sesuatu yang sangat tercela.
Entah bagaimana caranya Claudia menyatakan apa yang sudah didengarnya saat itu.
Beberapa minggu sebelumnya…
Icha yang telah merencanakan untuk bertemu Reiki sejak awal, kini tengah duduk berhadapan dengan tunangan dari sahabatnya itu. Suasana disekitar mereka begitu tegang, sedari Reiki datang Icha memang tidak ingin berbasa-basi lagi dan langsung to the poin akan maksudnya mengajak Reiki bertemu.
“Tapi yang kakak lakuin itu salah kak, kakak harus berhenti” ucap Icha dengan wajah sangat serius.
“Aku gak mungkin berhenti, sampai Claudia jadi milik aku”
Jika Icha terlihat sudah frustasi untuk membuat Reiki ke jalan yang benar, Reiki justru malah terlihat sangat tenang seperti menegaskan bahwa dia sudah tidak peduli apapun sampai tujuannya tercapai.
“Apa kakak kira Claudia senang kakak berbuat begini? mau seberapa banyak lagi hidup orang lain yang kakak hancurin cuma untuk memuaskan obsesi kakak yang gak sehat itu???” Icha meradang, ia mungkin menyukai Reiki tapi bukan berarti perasaannya itu membutakan hatinya. Terlepas dari siapa yang di pilih oleh pria itu, Icha ingin Reiki sadar bahwa yang dilakukannya selama ini adalah suatu kesalahan besar.
Disisi lain Reiki terdiam saat mendengar Icha mengatakan tentang hidup orang lain yang hancur karena dirinya. Dalam pikirannya ia langsung paham bahwa Icha sudah memegang bukti tentang beberapa keluarga yang usahanya berantakan karena dirinya.
Jelas Reiki tidak tenang, dalam hati kecilnya ia ketakutan jika Icha sampai buka mulut dan memberitahu semuanya kepada Claudia. Tanpa sadar pria ini pun mengeratkan genggamannya di gagang cangkir. Ia berusaha bersikap sebiasa mungkin, agar terkesan jika dirinya sama sekali tidak akan mundur bahkan jika Icha pada akhirnya memberitahu tunangannya itu.
“Aku udah bilang kan, sampai Claudia jadi milik aku sepenuhnya baru aku akan berhenti” ucapnya sembari menatap Icha tanpa ekspresi.
“Kak…” Icha sudah habis akal, apa dia harus memberitahu Claudia, tapi ia masih ingin pada akhirnya baik Claudia dan Reiki bisa berhubungan baik, ia ingin Reiki yang berhenti.
Reiki menghela nafas panjang, ia sadar Icha tak akan berhenti mengusiknya dan memaksa dirinya untuk menarik diri lalu menyelesaikan semua permainan yang ia mulai dengan tujuan agar Claudia bisa bersamanya.
__ADS_1
“Kamu gak tahu Cha, selama ini aku menjaga Claudia, aku gak pernah menyentuh dia tanpa persetujuannya, aku pun juga gak membiarkan orang lain mengotori badan aku. Itu semua cuma untuk Claudia, aku selalu memikirkan dan melakukan apa yang terbaik buat dia”
Bukan rahasia lagi bagi para sahabat Claudia bahwa Reiki memang mencurahkan hidupnya untuk menjaga gadis mungil itu, Icha pun mempercayai apa yang dikatakan oleh Reiki. Jika saja dilakukan dengan benar mungkin Icha tidak akan ikut campur.
Seketika ekspresi tenang Reiki mulai menguap begitu saja, tatapannya berubah seakan menjadi lebih gelap daripada sebelumnya, ia mulai menaikan suaranya menampakan seberapa marah dan bencinya dia pada keadaan yang menghadangnya kini.
“Tapi, tiba-tiba manusia kotor itu dateng dan ngehancurin semuanya. Dengan mudahnya dia membuat Claudia jadi mainannya, menyentuh Claudia bahkan tanpa seijinnya, seharusnya kalau kamu teman yang baik, ketimbang menghentikan aku, lebih baik kamu dukung aku Cha…”
Bagaimana bisa Reiki memintanya mendukung semua muslihat dan kejahatan yang kini tengah di lakukannya, padahal jelas sekali korban sesungguhnya disini adalah sahabat karibnya Claudia. Kondisi kesehatan gadis itu jelas sangat terganggu, bukan hanya itu karena pikirannya tak tenang sahabatnya itu bahkan semakin kurus dari hari ke hari.
“Apa pernah kakak tanya Claudia?”
Reiki menatap Icha sambil mengerutkan dahinya, ia tak paham kenapa dirinya harus bertanya pada Claudia.
“Kakak ngomong semua ini, seakan kakak yang paling tahu segalanya yang terbaik buat Claudia. Tapi apa pernah kakak tanya sama dia, apa pernah kakak melindungi dia tanpa harus menyakiti Claudia dan orang lain terlebih dahulu?”
Diam dan bagai tertampar, itulah yang terjadi pada Reiki saat ini. Ucapan Icha seperti menembak langsung ke jantungnya, ia bahkan tidak bisa berpikir selama beberapa saat.
“Kamu gak akan ngerti Cha, gimana rasanya menunggu dan menjaga seseorang yang kita sayang, tapi orang itu ga menyayangi kita balik. Aku seumur hidup…semua yang aku lakukan hanya untuk Claudia…aku benar-benar mencurahkan seluruh waktu ku hanya untuk menjaga dia…aku benar-benar sayang sama dia dan ga bisa hidup tanpa dia”
Tidak Reiki salah besar Icha tahu benar bagaimana rasanya, selama ini ia menatap seseorang yang bahkan tak sadar kalau dirinya begitu di cintai. Icha kini hanya bisa menghela nafasnya sambil menahan air matanya yang hampir jatuh.
“Maaf kak…tapi aku gak akan pernah dukung kakak…” Icha menundukan kepalanya sebentar, sembari mengelap air matanya yang ternyata lolos juga.
“Kalau Claudia sendiri yang minta, dan kenyataannya dia bahagia bersama kakak, aku akan dukung dengan cara apapun…” ucap Icha, gadis ini terdiam beberapa saat lalu melanjutkan lagi apa yang ingin ia katakan.
“Tapi…selama Claudia masih menderita dengan cara kakak yang memaksa dia untuk terikat sama kakak, maaf aku akan berusaha sekuat tenaga buat menghentikan kakak”
Jelas terlihat jika Icha terluka karena sikap Reiki, melihat Icha yang begitu ingin Reiki berhenti nyatanya membuat hati pria itu juga merasakan getaran yang aneh, ingin rasanya dia mengikuti kemauan gadis yang ia kenal sejak masih memakai popok itu. Akan tetapi egonya lebih besar, ia sudah setengah jalan dan dalam hitungan minggu pesaingnya akan sah jadi suami orang, jadi mengapa ia harus berhenti.
“Kalau begitu mau kamu aku cuma minta jangan ikut campur, karena kalau sampai aku tahu kamu menggali lebih jauh…aku gak bisa mastiin berapa banyak orang lagi yang harus menderita, jadi lebih baik kamu diam…aku gak mau nyakitin kamu Cha, karena buat aku kamu juga penting, aku udah anggap kamu seperti adikku sendiri…aku permisi”
Selepas Reiki pergi, Icha akhirnya tak bisa membendung lagi apa yang dirasakannya. Ia menangis sejadi-jadinya walaupun masih menahan suaranya. Karena sudah tak ada lagi yang bisa di lakukannya gadis ini pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu.
“Cha…”
Mata Icha membelalak, jantungnya terasa mau berhenti. Bagaimana tidak, orang yang sedari tadi di sebut-sebut sekarang muncul di hadapannya.
“D…Di…” ucap Icha terbata-bata.
Sedikit yang diketahui oleh Icha dan Reiki, bahwa sedari tadi Claudia duduk tepat di belakang Icha, bersama dengan Hanif dan Eros.
“Ka Eros, kenapa ka Hanif sama Claudia ada disini?” tanya Icha bingung ketika melihat seniornya berdiri dan melambaikan tangannya kearah Icha.
“Karena aku berhak tau Cha, ini ada hubungannya sama hidup aku, sampai kamu mau nutupin semuanya dari aku?” seru Claudia.
Mereka semua terdiam saat itu, bingung harus melakukan apa.
(End of flashback)
“Di…sayang??...Claudia sayang???” suara Zen membuat Claudia tersadar dari lamunannya, gadis ini terlihat sangat linlung.
“Kamu gak apa-apa de??? Dari tadi kami ajakin ngobrol kok kamu kaya orang kena hipnotis gitu???” tanya Zen khawatir pada putrinya.
__ADS_1
Claudia menggelengkan kepalanya memberi tanda bahwa dirinya tidak apa-apa, ia lalu memandang wajah Reiki yang terlihat sangat khawatir padanya.
‘Kak, apa yang harus aku lakukan? Kakak begitu penting buat aku, gimana pun aku berusaha untuk benci sama kakak, aku tetap gak mampu melakukan itu…tapi disisi lain aku juga udah ga bisa menerima kakak lagi…tolong jawab aku kak, aku harus gimana?’ gumam Claudia dalam hati.