
“Barangnya udah semua Ki?” tanya Zen sambil membantu mengemasi barang-barang Reiki.
Pria itu mengangguk sambil tersenyum.
“Kak…kakak yakin mau balik ke Indonesia?” tanya Claudia sambil memasukan powerbank ke dalam tas yang akan dibawa oleh Reiki.
Yakin? Jujur saja tidak, tapi dia sudah berjanji kepada Claudia untuk membereskan semua kekacauan yang sudah dilakukannya.
Tidak banyak memang yang bisa dilakukan Reiki, akan tetapi setidaknya ia berusaha untuk menebus dosa-dosanya.
“Banyak yang harus aku urus, walau gak yakin aku juga gak bisa mundur…” seru Reiki sambil tersenyum.
Claudia tertegun, entah kenapa firasatnya baik soal kepulangan Reiki ke tanah air. Ia merasa Reiki akan kembali menjadi kakaknya yang baik hati dan selalu bisa diandalkan.
“Om bangga sama kamu Ki” Zen menepuk punggung Reiki, memberikan semangat kepada keponakannya itu.
“Meminta maaf itu memang sulit, namun jauh lebih sulit untuk mengakui kesalahan kita sendiri, lalu berani bertanggung jawab dan membenahi kesalahan yang sudah dilakukan…” seru Zen.
Jika tidak ada kata terlambat untuk bertobat, maka tidak ada hal yang mustahil untuk membenahi diri sendiri agar jadi pribadi yang lebih baik.
Suasana yang hangat seperti ini, bagaikan obat yang mujarab bagi Reiki. Ia merasakan damai, walaupun cintanya bertepuk sebelah tangan dan harus berakhir, entah mengapa disisi lain ia merasakan kedamaian.
Setengah beban dan rasa tidak nyaman yang selama ini ia rasakan seakan terangkat dan menghilang bagaikan uap air di udara. Ia merasa sungguh terlambat untuk menyadari bahwa egonya terus menerus membuatnya salah jalan.
Dalam waktu 3 minggu terakhir, banyak yang ia perbincangkan dengan Claudia, termasuk perasaan gadis itu saat mengetahui apa yang dilakukannya agar Claudia berpisah dengan Aksa.
Sempat ketakutan jika Claudia akan membenci dan menolak untuk bertemu lagi dengannya, Reiki mulai belajar bahwa sebuah pengampunan lebih baik, ketimbang menyimpan rasa benci yang mendalam.
Disaat bersamaan, dirinya juga belajar bahwa bahagia itu bukan pencapaian berdasarkan ego dan hawa nafsu, namun seberapa besar kedamaian dan rasa nyaman yang bisa dirasakan dan juga didapatkan.
Claudia mengajarinya banyak hal. Ya, cukup banyak hingga membuka matanya bahwa selama ini dirinya sudah banyak menyia-nyiakan orang-orang yang sangat memperhatikan juga menyayanginya dengan sepenuh hati.
Pada akhirnya, Reiki memutuskan untuk memperbaiki semuanya. Dalam waktu kurang dari sebulan dan dengan banyak hal yang diterimanya, termasuk kasih sayang yang ditunjukan Claudia setelah semua hal buruk yang menimpanya, membuat Reiki menyerah untuk mengejar cinta Claudia.
Walaupun begitu Reiki menyadari bahwa ia sangat menyayangi Claudia dan tak mungkin baginya melupakan Claudia begitu saja, sehingga ia memilih untuk tinggal disisi Claudia sebagai seorang kakak bukan lagi kekasih, persis seperti apa yang diminta oleh gadis kesayangannya itu.
“Om tinggal dulu ya” seru Zen sembari mengangkat telepon.
Reiki dan Claudia pun mengangguk, mereka masih fokus dengan barang-barang yang tengah mereka packing.
“Yang ini sebagian kita bawa ke kantor pos aja ya ka?” tutur Claudia sembari memindahkan beberapa barang milik Reiki.
“Sayang, jangan kamu yang angkat itu berat…” Reiki langsung berdiri saat melihat Claudia berusaha memindahkan box besar yang ada di depannya.
Reiki langsung mengambil box yang tengah diangkat oleh gadis mungil itu, lalu pergi meninggalkan Claudia yang terdiam membatu.
__ADS_1
Sayang?, hmmm jika Claudia mendengarnya beberapa bulan yang lalu gadis itu pasti merasa canggung, karena ia tahu arti sayang yang dimaksud adalah nama timangan, panggilan kesayangan yang ditujukan untuk pasangan. Namun saat ini rasa canggung itu memudar, semenjak Reiki mengutarakan bahwa dirinya akan menyerah, panggilan ‘sayang’ itu terasa seperti saat Claudia masih kecil, dimana Reiki masih memposisikan dirinya sebagai seorang kakak yang super duper protektif.
“Kak…” Claudia tersenyum lemah sambil mendekati Reiki yang membelakanginya, pria itu tengah fokus melabeli barang-barangnya.
“Hmmm apa???” jawab Reiki namun tak melihat kearah Claudia.
Perlahan Claudia memeluk tubuh Reiki dari belakang, gadis itu menutup matanya dengan perlahan.
Reiki disisi lain juga tak bicara sepatah kata pun, ia tahu bahwa ini adalah terakhir kalinya Claudia berinisiatif memeluknya seperti itu. Pria ini menghela nafas lalu meraih tangan Claudia yang dengan pasti melingkar di pinggangnya.
Perlahan Reiki memutar badannya, ia tak ingin melewatkan kesempatan terakhirnya untuk memeluk gadis yang ia cintai seumur hidupnya itu.
Pria ini menatap wajah mungil Claudia, ia menyentuh seluruh bagian wajah Claudia, berusaha mengingat betapa cantiknya gadis itu. Claudia pun tidak melakukan apapun, ia membiarkan Reiki menyentuh wajahnya.
Saat Reiki menyentuh bibir tipis milik Claudia, semua kenangan akan ciuman pertamanya dengan Claudia terputar begitu saja dalam kepalanya.
“Boleh aku cium kamu?” seru Reiki.
Reiki menunduk, dia tersenyum sedih. Dia tahu mungkin ini masih sulit dilakukan oleh Claudia. Disisi lain Claudia merasa bersalah, namun melihat reaksi Reiki yang imut seperti itu, Claudia jadi tersenyum.
“Uhm, kalo kamu gak ijinin, gak apa…” belum selesai Reiki bicara, Claudia sudah mencium singkat bibir Reiki.
Wajah Reiki benar-benar memerah, dia tidak menyangka Claudia mengecup bibirnya secara singkat. Jangan tanyakan Claudia, rasanya dia mau masuk lubang dan bersembunyi disana.
“Sekali lagi Di…” seru Reiki, langsung melingkarkan tangannya di pinggang Claudia, dan kembali mencium gadis itu.
Semuanya terasa berjalan sangat lambat bagi mereka berdua, ya Reiki begitu menikmati momen kebersamaannya bersama dengan Claudia. Mereka melepas pagutan itu dan tersenyum satu sama lain, lalu merenggengkan pelukannya.
“Ka???”
“Di…boleh aku cium kamu untuk terakhir kali?” seru Reiki dengan suara pelan.
Dia sudah gila memang, masih mengharapkan Claudia bersedia menciumnya. Namun ia ingin hidup tanpa penyesalan sama sekali, ia ingin hidup dengan memori dimana Claudia bisa menerimanya, setidaknya ia ingin memiliki gadis itu dalam hatinya.
Lalu bagaimana sikap Claudia, gadis ini jujur saja terkejut. Ia hanya menatap wajah Reiki yang terlihat sangat sedih.
“Maaf…maafin aku…permintaan aku emang terlalu berat ya…ma..” Reiki merenggangkan pelukannya, ia sudah menyerah apalagi yang diharapkannya.
Namun belum selesai bicara, tiba-tiba Claudia menarik kerah baju milik Reiki dan mencium pria itu.
Reiki hanya bisa membatu, hingga akhirnya kembali memeluk tubuh mungil gadis itu.
Baik Reiki maupun Claudia kini sama-sama menangis, keduanya masih berciuman dan tak melepaskan satu sama lain.
Tapi ini yang terakhir, setelah itu tak akan ada kisah cinta antara mereka berdua, mereka sudah memutuskan untuk bersama sebagai kakak dan adik seperti dahulu.
__ADS_1
‘Kak…Maafin aku yang ga bisa memenuhi harapan kakak, maafin aku yang selalu egois dan selalu menyusahkan kakak.. Berbahagialah.....berjanjilah untuk bebas dan bahagia, karena kakak berhak untuk mendapatkan yang terbaik...’ Claudia bergumam dalam hatinya.
Ia dapat merasakannya kalau Reiki pun mengetahui bahwa ini kali terakhir mereka bisa sedekat ini.
Sedangkan di dalam benak Reiki saat ini, ia seperti diputarkan lagi semua ekspresi wajah Claudia, sejak saat dirinya pertama kali berjumpa Claudia yang masih sangat kecil, hingga saat dimana Claudia memanggil namanya.
Semua hal pertama yang berkaitan dengan Reiki, tersusun rapih dalam memorinya saat ini. Nostalgia itu pun membuat pria ini tak bisa berhenti meneteskan air mata.
‘Maaf...maaf karena kamu harus terluka hanya karena aku ga bisa ikhlas melihat kamu dengan yang lain...maaf karena aku bukan orang yang cukup baik untuk menemani kamu sampai aku menutup mata, maaf karena aku selalu memaksakan kamu untuk memahami posisi aku...Claudia, aku bersyukur bisa bersama denganmu walaupun bukan sebagai pasangan...maafkan aku Claudia, berbahagialah....selamat tinggal cintaku...’ ucap Reiki dalam hati.
Keduanya pun kemudian menyudahi momen tersebut lalu merenggangkan pelukan mereka, namun baik Claudia maupun Reiki sama sama tidak melepaskan pandangan satu sama lain.
Mereka cukup lama saling memandangi, sampai akhirnya mereka tertawa.
“Kakak mata kakak kok bisa bengep gitu sih, padahal baru nangis sebentar...” ucap Claudia sambil tertawa.
“Ei, kamu ngetawain kakak tapi kamu gak tau...kamu ingusan itu” Reiki pun kemudian mengambil sapu tangannya.
Perasaan seperti ini sungguh sudah lama sekali tak dirasakan oleh mereka berdua.
Reiki yang sudah selesai membersihkan wajah Claudia, tiba-tiba saja mengecup kening gadis itu, ia pun tersenyum setelahnya.
“Goodbye, my love\~”
Di tempat lain...
“Ichaaaaaaaa !!!” Teriak Rima.
Icha tersenyum melihat sahabatnya datang sambil berlari.
“Maaf aku telat banget ya? Tadi macet banget” ucap Rima sambil terengah-engah.
Icha tertawa kecil, ia tidak menyangka bahwa Rima sampai berlari karena telat datang.
“Iya gak apa-apa kok, santai aja”
“Mana bisa santai Cha !!!!”
Icha bingung, kenapa tiba-tiba Rima jadi begitu heboh, padahal di antara teman-teman dekatnya Rima termasuk yang paling santai.
“Emangnya ada apa sih Ma ??? Sampai segitunya kamu tuh? Kan tempatnya juga ga bakalan pindah dan aku juga santai-santai aja kan”
Icha masih tidak mengerti, memang sudah cukup aneh ketika Rima memintanya untuk bertemu, bahkan memaksanya untuk pergi. Padahal hari ini Icha lumayan sibuk karena harus mengurus bangunan yang akan jadi segera di resmikan sebagai panti asuhan milik keluarganya.
“OHO apa kamu bakal tetep santai kalo aku sampein berita yang aku denger ini?”
__ADS_1
Berita ? Berita apa??? Pikir Icha. Gadis ini pun mengerutkan dahinya.
“Kamu tau gak, Ka Reiki mau pulang ke Indonesia !!!”