
Sudah lelah, itu mungkin ungkapan paling pas untuk Nico. Setelah perjalanan jauh dan segala macam urusan di negeri orang yang berkaitan dengan bisnis keluarganya, dirinya malah kini harus di hadapkan dengan masalah yang membuatnya kesal setengah mati.
Singkat cerita, ibunya berniat untuk membuka bisnis baru bersama dengan ibu dari Reiki, karena banyak yang harus diurus maka pergilah Nico dengan Hanif dan Eros. Kenapa dengan mereka berdua, alasannya adalah karena Hanif bersedia mengurus system yang akan di gunakan di kantor cabang mereka, sedangkan Eros memang dikirim ayahnya ke perusahaan keluarga Nico untuk belajar.
Hingga 3 hari kemudian Nico menemukan sebuah file mencurigakan di drive milik Hanif. Penasaran karena mengira file itu berisi foto-foto adiknya Hanif yang disukainya maka Nico dengan mudahnya mengobrak-abrik semua file tersebut.
Kaget luar biasa ketika ia melihat semua arsip dan bukti-bukti kejahatan milik kerabatnya. Dengan cepat Nico langsung mengintrogasi para sahabatnya. Benar saja ketika ia mengkroscek ulang, semua data soal perusahaan-perusahaan kecil yang diakuisisi oleh Reiki dan berbagai macam perusahaan fiktif itu benar adanya.
Tanpa buang waktu Nico lalu mengkomfirmasikan soal temuannya pada Keiko, ibu dari Reiki dan memilih untuk mendiskusikannya dahulu sebelum membukanya kepada banyak orang.
Karena itulah kini mereka ingin bertemu dengan Reiki dan memintanya untuk mengembalikan semua hal yang telah di renggutnya dari orang lain, dan menghapus semua perusahaan fiktif yang ia gunakan untuk melakukan tender palsu di anak perusahaan keluarga Priambudi juga perusahaan milik Aksa.
Dan kini ke empat orang itu tengah duduk dengan tenang, Reiki juga terlihat tak gugup sama sekali, membuat Hanif dan Eros yang malahan terlihat sangat tegang.
“Aku gak akan banyak omong kak…disini aku cuma peduli sama satu hal apa yang kakak lakukan itu sudah kelewat batas, apa kakak gak paham yang kakak lakuin ini melanggar hukum, kalo papa sambungnya ade (a.ka Claudia) tahu dan nuntut, kakak mau gimana?” seru Nico dengan wajah serius.
Reiki menghela nafas pelan, ia tahu Nico tak punya niatan buruk padanya. Namun berusaha mengurusi dan menyabotase hal-hal yang sudah rencanakan bukan hal yang menyenangkan.
“Setelah aku nikah sama Claudia baru aku akan kembalikan semuanya pada tempatnya, soal masalah tuntut menutut, mereka gak punya cukup bukti untuk nuntut aku, lagi pula aliran dana mereka jelas bukan dari perusahaan milik keluarga Amzar, jadi kenapa mereka harus nuntut aku?” seru Reiki sambil meminum tehnya.
Gila, sudah sampai pada tahap seperti ini pun Reiki masih berkeras soal menikahi Claudia. Bagi keluarga besar dari pihak Silvana sudah jelas Claudia sama sekali tak punya niatan untuk menikah dalam waktu dekat.
“Tapi kak…”
Reiki menatap wajah Nico dengan ekspresi serius. “Nico, tolong berhenti urusin urusan aku dan Claudia !!! yang harus kamu tahu itu cuman aku melakukan semua ini untuk masa depan Claudia, kamu juga gak perlu khawatir karena Claudia adalah satu-satunya orang terakhir di muka bumi ini yang bakalan aku sakiti, paham kan maksud aku?” ujar Reiki dengan tegas.
Nico terdiam menyadari betapa terobsesinya Reiki pada adik sepupunya itu, sebuah obsesi yang mulai memakan akal pikiran dan jiwa milik lelaki yang dahulu menjadi panutannya itu.
“Ini salah kak…” seru Nico beraksi akan apa yang diucapkan oleh Reiki, suaranya bergetar hebat karena tak bisa percaya Reiki mampu melakukan hal seburuk itu demi mendapatkan Claudia.
“Salah atau tidak bukan urusan kamu…” ujar Reiki lirih.
“Aku tau bukan urusan aku, tapi jujur aku bener-bener kecewa sama kakak…selama ini aku selalu mengaggap kakak sebagai sosok yang patut aku jadikan panutan, sikap sabar dan rasa sayang kakak yang tulus sama Claudia itu jadi motivasi aku untuk tetap setia sama perasaan aku buat orang itu…tapi aku ga nyangka kalau ketulusan kakak itu udah bener-bener hilang dan berganti jadi nafsu semata, aku gak pernah bisa percaya kalau kakak udah berubah jadi MAKHLUK SERENDAH INI !!!…”
Ucapan Nico sontak membuat udara disekitar Eros, Hanif dan Reiki semakin menyesakan. Nico memang bukan tipe manusia yang akan bermanis-manis mulut, pun menurut Hanif sahabatnya itu sudah banyak menahan emosi dan tidak mengeluarkan perkataan setajam silet.
__ADS_1
Sedangkan Reiki setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Nico cuma terdiam, nyaris tanpa emosi. Pria ini masih terlihat sangat tenang, bahkan tak terlihat ingin membalas perkataan dari kerabatnya itu.
“Nico permisi kak, maaf sudah buang-buang waktu kakak…” Nico langsung meninggalkan tempat diikuti dengan Hanif yang sebelum pergi memberikan gestur pamit kepada Reiki.
Kedua orang itu pergi terlebih dahulu meninggalkan Eros dan Reiki dibelakang mereka.
“Nico word bro” ucap Hanif sembari menepuk pundak Nico.
Ia tahu bahwa dibalik sikap angkuh dan kuat yang di tampakan oleh sahabatnya itu, Nico sebenarnya begitu terpukul dengan kenyataan yang harus dihadapinya.
Jelas terlihat tubuh Nico kini bergetar hebat, ia menahan amarah, sedih dan juga perasaan kecewa yang teramat dalam, hingga merasa ingin berteriak sekencang-kencangnya. Sungguh Reiki tak tahu betapa fatalnya keputusan yang telah diambilnya pada orang-orang disekitarnya.
Nico dan Hanif kini berjalan meninggalkan tempat tersebut, hanya saja Nico terlihat tidak seperti biasanya. Hanif hanya bisa menghela nafas, sepertinya ini pukulan telak untuk sahabatnya.
Karena ingin menghibur sahabatnya dan mengalihkan pikiran Nico agar sahabatnya itu jadi lebih focus, Hanif memutuskan untuk menggoda Nico. “Jadi pengen ketemu Nura ya…”
“Iya…” ucap Nico tanpa sadar.
Hanif berhenti berjalan dan memandang Nico sambil menyeringai dengan menaruh ke empat jarinya menutupi mulut, ia jelas kini bertingkah untuk menggoda Nico “Hmmmmmm”
Nico yang menyadari bahwa dia baru saja masuk jebakan Hanif, langsung menghentikan langkahnya, wajah pemuda itu kini memerah bagaikan tomat matang. Ia membalikan badan dan menatap balik wajah Hanif dengan kesal “Eh curut !! sial lu…si…si…siapa yang mau ketemu sama si otak kecoa…?!!!” ucap Nico terbata-bata.
Masih dengan wajahnya yang memerah Nico tak ingin mengakui perasaannya, ia berusaha tidak mengiyakan walaupun usahanya itu sia-sia. “Dih..kepedean lu !!!”
Hanif disisi lain tertawa, kalau memang tidak ada rasa kenapa harus segitu emosinya, ya memang level sahabatnya itu level bocahlah. Namun satu hal yang disyukuri oleh Hanif, setidaknya sahabatnya itu kembali menjadi Nico yang biasanya. “Yaudah terus ini gimana sekarang sama tante Keiko??”
“Kalo udah kaya gini mungkin lebih baik gw diskusi sama om Zen..” Nico sepertinya harus cepat, ia juga harus segera mengkonfrontasi Claudia dan membuat adik sepupunya itu segera bertindak.
“Hmmmm oc deh qaqaq…” Ucap Hanif masih mengajak Nico untuk bercanda.
Merinding Nico rasanya ingin sekali menampar wajah sahabatnya itu, entah kenapa terkadang Hanif suka melakukan hal-hal tidak penting pikir Nico. “Jijik banget sumpah Nif…alay lu…”
“Ish tapi kamyu syuka kaaaan” Hanif menoel pipi Nico dengan telunjuknya.
Dengan cepat Nico menampar tangan Hanif. “Amit-amit dah…”
__ADS_1
“Wkwkwkwk…yaudah ayo kita jalan…”
Mereka memutuskan untuk terus berjalan, tidak terlalu banyak bicara karena keduanya tenggelam dalam pikirannya masing-masing, sampai beberapa menit kemudian Hanif mulai mengeluarkan suara kembali.
“Co…”
“Ya?”
“Tar lu jangan gitu-gitu amatlah yang jadi budak cinta sama Nura…”
“Ya…”
Terjebak dua kali Nico mulai memukuli Hanif. “Duh ampun-ampun…eh ngomong-ngomong mana si Eros???”
“Iya dimana dia?”
Hanif dan Nico lalu teringat kalau Eros masih ada di café, segera mereka bergegas kembali untuk menjemput Eros.
Di tempat lain…
Eros belum keluar dari café itu, ia memang menunggu momen untuk bicara berdua dengan Reiki.
“Mau apalagi kamu???” Reiki sinis pada Eros, dia tahu benar siapa yang berusaha menggali informasi tentang dirinya, marah tentu saja dirasakan Reiki. Sayangnya menyingkirkan Eros sama sulitnya dengan memutuskan tali kekerabatan dengan Nico, karena Eros juga berasal dari keluarga yang memiliki power cukup kuat dalam dunia usaha.
“Saya cuma mau kasih ini” Eros menyerahkan sebuah amplop di depan Reiki. Apa yang ada didalam amplop berwarna biru muda itu adalah surat yang di titipkan oleh Icha.
Reiki menaikan satu alisnya, entah apalagi yang direncanakan anak itu pikir Reiki “Apa ini?…”
“Itu surat dari Icha…sebelum kakak pergi kalau bisa tolong di baca…” Eros pun langsung berdiri sambil menarik tasnya.
Sesaat sebelum ia benar-benar pergi Eros dengan wajah datarnya berhenti di samping Reiki. “Oh dan juga saya gak akan minta maaf karena udah berusaha mencari tahu informasi atas semua kejahatan kakak, saya rasa harusnya kakak lebih bersyukur karena orang-orang di sekitar kakak bener-bener peduli dan bukan cuma pencitraan…setidaknya ada satu orang yang sungguh-sungguh ingin kakak kembali ke jalan yang benar, walaupun dia tahu sebusuk dan sebejat apa kakak sekarang..”
Reiki tak banyak bicara, dia tahu benar kalau yang dimaksudkan oleh Eros tentang seseorang yang sungguh-sungguh ingin dirinya kembali menjadi dirinya yang dulu adalah Icha.
“Saya permisi ka…”
__ADS_1
Eros pun berjalan keluar café, ia melangkahkan kakinya dengan cepat hingga tiba-tiba ia berhenti berlari. Eros menutup matanya, berusaha menormalkan degup jantungnya.
“Ternyata sesakit ini…” ucap Eros lirih sambil mencengkram kemejanya. Dadanya sungguh terasa sesak.