
“Jangan ngoyo, tinggal sedikit lagi” seru Satyo memukul pelan punggung Reiki.
Ia menyemangati putranya, yang baru saja bertemu dengan ‘korban’ terakhir dari semua obsesi Reiki yang terdahulu.
Setelah lamarannya di tolak oleh Icha, ia tidak banyak memikirkan apapun kecuali pekerjaan. Reiki terlalu sibuk untuk galau, karena memang ia tidak punya waktu untuk itu.
Ia harus segera menebus dosa-dosanya. Beruntung Satyo, ayahnya tidak pernah lelah menemani Reiki.
Sebagai pengusaha dengan kredibilitas yang baik, mudah bagi banyak orang untuk memaafkan begitu saja tentang apa yang dilakukan Reiki kepada mereka, apalagi dengan jaminan membuat perusahaan mereka sebagai anak cabang, dan mengakuisisi usaha mereka tanpa mengganti jabatan para direksi, tentu disambut dengan gembira.
Namun, bukan berarti perjalanan Reiki selalu mulus. Ada beberapa ‘korban’ yang tidak menyambut baik, dan harus terus di kejar hingga mereka memberikan maaf.
Beruntung, pada akhirnya hampir semua masalahnya selesai.
“Kita mau kemana lagi pa?” ucap Reiki.
“Hari ini papa mau ketemuan sama anak rekanan bisnis papa, katanya dia kakak iparnya ade (a.ka Claudia)…”
DEG…
Kakak ipar? Apalagi ini?. Jantung Reiki berdebar kencang.
Kalau yang dimaksud papanya sebagai kakak ipar Claudia, itu berarti Syakila.
“Pa…Reiki gak usah ikut deh..” seru Reiki lirih.
Satyo terdiam, lalu menepuk pundak Reiki dengan pelan.
“Papa gak pernah ajarin kamu jadi laki-laki pengecut Ki. Kita selesaikan semunya sampai tuntas, apapun hasilnya nanti yang penting kita sudah berusaha…”
Reiki terkejut, apa yang dimaksud oleh ayahnya?. Pengecut? Apa itu berarti Satyo tidak hanya tahu soal masalah perusahaan bodong yang di buatnya, tapi juga masalah dirinya dan Syakilla yang menjebak Aksa, agar ikut dalam permainan mereka.
“Pa..papa tau darimana…soal…”
“Soal kamu yang menjebak Aksa anaknya om Bram?”
“Pa…”
“Kamu belajar dari papa nak, semua trik kamu itu, papa sudah lebih dahulu melakukannya sebelum kamu. Jadi apa yang kamu pikir bisa di simpan baik-baik dan di bawa sampai mati, tidak selalu bisa berjalan sama dengan ekspektasi. Kalau kamu punya 100 cara untuk menutupi bau busuk dari kejahatan kamu, papa punya 1000 metode untuk membongkar semuanya”
Reiki langsung menunduk, benar juga. Dia bisa jadi seperti ini karena papanya banyak mengajarinya, walaupun beberapa tahun terakhir ia menggunakanya untuk hal buruk, tapi bagaimana bisa ia berpikir kalau dirinya bisa dengan mudah, menipu papanya yang sekaligus mentornya.
“Kamu seharusnya berterimakasih kepada Claudia. Kalau bukan karena dia, sudah sejak lama papa memaksa kamu untuk pulang. Tapi setiap kali papa berusaha untuk membawa kamu kembali, karena merasa bersalah pada Claudia dan Zen, adikmu itu selalu membela kamu.“
Satyo masih ingat betul, saat dirinya berkali-kali menghubungi keponakannya untuk meminta maaf. Namun keponakannya itu bilang bahwa Claudia tidak merasa kalau Satyo dan Reiki selama ini menyakiti dirinya.
“Claudia...” seru Reiki lirih.
Begitu banyak kejadian Yang tidak diketahui oleh nya, selama berada satu atap bersama adiknya itu. Padahal selama ini Reiki kira dia tahu semua hal, termasuk yang ada didalam pikiran Claudia.
“Selama ini apa yang sebenarnya sudah terjadi...apa yang Reiki ga ketahui pa?!” Mata Reiki berkaca-kaca.
Satyo pun menepuk pelan pundak Reiki, ia lalu menceritakan semuanya. Hanya selang 1 bulan dari kepindahan Reiki, Satyo masih ingat betapa paniknya ia saat mengetahui kejahatan yang telah dilakukan oleh putra kandungnya sendiri.
Tanpa pikir panjang Satyo langsung menghubungi Claudia, Satyo pun marah dan menangis disaat yang sama karena merasa dikhianati putranya sendiri. Namun gadis itu meyakinkan, bahwa Reiki tidak punya niatan seperti itu.
Yang membuat Satyo terkejut adalah fakta bahwa Claudia begitu tenang menyikapi semua aduannya, Satyo pun menyadari kalau sejak awal gadis itu sudah mengetahui apa yang dilakukan mantan tunangannya tersebut.
Perasaan malu tentu saja dirasakan oleh Satyo, ia pun bermaksud membawa Reiki kembali, sebelum Claudia meyakinkannya.
“Om, tolong biarkan kak Reiki tinggal di sini bersama Claudia. Mungkin saja dengan tinggal bersama-sama, dia bisa kembali seperti dulu. Lagi pula masalah ka Reiki sejak awal disebabkan karena dia terlalu sayang sama Ade. Jadi ade mohon, tolong om pertimbangkan lagi. Claudia yakin kalau ka Reiki itu orang baik. Terlebih selama ka Reiki disini, ka Reiki gak akan mungkin memperbesar masalah yang dia buat, om juga jadi punya waktu membereskan semua kekacauan yang ka Reiki sebabkan, tanpa sepengetahuan tante Keiko” seru Claudia dengan lembut.
“Ini ga adil buat kamu de” seru Satyo.
Claudia terdiam sesaat, sebelum melanjutkan pembicaraannya.
“Dan akan lebih nggak adil lagi untuk orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan masalah ini, termasuk tante Keiko dan nama baik keluarga kita. Claudia harap om bisa lebih mempercayai ka Reiki, dia orang yang baik. Cuma sempet salah jalan dan kalah oleh nafsu. Ade percaya ini yang terbaik”
Menurut Satyo apa yang dilakukan oleh Claudia, butuh pengorbanan yang sangat besar. Gadis itu berusaha mengacuhkan kebahagiaannya sendiri, demi menyelamatkan orang banyak.
Keputusan yang amat bijaksana itu, jujur saja membuat Satyo masih menaruh harap kalau keponakannya itu bisa jadi menantunya. Walaupun ia tak berani menggantungkan impiannya dengan begitu tinggi. Karena sejak awal dirinya tahu, kalau Claudia banyak berkorban perasaan demi putranya. Rasanya amat jahat bagi Satyo jika menaruh ekspektasi bahwa Claudia bisa menjadi anak mantunya.
“Tanpa dijelaskan pun, ade rasa ayah sudah tahu om, gambaran besar tentang apa saja yang telah dilakukan oleh ka Reiki. Segimana pun ka Reiki berulah, ayah gak mungkin benci sama ka Reiki. Lagipula lebih baik om tidak membahas apapun soal ini dengan ayah, Ade khawatir kalau hubungan kalian justru akan menjadi canggung, karena masalah ade dan ka Reiki. Tolong kasih Claudia kepercayaan, seberapa lama pun waktunya, ade akan berusaha membuat ka Reiki sadar kalau yang di buat selama ini adalah suatu kesalahan. Ade minta bantu doanya aja ya om”
Ia sempat meragukan putranya sendiri, tapi itu tidak terjadi pada Claudia.
“Sekarang kamu tahu apa saja yang sudah dilakukan oleh Claudia untuk kamu!, apa kamu masih mau melakukan kesalahan yang sama, dengan bersikap seperti pengecut dan lari dari masalah?”
Satyo ingin putranya sadar 100%. Ia tidak ingin Reiki kembali melakukan kesalahan yang sama dikemudian hari.
Ia harus tahu bahwa selama ini Reiki lah yang paling sering menyakit perasaan keponakannya itu, namun Claudia memilih untuk diam, dan bekerja dengan caranya sendiri.
Disaat Reiki sibuk memikirkan bagaimana cara memuluskan rencananya, pikiran gadis itu justru penuh dengan bagaimana cara agar Reiki tidak menyia-nyiakan hidupnya sendiri.
__ADS_1
Reiki kira selama ini hanya dirinyalah yang berkorban perasaan, demi mendapatkan dan mewujudkan cintanya kepada Claudia. Akan tetapi ternyata ia salah besar!. Selama ini Claudia lah yang paling banyak berkorban perasaan, baik kepada dirinya sendiri, kepada Reiki, kepada keluarganya dan juga kepada cinta sejatinya.
Gadis itu, mengorbankan waktu, perasaan, dan pikirannya untuk menjaga semua orang.
Bahkan bukan hanya itu saja, tanpa disadarinya pengorbanan Claudia yang paling besar adalah untuk melindungi Reiki dari dirinya sendiri. Tak cukup hanya sampai disitu, Claudia juga turut melindungi orang-orang yang seharusnya menjadi tanggung jawab dari Reiki.
“Hadapi dengan berani !!, di dunia ini selalu ada kesempatan kedua, bagi siapa pun yang ingin berubah jadi lebih baik. Papa yakin, kalau sungguh sungguh ingin bertaubat, Tuhan akan selalu memberikan jalan. Walaupun tidak mudah”
Satyo memegang Pundak Reiki, memberikan semangat kepada putra satu-satunya itu.
Syakila tidak seseram itu untuk dihadapi, pikir Satyo. Ketimbang berhadapan dengan seseorang yang jahat, akan lebih mengerikan lagi menghadapi orang yang mencintai kita, namun telah berkali-kali kita Sakiti secara sadar maupun tidak sadar.
“Ayo kita berangkat!” ujar Satyo sambil tersenyum.
***
“Jaga sikap kamu Kila, kalau bukan karena Permintaan dari pak Satyo. Papa tidak akan mau membawa kamu ke pertemuan penting seperti ini“
Restauran yang mewah, dengan banyak tamu penting yang hadir. Tentu jadi pemandangan biasa bagi keluarga Syakila. Tapi tidak saat gosip kalau dirinya sudah tidak waras beredar kemana-mana.
“Mulut dan jari jempol itu lebih cepet ketimbang kecepatan cahaya”
Itulah yang dikatakan oleh banyak orang. Sudah jadi rahasia umum kalau pernikahan Syakila kini tengah terancam bubar. Bukan hanya itu kejadian dimana dia mengamuk (karena tak terima di gugat cerai oleh suaminya), di kantor milik keluarga besarnya yang sekarang di pimpin Aksa pun mencoreng nama baik keluarga Syakila.
Satu hal yang pasti adalah, Tidak ada satupun yang beres semenjak Aksa dan Syakila menikah.
Kegilaan demi kegilaan terus dilakukan perempuan itu, hanya agar mendapatkan perhatian dari suaminya. Syakila bahkan tidak segan-segan, untuk melakukan kekeresan fisik pada perempuan yang berusaha mendekati Aksa.
Permasalahannya definisi dari ‘mendekati’ versi Syakila terlalu rancu, hal ini termasuk berbincang, menghubungi, dan bertemu suaminya bahkan dalam urusan bisnis. Selama menikah seringkali perempuan itu mengacaukan rapat yang tengah berjalan, dan itu membuat semua orang pada akhirnya meminta keluarga Syakila untuk membawanya ke psikiater.
“Aku gak akan bikin rusuh pa...karena aku juga udah bener-bener menunggu hari ini” seru Syakilla dengan senyum lebarnya.
“Papa pegang ucapan kamu ya !”
Belum selesai Mario,ayah Syakila itu bicara, tiba-tiba seorang staff restauran mendatanginya.
“Pak maaf, bapak sudah ditunggu oleh bapak Satyo di private room, silahkan ikuti saya” seru salah satu staff dengan ramah.
Syakila sama sekali tidak tenang, ia ingin tahu kabar soal Claudia dari Reiki. Selama ini informasi akan gadis itu begitu sulit untuk di tembus.
Perempuan ini yakin, pasti ada campur tangan Zen, ayah kandung dari Claudia dalam menjaga privasi anaknya.
Kesal setengah mati, rasanya Syakila ingin melenyapkan Claudia selamanya, kalau-kalau gadis itu ternyata pulang.
Staff restauran tersebut pun membukakan pintu ruangan, mempersilahkan Mario dan Syakila masuk.
Ketika masuk ke ruangan tersebut, baik Syakila di sambut ramah oleh Satyo dan Reiki. Senyum bisnis kurang lebih.
“Selama ini saya belum sempat mengucapkan terima kasih secara langsung, kalau bukan karena bantuan bapak, cabang kami yang ada di kalimantan pasti collapse. Terima kasih banyak ya pak” Mario tersenyum lebar. Berterima kasih dengan tulus atas bantuan dari Satyo.
“Jangan sungkan, bukannya kita sekarang ini adalah keluarga?” Seru Satyo sambil tertawa kecil.
Mario tentu saja senang mendengar apa yang dikatakan oleh kolega bisnisnya itu.
“Karena kita keluarga berarti tidak boleh ada rahasia bukan?”
Rahasia? Rahasia apa yang sebenarnya dimaksud oleh Satyo?. Mario sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh pria yang tengah duduk dihadapannya itu.
“Apa maksud bapak? Saya benar-benar tidak mengerti?” Mario mengerutkan dahinya, bingung.
Satyo langsung menatap Syakila, senyum ramah di wajahnya sudah hilang.
“Bagaimana kalau kita mulai dengan kasus video itu?” Satyo tersenyum sinis.
Baik Mario maupun Syakila, keduanya langsung pucat pasi. Itu aib keluarga mereka, kenapa Satyo mau membahasnya?.
“Pak apapun yang bapak dengar, saya rasa itu tidak ada hubungannya dengan hubungan bisnis kita. Jadi saya harap bapak tidak mengungkit kejadian dimasa lalu !”
Mario berusaha menekankan, bahwa dirinya tidak ingin membahas apapun yang pernah terjadi di kehidupan anak perempuannya itu. Jelas bagi keluarga besarnya apa yang dilakukan oleh putrinya, adalah suatu aib yang tidak bisa hilang seumur hidup.
“Anda benar, masalah putri anda tidak ada hubungannya dengan bisnis yang tengah kita jalankan” ucap Satyo sambil menaruh cangkir tehnya kembali.
Mario sedikit bernapas lega, mungkin Satyo tidak akan membahas apapun soal itu. Namun pikirannya salah besar.
“Tapi....semua ini ada hubungannya dengan Putra saya, dan juga keponakan kesayangan saya”
Tubuh Syakila menegang. Dia tahu benar siapa yang dimaksud oleh kolega papanya itu. Tidak lain dan tidak bukan itu pasti Claudia, ya ! sudah pasti itu dia.
“Saya tidak mau berbasa-basi, mungkin anda belum tahu apa tujuan saya mengajak anda untuk bertemu secara langsung. Padahal selama ini saya tidak pernah ingin menemui anda. Alasan utama saya, karena saya tidak ingin bertemu atau berurusan dengan putri Anda”
Satyo pun akhirnya menceritakan secara detail apa yang sudah dilakukan oleh istri dari Aksa itu. Selama ini mereka sudah di tipu habis-habisan oleh Syakila.
Mario rasanya sangat ingin menggeret dan memukuli darah dagingnya itu, luar biasa sekali putrinya, melemparkan kotoran bertubi-tubi kewajahnya dan keluarga besarnya.
__ADS_1
Setelah menipu soal kehamilan, kini Mario di hadapkan dengan kenyataan bahwa selama ini Syakila lah yang merencanakan semua aksi busuk itu, bahkan perempuan ini tidak segan menjatuhkan harga dirinya sendiri di depan orang lain.
Beberapa kali Mario melihat kearah Syakila, ada rasa marah, kesal, kecewa, sedih bahkan frustasi, yang jelas tersirat di wajah pria paruh baya itu.
“Tunggu om, terlepas dari apa yang Kila lakukan, apa om tahu putra om sama busuknya dengan saya?” Ucap Syakila memotong penjelasan Satyo.
Ketiga orang yang berada di ruang tersebut terkejut. Syakila kini dengan santainya, bahkan sambil tersenyum manis mengakui kalau dia yang mengatur segalanya.
Tapi Satyo tidak panik, dia dengan tenang menjawab pertanyaan Syakila.
“Syakila, kamu jangan khawatir ! Saya tau Reiki sama busuknya dengan kamu, tapi setidaknya putra saya telah bertekad menghentikan segala kegilaannya!. Sedangkan kamu bagaimana?. Berhentilah mengharapkan seseorang, yang bahkan tidak peduli kalau kamu hidup atau mati!” Ucap Satyo sinis.
Syakila tertawa lumayan keras. Tua bangka ini, dipikirnya dia bisa mengintimidasi dirinya ?.
“Oh ya ? lalu bagaimana kalau saya bilang, dengan mudahnya bisa saja saya memberitahu, prihal keterlibatan putra anda tentang masalah ini, kepada keponakan kesayangan anda itu? Apa anda masih bisa bersantai, tenang atau bahkan tertawa seperti saya?” Syakila tertawa sinis, seperti mengejek kepada Satyo.
Syakila benar-benar tidak tau apapun, pikir ayah dari Reiki itu. Ini berarti Zen memang sukses menutup seluruh akses informasi soal putrinya, Claudia.
“Syakila, Daripada kamu mengancam saya soal kamu mau buka mulut kepada keponakan saya, lebih baik kamu mencemaskan diri kamu sendiri. Saya sudah dengar kabar kalau suami kamu sudah memasukkan gugatan cerai ke pengadilan, dan saya juga bisa menebak kalau kamu sama sekali tidak menginginkan perceraian itu” ucap Satyo dengan tatapan sinis.
Satyo akhirnya mengerti kenapa putranya dan Syakila sampai repot-repot menjebak Aksa agar menikah dengannya. Claudia terlalu sempurna jika harus di bandingkan dengan Syakila, maka sangat wajar baginya jika Reiki dan Aksa begitu terobsesi pada Claudia. Gadis itu bukan hanya cantik wajah tapi juga hatinya yang penuh kasih.
Sedangkan Syakila, dia memang cantik. Dengan tubuh tinggi, kulit putih, dan mata belo dan hidung mancung, ia jelas tampak seperti gadis baik-baik. Namun semua itu nilai plus itu anjlok seketika, saat kelakuannya amat berbanding terbalik dengan penampilannya.
“Kamu harus tahu Syakila, kalau tidak ada gunanya memberitahu seseorang yang sudah mengetahui semua rahasia kotor kalian berdua!!”
Baik Mario dan Syakila terkejut, apalagi istri Aksa itu. Ia lantas langsung naik darah saat mendengar kenyataan yang tak diketahuinya. Selama ini ia telalu terlarut dalam rencana menyingkirkan Hana dari hidupnya dan Aksa, perempuan itu lalai mencari informasi soal saingan abadinya.
“Maksud bapak apa? Apa Silvana dan Bram sudah tahu akan hal ini?”
Lain dengan Syakila yang kesal karena langsung tau siapa yang dimaksud oleh Satyo, Mario justru punya ketakutan sendiri, kalau besannya itu sudah tau akan semua siasat busuk putrinya. Kalau sudah begini akan semakin sulit mendapatkan empati besannya. Padahal Mario sudah setuju untuk membantu putrinya, agar bisa kembali rujuk dengan Aksa.
“Tidak pak, kedua besan bapak itu tidak tahu sama sekali soal perbuatan putri anda. Hanya Claudia yang tahu tentang apa yang kedua anak kita lakukan” ucap Satyo lirih.
Satyo masih teringat, beberapa kali gadis itu memesankan agar tidak mengatakan apapun pada kedua orang tuanya. Keponakannya itu khawatir, kalau kenyataan yang terjadi terlalu berat untuk di terima oleh ibu dan papanya, sehingga membuat hubungan kedua orangtuanya akan renggang dengan para kerabat, khususnya keluarga Syakila.
“Jadi maksud anda, Claudia sudah tahu sejak awal bahwa Kila menjebak kakak nya?” tanya Mario dengan suara bergetar.
Satyo mengangguk. Sedangkan ayah dari Syakila ini menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia merasa bahwa dunianya runtuh begitu saja. Dia malu bukan main bila mengingat semua ucapan buruknya soal Claudia. Padahal jelas-jelas gadis itu secara tidak langsung membantu dirinya dan keluarga untuk terhindar dari aib Yang disebabkan oleh putri kandungnya sendiri.
Syakila semakin kesal mendengar apa akan semua hal tentang Claudia. Yang jadi pertanyaan besar dalam otaknya adalah, kenapa Claudia melakukan apapun untuk mengungkapkan kebenaran, padahal ia mengetahui benar tentang apa yang terjadi lima tahun lalu.
Istri dari Aksa itu pun menatap Reiki yang sedari tidak banyak bicara, pandangannya penuh dengan rasa ingin tahu akan semua hal yang telah dilewatkannya.
“Reiki apa kamu sudah menikah dengan Claudia?” tanya Syakila penuh harap.
Ia hanya punya satu alasan yang logis, ketika mendengar bahwa Claudia tidak mengungkapkan apapun pada keluarganya. Hal itu tentu saja berkaitan dengan pernikahan. Bagi Syakila tak mungkin gadis itu menutup-nutupi tentang rahasia kelam selama bertahun-tahun, kalau bukan untuk melindungi suaminya.
Setidaknya itulah yang ada dipikiran perempuan ini.
Akan tetapi semua senyuman kemenangan itu menguap begitu saja. Emosi Syakila begitu kacau balau, saat melihat patner kejahatannya terdiam sesaat.
Reiki menggelengkan kepalanya, ia menjelaskan kepada Syakila bahwa salah satu alasan kepulangannya ke tanah air adalah karena ia menyerah untuk mendapatkan hati gadis pujaannya tersebut.
Hati Syakila bagaikan tersiram bensin, ini tidak baik sama sekali. Sudahlah dia di gugat cerai, Hana juga tidak menghilang seperti rencananya, sekarang malah harus ditambah kenyataan bahwa Claudia punya kesempatan untuk bersama dengan Aksa. Sepertinya dia harus memikirkan cara lain agar kedua orang itu tidak dapat bersatu. Ya, Dengan cara apapun ia harus berhasil melakukan aksinya.
Sadar kalau Syakila tidak akan tinggal diam setelah mendengar kalau putranya gagal mendapatkan Claudia, Satyo langsung beraksi keras.
“Syakila lebih baik kamu tidak melakukan apapun untuk menghancurkan dan memperbesar masalah yang telah kamu timbulkan”
Ancaman Satyo tidak main-main, dia juga bukannya orang yang pemaaf. Jujur saja saat muda dia jauh lebih brengsek ketimbang Reiki, bahkan ia tak ragu untuk mencelakai siapapun yang menghalanginya, kalau bukan karena Keiko mungkin dirinya bisa berakhir sebagai mafia.
“Apa maksud Anda?” tanya Syakila pura-pura bodoh, padahal dalam hati gadis ini bergidik ngeri. Begitu juga dengan Mario yang duduk disampingnya.
“Saya ingin kamu menjauhi keponakan saya ! ini bukan sekedar ancaman. Saya tidak akan tinggal diam dan dengan mudah bisa melakukan apapun untuk membalas siapa saja yang menyakiti keluarga saya, khususnya Claudia” ucap Satyo sambil berdiri dari duduknya. Ia meminta meminta salah satu pengawalnya untuk mengambilkan jasnya yang tergantung.
Bagi Satyo, terlepas dari putranya menikah atau tidak dengan gadis itu, Claudia punya tempat special di hati keluarganya. Untuknya Claudia sudah seperti putri kandung, dan perasaan itu semakin menguat, ketika dengan berani keponakannya itu meminta Satyo untuk berpikir ulang atas semua hal buruk yang ada didalam benaknya.
Sangat jarang anak muda yang berpikiran jauh, untuk melindungi semua orang bahkan mereka yang sudah menyakitinya. Itulah yang membuat Satyo semakin kagum pada Claudia.
Benci, tidak lebih dari itu. Syakila memupuk semua perasaan buruk dan jahat. Ada rasa marah, kesal, dan Iri yang sangat besar bercokol didalam hatinya.
Perempuan ini tiba-tiba berdiri sambil berteriak dengan kencang. Membuat dua orang pengawal Satyo langsung siaga, namun Satyo memberikan tanda kalau semuanya masih aman terkendali.
“Kenapa !!!! Kenapa semuanya tentang Claudia !!! Apa hebatnya dia ?” ucap Syakila sambil menggebrak-gebrak meja beberapa kali.
Disaat itu juga Satyo menghela nafas kasar, sudah tak tertolong lagi pikirnya. Syakila sudah terlarut dengan semua obsesi besarnya, sehingga mental perempuan itu memang sudah tidak stabil.
“Kamu tanya apa hebatnya dia?, ok akan saya jawab…kamu harus tau, disaat kamu berusaha merebut semua hal yang dimiliki orang lain, dia berusaha untuk melindungi kebahagiaan setiap orang yang sudah kamu hancurkan kehidupannya…kalau kamu masih waras, saya rasa kamu bisa paham apa yang saya sampaikan” ucap Satyo sambil berlalu pergi diikuti oleh Reiki.
Sebelum dirinya keluar dari ruangan, persis di depan pintu dirinya berbalik dan menatap Mario juga Syakila dengan tatapan super tajam dan sangat mengintimidasi.
“Saya rasa pertemuan kita kali ini bisa jadi peringatan pertama dan terakhir, saya mohon pak Mario, tolong jaga anak anda…jangan sampai dia melakukan hal-hal bodoh, yang bisa merugikan dirinya sendiri…Saya permisi”
__ADS_1
Satyo pun pergi begitu saja, sedangkan Mario rasanya dia akan pingsan.
*Di lain pihak Syakila punya pikirannya sendiri, dia tidak akan menyerah. Aksa itu miliknya, kalau tidak bisa ia miliki, maka yang lain pun tidak boleh. Lebih baik dia mati dan tau kalau Aksa menanggung penyesalan seumur hidup, ketimbang membiarkan dirinya hidup dan melihatAksa bahagia bersama yang lain.*