ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 97


__ADS_3

Sebelum kalian baca ceritanya...


tolong banget sempetin waktu buat baca ini...


Hi, Saya Momiji author dari seluruh cerita di akun MOXYAAL.


Saya cuma bisa mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas semua dukungan dari pembaca setia Me vs My Brother, Tsundere boy & Otaku Girl, dan juga Love from Stalker. Rasanya seperti mimpi ketika apa yang saya 'creat' bisa di nikmati oleh banyak orang. Sungguh saya benar-benar berterima kasiih atas supportnya selama ini.


Hampir 10 bulan ini, saya harus menyesuaikan diri (perlahan-lahan) dimana yang tadinya menulis berdua jadi cuma sendiri, belum lagi admin akun ini juga mundur. Alasannya, karena kami tidak menemukan kesepakatan soal masalah 'upload' cerita disini, lalu penulis kami Sxyaal juga sibuk dan harus off karena satu dan dua hal.


 


Disaat saya sedang berusaha untuk mengejar ketinggalan chapter, saya terkena gejala Carpal Tunnel Syndrome di tangan kanan (ini teman-teman di grup MOXYAAL sedikit banyak sudah tau). Awalnya tidak saya hiraukan sampai di akhir bulan Februari lalu, rasa sakitnya sampai membuat tangan kanan saya tidak bisa bergerak normal, dan ini membuat saya harus memilih antara kehilangan pembaca atau memaksakan diri untuk terus menulis dengan konsekuensi kondisi tangan saya makin parah  (Sekali lagi saya hiraukan kembali), saya pun berusaha untuk tetap menulis walaupun tidak bisa secepat biasanya (saat ini juga masih sering bengkak seperti beberapa minggu lalu).


Itulah alasan kenapa saya tidak bisa mengabulkan keinginan para pembaca untuk sering update. 


 


Saya berusaha untuk berpikiran positif, saya yakin dari awal pasti selalu akan ada pembaca yang memang tulus menyukai karya saya. Jadi saya tetap berusaha semangat, untuk melanjutkan tulisan saya.


 


Lalu saya mau menjelaskan juga disini, untuk siapapun yang membaca lalu berkomentar...


 


"sungguh kisah yang terlalu dramatisir masih saja banyak masalah yang ga selesai"


"Terlalu seperti sinetron"


dll...


 


Dari awal cerita ini memang banyak masalahnya, bukan cerita yang memang permasalahannya bisa selesai dengan begitu cepat. Sepertinya saya juga sudah pernah menjelaskan, kalau cerita ini punya masalah yang lumayan kompleks karena memang itu tujuannya.


Dan sekedari informasi saja, saya tidak sembarangan memasukan masalah disini. Seperti sinetron ya? memang hidup itu konfliknya begitu kan?. Lagipula semua masalah yang ada di cerita ini adalah kisah nyata dari beberapa narasumber, orangnya hidup dimuka bumi dan dimensi yang sama dengan kita semua. Hanya saja, memang saya mengurangi dan menambahkan SEDIKIT, untuk keperluan cerita.


Sebagai contoh sosok Claudia itu sebenarnya memang ada 'manusianya', saya bertemu dengan beliau sewaktu saya menjalani training JKT48 generasi pertama. Saya menggambarkan sosoknya, seperti sosok yang memang saya kenal. Namun sekali lagi, saya menambahkan dan mengurangiuntuk keperluan alur kisahnya.


Saya selalu senang membaca komentar kalian, malah sebenarnya itu yang ditunggu-tunggu hehehe...


 


Sekali lagi Terimakasih semuanyaaaa....


Oh iya yang mau follow ig saya @eladia.19, kita bisa diskusi juga soal novel yang saya buat, atau diskusi tentang novel kalian juga boleh.


Mohon maaf kalau ada salah-salah kata dan kurang berkenaan dihati teman-teman semua...


 


 


XOXO


Momiji


 


 


 


**********


 


 


 


 


 


 


 


Ada yang bilang…


 


 


Manusia itu tidak akan pernah bisa mengetahui isi hati manusia lain…


 


 


Hanya Tuhan yang tau apa isi hati umatnya…


 


 


 


 


Tapi untuk saat ini sepertinya dengan sangat jelas, Claudia bisa mengetahui isi hati lawan bicaranya.


 


 


“Kamu bener-bener hebat ya Claudia, pulang ke Indonesia terus tanpa malu merayu kakak kamu sendiri, yang jelas-jelas statusnya masih suami orang…” ujar Syakila dengan senyum sinis.


 


 


Apa yang bisa di lakukan selain menghela nafas dengan berat?, Claudia bahkan tidak tahu harus menimpali perkataan kakak iparnya itu atau tidak.


 


 


Bagi gadis ini, sekeras apapun dia membela diri tidak akan ada gunanya. Semakin kencang usahanya untuk meluruskan masalah maka semakin parah pula Syakila akan memfitnahnya. Pokok permasalahannya bukanlah karena salah paham, tapi memang kebenciaan yang mendalam didalam hati Syakila kepada dirinya.


 


 


Sangat sulit untuk memberitahu seseorang yang telah sangat jelas membenci orang lain, walaupun disajikan kebenaran, mereka tidak akan pernah bisa percaya. Jelas semua Tindakan Claudia untuk klarfikasi hanya akan buang-buang waktu dan energi, toh yang bersangkutan juga sudah menutup hatinya sendiri, akan fakta-fakta yang sesungguhnya.


 


 


“Terserah kamu mau bilang apa, yang jelas disini aku sama sekali gak ingin mengklarifikasi apapun atau bahkan membantu kamu mengembangkan semua kegilaan yang ada didalam otak kamu itu !. Cuman satu yang aku minta, jangan libatkan Hana dalam pertengkaran kalian berdua, Ka Aksa itu manusia coba omongin semua baik-baik sama dia. Kalau pun kalian tetap berpisah lebih baik kamu intropeksi diri, ketimbang melimpahkan semua kesalahan kamu sama Hana atau pun orang lain”


 


 


Apa yang di inginkan Claudia jelas, ia tak mau ikut-ikutan masuk ke pusaran pertikaian rumah tangga kakaknya. Terlepas dari ada atau tidaknya andil dirinya dalam keputusan Aksa menceraikan Syakila, baginya itu bukanlah keinginannya dan juga bukan urusannya.


 


 


Bahkan jika kakaknya itu bercerai dengan istrinya, bukan berarti gadis ini akan dengan serta merta menerima Aksa begitu saja. Faktanya, hingga detik ini Claudia masih ingin kembali ketempat dimana ayahnya akan tinggal.


 


 


Sesaat ia sempat terbawa arus dan memang berpikir untuk menerima Aksa kembali, namun ketika dirinya mendengar bahwa persoalan rumah tangga Aksa ternyata harus sampai melibatkan Hana, Claudia kembali berpikir untuk mundur.


 


 


Alasannya jelas, ia tidak mau memperumit semua masalah yang sudah ada. Aksa jelas harus menemukan dan menentukan jalan keluar dari persoalan rumah tangganya itu.


 


 


Di sisi lain melihat kalau Claudia tidak mau menimpali ucapannya, Syakila semakin kesal. Di dalam otaknya itu hanya ada satu hal ‘semua ini terjadi karena Claudia’. Kalau saja Aksa tidak pernah bertemu Claudia, maka suaminya itu akan seutuhnya menjadi milknya.


 


 


“Hahahaha, kamu itu lucu ya Claudia. Seharusnya sebelum kamu nasehatin saya, kamu pake dulu otak kamu. Ketimbang kamu urusin saya, kenapa gak kamu pikirin aja dulu konsekuensi dari kebodohan kamu”


 


 


Claudia mengernyitkan dahinya, konsekuensi dari kebodohannya? Apa yang sebenarnya dikatakan oleh Syakila?.


 


 


“Kebodohan? Kebodohan apa?? Konseskuensi apa yang kamu maksud? aku ga paham!” ujar Claudia bingung.


 


 


Tiba-tiba saja Syakila tertawa dengan sangat keras, dalam hati Claudia bersyukur membawa perempuan ini ke lapangan yang sepi, bukan ke café atau tempat lain.


 


 


“Ahahahaha Claudia kamu ini bener-bener gak paham atau pura-pura bodoh sih?” ucap Syakila sambil terpingkal-pingkal.


 


 


Tentu Claudia bingung, baginya tidak ada yang lucu. Kenapa perempuan itu tertawa terbahak-bahak begitu.


 


 


“Bisa gak kamu jangan muter-muter gitu ngomongnya? Saya bingung !”


 


 


Claudia mengernyitkan dahinya, perempuan yang ada didepannya itu memang sudah gila.


 


 


“Hmmm ok ok, gimana kalau kita mulai dengan membayangkan kalau Aksa dan seluruh keluarga kamu, tau soal kamu yang menutupi kejahatan Reiki??? Menurut kamu apa yang bakalan dilakuin Aksa saat dia tahu, kalau kamu juga mengkhianati dia, demi Reiki?”


 


 


 


 


Raut bahagia jelas terpancar dari wajah Syakila, ia merasa sudah memutar mata pisau yang sedari tadi berada di depan wajahnya. Kini terlihat bahwa Claudialah yang kalang kabut dibuatnya.


 


 


Bukti terangnya, wajah manusia yang paling dibenci oleh Syakila di muka bumi itu, sekarang terlihat pucat. Ketakutan menyelimuti Claudia, semua hanya karena omongan dari Syakila.


 


 


 


 


“Wow, ternyata kamu bisa berekspresi seperti ini juga ya? Hebat kayanya ini akan makin seru” ucap Syakila sambil tersenyum lebar.


 


 


Tubuh Claudia bergetar hebat, ia dapat membayangkan seberapa chaos kondisinya saat Aksa tahu semua kebenaran itu.


 


 


Kenyataan bahwa ia memang secara tidak langsung membantu Reiki, untuk mengubur semua kesalahannya memang tak terbantahkan lagi.


 


 


 


 


 


Sekarang Claudia harus apa?


Menyerah?


 


 


Tidak, permainan Syakila tidak akan selesai hanya karena ia menyerah. Bahkan jika dirinya kembali lagi ke Jepang lalu meninggalkan Aksa, bisa di jamin bahwa Syakila tak akan berhenti. Ada yang salah dengan kakak iparnya itu.


 


 


 


 


Syakila hanya akan puas bila Aksa mencintai dirinya, hanya dirinya seorang dimuka bumi ini, akan tetapi semua itu tampaknya mustahil. Claudia memahami, bahwa walaupun kakak sambungnya itu tak bisa menikahi dirinya pun, keputusan Aksa untuk menceraikan Syakila sudah bulat dan final. Intinya tidak ada lagi yang bisa menghalangi keinginan Aksa.


 


 


“Kamu takut kan kalau aku bongkar semuanya sama Aksa? Hmmmm gimana kalau gini aja. Aku gak akan usik kamu asal kamu pergi jauh-jauh dari hidup suami aku, mudahkan?. Lagian ya kamu terima aja sih Reiki, susah amat. Kalian itu cocok tau gak…win win solution semua senang semua bahagia”


 


 


Claudia mengepalkan tangannya, ia kesal bukan main. Siapa yang bisa merasa senang dengan kondisi yang diciptakan oleh perempuan tak waras macam Syakila.


 


 


“Semua senang? Semua bahagia? Kamu emang udah bener-bener gak waras ya Syakila !”


 


 


Syakila memiringkan kepalanya, ia tak merespon yang apapun yang Claudia katakan.


 


 


“Yang senang kamu, yang bahagia kamu, sedangkan semua orang menderita karena kelakuan kamu tau gak !”


 


 


Syakila lalu tersenyum. Sejak awal dia hanya memperjuangkan kebahagiaannya sendiri jadi kenapa semua orang heboh?!.

__ADS_1


 


 


“Emangnya kenapa? Salahnya dimana? Semua butuh pengorbanan kan?” ucap Syakila tanpa rasa bersalah sama sekali.


 


 


“Semua hal di dunia ini butuh pengorbanan, kenapa kalian semua heboh sendiri?” lanjut Syakila.


 


 


Entah kenapa Claudia merasa kaget, walaupun ia sudah merasa bahwa Syakila ini tidak punya pemahaman untuk membedakan hal yang benar dan salah, tapi semua ini sudah kelewat batas.


 


 


“Terima aja tawaran aku, jangan banyak tanya bisa kan?”


 


 


Terima? Mana mungkin. Claudia sampai kapan pun tidak akan pernah menerima tawaran dari Syakila.


 


 


“Gak…aku gak akan ikutin mau kamu…”


 


 


Menerima penolakan Syakila kembali emosi, dia mulai meninggikan suaranya. “Claudia !! kamu jangan main-main ya !!” ucapnya emosi.


 


 


Di dalam otaknya Claudia berpikir keras, sepertinya rahasia ini memang sudah tidak bisa dikubur selamanya. Perempuan yang berada dihadapannya dan tengah memakinya itu, adalah bom waktu berjalan. Apa yang harus di lakukan untuk membuat perempuan ini sementara mematikan timernya?


 


 


‘Ah itu!!! Mungkin ini bisa !!!’ Gumam Claudia dalam hati


 


 


“Posisi kita beda Syakila…” seru Claudia memotong makian dari Syakila.


 


 


“Beda?” Syakila mengerutkan dahinya, tak mengerti maksud adik iparnya itu.


 


 


“Iya, ka Aksa gak cinta sama kamu, dia gak sayang sama kamu, jadi mudah buat dia buang kamu dari kehidupannya. Tapi gak buat aku, dia cinta sama aku dan juga sayang sama aku. Dia butuh aku dalam hidupnya dan tebak, walaupun dia pasti marah setelah tau kenyataannya, dia gak buang aku ke tempat sampah, layaknya dia ngebuang kamu !” Claudia menutup omongannya dengan senyum sinis.


 


 


Tanpa aba-aba Syakila dengan cepat melayangkan tangannya, kearah wajah gadis yang berada di depannya tersebut. Jika sebelumnya tamparan itu tepat bersarang di wajah mulus milik Claudia, kali ini perempuan itu gagal.


 


 


Claudia dengan cepat menangkap tangan Syakila yang hendak menamparnya, gadis ini lalu mengcengkram pergelangan tanga Syakila dengan sangat kuat, hingga kakak iparnya itu berteriak kesakitan.


 


 


“Cukup sekali kamu nampar aku tadi. Syakila, aku bukan Claudia yang dulu. Gadis yang mudah kalian permainkan. Aku juga yakin walaupun aku keluar dari hidupnya ka Aksa, kamu pasti akan tetap kasih tau hal ini ke dia”


 


 


“Sakit…Lepasin !!!”


 


 


“Aku bisa aja nampar atau mukulin kamu sampe babak belur, tapi aku masih menghargai Hana. Seenggaknya aku ga mau Hana tau, kalau tantenya menghajar ibunya sampai sekarat. Gak lucu kan kalau kaya gitu? Jadi berhenti ngancam kami semua dan terima aja perceraian kamu sama ka Aksa !”


 


 


Apa Claudia serius? Tentu saja. Dia sejak awal juga bukannya gadis yang lemah, hanya saja dia tidak ingin Hana mengetahui kalau ia pernah membuat ibu kandungnya babak belur, bukan image yang bagus pikirnya.


 


 


“Jangan pernah, kamu berani masuk kedalam rumah keluarga ku lagi, atau bahkan berusaha bicara apapun soal ini ! karena aku bisa dengan mudah mematahkan semua tulang yang ada di badan kerempeng kamu itu !! Paham !!!” Claudia mengancam Syakila, lalu melepaskan tangan perempuan tersebut dengan kasar.


 


 


 


 


Tanpa buang-buang waktu, Claudia pun akhirnya meninggalkan ibu kandung Hana itu sendirian, lalu berjalan kearah mobilnya, tanpa menghiraukan apapun yang dikatakan oleh Syakila.


 


 


 


 


Begitu ia masuk mobil rasanya kaki Claudia sama sekali tidak punya tenaga, ia merasa sangat lemah sampai-sampai tubuhnya bergetar hebat. “Semoga Syakila kemakan omongan aku…” seru Claudia.


 


 


 


 


 


 


 


 


**


 


 


 


 


PLOOOOOK, sebuat tepukan lembut mendarat di pundak Claudia yang tengah termenung.


 


 


 


 


“Ka…”


 


 


Sejak awal gadis ini memang termenung, banyak sekali hal yang ia pikirkan. Kejadian tadi siang yang paling mengganggu pikirannya.


 


 


Jujur sejak awal dia tidak punya ekspektasi setinggi langit, jika dirinya bisa menutupi semua rahasia itu sendirian. Claudia lalu menatap lekat wajah kakak sambungnya itu, ia berusaha membuang semua kekhawatiran di dalam hati, dan membayangkan bahwa Aksa akan selalu jadi seseorang yang mendukungnya, walaupun diawal pasti akan terjadi penolakan.


 


 


“Kenapa kok liatin aku kaya gitu?” seru Aksa sembari tersenyum.


 


 


“Seberapa penting aku buat hidup kakak?”


 


 


Aksa tentu kaget dengan pertanyaan yang diajukan oleh Claudia. Mungkin Claudia sudah membuka hatinya untuk Aksa, tapi tetap saja pertanyaan yang diajukan gadis itu membuat jantung Aksa berdebar keras.


 


 


“Kenapa…kenapa tiba-tiba tanya itu?”


 


 


“Aku mau tau kak, gak boleh ya??”


 


 


Aksa mengangguk lalu tersenyum, ia menatap Claudia dengan sungguh-sungguh.


 


 


“Kamu itu penting banget, bahkan lebih dari hidup aku sendiri. Aku gak bisa liat masa depan ku sama orang lain selain kamu. Setelah menikah sama Syakila, tiap hari aku tersiksa. Aku berusaha kuat cuma untuk Hana, tapi sepertinya takdir memang menggariskan aku pisah sama dia”


 


 


Ini memang kenyataan, setiap hari selama ia masih tinggal bersama dengan istrinya itu, hidupnya tersiksa. Selalu ada saja kelakuan Syakila yang membuatnya enggan melanjutkan pernikahannya.


 


 


Aksa baru bisa merasakan bernapas lega, tepat disaat dia melihat Claudia setelah sekian lama. Ketika matanya itu terpaut dengan sosok perempuan yang paling ia kasihi seumur hidupnya itu, bagaikan menemukan oasis, dahaganya itu hilang tak tersisa.


 


 


“Sepenting itu?”


 


 


“Ya…” jawab Aksa tanpa ragu.


 


 


 


 


Mendengar pengakuan Aksa, membuat hati Claudia terasa nyeri. Ia merasa seperti telah menghianati Aksa, tapi apa yang dia lakukan juga untuk kebaikan bersama. Apa keputusannya salah ?.


 


 


“Apa…apa akan tetap seperti itu walaupun aku sudah melakukan hal yang menyakiti hati kakak?”


 


 


Aksa terdiam sesaat, lalu kembali menjawab dengan tegas. “Iya…akan tetap seperti, selamanya cuma kamu…”


 


 


Yang dikatakannya bukan hanya omongan semata, Aksa serius dengan apa yang dikatakannya. Dia sudah tidak bisa berjauhan lagi dengan adiknya itu. Cukup selama hampir 5 tahun ini ia menderita tanpa kehadiran Claudia, Aksa sama sekali tidak berminat untuk mengulang prosesnya.


 


 


“Apa kakak bisa janji, kalau kakak gak akan tarik omongan kakak, kalau kakak akan selalu anggap aku sebagai sosok terpenting di hidup kakak?”


 


 


“Iya aku janji gak akan tarik omongan aku”


 


 


“Apapun kondisinya?”


 


 


“Percaya sama aku, apapun kondisinya”


 


 


Claudia langsung memeluk tubuh Aksa yang tengah terduduk di sampingnya. Jelas Aksa terkejut bukan main, dalam hati perasaannya sungguh campur aduk.


 


 


“Clau..dia”


 


 


“Sebentar aja, aku cuma butuh waktu sebentar”


 

__ADS_1


 


Sudah lama sekali, iya sejak terakhir kali mereka saling berpelukan, merasakan suhu tubuh masing.


 


 


“Claudia aku….”


 


 


“Den !!! Den Aksa!!”


 


 


Belum selesai Aksa bicara, suara bi Sumi sudah menghentikannya.


 


 


“Den Aksa, non Hana sudah bangun…”


 


 


Terang saja Claudia dan Aksa langsung melepaskan pelukannya, lalu berlari mengikuti bi Sumi yang berlari kembali menuju kamar Hana.


 


 


 


 


 


 


Di dalam kamar, Hana tengah terduduk lemas. Gadis kecil itu kini tengah di periksa sambil diajak berkomunikasi oleh Reiki.


 


 


“Oh ya? Hana suka yang mana?” tanya Reiki sambil tersenyum.


 


 


Hana lalu memilih boneka kelinci berwarna putih yang dibawa Reiki.


 


 


Jantung Claudia berdebar, ia masih takut kalau kedua orang ini bisa saja baku hantam tiba-tiba.


 


 


“Kak…”


 


 


“Tenang aja aku udah janji, kalau aku ingkarin bukan lelaki namanya”


 


 


Aksa pun memasang wajah tersenyumnya, ia bahagia melihat putrinya tersadar. Walaupun berat tapi nampaknya Aksa harus mengakui kalau Reiki adalah dokter yang handal.


 


 


“Hana itu ada papa” ucap Silvana.


 


 


Yang terjadi selanjutnya di luar ekspektasi. Hana menggelengkan kepalanya sambil menangis tanpa suara, seperti ketakutan.


 


 


“Lho Hana kenapa? Cucu kesayangan eyang kenapa nak??” tanya Bram khawatir. Wajar saja wajah mereka tiba-tiba kembali pucat, tubuh Hana kita bergetar hebat.


 


 


“Tuan puteri kecil, ini papanya udah dateng lho” ucapan Aksa langsung disambut dengan lemparan boneka yang sedari tadi di peluknya.


 


 


“GAK MAU !!! PAPA PERGIIII !” Hana berteriak pada Aksa, sungguh suatu hal yang sebelumnya tak pernah terjadi.


 


 


Aksa tentu saja shock, Hana mungkin sering murung, tapi jelas gadis kecilnya tidak pernah melemparkan barang atau meneriakinya seperti tadi.


 


 


 


 


“Kak, kakak coba keluar dulu…bunda, papa, eyang juga…Ka Reiki…” Claudia langsung meminta semua orang keluar dari kamar Hana, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan gadis kecil itu.


 


 


Reiki pun mengangguk, ia setuju dan meminta Silvana yang tadinya tidak mau keluar, untuk segera mengikutinya. “Tante, ada yang mau Reiki sampaikan…kita keluar aja sekalian.”


 


 


Pada akhirnya mereka semua keluar dari kamar Hana, termasuk Aksa yang masih shock.


 


 


Setelah semuanya pergi Claudia lalu mendekati Hana, duduk disamping gadis kecil yang tengah terisak tersebut.


 


 


“Hana sayang…” seru Claudia lembut, sayangnya Hana tidak merespon dirinya.


 


 


“Hana, bisa liat tante gaaaaaa…tantenya kangen lhooo, kalo Hana gak mau liat tante besok tante pergi aja deh…”


 


 


“Jangan!!!” seru Hana langsung memeluk tubuh Claudia yang tadi ingin beranjak dari samping Hana.


 


 


Tentu saja Claudia tidak serius, ia memang sengaja memancing Hana, ingin melihat respon gadis kecil itu terhadapnya.


 


 


Dengan lembut Claudia lalu memeluk balik tubuh kecil Hana, sembari mengelus kepalannya perlahan.


 


 


“Hana kenapa sayang?” pertanyaan Claudia itu dibalas dengan pelukan erat oleh Hana. Dari sini Claudia bisa menyimpulkan , bahwa Hana sedang menyimpan sesuatu yang tak bisa dengan mudah diceritakan olehnya.


 


 


“Hana mau cerita gak sama tante?, ya tapi tante gak maksa juga sih…”


 


 


Hana masih bungkam, terdiam bahkan setelah 10 menit setelah Claudia bertanya pada gadis kecil itu. Sementara Claudia masih setia mengelus punggung Hana yang sekarang tengah berbaring di ranjangnya.


 


 


“Putli…” panggil Hana pelan.


 


 


“Ya?”


 


 


“Papa Hana bukan papa Hana..”


 


 


 Claudia baru tersadar, Hana sepertinya mendengar pembicaraannya dengan Aksa. Mungkin itulah penyebab gadis ini begitu shock hingga akhirnya pingsan, awalnya pasti dimulai dengan kebiasaan Hana, yang suka bersembunyi saat menangis.


 


 


“Hmmm…Hana sayang papa?”


 


 


Hana mengangguk berkali-kali. Mana bisa dia tidak sayang pada sosok yang selalu ada disaat dirinya kesulitan itu, Hana begitu menyangi Aksa, itulah alasannya kenapa gadis ini begitu terkejut, sampai dadanya sakit dan dirinya sulit bernapas.


 


 


Perasaan Hana sedikit banyak Claudia memahaminya, akan sulit ketika kita merasa bahwa selama ini kita seperti berjalan di atas es tipis, tanpa menyadarinya sama sekali. Ketakutan jelas terpajang di wajah kecil Hana.


 


 


“Papa juga sayang lho sama Hana…”


 


 


“Tapi Hana bukan anak papa…”


 


 


Apa yang akan terjadi suatu saat nanti?. Apa ia harus kembali tinggal dengan ibunya, karena Aksa bukanlah ayah kandungnya, lalu setelahnya apa mungkin dia akan bisa bertemu lagi dengan lelaki yang selalu dianggapnya sebagai papa terhebatnya?. Kurang lebih pikiran seperti itu yang ada di dalam pikiran Hana, ketakutan menyelimutinya.


 


 


“Sayang, Hana itu anaknya papa, seumur hidup Hana itu tetap putrinya papa. Walaupun darahnya papa gak mengalir di tubuhnya Hana, tapi hatinya papa ada di dalam hatinya Hana”


 


 


Claudia menyentuh dada Hana, mengarahkannya kearah jantung gadis kecil itu.


 


 


“Hana tau, walaupun bukan kandung tapi kasih sayang papa itu tulus. Waktu Hana baru lahir, papa yang pertama kali adzanin telinganya Hana, papa juga yang ngubur ari-arinya Hana, terus jangan lupa papa selalu adakan disaat Hana butuh papa?”


 


 


Hana terdiam, air matanya mengalir deras. Papanya itu satu-satunya orang tua yang dimiliki Hana, jadi wajar kalau Hana begitu sedih mendapati kenyataan yang dihadapinya tersebut.


 


 


“Sayang, tante yakin semuanya ga akan berubah, semuanya pasti akan tetap sayang sama Hana, jadi Hana gak boleh sedih dan kecil hati ya…karena papanya Hana juga sama seperti Hana…”


 


 


“Sama?”


 


 


Claudia tersenyum, ia mencium kening Hana lalu menghapus air matanya.


 


 


“Ya, tapi cerita itu kita simpan sampai Hana besar nanti ya…”


 


 


Hana mengangguk setuju.


 


 


‘Cerita itu, mari kita bahas ketika kamu sudah besar dan memahami, bahwa ikatan keluarga tidak melulu soal hubungan darah sayangku….’ Seru Claudia dalam hati, ia pun mempererat pelukannya pada Hana, membiarkan gadis itu nyaman dalam dekapannya.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2