
"Na, mana si Keiko?" tanya Nesya kepada Silvana yang kini sedang mengotak atik handphonenya.
"Udah pulang duluan bu..."
"Terus ada apa tadi dia kayanya serius banget mau ngobrol sama kamu?"
Silvana menghela nafasnya, ia berusaha untuk bersikap sesantai mungkin, walau sejujurnya hati Silvana sama sekali tidak tenang.
"Reiki minta Keiko sama mas Satyo ngelamar si ade bu"
"Bukannya Reiki bilang mau nunggu Claudi selesai sekolah dulu Na?"
Nesya duduk dan menaruh belanjaan disampingnya, ia menunggu Silvana menceritakan semuanya.
"Iya harusnya mah gitu bu, makanya tadi Keiko nanya ada apa sama Reiki pas dia kerumah itu bu...aku bilang semua baik baik aja, tapi katanya Keiko ada yang aneh sama Reiki lepas dia pulang dari rumah kita bu"
Eyang kesayangan Claudia ini nampaknya curiga dengan alasan Reiki. Seperti halnya Silvana, Nesya tau bahwa Reiki tidak mudah untuk mengganti keputusannya. Ia curiga Reiki melihat Aksa melakukan sesuatu pada Claudia, sehingga rasa cemburu merubah keputusan dari Aksa.
"Na, mungkin ga...ini ibu ngomongnya agak enak...mungkin gak dia mergokin Aksa meluk Claudia misalkan ?" tanya Nesya ragu.
"Hah, ya masa sih bu... gak mungkin ah" Silvana tak percaya, tidak mungkin sebegitu mudahnya Aksa mendekati Claudia.
"Makanya kan ibu bilang mungkin, sebenernya Na ibu kurang setuju kamu ngebiarin Aksa tinggal satu rumah sam Claudia. Inget ga pertama kali dia dateng ke rumah kita"
Nesya dan Silvana mengingat kejadian kurang lebih 5 tahun lalu, saat itu Bram sedang mendekati Silvana kembali, apalagi ibunya Bram, Indah menginginkan Silvana menjadi menantunya. Akan tetapi Nesya dan Silvana belum mengambil sikap, karena Claudia masih terlalu kecil untuk memahami permasalahan kedua orang tuanya, setahu Claudia ayah dan ibunya belum berpisah sehingga ia tidak pernah marah saat Silvana bilang Zen tidak bisa pulang karena sibuk bekerja.
Seminggu setelah Bram kembali melamar Silvana, Aksa datang ke rumah mereka. Nesya dan Silvana masih ingat, hari itu hujan besar, sedangkan Claudia tidak ada dirumah karena perkemah sabtu minggu.
Suara ketukan membuat Nesya yang saat itu sedang menikmati tehnya di sore hari melihat kearah luar rumah.
"Lho nak Aksa, ada apa kesini, ya ampun kamu basah semua" seru Nesya yang terkejut, melihat Aksa yang sudah basah kuyup, sepertinya dia tidak menggunakan mobil untuk pergi ke rumah Nesya.
Nesya memperhatikan Aksa dari atas kebawah, badan Aksa bergetar hebat, kantung mata terlihat jelas dan matanya memerah juga bengkak seperti habis menangis, dan penampilan Aksa benar-benar sangat kacau, tidak seperti biasanya.
"Eyang maaf, boleh Aksa ketemu sama tante Silvana?" tanya Aksa pada Nesya.
"Boleh-boleh, masuk dulu nak" Nesya langsung mempersilahkan Aksa masuk.
"Makasih Eyang"
"Bentar eyang panggilkan tante Ana nya dulu ya, sekalian eyang ambilkan handuk, kamu duduk aja nak"
"Iya eyang"
Nesya lalu memanggil Silvana, dan bergegas mengambilkan handuk, ia pun tak lupa membawa baju ganti milik mantan menantunya Zen. Namun Nesya tak langsung keluar, dia membua teh jahe dulu untuk Aksa.
"Aksa, ya ampun kok kamu basah basahan gini, ada apa sayang?" tanya Silvana kaget melihat Aksa dengan kondisi yang kacau.
"Tante...tante maafin Aksa....maafin Aksa..."
Aksa mulai menangis, ia pun bersujud didepan kaki Silvana sambil histeris, ia tak mampu mengangkat wajahnya. Hatinya bergejolak, bagaimanapun yang ia sampaikan nanti mempertaruhkan, kebahagiaan orang tua yang sangat ia sayangi.
"Ada apa ini nak? Coba kamu jelasin dulu ke tante..." Silvana berusaha membuat Aksa untuk bangun dari sujudnya. Ia merasa ada yang tak beres dengan anak ini.
"Tante, Aksa....Aksa ga bisa setuju sama pernikahan tante"
Dugaan Silvana benar, Aksa pasti tidak setuju dengan rencana pernikahannya ini, bagaimanapun akan sulit untuk menggantikan sosok Aini. Walaupun Aksa sudah berkuliah, bagi seorang putra walaupun sudah dewasa, di depan orang tuanya ia tetaplah anak-anak, tidak mudah menerima ibu sambung yang baru, apalagi setelah kematian ibunya yang begitu tragis.
Silvana mencoba untuk tenang, ia pun mengatur nafasnya dan berusaha untuk mengajak Aksa bicara.
"Kenapa ka? Kok tiba tiba begini?, kakak gak suka tante jadi ibunya kakak???" tanya Silvana dengan lemah lembut.
"Aksa....Aksa..."
"Pelan-pelan ka, coba jelasin dulu sama tante"
__ADS_1
"Claudia..."
"Claudia???"
"Iya Claudia putri tante...ternyata Claudia itu cinta pertama yang Aksa cari selama ini tante...Aksa harus gimana..."
Mata Silvana membelalak, bagaimana bisa putrinya jadi orang yang paling dicari oleh Aksa selama lebih dari 7 tahun ternyata putri semata wayangnya. Silvana tau semua ceritanya dari Aksa, karena semenjak Aini meninggal dan Silvana mengetahui hidup Aksa jadi hancur-hancuran pasca di tinggal Aini, dialah perempuan yang paling dekat dengan Aksa, hingga Aksa mau mencurahkan semua perasaannya, termasuk dengan Aksa yang jatuh cinta pada seorang anak kecil.
Awalnya Silvana berusaha merubah sudut pandang Aksa, bagaimana mungkin ia bisa jatuh cinta pada gadis berumur 5 tahun saat ia sudah hampir masuk umur 17 tahun, bukankah ini sudah mengarah ke pedofilia pikir Silvana. Tapi Aksa rupanya tidak punya ketertarikan seksual pada anak itu, ini seperti cinta platonik, Aksa membutuhkan gadis itu untuk hatinya namun dia menghilang, Aksa sama sekali tidak tahu gadis kecil itu ada dimana.
Hal yang membuat Aksa menginginkan anak itu hingga dia mau menunggu, karena hanya dengan anak itu saja Aksa bisa menjadi dirinya sendiri, setiap hari Aksa harus memakai topeng untuk terlihat seperti baik-baik saja, pertahanan dan aktingnya sempurna, bahkan Aini dan Bram tidak pernah menyadari seperti apa perasaan Aksa, tapi tidak dengan gadis kecil itu. Pertahanan Aksa sejak masuk ke keluarga Bram hancur kurang dari 5 menit. Hanya anak itu yang mampu membuat Aksa kembali menjadi manusia. Silvana tau itu, besarnya cinta calon anak sambungnya itu kepada gadis kecil yang sudah lama ia tunggu, karena Aksa sudah bertekad bila menemukan gadis itu dia akan memastikan, bahwa anak itu akan jadi istrinya kelak.
"Hah, gak mungkin ka, gak mungkin..." jawab Silvana dengan wajah tidak percaya.
"Aksa juga gak mau percaya ini, tapi pas papa bawa album foto Claudia yang tante pinjemin, anak perempuan itu yang Aksa cari selama ini....coba tante liat...ini Claudia kan"
Sebuah foto gadis kecil dengan kimono lengkap dengan hiasan rambutnya, gadis kecil inilah yang ditemui Aksa waktu itu.
"Ini foto Claudi waktu shichi-go-san....."
"Anak ini yang selalu Aksa ceritain sama tante..."
Silvana berdiri dan langsung terhuyung berjalan kearah kursi, kepalanya pusing. Sekarang dia sudah tidak bisa mengira Aksa salah sangka, kalau yang Aksa maksud sebagai "Aliadna" adalah Claudia yang ada di foto itu berarti memang Aksa jatuh cinta pada putrinya.
"Tante, tante tau sejak mama meninggal, Aksa bisa bertahan karena anak ini...tante tau kan berapa kali Aksa mau mengakhiri hidup Aksa. Kalau bukan karena Claudia yang selalu ngeyakinin kalo semua bakalan baik baik aja, mungkin Aksa, sekarang Aksa..." Aksa berdiri dan bersimpuh kembali di depan Silvana.
"Shuuuut udah nak, udah...tante tau gimana luka batin yang kamu tanggung..."
Aksa dan Silvana kini berpelukan dan menangis bersama, kenapa tiap kali ada hal baik harus di barengi dengan ujian seperti ini. Silvana sudah berusaha memaafkan Bram, dan berjanji pada Aini untuk menjadi istri dan ibu bagi keluarganya, saat ini bahkan rasa cintanya kepada Bram juga sudah kembali, namun ini akan sulit bagi Aksa untuk menerima dirinya. Dia tahu seberapa besar beban hidup anak ini, dan tahu seberapa besar Aksa membutuhkan sosok Claudia di hidupnya.
Nesya yang sedari tadi mendengar pembicaraan Aksa mencoba untuk tenang, ia menarik nafas panjang dan akhirnya keluar dari dapur.
"Na.."
"Aksa...dengarkan eyang, biarkan papa mu menikah dengan tante Silvana..." Nesya kini duduk disamping Silvana, ia memegang bahu Aksa yang sedang menangis.
"Tapi eyang..." Aksa tau ini egois, tapi dia juga tidak bisa terima statusnya sebagai kakak tiri dari gadis yang dia cintai selama ini.
"Sebagai gantinya, Ana kamu biarkan Aksa mendekati Claudia"
Silvana dan Aksa kaget, apa mereka tidak salah dengar. Bagaimana mungkin bisa seperti itu, dalam hal ini harus ada salah satu hubungan yang di korbankan, dan Silvana sudah siap untuk berkorban perasaan kembali.
"Ibu..."
"Aksa dengarkan eyang, kalo kamu mau terlepas dari omongan orang dan mempermudah jalan hidup kamu supaya bisa bersama Claudia, bangun usahamu sendiri. Jangan bergantung dari papa mu."
"Eyang..."
"Jika suatu hari, Claudia menyambut perasaan kamu. Apa kamu sanggup keluar dari keluarga Priambudi?" tanya Nesya dengan wajah serius.
"Aksa sanggup eyang, dari awal keluarga itu memang bukan tempat Aksa"
Tanpa ragu Aksa mengiyakan, dia memang tidak suka dengan keluarga yang sudah membesarkannya itu, selama ini dia berusaha sebaik mungkin untuk diterima tapi tetap saja itu sia-sia. Hanya Bram dan Aini yang menerimanya, namun Bram pun tidak bisa apa-apa, kalau sudah menyangkut keluarga besarnya.
"Bu, ga segampang itu dong?, gimana dengan Mami dan yang lainnya"
"Na, kamu tau kita ga akan mati karena orang berpikiran jelek soal kita, biarin aja toh mereka ga ada urusannya sama kita, kalo soal masalah Indah mau gimana pun dia memang ga suka sama Aini dan Aksa, jadi ga akan bedanya"
"Tapi bu, ini bakalan jadi beban yang ngancurin kehidupan Aksa nantinya..."
"Gak ada satu pun beban yang bisa menghancurkan hidup seseorang, selama orang itu memikul beban hidup dengan benar, kekuatan dan pengalaman hidup yang akan dia dapat bukan kehancuran. Sekarang kamu ikutin aja kata ibu, ini win win solution, lagi pula belum tentu Claudia bakal nyambut perasaan Aksa"
Aksa dan Silvana terdiam, saat ini Nesya berusaha memberikan solusi yang menguntungkan bagi anaknya dan Aksa. Bagi Nesya saat ini Silvana harus menikah dengan Bram, hidup putrinya itu membaik setelah bertemu kembali dengan Bram, ia tidak mungkin membiarkan Silvana mengalah demi Aksa.
Akan tetapi satu sisi lain dia tahu betapa berat hidup Aksa, ia juga ingin anak itu hidup bahagia, karenanya dia ingin memberikan kesempatan bagi Aksa mencoba mendapatkan apa yang ia impikan, toh belum tentu juga cucu kesayangannya itu akan menerima cinta dari Aksa.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu apalagi yang harus di khawatirkan? Cuman eyang mau kamu janji sama eyang"
"Janji apa eyang?"
"Dengar Aksa, jangan pernah meniduri Claudia sebelum kamu resmi menikah dengan dia. Paham tidak ?"
Aksa mengangguk beberapa kali, ia tampak sangat senang walau air matanya masih mengalir, tapi kali ini air mata bahagia yang ia keluarkan. Sejujurnya beberapa hari lalu, ia sempat berpikir tidak mungkin mendapatkan penyelesaian seperti ini, ia hanya tau salah satu dari mereka harus menyerah. Betapa leganya hati Aksa, saat calon eyangnya memberi win-win solution untuk masalah ini.
"Iya Eyang...Aksa janji gak akan nyakitin Claudia, dan juga gak akan ngehancurin Claudia. Selesai Claudia SMA, Aksa minta ijin sama tante dan eyang untuk menikahi Claudia, bolehkan tante??"
Silvana memijit kepalanya, sepertinya ia memang harus mengikuti saran dari ibunya. Melihat wajah Aksa yang sangat cerah sekarang plus dengan senyumannya yang tampan itu.
"Kalo Kakak bisa janji untuk lakuin yang eyang tadi bilang ke kakak, dan gak memaksa Claudia untuk jadi milik kamu, tante kasih ijin"
Aksa langsung berdiri dan memeluk erat Silvana juga Nesya yang ada didepannya, ia sangat senang. Perlahan Aksa melirik kearah foto Claudia yang ada di dinding ruang tamu.
"Makasih banyak tante, eyang..."
Nesya menutup matanya, dan membiarkan lamunannya tentang masa lalu berakhir.
"Tapi aku gak yakin bu Aksa udah seakrab itu sama ade, kan ibu tau mereka udah kaya kucing sama tikus, berantem terus" seru Silvana.
"Aksa itu kelihatan banget ngerjain ade karena pengen ade kepikiran terus sama dia, keliatannya dia pengen ngebuktiin kalo rasa bencinya Claudia itu bisa berubah jadi cinta"
Silvana yang sedang menenggak minumannya terhenti, analisa ibunya dan Bram sama persis.
"Bu, kok ibu bisa mikir gitu"
"Nak, ibu udah hidup lebih lama daripada kamu, lagipula ibu memperhatikan gerak gerik Aksa" jawab Nesya sambil tersenyum.
"Uhmmm, iya sih bu...tapi situasi dirumah setelah Aksa operasi udah lumayan nyaman kan bu"
"Iya ya, kita berdoa aja kondisi aman kaya gini bakal berlangsung terus. Kalo emang gak terpaksa ibu pindah lagi kerumah ibu sama Claudia, mendingan begitu kan Na..?"
"Iya bu..oh iya bu aku ada janji sama Mas Bram jadi nanti ibu di anter sama pak Ujang aja pulangnya, aku drop di café deket kantor mas Bram aja, tar aku pulang sama si Rizky"
"Yaudah kalo mau gitu, emang ada apa sih sampe tiba tiba janjian gitu"
"Itu bu Zen mau pulang ke Indonesia, terus Keiko ngajakin ketemuan ber 5"
"Zen pulang? Lah terus kamu baru tau Na? Coba nanti ibu telepon Gilna deh"
Silvana langsung menggenggam tangan ibunya, dia enggan memberi kabar mantan mertuanya, karena sejak awal kondisi kesehatan ibu dari Zen itu, tidak lebih baik dari Nesya.
"Udah bu gak usah, kasian mama banyak pikiran"
Nesya hanya menggelengkan kepala, ia sulit memahami apa yang dilakukan oleh Silvana. Padahal perceraian mereka tidak sepenuhnya salah Zen, lalu kenapa Silvana bersikeras tak ingin Claudia bertemu Zen lagi.
"Ana ana, ibu kan udah pernah bilang sama kamu, yaudah toh, lupain aja masa lalu, apa yang Zen lakuin ke kamu ga sepenuhnya salah dia, kamu juga ngelakuin kesalahan yang fatal nak, niat Zen baik tapi kamu sambut begitu, kalau aja waktu itu kamu dengerin Zen untuk jangan maksain diri anakmu ga akan bernasib begitu"
"Bu...." Silvana seperti memohon kepada ibunya untuk tidak menyalahkannya.
"Ibu ngomong serius sekarang, kamu ga boleh egois gitu Na, apa kamu gak liat Claudia sampe down begitu. Ibu gak mau kehilangan cucu ibu satu-satunya Na. Kamu tanya ke Bram pun pasti dia jawab sama kaya ibu"
Nesya kesal dengan putrinya yang kerasa kepala, ia yakin menantunya Bram akan memberikan saran yang sama dengan dirinya.
"Yaudah, bu aku coba tanya dulu sama mas Bram. Gimana pun sekarang dia bapaknya Claudia juga"
"Monggo, tapi kalo sampe Bram juga ngomongnya sama kaya ibu, inget kamu harus ikutin kata suami mu."
"Iya bu..."
__ADS_1