ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 21


__ADS_3

"Sayang... ayo bangun sayangku..." Aksa berusaha membangunkan gadis yang kini masih tidur dalam pelukannya itu.


"5 menit lagi bunda...." Jawab Claudia dengan mata yang masih tertutup.


Aksa tertawa, ia sangat senang melihat tingkah laku Claudia di pagi hari. Pria itu juga jadi malas untuk bangun, beberapa kali ia memainkan rambut Claudia, berusaha membangunkan gadis itu, namun hasilnya nihil.


'Di, kenapa kamu imut banget. Sabar, sabar Aksa, jangan lakuin apapun sekarang, orang sabar disayang tuhan' gumam Aksa sambil mengelus dadanya.


"Claudia, kalo gak mau bangun juga nanti kamu aku makan nih..." ujar Aksa. Bukannya bangun, gadis itu malah menarik Aksa kepelukannya.


"Sarapan...roti..." seru Claudia lirih.


Aksa langsung melihat kearah gadis itu, wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Claudia saat ini meraba ke perutnya yang sixpack itu, apa dia kira Aksa roti sobek ya?, entahlah yang pasti Claudia membuat Aksa sungguh mati langkah, pria itu hanya bisa tersipu malu seperti anak muda yang baru puber.


'ASTAGA INI ANAK, SIAPA YANG MAU SARAPAN SIH, DUH GW SERANG JUGA DAH NIH' ucap Aksa dalam hati.


Ok, kalau menakut-nakuti Claudia tidak ada gunanya, maka mari lakukan cara itu. Aksa kini memposisikan tubuhnya di atas tubuh Claudia, ia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Claudia, ia berniat mencium gadis itu.


'GUBRAK' Aksa terjatuh dari tempat tidur. Alasannya, Karena tiba-tiba Claudia melotot, Aksa kaget bukan main. Kondisi gadis itu sudah persis karakter di film horror, dimana pemainnya kesurupan atau sebagainya. Dan sekarang Claudia, sudah tidak berbaring lagi, tapi duduk dan memiringkan kepalanya sambil melihat kearah Aksa, gadis itu juga masih setia membuka mata selebar-lebarnya.


"De....A....adee...." Aksa sudah bersiap untuk mendekati Claudia kembali, sampai gadis itu tiba-tiba berdiri diatas kasur dan turun secara perlahan.


"De....kamu mau kemana....." seru Aksa yang tetap tidak di jawab oleh Claudia, karena penasaran Aksa hanya mengikuti kemana gadis itu, hingga beberapa kali tubuh Claudia membentur pintu. Ada yang aneh, jadi akhirnya Aksa pun membukakan pintu bagi Claudia, masih terus mengikuti gadis itu karena penasaran, hingga arah gadis itu tidak lain dan tidak bukan adalah kamarnya sendiri. Aksa pun sekali lagi membuka kan pintu kamar adiknya itu, dan ya Claudia saat ini menjatuhkan tubuhnya tepat di atas kasur.


Baiklah, ini hal baru Aksa harus mengingatnya, Claudia punya kebiasaan aneh, pemuda itu sepertinya harus bertanya kepada Silvana soal gadisnya itu. Tentu saja Aksa masih kaget, dia tidak menyangka bahwa hari ini akan dimulai dengan kejadian yang lumayan horror.


Aksa pun menutup pintu kamar Claudia, kembali ke kamarnya untuk bersiap sarapan pagi lalu berangkat kerja.


Yang tidak ia sadari adalah Bram melihat Aksa menutup pintu kamar Claudia, pria itu sepertinya harus mengintrogasi putranya itu nanti. Ini masih subuh, apa yang dilakukan Aksa di depan kamar Claudia.


Beberapa jam kemudian, Bram, Silvana, Nesya, dan juga Claudia sudah berkumpul di meja makan. Hanya Aksa yang belum turun dari kamarnya sedari tadi, padahal sudah jam 6 pagi.


"De, lusa kamu udah mulai masuk sekolah kan?" tanya Bram berusaha memulai pembicaraan.


"Hmmmm iya..." jawab Claudia sambil meminum jusnya.


"Kalo gitu mulai lusa depan biar Reiki yang jemput kamu buat pergi ke sekolah, dia udah minta ijin sama papa dan bunda" seru Bram.

__ADS_1


Aksa mendengar apa yang dikatakan oleh papanya, dia pun langsung bergegas mendatangi orang tuanya itu untuk protes.


"HAH APA-APAAN SIH PA..." Aksa mengerutkan dahinya, ia berusaha untuk bersikap tenang sebisa mungkin, tapi ia tetap menampakan ketidak setujuannya pada Bram. Sedangkan Claudia langsung berhenti mengunyah saat mendengar suara pria itu, entah kenapa ia merasa malu saat mendengar suara Aksa. Ok siapa yang tidak, Claudia tadi malam sudah melanggar janjinya pada Reiki, sekarang rasanya ia ingin membenturkan kepalanya di tembok.


"Lho emang kenapa ka?, ada yang salah kalau ade dianterin sama calon suaminya?" tanya Bram dengan nada datar.


"Ya salahlah pa, ngapain coba Claudia dianterin itu manusia, biar Aksa aja yang anterin Claudia, satu arah juga" Aksa berjalan dan kini duduk disamping Claudia. Tidak ada senyum sama sekali dari gadis itu, bahkan wajah Claudia sudah pucat pasi, melihat perdebatan kecil antara Aksa dan Bram.


"Gak, biarin Reiki aja. Itu udah kewajibannya dia sebagai tunangannya Claudia" Bram sangat curiga pada putranya itu, kenapa firasatnya tidak enak, apa yang sebenarnya terjadi dirumahnya tanpa ia ketahui.


"AKSA GA SETUJU PA!!!" Aksa menggebrak meja makan, dan membuat semuanya langsung berhenti makan. Claudia malah sangat terkejut sampai tersedak makanannya sendiri.


Dengan cepat Nesya memberikan cucu kesayangannya itu air putih. Nesya langsung melirik kearah Silvana, berusaha memberikan kode agar Silvana menghentikan kedua orang lelaki itu, dia takut terjadi pertengkaran antara kedua orang tersebut.


Silvana hanya menggeleng kepada ibunya, ia berusaha memberitahu kepada ibunya, untuk menunggu. Perempuan itu penasaran, kenapa Bram tiba-tiba melakukan semua ini, idenya tadi soal antar jemput itu diluar kebiasaan, pasti ada pemicunya, dan Silvana masih ingin tahu apa yang dipikirkan oleh suaminya itu.


Hal yang aneh malah membuat Claudia jadi tidak nyaman, ayah sambungnya sedari tadi tidak tersenyum, bahkan setelah Aksa menggebrak meja, Bram masih tidak bergeming dan melanjutkan makannya seperti tidak terjadi apapun.


"PA!, PAPA DENGER AKSA GAK SIH?! AKSA GA SETUJU ADE DIANTERIN SAMA REIKI !!!" Sekali lagi Aksa menggebrak meja, tapi Bram menatap anaknya itu dengan tatapan super dingin, dia tidak terpancing emosi sama sekali. Yang tidak diketahui oleh orang-orang itu saat ini adalah, Bram berusaha meredam amarahnya, Silvana yang mengetahui bahwa suaminya sedang sangat emosi pun mengelus punggung suaminya itu tanpa terlihat oleh Aksa, Claudia, ataupun Nesya.


"Ga ada yang nanya kamu setuju apa gak?" seru Bram, sambil mengambil Koran yang ada di depannya, berusaha mengalihkan fokusnya agar tidak terlalu kesal kepada Aksa.


Aksa mengepalkan tangannya, dia benci untuk mengakui, tapi memang dia tidak bisa mengontrol amarahnya yang sering kali meledak-ledak itu, entah sejak kapan dirinya berubah, jadi seperti ini. Aksa sadar sikapnya yang seperti adalah kelemahan terbesarnya, namun bagaimana lagi ini soal gadis kesayangannya, dia tidak peduli lagi apa kata orang-orang soal dirinya.


"Ok, kalo itu mau papa...tapi jangan salahin Aksa kalo ujung-ujungnya Aksa bakal nyulik Claudia di tengah jalan, biar dia pergi bareng sama Aksa" seru Aksa sambil melihat kearah Claudia dengan tersenyum.


Claudia tidak suka melihat wajah Aksa yang tersenyum seperti itu kepadanya, dia jadi ingat apa yang mereka lakukan kemarin malam. Rasanya Claudia ingin kabur saja sekarang, karena ia yakin saat ini wajahnya pasti memerah seperti tomat.


"Apaan sih ka?!" sentak Claudia marah, apa yang dilakukan gadis itu membuat Aksa jadi sebal.


"Udah kamu diem aja de, kakak gak suka kamu pergi berduan sama lelaki yang bukan siapa-siapa kamu !" seru Aksa pada Claudia, yang hanya dibalas oleh gadis itu dengan memutarkan matanya.


Bram malah mendapatkan ide, kalau Aksa sibuk maka tidak mungkin dia bisa mengurusi Claudia. Ketimbang dia fokus kepada adiknya itu, lebih baik moment seperti ini Bram pergunakan untuk mendekatkan Aksa dan Syakilla. Kedua orang itu harus sering bertemu, setidaknya jika Aksa terus menerus melihat Syakilla pasti akan ada perasaan terbiasa.


"Daripada kamu ngurusin Claudia, bagus kamu anter jemput Syakilla juga dari sekarang"seru Bram sambil menaruh Koran yang tadi ia baca.


Kali ini malah Silvana yang melotot, tidak percaya pada pemikiran suaminya itu. Dia benar-benar tidak suka pada Syakilla, baginya gadis itu terlalu mengerikan, seseorang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang dia mau.

__ADS_1


"Mas..." seru Silvana, yang tidak di balas apapun oleh Bram.


"Gak, Aksa gak mau..." Aksa menolak dengan tegas, ia tahu akal bulus papanya ini, tidak lain dan tidak bukan untuk mendekatkan dirinya dengan Syakilla.


"Syakilla itu tunangan kamu, setuju atau gak, dia tetap tunangan kamu, dan suka atau gak kamu akan tetap nikah sama dia nantinya" Bram tidak mau tau Aksa setuju atau tidak, yang ia inginkan adalah Aksa mengikuti apa yang ia mau.


Claudia terdiam, kepalanya pusing mencerna apa yang dikatakan oleh Bram. Ia mungkin berusaha untuk mengelak dari kenyataan, tapi jika Bram sudah menegaskan seperti ini Claudia bisa apa, lagipula hubungannya dengan Aksa memang sangat mustahil, tidak mungkin bisa berhasil.


Aksa sepertinya menyadari perubahan sikap Claudia, gadis itu langsung menaruh sendok makannya, ketika Bram membahas soal Syakilla. Tanpa dipandu Aksa langsung mengenggam tangan kanan Claudia yang berada persis disampingnya, dan tentunya tanpa disadari oleh siapa pun, kecuali gadis itu.


Claudia berusaha menghempaskan tangan Aksa secara perlahan, tapi genggaman tangan pemuda itu, lebih sulit dilepaskan ketimbang lintah yang menghisap darah. Karena kesal akhirnya gadis cantik itu mencubit tangan Aksa dengan tangan kirinya. Aksa terkejut dan dengan reflek menarik tangannya secara perlahan, sedangkan Claudia dengan hati galau meneruskan makannya kembali.


"Lagipula papa mau tanya, kenapa tadi pagi kamu didepan kamarnya Claudia, pintunya kebuka lagi"


Kali ini Claudia tersedak lagi, dia bahkan sampai terbatuk beberapa kali, sedangkan Aksa juga tidak bisa memberikan jawaban sama sekali. Ia lebih fokus menepuk punggung mungil Claudia, dia khawatir pada gadis itu, namu setengah alasannya yang lain karena dia berpikir bahwa ayahnya melihat Claudia keluar dari kamar Aksa.


"Kenapa kamu diam ? kok ga di jawab pertanyaan papa?" tanya Bram yang sekarang memandang serius ke anak lelakinya itu.


"Itu..." Aksa mulai buka suara, melihat gelagat Aksa yang aneh, Nesya langsung berusaha menyela cucunya itu.


"Bram, paling si Claudia tidur jalan, kan kebiasaannya dia dari kecil itu tidur jalan sambil buka mata" jawab Nesya sambil mengambil selai di depannya, apapun yang terjadi sebenarnya, ingatkan Nesya untuk bertanya kembali kepada Aksa nanti.


"Bener gitu de?" Bram baru tahu anak gadisnya itu punya kebiasaan seperti itu, tapi ini hal yang baru, dia pun secara diam-diam menghela nafas, merasa sedikit tenang. Sejujurnya Bram takut Aksa melakukan hal yang tidak-tidak pada Claudia, karena Bram sepertinya bisa melihat bahwa Aksa tertarik pada Claudia, tapi tidak sebagai seorang adik.


Hal ini memang masih harus di buktikan, tapi mendengar apa yang diucapkan oleh ibu mertuanya itu membuat dirinya bisa bernapas lega.


"Biasanya ga kumat, tapi kalo dia stress atau kecapean banget dia pasti begitu, jadi wajar. Mungkin tadi subuh Claudia ga sengaja keluar kamar, padahal dia masih tidur" Jelas Silvana, dia seakan menegaskan kondisi yang memang sedari dulu sering Claudia lakukan, tanpa sadar. Aksa pun juga jadi ikut memperhatikan, karena jujur memang dia sangat kaget dengan kebiasaan Claudia yang cukup aneh itu.


"Iya pa, bunda bener...tadi pagi Aksa kaget soalnya ada yang ngegedor pintu kamar Aksa, ternyata pas Aksa buka si ade lagi benturin kepalanya, mana matanya kebuka lagi serem banget kaya zombie, terus Aksa balikin aja ke kamarnya. Wong Aksa kira dia kesurupan macem di film horror gitu"


Claudia benar-benar malu, Aksa berbohong, sudah jelas dia tahu kenapa tadi malam Claudia bisa kembali kepada kebiasaan lamanya, karena kesal akhirnya gadis itu mencubit lengan Aksa dengan sekuat tenaga.


"SAKIT...Apa-apaan sih de?!!!"


"Nih makan nih zombie!!" Claudia mulai menggigit lengan Aksa, hingga Aksa berlari meninggalkan meja makan, dan Claudia terus mengejar Aksa.


Bram dan yang lain tertawa, tapi tetap saja tawanya tidak selepas biasanya. Dia benar-benar harus memantau Aksa lebih ketat dari sekarang.

__ADS_1


__ADS_2