
Claudia melangkahkan kakinya dengan cepat, wajahnya pucat saat masuk kedalam rumah. Ia terkejut mendengar kabar kalau Hana pingsan, bahkan sempat hilang.
“Non Claudia…” panggil bi Sumi dengan wajah panik.
“Bi !! Hana gimana kondisinya?!!!” tanya Claudia.
“Non Hana masih belum bangun non”
Mereka pun lalu bergegas, begitu sampai di kamar Hana semua orang tengah berkumpul didalam kamar gadis kecil itu. Claudia lantas tanpa basa-basi langsung memasuki kamar Hana.
“Claudia darimana kamu? Kami semua khawatir tau gak ?!” ucap Nesya, eyangnya ini kesal karena meskipun ia menanyakan kemana Claudia pergi, Aksa tidak menjawab sepatah kata pun.
Claudia pun menatap Aksa yang berada di belakang Nesya, sambil menggelengkan kepalanya.
Ia pun langsung mengerti kalau Aksa tidak ingin ada yang tahu, jika tadi istrinya itu datang berkunjunga. Urusan tuan putri kecilnya saja belum beres, dia tidak ingin membuat masalah tambah besar.
“Tadi Icha sama anak-anak telepon ade, kan dari ade pulang belum pernah ketemuan sama sekali”
Claudia berbohong? tidak juga. Setelah ia membereskan urusannya dengan Syakila, gadis ini langsung pergi ke tempat teman-temannya berkumpul.
Mereka rindu Claudia, tapi karena permasalahan yang cukup membuat pusing setelah kepulangan Claudia ke tanah air, makanya rencana temu kangen mereka pun harus di tunda dulu beberapa saat.
“Hana kok bisa pingsan bun?” tanya Claudia, sembari mengecek suhu tubuh gadis kecil itu dengan tangannya.
“Bunda gak tau, dia hilang tadi. Kami semua sampe kelimpungan cari dia, kamu juga tadi di telepon ga diangkat” seru Silvana.
Claudia tersenyum tipis, ia memang sengaja menonaktifkan ponselnya. Ia khawatir kalau tadi ia tidak mematikan teleponnya, pembicaraannya dengan Syakila akan terganggu.
“Tadi handphone ade lowbatt bunda, baru di charge pas sampe cafénya si Melvin. Keasikan ngobrol jadi lupa di hidupin…”
“Jangan kaya gitu lagi lain kali…”
“Iya bunda”
Selama beberapa saat Claudia tidak bicara apapun, walaupun ia tahu Aksa sudah sangat penasaran dengan pertemuannya dan Syakila tadi.
“Ini gak bisa dibiarin nih, mas kita telepon Reiki aja ya” ucap Silvana.
Mata Aksa langsung terbelalak mendengar ucapan bundanya. Kenapa mesti memanggil Reiki kesini? Sudah jelas padahal Aksa benci sekali pada Reiki, sekarang orang tuanya malah ingin membawa orang itu kesini.
“Bunda Aksa gak setuju, kenapa harus bawa orang itu kesini sih !!!” ucap Aksa tidak suka.
“Terus gimana? Apa kita biarin aja Hana pingsan ga bangun-bangun gini?!! Papa mau bawa ke rumah sakit dari tadi gak kamu kasih ka, mau kamu itu apa?!. Papa sama bunda takut kalau cucu kami sampai kenapa-kenapa, kamu paham gak sih?!” Bram marah.
Sejak tadi sebenarnya dia ingin membawa Hana ke rumah sakit, hanya saja Aksa tidak memberikan ijin. Tentu semuanya bingung kenapa Aksa tak mau membawa Hana untuk di periksa.
Di sisi lain, tubuh Claudia tiba-tiba bergetar hebat begitu nama Reiki disebut, belum lagi menyadari respon Aksa yang terlihat berlebihan, saat nama kakak sepupunya disebutkan oleh Silvana.
Sesaat ia jadi mengingat pembicaraannya dengan Syakila tadi siang. Gadis ini lalu menatap wajah Hana yang terlihat pucat, ia kasihan pada Hana yang harus hidup dilingkungan toxic.
‘Hana lebih penting, sekarang bukan saatnya memikirkan hal yang belum terjadi. Kalau dibiarin kasihan Hana’ gumam Claudia dalam hati.
Dengan cepat Claudia membuang jauh-jauh pikiran buruknya, bagaimanapun semua yang sudah terjadi tidak bisa diulang lagi, cuma bisa diperbaiki. Bagaimana caranya ? entah, dia tidak tau. Tidak mudah membuang kebencian seseorang.
“Biar aku telepon ka Reiki…” Claudia mengepalkan tangannya. Ia lalu keluar meninggalkan kamar Hana.
__ADS_1
“DE !!!”
Aksa tentu mengejar Claudia keluar kamar Hana, jelas dirinya tak suka kalau putri kecilnya harus diperiksa oleh Reiki, apa bundanya tidak bisa.
“ADE !!!”
Melihat Claudia tengah berusaha menghubungi Reiki, Aksa langsung menarik tangan adik sambungnya itu.
“ADE !!” teriak Aksa.
Aksa segera merebut ponsel Claudia, mematikan panggilannya lalu menarik tangan Claudia. Mereka berdua semakin menjauh dari kamar Hana.
“Kak !”
Claudia pun menarik tangannya dari Aksa, membuat pria itu menghentikan langkahnya.
“Siapa yang kasih izin kamu buat ngehubungin orang itu ?!” ucap Aksa emosi, pria itu menatap Claudia dengan tatapan tajam, sembari mengecengkram kedua lengan Claudia.
“Apa-apaan sih ka?! Aku mau telepon ka Reiki, apa kakak gak denger yang di bilang bunda tadi ?”
Tentu Claudia tidak suka dengan sikap Aksa yang seakan anti mendengar nama Reiki. Memang wajar jika Aksa tidak menyukainya, tapi ini seakan tidak adil bagi Claudia. Apa Aksa tidak sadar, bahwa dirinya juga punya andil dalam kegagalan hubungan mereka dimasa lalu.
Terlebih saat ini ketimbang mengkhawatirkan Claudia bertemu lagi dengan Reiki, Hana lebih penting.
“Ka!! Apa kakak tega cuma demi ego kakak, kakak korbanin Hana?, kalau kaya gini apa bedanya kakak sama Syakila?!”
Aksa terdiam, ia tahu ini egonya tapi apa salah?. Ia tak ingin bertemu dengan Reiki, tidak setelah ia mengetahui kalau Claudia sempat tinggal dengan pria itu selama bertahun-tahun. Amarahnya begitu besar, ia bahkan ingin membunuh Reiki kalau bisa.
“Ka, aku gak minta kakak memaafkan ka Reiki, gak sama sekali kak. Memaafkan bukanlah hal yang mudah, tapi kakak juga gak bisa menampikan kalau kakak tidak punya kesalahan juga…”
“Tapi de…”
Belum sempat Aksa melanjutkan perkataannya, Claudia langsung mengangkat tangannya. Gadis ini sudah lelah mendengar alasan Aksa.
“Aku ga ada niatan mojokin kakak, aku ngomong gini supaya kakak bisa memprioritaskan hal-hal penting ketimbang ego diri sendiri. Kakak harus tau kalau setiap manusia itu bisa berbuat kesalahan. Wajar kalau kita ga bisa menerima, tapi bukan berarti kita harus memupuk kebencian berlarut-larut kak”
Rencana Syakila dan Reiki memang sejak awal merugikan mereka, tapi itu bukan 100% kesalahan mereka. Ada salah Aksa dan Claudia juga disana, karena mereka mau saja mengikuti permainan kedua orang itu, terlebih Aksa.
Pria itu dengan sadar menyerahkan dirinya sendiri, untuk terjun langsung menghancurkan apapun yang sudah mereka miliki. Aksa tau dan mau membuat Claudia cemburu padanya, sampai-sampai tidak sadar kalau sebenarnya apa yang dilakukannya sia-sia.
Sedangkan untuk Claudia, dia terlalu terbawa emosi sesaat. Ketika mau kembali dan menghentikan seluruh keputusannya yang berhubungan dengan Reiki, semua sudah terlambat.
Mereka seharusnya bisa belajar dari apa yang sudah terjadi, membenci orang yang sudah membuat kita menderita tanpa melakukan apapun untuk menumpas keburukan dalam hati juga, bukanlah hal yang baik.
Bagaimana mau menjadi manusia yang lurus, kalau hidup saja masih terus menerus di rusak oleh ego dan juga api didalam hati, cuma hal-hal negative yang tercipta, sedangkan hal positif di dalam otak dan batin mereka pada akhirnya pasti akan habis tanpa tersisa, karena terus memikirkan hal buruk dimasa lalu.
“Apa kakak gak sadar, semakin dalam kakak membenci seseorang, semakin rusak juga pikiran positif kakak. Kita hidup bukan untuk menanam kebencian ka. Kakak lihat Hana, ibu kandungnya seperti itu, dipenuhi oleh rasa iri, dan dendam gak berujung. Sedangkan ayahnya juga menyempitkan hatinya sendiri, apa yang bisa di tiru dari orang tua yang seperti itu kak? Apa Hana harus belajar jadi pendendam juga?, karena ayah dan ibunya tidak bisa melapangkan hati mereka?”
Tidak ada yang tahu soal masa depan, entah Claudia bisa bersama dengan Hana atau tidak. Namun hanya satu hal pasti akan terjadi pada Hana, gadis itu cuma punya ayahnya.
Dari pertemuannya dengan Syakila tadi, dengan mudah Claudia bisa melihat masa depan Hana tanpa perempuan itu. Jelas bagi Syakila ia tidak menginginkan gadis manis kesayangan Aksa tersebut.
Baginya, Hana adalah alat. Sejak awal sampai akhir sebagai alat, gadis kecil itu harus bermanfaat bagi Syakila. Istri kakaknya itu jelas sudah tak waras, jadi apalagi yang bisa diharapkan dari orang yang sudah tak waras seperti itu.
__ADS_1
Jelas bagi Hana, hanya Aksa yang bisa dijadikannya sosok panutan dan juga sebagai seseorang yang memberikan rasa aman. Tentu itu bukan tugas yang mudah untuk Aksa, tapi mau tak mau dia harus melakukannya, semuanya demi Hana, demi masa depan gadis kecil kesayangan mereka semua.
Lain Claudia, lain pula Aksa. Sebenarnya Aksa bukannya tidak sadar, tapi hatinya masih sangat sakit. Ia tahu bahwa ada andilnya dalam semua kejadian buruk yang menimpa Claudia, tapi kenyataan bahwa Reiki dengan nyamannya bisa menghabiskan waktu selama bertahun-tahun dengan gadis pujaannya, merupakan pukulan telak. Harapan terbesarnya untuk memiliki Claudia, seakan dicuri dengan mudahnya oleh Reiki.
“Kamu gak ngerti de…kamu bener-bener ga paham perasaan aku…”
“Aku paham ka, apa kakak pikir setelah aku keluar dari kamar kakak di hari pernikahan itu, hatiku ga hancur sama sekali ?”
Apa harus di jelaskan?, Claudia tak sekuat yang orang lain kira. Dia hanya berusaha untuk tetap bertahan hidup, untuk terus berjuang walaupun sudah tidak tau harus apa.
Yang dia tahu dirinya masih bisa bernapas, walaupun semuanya terasa menyesakan. Yang dia sadari dirinya masih bisa bergerak, walaupun seluruh tubuhnya terasa kebas, dan yang dia impikan hanya untuk hidup damai untuk itu ia harus memperjuangkannya.
“Bukan cuma kakak yang merasa hancur karena kita ga bisa bersama. Tapi, aku gak bisa terus-terusan berkutat dimasa lalu kak, aku masih punya kehidupan untuk di jalani, yang kalau aku menyerah aku bahkan gak tau itu akan baik atau buruk.”
Aksa yang mendengar bahwa Claudia sama sekali tidak baik-baik saja selama berjauhan dengannya, langsung menarik tubuh gadis itu kedalam pelukannya.
“Claudia…aku…aku…”
Claudia tahu bahwa Aksa ingin membahas semua hal yang terjadi selama dirinya absen disisi gadis itu, namun Claudia tak ingin membicarakannya. Perlahan gadis itu mendorong pelan tubuh Aksa agar menjauh darinya.
“Gak kak…kita bicarakan soal ‘kita’ nanti, sekarang yang terpenting Hana…”
Aksa pun tersenyum, menganggukan kepalanya. Saat ini ia harus menekan egonya demi Hana. Apa yang dikatakan Claudia tadi membuatnya tersadar bahwa sekarang ia harus bertanggung jawab untuk hidup putrinya.
Rasa tenang kembali kedalam hati Aksa, namun tidak dengan Claudia. Gadis itu kembali memeluk tubuh pria yang tak bisa dilupakannya tersebut.
‘Ini yang terbaik…karena memang belum saatnya ka Aksa tau tentang kebenarannya…’ gumamnya dalam hati.
Claudia pun menutup matanya, dan mengingat apa yang terjadi dengannya dan Syakila tadi.
“Ahahahaha Claudia kamu ini bener-bener gak paham atau pura-pura bodoh sih?” ucap Syakila sambil terpingkal-pingkal.
Tentu Claudia bingung, baginya tidak ada yang lucu. Kenapa perempuan itu tertawa terbahak-bahak begitu.
“Bisa gak kamu jangan muter-muter gitu ngomongnya? Saya bingung !”
Claudia mengernyitkan dahinya, perempuan yang ada didepannya itu memang sudah gila.
“Hmmm ok ok, gimana kalau kita mulai dengan membayangkan kalau Aksa dan seluruh keluarga kamu, tau soal kamu yang menutupi kejahatan Reiki??? Menurut kamu apa yang bakalan dilakuin Aksa saat dia tahu, kalau kamu juga mengkhianati dia, demi Reiki?”
Didalam benaknya pikiran gadis itu berkecamuk.
‘Aku harus segera memikirkan cara lain supaya Syakila gak membongkar semuanya, sebelum aku jujur sama ka Aksa. Aku ga tau apa yang akan terjadi kalau sampai ka Aksa tau selama ini aku menyembunyikan kejahatan ka Reiki, supaya keduanya terhindar dari konflik yang lebih besar’
__ADS_1
Ya, semua belum terjadi. Masih ada waktu…