ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 92


__ADS_3

 


 


 


“Non Claudia…” ucap bi Sumi ramah.


 


 


Baik Claudia dan bi Sumi pun berpelukan, rindu. Selama dirinya tinggal di rumah keluarga barunya, Claudia sangat akrab dengan para pekerja, terlebih bi Sumi yang selalu membantunya. Mereka pun bertukar kabar, menanyakan kesehatan masing-masing. Bukan hanya basa-basi, namun benar-benar curahan kekhawatiran satu sama lain.


 


 


“Bi Sumi….Eyang dimana?”


 


 


“Oh eyang ada di kamarnya non Hana…”


 


 


Claudia bingung, siapa itu Hana?. Nama yang asing tentu saja, karena selama 5 tahun terakhir dirinya tidak pernah membicarakan apapun, kecuali menanyakan soal kabar dan kapan ia pulang ke tanah air.


 


 


“Hana?”


 


 


“Uhm iya Hana, putrinya den Aksa…”


 


 


Ah, ya pantas, kenapa dia harus bingung. Sudah jelas bundanya tadi bilang, kalau Aksa sudah hampir setahun kembali lagi dan tinggal bersama mereka.


 


 


“Boleh anterin kita kesana bi?” ujar Nico.


 


 


Bi Sumi mengangguk. Ia pun menunjukan jalan kearah kamar Hana yang berada di ujung rumah. Bangunan baru yang tentu saja Claudia tidak kenal sama sekali.


 


 


Pikirannya berkecamuk, ia tahu benar seperti apa Syakila. Perempuan itu mampu menghalalkan apapun untuk mencapai obsesinya. Termasuk menjebak orang yang dia cintainya sendiri, tak ada kata ‘haram’ bagi Syakila, jika itu sudah berhubungan dengan semua hal yang diinginkannya.


 


 


Apa anaknya juga begitu? Itulah yang ada di benak Claudia. Banyak bukan yang bilang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kemungkinan besar putri dari Aksa itu pun tidak jauh berbeda dengan ibunya.


 


 


Claudia yang terus mengernyitkan dahinya, membuat Nico menggelengkan kepala. Sedikit banyak ia sudah tahu apa yang ada didalam pikiran adiknya itu.


 


 


 


 


“Hana itu anak manis kok, dia gak gila kaya ibunya…” celetuk Nico.


 


 


Claudia kaget, bagaimana bisa kakaknya itu tau tentang anak itu?. Apa selama dirinya pergi Nico sering berkunjung ke rumah ini?. Ketakutan terbesar Claudia tiba-tiba muncul. Bagaimana kalau kakak sepupunya itu juga sudah memberitahu kebenaran, yang telah disembunyikannya selama ini.


 


 


Ya, kebenaran soal campur tangan Reiki dalam membantu Syakila menjebak Aksa.


 


 


“Kakak pernah ketemu?” selidik Claudia.


 


 


“Sering…kalau eyang main kerumah, Hana suka ikut…”


 


 


Syukurlah bukan Nico yang sering main kerumahnya, ia bisa bernafas lega. Pada dasarnya untuk masalah itu Claudia memang tidak ingin mengatakan apapun, dia bermaksud membawa rahasia itu hingga akhir hayat. Terlebih Claudia sangat takut, kalau Aksa mengetahui hal tersebut. Bisa-bisa kakaknya itu mengamuk dan melakukan sesuatu yang tak baik pada Reiki.


 


 


Bi Sumi membuka pintu kamar, meminta ijin pada Nesya agar diperbolehkan masuk.


 


 


“Eyang maaf ada mas Nico sama non Claudia”


 


 


“Suruh masuk aja bi”


 


 


Mereka pun di persilahkan masuk, sedangkan bi Sumi pergi meninggalkan mereka.


 


 


“Nico kamu mau pulang?”


 


 


“Iya, hari ini sampai besok Claudia biar nginep dulu ya Eyang di rumah Nico”


 


 


 


 


Disaat kakak dan eyangnya sibuk berbincang, Claudia lain lagi, ia memperhatikan setiap sudut ruangan, walaupun ini juga rumahnya semua terasa begitu asing.


 


 


Ruangan itu sangat besar, disisi kanan ada lorong yang mengarah ke area tempat tidur, sedangkan begitu masuk mereka disuguhi dengan pemandangan ruang bermain dan belajar. Disisi kiri juga ada lorong, yang diyakini Claudia sebagai kamar mandi dan walking closet.


 


 


Yang bisa disimpulkan gadis ini adalah Aksa begitu memanjakan putrinya. Terbukti dengan begitu banyaknya barang-barang mahal yang di belikannya. Mainan, buku, bahkan seluruh isi kamar itu sangat mewah.


 


 


Pandangan Claudia tiba-tiba terpaku pada sosok gadis kecil, berkulit putih, dengan mata belo dan rambut panjang yang di kepang dua.


 


 


Gadis itu memperhatikan Claudia dari balik tubuh Nesya, ia dengan intens tak berhenti menatap perempuan yang sangat dicintai oleh ayahnya itu.


 


 


Claudia tersenyum, ia pun berjalan mendekati Nesya. Tujuannya adalah ingin memperkenalkan diri kepada keponakannya.


 


 


“Halo cantik, siapa namanya?” tanya Claudia sambil berjongkok menghadap kearah Hana.


 


 


“Putlinya papa..” ucap Hana pelan, gadis itu lalu berlari masuk kedalam rumah-rumahan yang ada diarea bermainnya.


 


 


Claudia berdiri lalu melirik kearah Nico. Pria itu pun mengangguk, mengetahui maksud Claudia.


 


 


Gadis ini ragu mau mendekati Hana. Dipikirnya bagaimana kalau sejak dini Syakila sudah mengajarkan untuk membenci dirinya. Namun satu anggukan dari Nico membuyarkan rasa ragunya, ia tahu kalau kakaknya tidak akan berbohong.


 


 


Satu lagi, ada yang aneh Ketika Claudia membalas tatapan mata anak itu. Seakan ia sudah mengenal lama gadis kecil tersebut, perasaan sayang muncul begitu saja.


 


 


Claudia pun berjalan mendekati rumah-rumahan milik Hana. Ia pun lalu menunduk dan bicara dengan gadis itu lewat jendela.


 


 


“Iya tante tau, kamu anaknya papa Aksa kan?”


 

__ADS_1


 


Hana menggeleng lalu menunjuk kearah Claudia.


 


 


“Putlinya papa…” tunjuk gadis itu, sambil meringkuk ketakutan.


 


 


Nesya pun bangkit dari sofa, lalu berjalan kearah Hana dan Claudia.


 


 


“Hana jangan takut, Claudia ini cucunya eyang sepuh, tantenya Hana…”


 


 


“Putlinya papa” gumam Hana sekali lagi, ia mulai keluar dari rumah-rumahan itu, lalu berkali-kali menunjuk kearah Claudia.


 


 


“Nama kamu Hana kan? Nama tante Claudia, adiknya papa kamu…”


 


 


Hana menggeleng, ia berkali-kali mengulang ucapan yang sama. Namun karena tak ada satupun yang paham maksudnya, gadis kecil ini pun mulai menangis.


 


 


“Ukan….putlinya papa…huwaaaaaaaaa ga, ukan ante…putlinya papa” Hana pun berteriak sekencang-kencangnya, air matanya mengalir deras.


 


 


Claudia dengan cepat langsung menggendong tubuh mungil Hana, ajaibnya rengekan Hana yang terkenal sulit diam kalau sudah menangis, langsung berhenti.


 


 


Gadis kecil itu terlihat begitu nyaman dan tenang berada di pelukan Claudia. Hana pun membenamkan wajahnya di caruk leher Claudia, masih menangis namun lebih tenang, tidak ada drama teriak-teriakan, atau guling-guling dilantai.


 


 


Ketika Nesya dan Nico melihat kedekatan kedua orang yang baru saja pertama kali bertemu itu, ada pemandangan yang terasa normal.


 


 


Saat Claudia menggendong lalu membelai punggung Hana, terlihat gadis kecil yang sangat sulit di dekati itu begitu nyaman. Layaknya seorang anak yang mendapatkan kehangatan seorang ibu, Hana memeluk leher Claudia dengan sangat posesif.


 


 


Selama Aksa menikah, belum pernah Nesya melihat cicitnya itu begitu nyaman. Bahkan disaat bersama dengan Syakila, yang ada dimata anak perempuan ini hanya ketakutan dan rasa tak nyaman. Sungguh tidak seperti yang ada dihadapannya sekarang.


 


 


Nesya terharu, melihat Hana yang sangat mudah menerima Claudia.


 


 


“Ukan ante tapi putlinya papa…” seru Hana dengan sisa isakannya.


 


 


“Iya sayang…” Claudia menciumi pucuk kepala gadis kecil tersebut.


 


 


 


 


‘Putrinya papa’?. Oh Nesya akhirnya paham apa yang dimaksud oleh cicitnya itu.


 


 


“Mungkin maksudnya Hana kamu bukan tantenya, tapi tuan putri papanya…”


 


 


“Maksud eyang?” Claudia mengernyitkan dahinya.


 


 


“Selama kamu pergi walaupun ada Hana, pikiran Aksa gak pernah lepas dari kamu de…”


 


 


 


 


“Aksa begitu mencintai kamu, bahkan saat bersama dengan Hana Aksa selalu bilang kalau kamu satu-satunya tuan putri dihatinya, posisi Hana itu putri junior katanya, kalau kamu seniornya…”


seru Nesya terkekeh saat memergoki Aksa mengobrol dengan Hana sembari memegang foto Claudia.


 


 


Nico tau soal Aksa yang sama sekali tidak bisa melupakan Claudia, barang sehari pun. Itu membuatnya sedih, karena dirinya juga ada di posisi yang hampir sama seperti Aksa. Tidak bisa memeluk dan menjaga seseorang yang sangat di cintai, tentu membuat hati terasa tercabik-cabik.


 


 


“Kak Aksa mungkin mau jelasin kalau dia cinta sama kamu dengan cara yang anak-anak pahami, kalau Hana anggap papanya itu pangeran sudah sepantasnya bersanding dengan tuan putri kan…”


 


 


Kenapa Aksa berbuat begitu?. Ini salah, bahkan secara halus mengatur agar anak kecil memahami posisinya, didalam hati Aksa pun tidak masuk akal.


 


 


“Aku ini adiknya kak, selamanya cuma akan jadi adiknya..bukan pasangannya…” Claudia pun menurunkan Hana, mendudukannya diatas sofa.


 


 


Suasana yang tadinya hangat, menegang secara tiba-tiba. Setiap kata yang diucapkan oleh Claudia, jelas penuh penolakan.


 


 


“Huffft yaudahlah ayo…udah sore juga ini Di…kasian nanti pak Rizky kasian baliknya kemaleman”


 


 


Nico pun bergegas, menyalami Nesya lalu mengelus pelan kepala Hana. Begitu pula dengan Claudia. Akan tetapi ketika hendak berpamitan kepada Hana, anak perempuan itu kembali menangis. Ia menyadari bahwa ‘tuan putri’ papanya itu hendak meninggalkannya.


 


 


“Putli ga egi..” Hana menarik ujung Dress yang di kenakan oleh Claudia, sekali lagi sambil menangis.


 


 


Melihat Hana yang mulai tantrum, Nesya pun langsung menelepon menggunakan intercom, meminta bantuan pengasuh Hana, yang sejak sejam lalu disuruh membantu bi Sumi di dapur.


 


 


“Hana sayang tante mesti pergi besok main lagi ya sama tante…” Claudia menghapus air mata yang mengalir di pipi Hana.


 


 


“Gaaaaaaaaaak”


 


 


“Aduh Hana, jangan kaya gitu tantenya kasian sayang…” ucap Nesya.


 


 


“Gaaaaaaaaaaaaak, Putli ga egi !!!!!!!”


 


 


 


 


Pengasuh Hana yang datang  langsung membujuk Hana, bahkan Nesya juga turun tangan. Tapi bukannya tenang Hana justru semakin histeris.


 


 


“HUWAAAAAAAAA GAAAAAAAK”


 


 


“Sayang jangan gitu nak…main lagi aja sama eyang sepuh ya…”


 


 


Nihil. Sekuat apapun Nesya mengajak cicitnya keaktifitas mereka diawal, yang ada Hana malah semakin berteriak dan kondisi semakin kacau.

__ADS_1


 


 


Melihat tidak ada satupun yang bisa mengendalikan Hana, Claudia pun menghela nafasnya kasar, sambil tersenyum. Kelakuan Hana saat ini sama persis dengan dirinya saat kecil, namun dalam versi yang lebih parah.


 


 


Seingatnya dia tidak akan berhenti tantrum, sampai Reiki atau Nesya turun tangan, dan mengabulkan apa yang dia inginkan.


 


 


“Kak…”


 


 


Nico menatap kearah Claudia, bingung.


 


 


“Kakak pulang aja…aku disini aja nemenin Hana…”


 


 


“Kamu yakin?”


 


 


Claudia mengangguk sambil tersenyum, ia berjalan kearah Hana yang tengah menjerit sekuat tenaga. Sekali lagi begitu ia memeluk Hana, gadis itu menjadi lebih tenang. Claudia lalu menatap Hana yang saat ini dengan kuat memeluk kakinya.


 


 


Supaya Hana berhenti menangis, ia pun memutuskan untuk menggendong Hana. Untuk ukuran anak umur 5 tahun tubuh Hana sangat ringan, terlampau ringan malah. Lalu ada yang mengusik Claudia, cara bicara dan juga gesture Hana tidak sesuai dengan umurnya.


 


 


Pengasuh Hana terkejut melihat seberapa nurutnya anak kecil itu pada Claudia. Menurutnya selama ia menjaga Hana sejak anak itu baru lahir, Hana tidak pernah bertingkah seperti tadi. Kalaupun ia menangis, Nesya bisa menenangkannya walaupun memakan waktu yang cukup lama, sisanya Hana akan bersembunyi dan menangis sendirian.


 


 


Dari situ jugalah Claudia akhirnya paham kenapa kamar Hana begitu besar, mungkin karena Aksa takut anaknya itu ngambek dan akhirnya sembunyi di tempat yang tidak di ketahui oleh orang lain.


 


 


“Tolong bilangin aja sama tante Linda lusa sebelum Nura ulang tahun aku bakalan nginep disana, nanti sekalian deh aku suruh Nura nginep biar kakak bisa pdkt sama Nura…” goda Claudia.


 


 


Nico menaikan satu alisnya. Banyak gaya pikirnya, namun mungkin benar juga. Nura pasti mau menginap kalau ada Claudia. Tapi ya masa di tunjukan, kalau sebenarnya dalam hati dirinya senang?.


 


 


“Makasih, tapi gak usah yang ada nanti Nura malah makin nempel sama kamu” ujar Nico ketus.


 


 


“Kak aku ini masih doyan laki lho…situ aja yang kurang ilmu mendekati Nura..” Nura melirik tajam kearah kakak sepupunya. Nico memang aneh, semua orang dicemburui kalau sudah menyangkut soal Nura.


 


 


“Terserah…”


 


 


Claudia pun memberikan Hana kepada pengasuhnya, ia lalu berjanji kalau hari ini dirinya akan menemani Hana bermain.


 


 


Mendengar hal itu, tentu Hana sangat senang, senyum lebar menghiasi wajah manis miliknya, begitulah seharusnya anak-anak, pikir Claudia.


 


 


Nico dan Nesya juga jujur saja merasa Bahagia, melihat Hana yang selalu menutup diri dan ketakutan bisa sebegitu ekspresif saat di dekat Claudia.


 


 


“De…” panggil Nico, meminta adik sepupunya mendekat.


 


 


“Apa…..?”


 


 


Dengan satu tarikan, tubuh mungil Claudia kini sudah di peluk erat oleh Nico.


 


 


“Kak…”


 


 


“Kamu harus tau De, walaupun satu dunia ini musuhin kamu, kakak bakalan terus ada buat kamu…”


 


 


Sekali lagi Nico membuktikan, kalau selama ini Claudia terlalu dangkal menilainya. Claudia tahu jika Nico memang sayang kepadanya, tapi perasaan itu ternyata sangat dalam. Kasih sayang Nico terhadapnya murni selayaknya kakak dan adik kandung.


 


 


Claudia pun membalas pelukan Nico, ia memeluk kakak sepupunya itu dengan erat. Sebagai sesama anak tunggal, sejak kecil baik dirinya, Nico dan Reiki memang saling melengkapi satu sama lain. Mereka bertiga begitu dekat.


 


 


“Iya kak, walaupun aku tau mulut kakak macem sampah di bantar gebang, tapi hati kakak itu baik”


 


 


Tanpa basa-basi Nico langsung melepas satu tangannya yang tengah memeluk Claudia. Ia langsung mencubit pipi gadis itu.


 


 


“Awwww sakit kak…”


 


 


“Makanya mulut itu di jaga..” ucap Nico dingin.


 


 


“Ish apaan sih kakak ini, untung sayang…” Claudia melepas pelukannya, sembari memegangi pipi kanannya yang jadi korban cubitan maut milik Nico.


 


 


“Ya iya sayang, tapi durhaka sama kakaknya, mananya yang sayang…” Nico melipat tangannya, menampakan rasa kesalnya, tapi mereka berdua tau Nico hanya pura-pura kesal.


 


 


“Baperan dasar…”


 


 


“Yaudah eyang Nico pamit dulu, kalau si Claudia ngamuk lagi kurung aja di kamar mandi”


 


 


“Heh memangnya aku masih kecil apa di kurung di kamar mandi !!!”


 


 


Claudia berteriak, namun Nico dan Nesya tertawa. Kalau sudah begini apa bedanya Claudia dan Hana. Sama-sama masih bocil, pikir Nico juga Nesya dalam batinnya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2