
Claudia berkali-kali melihat ponselnya, entah kenapa dia sangat ingin menelepon sahabatnya Icha. Sejujurnya firsatnya tidak enak, dia kepikiran soal Icha, biasanya kalo sudah seperti ini ada hal yang tidak baik terjadi pada Icha.
“Hufft…Icha...angkat cha…kenapa kamu ga angkat teleponku…”
Icha tetap tidak membalas pesannya, atau bahkan menghubunginya balik. Pikiran Claudia kalut.
Hingga suara ketukan dari luar membuat Claudia tersadar. Gadis itu segera membuka pintu kamarnya.
“Iya kenapa mba Kokom?”
“Itu non, eyang nyuruh non ke kamarnya”
“Eh, oh yaudah tar aku kesana…makasih mba Kokom…”
“Iya non…”
Claudia pun bergegas keluar dari kamarnya, dia berjalan kearah kamar Nesya. Karena masih khawatir dengan Icha, gadis itu berjalan dengan gontai. Hingga ia menyadari Aksa baru saja keluar dari kamar eyangnya.
Ini baru jam 5 sore, kenapa Aksa sudah dirumah?, ini aneh. Claudia hanya bisa memiringkan kepalanya, karena dia bingung, padahal tadi pagi jelas dia bilang, kalau dia bakalan lembur sampai malam.
Raut wajah Aksa juga tidak baik, sepertinya pria itu baru saja kena masalah luar biasa. Benar-benar semerawut, itulah yang dinampakan oleh Aksa, rambut yang berantakan, dasi yang longgar, bahkan wajahnya yang kusut, menambah daftar panjang masalah yang di tampakan oleh Aksa.
Claudia yang ada disitu pun, juga pura-pura tidak melihat Aksa, tapi ya sia-sia, emang Claudia kira ini di film apa. Tentu saja Aksa sadar bahwa adiknya itu sudah sangat dekat dengannya.
Kelakuan absurd Claudia juga menjadi, entah apa gunannya gadis itu berjalan menyamping. Aksa paham bahwa gadis ini masih malu bertemu dengannya, setelah malam panas yang berujung dengan pingsannya Claudia. Apalagi kebiasaan tidur, ala zombie milik Claudia yang sangat aneh menurut Aksa.
“Kamu ngapain sih Di...” seru Aksa sambil tertawa kecil.
Claudia langsung menyilangkan kedua tangannya didepan wajahnya. Gadis itu pun menggelengkan kepalanya berkali-kali.
“Udah cepetan eyang nunggu kamu tuh” seru Aksa melewati Claudia sambil mengacak-acak rambut gadis itu, lalu berlalu pergi sambil tersenyum.
Claudia hanya bisa diam saja, karena dia kaget dengan apa yang dilakukan oleh Aksa. Kenapa tiba-tiba Aksa jadi bersikap seperti seorang kakak yang usil, ketimbang seseorang yang berusaha menjadi kekasih Claudia, ada yang janggal. Hati Claudia sakit saat memikirkannya, ia sudah mulai menyadari kalau ia jatuh cinta pada Aksa, tapi mungkin ini yang terbaik. Gadis itu menghembuskan nafasnya dengan kasar, dan segera masuk ke kamar eyangnya.
Dengan perlahan Claudia mengetuk pintu kamar Nesya, hingga nenek kesayangannya itu mempersilahkannya masuk.
“Eyang, kata mba Kokom tadi panggil ade?”
“Iya sayang, masuk sini, eyang mau ngobrol sama kamu”
Claudia pun masuk ke kamar itu, dan seperti yang diperintahkan oleh Nesya, kini Claudia sudah duduk disamping eyangnya.
Ada yang aneh, eyangnya sedari tadi tersenyum, tapi kenapa rasanya Nesya seperti ingin menangis. Dengan perlahan wanita yang sebentar lagi berulang tahun ke 65 itu, mengelus kepala cucu kesayangannya.
“Ade bulan depan udah 17 tahun ya, ga kerasa cucu eyangnya sebentar lagi udah mau jadi isteri orang”
Claudia tidak menjawab perkataan eyangnya, dia hanya diam sambil memainkan ujung baju neneknya itu. Semakin lama, posisi duduk Claudia pun berubah, kini gadis itu sudah menyenderkan tubuhnya dipundak Nesya.
“Waktu ade kecil, ade kira ade bakalan nikah sama ka Reiki, tapi kenapa ya, pas ade beneran mau nikah sama ka Reiki, ade malah sedih…”
“Ade sayang sama Iki?” Nesya sepertinya tahu bahwa Claudia belum yakin akan pilihannya. Gadis itu agak kaget, ketika mendengar apa yang ditanyakan oleh eyangnya itu, hingga ia kembali ke posisi duduknya dan melihat kearah eyangnya.
__ADS_1
Nesya diam sambil tersenyum, dia seperti menunggu jawaban dari cucunya itu. Namun Claudia langsung murung, dia hanya menunduk sebelum menjawab pertanyaan neneknya.
“Sayang kok eyang…tapi?” jawab Claudia sambil cemberut.
“Tapi?”
“Uhm ya gitu deh eyang…ade sayang sama ka Reiki, tapi kaya sama kakak sendiri aja gitu…” Claudia menjawab pertanyaan tersebut sembari memainkan rambut panjangnya.
Nesya menghela nafas, ia memang tidak banyak bicara saat Reiki beserta keluarganya datang. Wanita ini lebih memilih, memperhatikan dan menganalisa apa yang akan terjadi pada cucunya itu. Ditambah lagi Nesya sadar betul, bagi Claudia posisi Reiki dihatinya hanya sebagai kakak lelaki yang sangat cucunya sayangi.
“Kalo sama Aksa?” tanya Nesya yang ingin memastikan perasaan cucunya sekali lagi.
Jika Claudia bisa mendefinisikan dengan baik perasaannya tentang Reiki, maka berbanding terbalik dengan Aksa, gadis ini hanya menampakan wajah terkejut, dan muka yang memerah karena malu. Tanpa diketahui oleh Claudia, Nesya sebenarnya sudahnya menyadari perasaan cucunya itu, karena cara Claudia memandang pemuda itu seperti seorang wanita yang tengah jatuh cinta.
Sejujurnya Nesya tidak bisa 100% mendukung apa yang tengah terjadi kepada kedua orang itu. Ibu dari Silvana ini ingin keduanya memiliki hidup yang damai, dan jika mereka berdua bersatu Nesya paham dan tau kedua cucunya itu harus menghapus kata ‘damai’ dari kehidupan mereka, setidaknya selama besannya masih hidup dan Bram masih menginginkan Aksa menikah dengan Syakilla.
Keluarga besar Bram juga tidak mungkin akan setuju, apalagi mereka sudah sangat membenci Aksa dan Aini sejak dahulu. Walaupun mereka menyukai Silvana tapi tidak ada jaminan, mereka akan diam saja melihat Aksa bersama Claudia, apalagi Syakilla masih termasuk keluarga besar Priambudi yang terhormat. Nesya benar-benar tidak ingin Claudia merasakan apa yang dahulu dialami oleh Aini, keponakannya itu.
“Hah…uhm e…eyang…a…a..apaan sih…kalo sama ka Aksa ade…”
“Eyang tau kok, ade suka kan sama Aksa?”
Tubuh gadis itu menegang, bagaimana ini eyangnya sudah tahu perasaannya pada Aksa, memang Claudia tidak pernah bisa berbohong pada Nesya. Eyangnya itu memang terlalu telisik dan sensitif, tapi tetap saja Claudia kaget.
“Tapi kamu harus tau de, kalo sampai kamu memang memilih Aksa jadi pendamping hidup kamu, semuanya ga akan berjalan mudah, hidup kamu mungkin gak akan berjalan baik. Gimanapun posisi kalian itu kakak adik, walaupun tiri tetep aja papa kamu ga akan semudah itu untuk setuju”
Tidak ingin memberikan pengharapan palsu dan kalimat manis, itulah yang dilakukan nenek dari Claudia. Dia tidak ingin membuat cucunya memimpikan sesuatu yang tidak akan terjadi, padahal sudah jelas bahwa akan sulit bahagia diawal jika Aksa tetap keukeh ingin Claudia jadi istrinya. Itulah mengapa dahulu Nesya meminta Aksa untuk membuat perusahaan sendiri.
“Ade tau kok…” sahut Claudia yang kini menitikan airmatanya, tentu saja ini bukan hal yang mudah, bagi seorang perempuan yang baru 2 bulan lagi berumur 17 tahun.
“Kamu tau makanya kamu iyain lamaran dari Reiki?”
Claudia hanya mengangguk, walaupun sebagian besar alasan ia mengiyakan lamaran dari Reiki karena Reiki sudah mengancam dirinya tapi alasan lainnya karena dia tidak ingin mendapatkan masalah dimasa depan.
“Masalah Reiki juga kamu harus pikirin mateng-mateng, banyak yang wajib kamu pertimbangkan, keputusan kamu milih antara Reiki atau Aksa itu bisa berimbas kebanyak orang de…”
“Iya eyang…”
“Kamu bisa diskusiin itu sama ayahmu nanti…”
Mata Claudia langsung membelalak, dia terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Nesya. Kalo diskusi berarti dia bisa bertemu dengan ayahnya, dan sudah jelas Claudia sangat senang.
“Ayah?!”
“Iya, tadi pagi Galina telepon eyang, katanya ayahmu udah sampe Jakarta”
“Uhm..uhm nenek bilang apa eyang…?”
Claudia tak bisa membendung rasa bahagianya, Claudia tersenyum sangat lebar, dia rasanya ingin teriak karena senang. Namun reaksi seperti itu saja nampaknya tidak cukup, saat ini gadis itu rasanya ingin berlari-lari ala film-film India, atau setidaknya dia ingin meloncat-loncat kegirangan, tapi hal itu urung dia lakukan karena takut bundanya sudah pulang ke rumah dan mendengar apa yang kini dirinya dan Nesya bicarakan.
“Ya cuma itu aja….tapi de, sabar dulu ya…nanti eyang bilangin sama bundamu, supaya kamu bisa quality time sama Zen, jangan tiba-tiba kamu kabur terus ketemu ayahmu. Nanti bisa-bisa bunda gak bolehin kamu ketemu sama dia lagi”
__ADS_1
“Siap eyang, ade sayang sama eyang…hehehe!!!” Claudia langsung memeluk eyangnya dengan sangat erat. Dia sangat bahagia sampai lupa akan masalahnya dengan Reiki dan Aksa.
“Dasar jelek, tadi aja nangis-nangis, sekarang ketawa-tawa….untung eyang sayang hahaha…”
“Eyang mah….hehehe”
Suara Ponsel Claudia menghentikan aktifitas peluk memeluk antara kedua orang itu, Claudia baru sadar soal Icha, semoga saja ada informasi soal sahabatnya itu.
“Uhm Eyang bentar, ada yang telepon ade…Alif????”
Nesya mengangguk, memberikan isyarat pada Claudia untuk mengangkat panggilan dari Alif.
‘Halo Lif?”
‘Di, lo bisa ngehubungin Icha gak?’
‘Gw malah nyoba telepon, kirim chat juga ga dibales sama dia…gw takut dia kenapa-kenapa Lif, semuanya baik-baik aja kan?’
Ada jeda beberapa detik, saat Claudia mengatakan bahwa dia juga tidak bisa menghubungi sahabat karibnya sejak kecil tersebut. Suara Alif juga seolah menyatakan ada hal yang tidak beres, ini membuat jantung Claudia berdebar dengan sangat kencang.
‘Claudia lo dengerin gw, tapi janji jangan panik’
‘Udah cepetan Lif, Icha kenapa…???’
‘Gw ga bisa ngehubungin Icha dari jam 1 tadi, gw udah coba telepon Shiva, Melvin, Yudha, Rima, sampe anggota Rohis, sama Osis, satupun ga ada yang tau Icha kemana’
Claudia langsung bangkit dari duduknya, rasanya ia ingin menangis. Icha tidak pernah melakukan hal seperti ini, temannya itu selalu memberikan informasi kepada orang terdekat kalau mau pergi atau mengunjungi suatu tempat. Claudia kenal betul seperti apa Icha, semarah-marahnya gadis itu, dia tidak akan melakukan hal-hal yang membuat semua orang khawatir seperti ini padanya.
‘Lif….jangan mulai deh, lo gak lucu….gw serius takut Icha kenapa-kenapa…sumpah ini ga lucu Lif’
‘Lo Kira gw becanda Di, gw seriusan panik, Icha itu lebih berharga daripada apapun di dunia ini buat gw. Gw bisa bye dari dunia kalo sampe Icha kenapa-napa…’ seru Alif dengan nada agak tinggi pada Claudia.
Suara Alif bergetar, memang betul bagi Alif selain ibunya Icha adalah perempuan nomer 1 yang selalu harus dilihatnya, bagaimana pun Icha adalah kembarannya, dan adik kesayangannya. Walaupun berusaha untuk tidak panik tapi tetap saja, ujung-ujungnya Alif tidak bisa mengontrol rasa khawatir dan takutnya. Hal yang terjadi sungguh diluar kebiasaan adik kesayangannya itu.
‘Alif….’
‘Ini nyokap gw juga udah nangis-nangis, bokap gw sama ayah lo juga udah otw mau kesini…’
‘Ayah gw? Kok bisa om Bima sekarang sama ayah gw?!’
‘Iya gw udah janji sebenernya ga boleh bilang ke elu, tapi ini urgent. Bisa ga lo minta ijin sama nyokap lo, buat ke Mall Sentosa kalo bisa ajak bang Aksa juga, makin banyak orang yang cari Icha, lebih baik. Gw tunggu ya Di, bye’
Claudia menaruh ponselnya di kantung celananya, ia bergegas memberitahukan apa yang terjadi pada Icha, Nesya dan dirinya langsung keluar kamar, dan mencari Silvana.
“De, kamu bilang sama Aksa, eyang panggil bunda kamu. Cepet ya…”
Claudia mengangguk, didalam hatinya ia terus berdoa agar sahabatnya itu baik-baik saja.
__ADS_1