ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 44


__ADS_3

Apa menikah karena cinta itu selalu berakhir bahagia?. Apakah kekuatan cinta itu memang benar, bisa mengalahkan apapun di muka bumi ini?.


Setidaknya itulah pikiran polos seorang gadis, yang selalu berharap pangeran berkuda putihnya datang dan menjaganya dari seluruh hal buruk di dunia ini.


Tapi dongeng dan cerita-cerita romantis, dari para tokoh itu apakah sungguh mendapatkan happy ending yang sebenarnya?.


Sayangnya, untuk Aini kisahnya baru dimulai ketika baru saja sah menjadi istri dari Bram.


Ia harus putus hubungan dengan keluarga Silvana, karena pamannya marah setengah mati pada perempuan, yang dianggap mengambil calon suami putrinya.


Penolakan lebih parah juga datang dari keluarga besar Bram, terlebih mereka memang sangat memuja Silvana, yang di anggap sebagai pasangan ideal untuk Bram.


Lalu jangan tanyakan sikap mertuanya, Indah. Wanita itu bahkan secara terang-terangan mempermalukan Aini, di depan keluarga besarnya. Mereka seperti bersatu padu, agar perempuan itu segera minta bercerai dengan Bram.


Semua situasi itu di perparah, ketika sepupu Bram yang baru saja menikah, mendapatkan momongan jelang 1 tahun menikah. Sedangkan saat itu Bram dan Aini sudah 7 tahun menikah, namun tidak ada tanda-tanda hamil dari perempuan itu.


Sewaktu menjenguk sepupu dari Bram di rumah sakit, disitu pula titik jungkir balik dari hidup Aini.


“Apa kalian gak ada niatan periksa?” seru Dave sepupu Bram.


Aini langsung melirik wajah Bram, dia memang menginginkan seorang anak, bagaimana pun tujuan pernikahan salah satunya agar bisa mendapat keturunan.


“Gak lah, ngapain buru-buru. Lagian memang belum rejeki aja kali” seru Bram sambil memeluk pundak Aini.


Lalu apakah Dave senang, tentu tidak. Ia juga termasuk orang yang tidak suka akan keberadan Aini. Baginya yang sejak kecil mengenal Silvana, dan sempat juga menjadi dosen mantan tunangan sepupunya itu, Aini tidak lebih dari seorang perempuan, yang tidak punya hati.


Dave jadi saksi mata, betapa Silvana kini berubah. Ia tidak lagi jadi perempuan yang penuh dengan semangat, perempuan itu lebih banyak murung dan berkutat di perpustakaan kampus.


Aini pun sadar, kalau tatapan Dave padanya itu tidak jauh-jauh dari benci dan kesal. Perempuan ini juga tahu, bahwa Davelah yang menghajar Bram dahulu, saat suaminya itu mengutarakan bahwa dia jatuh cinta pada Aini.


“Seyakin itu? semua karena rejeki, bukan karena ada apa-apa sama istri lo Bram?”


Perempuan itu menunduk, Aini terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Dave. Mungkin saja itu benar, dia belum punya anak bukan karena belum rejeki.


Bram tersenyum pada Dave, sambil mengeratkan pelukannya pada istrinya itu.


“Dave mulut masih tajem juga ya, gw kira setelah lo punya anak, rada jinakan tuh mulut?” seru Bram yang memang tersenyum, namun sudah pasti tidak senang.


Sepupunya itu tertawa kecil, ia mengatakan bahwa yang di bilangnya itu wajar, karena khawatir.


“Mending lo bawa gih buat cek, mumpung di rumah sakit, toh gak ada salahnya juga kan” ucap Dave sambil melipat tangannya.


Aini melirik Bram kembali, perempuan itu mengangguk. Ia juga penasaran, tentang kenapa dia belum hamil juga, padahal mereka aktif dalam berhubungan suami istri.


Tanpa banyak omong, Bram pun mengikuti mau Aini. Mereka segera bergegas mendaftar ke dokter kandungan.


“Kan aku udah bilang gak usahlah pake tes-tes segala, santai aja toh kita masih muda ini, yang penting kamu sehat” seru Bram cemberut, karena kesal pada istrinya, yang selalu mendengarkan omongan keluarganya itu.


“Bukan gitu mas, siapa tahu kalau aku emang bisa cepet hamil, mama bakalan bisa terima aku. Aku pengen bikin mama bahagia, itu aja mas” Aini tersenyum manis pada suaminya itu, dia tahu Bram tidak suka kalau Aini selalu kepikiran omongan dari keluarganya.


“Jadi cuma mau bikin mama doang nih bahagia, aku gak ?” ucap Bram sambil mencubit pipi Aini.


“Ya kamu jugalah…”


Keduanya pun menjalani tes, dengan perasaan yang tidak tenang. Baik Bram dan Aini terus berdoa dalam hati, tidak ada yang salah pada mereka.


Hari berganti hari, dan pada akhirnya tibalah hasil pemeriksaan itu, Dokter yang memeriksa mereka meminta agar suami istri itu datang ke rumah sakit.


Saat mereka sedang menunggu untuk di panggil, mata Aini tertuju pada seorang perempuan berhijab yang tidak asing baginya.

__ADS_1


“Mas itu Keiko bukan sih?”


Bram langsung melihat kearah yang ditunjuk oleh istrinya itu. Itu benar memang Keiko, dan yang di sebelahnya.


“Silvana???” Bram bingung, kenapa ada Silvana disini, apalagi dengan jas putih yang dikenakannya.


“Mas, Ana jadi dokter sekarang??” tanya Aini kebingungan.


Bram menggelengkan kepalanya, dia bahkan tidak tahu soal Silvana yang memutuskan jadi seorang dokter.


Seingat mereka berdua, Silvana ingin kuliah di jurusan fashion. Tapi kenapa berubah sejauh itu.


Aini merasa rindu pada sepupunya, tapi apa dia masih boleh menganggap Silvana itu penting. Dia merasa berdosa luar biasa pada sepupunya itu.


“Ana….” Seru Aini sambil menitikan air mata.


Bram menunduk, itu semua salahnya. Bagaimana pun mereka berusaha untuk hidup bahagia, tapi tetap saja mereka sempat hidup, diatas rasa sakit hati orang yang mereka sayangi.


“Mau samperin Ana?” tanya Bram sambil menggenggam tangan Aini.


Perempuan itu menatap Bram, lalu menggeleng dengan pelan. Ia sudah cukup puas melihat sepupunya hidup dengan baik, dan bisa punya karir yang lebih baik dari dirinya.


Aini yang terlihat sedih, membuat Bram mencium kening istrinya itu. Ia membuat Aini bersandar padanya.


Mereka pun kembali fokus pada antriannya, hingga Keiko yang telah selesai mengobrol dengan Silvana menyadari adanya orang yang ia kenal.


Berhubung Silvana harus kembali praktek, Keiko pun berinisiatif mendatangi orang yang ia kenal tersebut.


“Bram?? Aini??” seru Keiko sambil tersenyum.


Pasangan suami istri itu pun terkejut saat Keiko menyapa mereka, padahal keduanya yakin, perempuan berhijab itu tidak sadar kalau mereka ada di tempat yang sama.


“Keiko…” seru Bram.


Canggung, tentu saja. Keiko adalah sahabat terdekat Silvana. Bram dan Aini pun tahu soal itu.


“Baik allhamdulillah, kamu gimana Kei?” tanya Aini berusaha bersikap senormal mungkin.


Tapi bukan Keiko namanya kalau ikut merasa canggung, dia langsung tertawa dan bersikap seakan tidak ada apa-apa.


Bagi Keiko sebenarnya, tentu ada rasa kesal pada Aini dan Bram. Akan tetapi setiap manusia punya hak untuk memilih, dan ketika kita tereliminasi dari seleksi tersebut, maka itu berarti memang bukan jalan hidup kita.


Berkali-kali setiap malam, Keiko menasehati Silvana dengan kalimat seperti itu. Pada akhirnya Silvana pun move on, walaupun masih belum bisa memaafkan kedua orang tersebut.


“Aku baik, cuma anak aku ini yang ga baik kabarnya hahaha” seru Keiko santai.


“Anak kamu kenapa Kei?” tanya Bram.


Keiko tersenyum lalu tertawa, anaknya demam tinggi karena terlalu semangat belajar untuk olimpiade sekolah dasar.


“Hahaha biasa kebanyakan belajar jadi typhus deh, padahal udah di bilangin gak usah di forsir, disuruh main anaknya malah gak mau” seru Keiko tanpa beban.


Ah ya, memang seperti itulah Keiko. Di banding dengan Satyo yang keras perempuan berdarah Jepang ini justru lebih santai, malah sangat santai. Jiwa suami istri itu nampaknya tertukar.


Bram dan Aini yang mendengar Keiko bicara dengan santai begitu, hanya bisa merasa takjub, di tempat lain pasti orang tua ingin anaknya belajar dengan giat. Namun sahabat Silvana itu malah menyuruh anaknya untuk main.


“Eh iya kalian kenapa bisa di sini, kebetulan banget ya ketemu di rumah sakit punya om aku” ucap Keiko.


“Ini rumah sakit keluarga kamu?” Aini lumayan kagum, walaupun dari keluarga kelas atas, Keiko sama sekali tidak sombong dan mudah bergaul dengan siapapun.

__ADS_1


“Iya hahaha, Silvana juga kerja disini lho, kalian gak mau ketemu dia?” Keiko sepertinya kelepasan, dia langsung menutup mulutnya.


Seketika suasana langsung suram, Bram dan Aini hanya tersenyum kecut. Mereka memang ingin berbincang dengan Ana, tapi apa mereka masih begitu, setelah menyakiti hati Silvana.


“Hmmmm kalau kalian takut ketemuan sama Ana karena masa lalu, lupain aja udah” merasa tidak enak, Keiko pun menceritakan tentang kehidupan Ana akhir-akhir ini.


“Silvana tahun depan nikah sama sepupu ku, anaknya yang punya rumah sakit ini. Ternyata dulu sebelum mau di jodohin sama Bram, tante Nesya udah mau ngejodohin sepupu ku duluan dong ke Ana”


Apa yang dikatakan oleh Keiko membuat hati Bram sedikit sakit, Silvana akan menikah.


Terlebih dengan seseorang yang lebih dahulu di jodohkan oleh Nesya, ketimbang dirinya?. Sebentar Bram kenal dengan orang itu.


“Maksud kamu Kei?” tanya Bram penasaran.


“Apanya?” Keiko agak bingung dengan pertanyaan Bram.


“Apa maksud kamu Ana mau nikah sama Zen?”


“Mas tau calon suaminya Ana?” Aini langsung melirik kearah Bram, perempuan itu mengerutkan dahinya, kenapa ia merasa Bram tidak senang mendengar kabar bahwa Silvana mau menikah.


“Tau, aku kenal. Dia senior aku di kampus, dulu dia sering banget ledekin aku, kalo harusnya dia yang nikah sama Ana”


Wajarkah, tentu saja. Zen memang mengenal Silvana, walaupun Silvana tidak. Apalagi Nesya sering bercerita pada Galina ibunya, tentang perkembangan Silvana.


Jadi tanpa siapa pun tahu, Zen memang sudah lama mencintai Silvana. Dia juga tahu saat Silvana batal menikah pun dari ibunya. Padahal saat itu Zen sedang kumpul bersama dengan teman-temannya.


Pria itu langsung bergegas menuju ketempat dimana Silvana berada, bahkan ia mengelilingi rumah sakit saat itu, mencari Silvana.


Keiko bahkan tidak tahu akan hal itu, saat Silvana memilih tinggal sementara di apartemennya, Zen memang sering meminta Keiko untuk menemaninya agar bisa bertemu Silvana.


Pendekatan selama 3 tahun itu akhirnya berhasil juga, setelah berkali-kali melamar Silvana dan di tolak, pada akhirnya Silvana luluh juga pada pria itu.


“Serius Zen bilang gitu?”


“Iya, aku kira dulu dia bercanda, toh dia gak kenal juga sama Ana. Tapi karena terlalu sering, akhirnya aku tanya sama ibu, terus ibu bilang, Zen itu dulu niatannya mau di jodohin juga sama Ana, cuma karena ayah maunya jodohin Ana sama aku, makanya batal” saat menjelaskan soal Zen dan Ana, tampak jelas dari wajah Bram, pria ini tidak tenang.


Aini hanya bisa tersenyum sedih, memang hubungan bertahun-tahun tidak bisa hilang begitu saja. Bram bagaimana pun pasti sempat ada rasa dengan Silvana.


“Wah gila berarti Zen emang udah lama jadi stalkernya Ana, mesti di laporin ini mah sama yang bersangkutan” Keiko langsung bersemangat, sedangkan Bram dan Aini hanya diam saja.


Mereka sempat berbincang kembali, akan tetapi obrolan mereka terhenti saat suster memanggil Bram dan Aini untuk masuk.


Pasangan ini pun akhirnya berpamitan pada Keiko. Perempuan ini juga langsung bergegas ke kamar putranya yang tengah di rawat.


“Silahkan duduk bapak ibu…” sambut dokter pada Bram dan Aini.


“Jadi gimana dok hasilnya?” Bram langsung ketakutan, entah kenapa dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres.


Dokter tersebut pun memberikan amplop yang berisi hasil tes yang dilakukan Bram dan Aini.


Perlahan pria itu pun membuka amplop itu dan membaca hasilnya dengan tangan bergetar.


“Kondisi bapak baik-baik saja, semua normal. Akan tetapi untuk ibu…”


Mata Aini langsung berair. Ia tidak sanggup menahan air matanya. Apa yang tertulis di hasil tes itu, suatu hal yang sangat tidak ingin ia lihat.


“Dari serangkaian hasil tes kesuburan yang kami lakukan, kami menemukan bahwa ibu Aini mengalami gangguan pada saluran tuba falopi….”


Ya, disitu tertulis bahwa Aini mengalami infertilitas. Istri dari Bram itu dinyatakan mandul.

__ADS_1


Pandangan Aini langsung berubah menjadi buram, semua jadi gelap tanpa terlihat apapun.


“AINI…” teriak Bram, istrinya itu pingsan di tempat.


__ADS_2