ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 83


__ADS_3

 


 


 


 


Waktu sudah menunjukan pukul 7 pagi, saat Aksa berjalan masuk ke kantornya. Dibandingkan 5 tahun lalu, kantor Aksa kini jauh lebih megah, dia punya gedung sendiri yang dua kali lipat lebih besar ketimbang kantornya yang terdahulu, ini semua karena perusahaan papanya itu kini sudah merger dengan perusahaan yang ia dirikan sendiri.


 


 


“Selamat pagi pak Aksa”


 


 


Sambutan selamat pagi yang di terimanya sudah tak terasa asing lagi, jika di tanya beberapa tahun lalu Aksa merasa rishi ketika semua orang, bahkan yang tak dikenalnya bersikap ramah secara tiba-tiba, ya jabatannya sebagai CEO memang membuat banyak orang yang memiliki ‘agenda’ sendiri berusaha mendekatinya dengan segala cara.


 


 


Namun bagaimana pun Aksa tetap merasa bersyukur, setelah banyaknya masalah yang ia hadapi, saat ini kondisinya sudah lebih stabil dari pada beberapa tahun lalu.


 


 


Aksa juga punya kebiasaan baru saat baru sampai kantor. Hal yang pertama yang ia lakukan adalah meminta seluruh jadwalnya hari ini, lalu menghabiskan beberapa menit untuk membaca berita, setelahnya ia akan mulai bekerja.


 


 


Saat ia menghidupkan komputernya, hal pertama yang akan dilihatnya adalah foto Claudia sebagai wallpapernya, ia akan mengucapkan selamat pagi seakan Claudia dapat mendengarnya.


 


 


Gila? Memang. Aksa sadar benar dia sudah tak waras jika menyangkut soal Claudia. Tapi mau bagaimana lagi, untuk tidak memikirkan gadis itu rasanya jauh lebih sulit, ia merasa sesak yang luar biasa. Obat-obattan yang diminumnya pun seakan tak ada gunanya.


 


 


‘Claudia lagi apa ya sekarang? Apa dia sehat?’ gumam Aksa dalam hati.


 


 


Pria ini pun menghela nafas, lalu tersenyum lemah. Rasanya Aksa saat ini juga ingin sekali memeluk erat Claudia, menyatakan seberapa besar cintanya kepada gadis itu.


 


 


Sayangnya Aksa tak punya nyali untuk mengatakannya secara langsung. Ya, dia pengecut panggil saja begitu, namun permintaan Nesya, eyangnya tak semudah itu bisa diindahkannya.


 


 


Ia ingat beberapa tahun lalu setelah Nesya kembali dari bandara selepas mengantar Claudia.


 


 


 


 


Sesaat setelah tamu mulai pulang...


 


 


Aksa berlari keluar rumah saat melihat mobil yang membawa Claudia dan Nesya tadi memasuki gerbang.


 


 


Jantungnya berdebar kencang tak karuan, dalam hati ia masih berharap kalau Claudia tiba-tiba merubah pikirannya, perasaannya kacau.


 


 


Meskipun hari ini adalah hari dimana seharusnya ia merasa bahagia, pada kenyataannya Aksa justru merasakan kalau hidupnya sangat menderita.


 


 


Ia tak bisa tersenyum sedikit pun sepanjang acara, walaupun para tamu memuji betapa cantiknya Syakila juga kenyataan kalau Aksa adalah pria yang teramat sangat beruntung, karena bisa mendapatkan wanita secantik Syakila plus perusahaan keluarga Priambudi, bagi Aksa perempuan yang duduk berdampingannya dengannya saat ini adalah sumber dari semua bencana.


 


 


Ia yakin benar bahwa hidupnya tak akan pernah damai, setelah mengucap ijab kabul di depan penghulu.


 


 


“Eyang !!!” Ucap Aksa sambil berlari.


 


 


 


 


Nesya yang baru keluar dari mobil tersenyum, dirinya tahu benar bahwa Aksa pasti ingin menanyakan tentang Claudia.


 


 


“Ka…” seru Nesya sambil tersenyum.


 


 


Aksa pun mendekati eyangnya itu dengan ekspresi tak karuan, ia ingin memastikan keingintahuannya.


 


 


“Ade??? ade dimana Eyang???” ucap Aksa dengan suara bergetar.


 


 


Aksa langsung bergegas memeriksa mobil yang di tumpangi oleh Nesya, tapi Claudian bahkan tasnya pun tak ada, hasilnya memang nihil.

__ADS_1


 


 


Kaki Aksa terasa seperti Jelly, ia tak mampu untuk berdiri tegak. Mau tak mau ia harus menerima kenyataan bahwa kehidupannya tanpa Claudia harus dimulai sekali lagi.


 


 


 


 


“Ka…ikhlaskan ya…” Nesya menepuk pelan pundak Aksa.


 


 


Aksa bahkan merasa menangis pun tak akan cukup, ia butuh dan harus pergi menyusul Claudia, ia tak akan bisa hidup normal jika tidak melihat Claudia di dekatnya, tak bisa melihat senyumannya, semua hal tentang Claudia bagaikan udara yang membuat Aksa dapat bertahan hidup.


 


 


Memisahkan mereka berdua seperti sungguh sangat tidak adil bagi pria itu, ia sudah menunggu sangat lama sampai bisa memeluk tubuh mungil yang didambakannya, akan tetapi takdir begitu kejam pada mereka berdua.


 


 


“Aksa….Aksa harus jemput Claudia…sekarang belum terlambat…Aksa masih bisa jemput Claudia…” Aksa mulai meracau, membuat Nesya merasa iba.


 


 


“Aksa…”


 


 


Aksa dengan seluruh tenaga mulai melangkah mundur, tatapannya tak fokus bahkan tubuhnya bergetar hebat.


 


 


“Gak, gak bisa…Claudia….Claudia…” Aksa terus menyebut nama Claudia, Aksa bahkan menarik-narik rambutnya, seakan dunianya sudah mau kiamat saja.


 


 


Bagi Aksa yang ada didalam pikirannya saat ini adalah, semua hal yang pernah dia alami bersama dengan Claudia. Semua kenangan itu berputar dalam otaknya, bagaikan sebuah film.


 


 


Melihat Aksa terus menerus meracau dan tak merespon saat dipanggil, Nesya pun meninggikan suaranya sembari memegang pundak Aksa untuk menyadarkannya.


 


 


“AKSA !!! DENGER EYANG!!!” seru Nesya dengan keras.


 


 


Teriakan Nesya tadi ternyata mampu membuat Aksa menatap eyangnya itu dan sedikit kembali fokus.


 


 


 


 


Apa? Tidak ini tidak adil baginya. Kenapa sesulit ini untuk bahagia bersama dengan Claudia, ia cuma mau gadis itu jadi miliknya, kenapa semua orang menentangnya?.


 


 


“Eyang…” ucap Aksa lirih.


 


 


“Eyang tau ini gak adil buat kamu, tapi apa pernah kamu berpikir tentang perasaan Claudia ?”


 


 


Mata Aksa terbelalak mendengar apa yang dikatakan oleh Nesya. Ia begini karena justru tau kalau Claudia sama menderitanya dengan dirinya, mereka ingin bersatu namun kondisi tak memungkinkan, jadi bagaimana bisa Nesya bertanya perihal dirinya memikirkan perasaan Claudia.


 


 


“Aksa…Claudia sudah memutuskan untuk pergi, dia sudah membuat keputusan untuk membuka lembaran baru dan beranjak dari pusaran konflik yang kalian bertiga buat. Baik kamu Reiki dan Syakila sudah cukup menyakiti mental Claudia…” jelas Nesya.


Jelas bagi Aksa, bahwa Claudia memang telah memilih untuk berpisah darinya, namun dalam hati kecilnya ia masih tak sanggup menerima kenyataan itu. Apalagi mereka berpisah bukan karena keinginan keduanya.


 


 


 


 


“Ta…tapi eyang…Claudia…” Aksa tak ingin menerimanya, tidak ia sama sekali tak mau mengerti. Claudia masih bisa kembali dengannya, saat dia dapat membuktikan kalau anak yang dikandung Syakila bukanlah darah dagingnya, saat itu juga dia akan meninggalkan perempuan itu.


 


 


Tapi Claudia harus ada disisinya saat itu. Ketika semua itu terjadi pada akhirnya mereka bisa mendapatkan happy ending yang sesungguhnya.


 


 


“Iya eyang paham Claudia mencintai kamu, perasaan kalian bersambut…tapi jangan lupa, suka atau tidak saat ini status kamu adalah suami dari Syakilla dan janin yang ada di dalam perutnya itu jadi tanggung jawab kamu…”


 


 


Aksa tertegun, air matanya tumpah begitu saja. Ia merasa dunianya runtuh, tanggung jawab yang tiba-tiba di berikan kepundaknya tak bisa dipikulnya. Ya, Aksa benci anak itu, benci pada Syakila dan benci pada kenyataan bahwa dia harus menyerah.


 


 


“Claudia…” seru Aksa sambil menangis.


 


 

__ADS_1


“Aksa…biarkan Claudia mencari kebahagiaannya…biarkan dia tenang…Claudia butuh itu…” jelas Nesya.


 


 


Tanpa kedua orang itu sadari, sedari tadi Silvana mendengarkan pembicaraan keduanya. Ibu dari Claudia ini menghela nafas panjang, ini akan jadi perjalanan yang sulit untuk kedua anaknya.


 


 


“Kamu harus tegar ka…” ucap Silvana.


 


 


Suara bundanya itu kontan membuat Aksa menatap kearah ibu sambungnya.


 


 


“Bunda…”


 


 


“Kalau kamu memang menyayangi Claudia, lindungilah dia dengan cara tidak mengusik kehidupan yang baru mau dia bangun…setiap hal itu ada waktunya…”


 


 


Apa yang dikatakan Silvana justru membuat Aksa semakin histeris, ia semakin sedih dan tak bisa menahan emosinya. Silvana pun dengan spontan langsung memeluk putra sambungnya itu.


 


 


 


 


“Ka…bunda tau kalau bunda bicara begini adalah suatu hal yang salah, tapi percayalah kalau kalian berdua berjodoh gak ada satu hal pun yang bisa menghalangi kalian untuk bersatu nantinya.” Silvana menepuk-nepuk pelan punggung Aksa, untuk menenangkannya.


 


 


 


 


‘Claudia…’ gumam Aksa dalam hati.


 


 


 


 


“Permisi pak…” salah seorang karyawannya masuk kedalam ruangan Aksa, hingga membuyarkan lamunannya akan masa lalu.


 


 


“Iya?”


 


 


“Maaf pak, tadi saya sudah telepon dan ketuk pintu ruangan bapak, tapi tidak ada jawaban…”


 


 


Ah, sejauh itu Aksa tidak tersadar.


 


 


“Oh ya gak apa-apa..” ucap Aksa, memberitahu karyawannya.


 


 


“Sekali lagi maaf ya pak sudah tidak sopan, tapi di depan ada orang yang memaksa minta bertemu dengan bapak, katanya urgent…”


 


 


“Siapa?” tanya Aksa sembari mulai mengecek file yang masuk ke emailnya.


 


 


“Katanya istri bapak…ibu Syakila”


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2