
Mobil mewah berwarna putih kini sudah terparkir di depan sekolah Pallas, Claudia tersenyum dia membuka seat beltnya.
“Makasih kak udah anterin aku” jawab Claudia sambil mencium punggung tangan Reiki.
Reiki tersenyum sangat lebar, rasanya dia ingin terbang, apalagi kalau bukan karena ucapan Claudia kepadanya. Bukan pria ini yang memaksa untuk segera menikah, tapi gadis kesayangannya itu yang datang sendiri kepadanya.
Pria ini teringat kejadian beberapa menit yang lalu.
“Aku mau kita percepat pernikahan kita….segera” seru Claudia sambil menatap Reiki dengan serius.
‘Apa aku gak salah denger, Claudia minta aku buat nikahin dia secepatnya. Apa yang sebenernya terjadi, kenapa tiba-tiba begini’ gumam Reiki dalam hati, jelas sekali ada sesuatu yang terjadi pada Claudia, tapi Reiki tidak tahu apa. Jika soal perlakuan gadis ini yang membaik kepadanya, mungkin itu masih wajar, tapi pernikahan secepatnya terasa janggal bagi pria ini.
Tentu saja, perlu motivasi besar bagi seseorang untuk memutuskan berumah tangga, selain itu dalam situasi mereka, Claudia benar-benar tidak ingin menikah secepatnya, itulah yang membingungkan Reiki. Jika saja dia tidak mencintai Claudia, dan hanya menggunakan gadis ini sebagai alat dari rencanya, mungkin Reiki akan bersorak sorai sekarang, bagaimana pun Claudia sendiri yang meminta untuk cepat dinikahi.
Namun Reiki tidak seperti itu, pada dasarnya dia adalah pria yang penyayang, terang saja ia khawatir pada Claudia, setidaknya dia harus tau apa yang sedang dialami gadis kesayangannya itu.
“Kak…???” Claudia menunduk, sebenarnya gadis mungil ini malu, karena secara tidak langsung Claudia seperti sedang melamar Reiki agar menjadi suaminya.
“Uhm Di…aku sih seneng banget dengernya, ini rasanya aku mau jedotin kepala takut aku mimpi….” Seru Reiki sambil tersipu malu.
Claudia tertawa, dia baru pertama kali melihat kakak kesayangannya itu, bersikap seperti anak-anak yang baru jatuh cinta. Wajah Reiki memerah, bukan hanya wajah kupingnya pun juga.
“Tapi Di, apa kamu yakin mau nikah secepat ini...???”
Senyum Claudia langsung menghilang, gadis itu melepas genggamannya pada Reiki lalu membuang muka. Dia sedikit menjauh dari pria itu, akan tetapi bukan Reiki namanya jika tahu tentang gerak-gerik Claudia, dengan pasti ia mengerti bahwa tunangannya ini sedih.
Dengan cepat Reiki menarik tubuh mungil Claudia kedalam pelukannya, ia menepuk pelan punggung gadis kesayangannya.
Claudia tidak bisa banyak bicara, apalagi setelah Reiki memeluknya, sekelebat adegan di masa lalu terputar kembali di dalam pikiran gadis itu. Bagaimana perlakuan Reiki selama ini padanya, dan sudah pasti semua itu karena pria itu mencintai Claudia dan menerima semua kekurangannya.
“Di, aku bukannya mau nolak….Kalau kamu bisa baca pikiran aku sekarang, kamu pasti bakalan tahu rasanya aku mau lari-lari ala film India” jelas Reiki yang disambut oleh tawa kecil Claudia.
“Kan kamu tahu yang ngebet banget nikah sama kamu itu aku, cuman maksud aku apa gadis kesayangan aku ini udah yakin, buat nikah sama aku secepat itu. Kamu sendiri yang bilang kan masih mau main-main dulu sampe selesai ujian nasional, baru deh kita bisa nikah” Reiki merenggangkan pelukannya, lalu menyelipkan helaian rambut Claudia di belakang kuping gadisnya itu.
“Kakak, aku yakin…aku mau secepatnya nikah sama kakak…kakak liat ini” Claudia membuka beberapa kancing kemejanya, memperlihatkan tanda bekas Aksa tadi.
Reaksi Reiki?, ya jelas saja terkejut. Ia tahu benar tanda itu, bekas apa. Seketika rasanya ia terbakar api amarah, pria ini tahu siapa pelaku yang meninggalkan jejaknya pada Claudia.
“Di….ini….”
“Kak, tolong aku….buat semuanya jadi normal….tolong aku supaya aku bisa lupain kak Aksa…biarin semua pada tempatnya, tolong balikin lagi posisiku sebagai adik bukan sebagai kekasih kak Aksa, aku gak mau menghancurkan apapun….aku gak bisa lagi kak, aku takut aku sama ka Aksa bakalan melewati batas kalau terus begini…..aku gak bisa hidup sama mereka lagi….” Claudia menangis sejadi-jadinya.
Sedangkan pria itu langsung memeluk erat kembali Claudia, tanpa gadis ini tahu bahwa Reiki sudah membayangkan untuk menikam Aksa di tempat.
‘Aksa, sialan…lihat aja kamu bakal membayar semuanya….” Ucap Reiki dalam hati, padangan matanya dipenuhi amarah, harus kah dia membunuh Aksa, tentu saja tidak. Terlalu mudah bagi Aksa untuk pergi begitu saja, dia harus bermain-main dan menghancurkan hidup pria itu.
“Claudia, ayo kita menikah….aku janji bakalan ngabulin semua permintaan kamu”
Claudia tidak menjawab, gadis itu sudah menahan tangisnya sejak Aksa menyerangnya. Tidak dia memang tidak ingin menangis di depan lelaki itu, ia tahu persis jika menangis di depan Aksa, hatinya akan melemah dan mungkin saja mereka akan menghancurkan kebahagiaan orang-orang di sekitarnya. Begini lebih baik, semua sesuai pada tempatnya. Reiki adalah calon suaminya dan Aksa sudah seharusnya ‘hanya’ menjadi kakaknya saja.
“Jangan nangis Claudia, aku gak suka lihat kamu sedih” Reiki melepas pelukannya lalu menyeka tangis tunangannya itu.
__ADS_1
“Aku sayang sama kamu Di, walaupun aku tahu kamu belum bisa cinta sama aku, seperti kamu mencintai Aksa, tapi aku akan tunggu sampai kamu bisa melupakan laki-laki itu” Reiki mencium kening Claudia dengan perlahan.
Claudia mengangguk, dia membenamkan kepalanya di dada Reiki, menutup matanya dan berusaha melupakan semua kenangan yang telah ia lewati bersama dengan Aksa.
“Nah, jadi calon istri….kita jalan lagi ya….” Reiki melepaskan pelukannya, lalu menaruh kedua tangannya di pundak Claudia, semua itu mampu mengembalikan senyum gadis itu.
“Iya calon suami, tolong ngebut ya…” seru Claudia sambil mengepalkan tangannya keatas.
Reiki tertawa, gadisnya memang lebih cocok tersenyum daripada menangis, dia pun membelai kepala Claudia perlahan, lalu menghidupkan kembali mobilnya.
“Hehehe, nah gitu dong kalau kamu senyum gini kan calon suami juga jadi bahagia” seru Reiki sambil mencubit pipi Claudia dengan salah satu tangannya.
“Hahahaha, iya tapi nanti calon istri minta jajanin ya, abis pulang sekolah”
Ya, setidaknya saat ini semua yang terjadi tadi sudah membuat Reiki berbahagia, gadis impiannya akan segera menjadi nyonya Alvaro, menjadi istri yang selalu diimpikannya.
“Kak???” Claudia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Reiki.
“Iya sayang, nanti kakak jemput ya, kamu jangan jajan yang gak jelas” Reiki pun keluar dari mobil.
“Iya…iya….”
Claudia tahu Reiki memang cerewet masalah jajanan, sejak mereka masih kecil pria ini memang begitu, dia selalu memilihkan apa yang boleh dimakan dan tidak oleh Claudia.
“Jangan iya iya aja….” Seru Reiki sambil mencubit pipi Claudia.
Claudia memutar bola matanya, Reiki yang seperti sulit untuk di bantah. Jadi Claudia cuma bisa cemberut saja.
“Aku cuma mau kamu sehat Di, sebagai calon suami kamu wajar kalau aku khawatir” Reiki menaruh kedua menyilangkan tangannya di depan dada.
“Hmmm iya…” jawab Claudia malas.
Dari kejauhan, Alif dan Icha juga sudah sampai di gerbang sekolah, Alif memakirkan motornya tepat disamping mobil Reiki.
“Uy masih pagi udah mesra aje lu” celeteuk Alif, sambil membuka helmnya.
“Aliiiiifffff……Icha……..” seru Claudia, ia langsung membantu temannya turun dari motor yang dikendarai oleh Alif.
Icha menatap lurus kearah Reiki, sedangkan orang yang ditatap malah salah tingkah. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh gadis ini, sejujurnya Reiki penasaran. Alif dan Claudia disisi lain tidak menyadarinya, karena dua orang itu sibuk membicarakan tugas kelompok mereka.
“Cha?” panggil Claudia yang sadara bahwa sahabatnya sedikit termenung.
“Ya Di…?” Icha kini tersenyum menghadap Claudia, gadis berhijab ini menyudahi pandangannya pada Reiki.
“Kamu kenapa??” Claudia terlihat khawatir, entah apa yang terjadi tapi semenjak Icha hilang, semua orang tiba-tiba bersikap berlebihan padanya.
“Gak apa-apa kok…” Icha menarik tangan sahabatnya itu, sambil meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.
“Beneran???”
“Iya…”
__ADS_1
Reiki benar-benar tidak nyaman dengan situasi ini, ia sadar bahwa Icha masih kesal padanya, tatapan gadis itu benar-benar tidak ramah. Jelas saja Icha masih tidak percaya dengan apa yang direncanakan oleh Reiki, seandainya saja bisa gadis ini ingin segera memberitahu Claudia, namun apa daya melihat mata sembab Claudia sedari tadi membuat Icha kembali mengurungkan niatnya.
Alif melihat jamnya, 15 menit lagi mereka masuk, sudah barang tentu dia harus segera memakirkan motornya.
“Cha, abang pakir dulu kamu sama Claudia ya” titah Alif sambil meminta helm yang digunakan oleh Icha.
“Iya”
“Bang Reiki, gw masuk duluan ya…”
“Oh ya Lif…” jawab Reiki sambil tersenyum.
Melihat Alif masuk kedalam gerbang, Reiki berpikir mungkin ini saatnya untuk kembali meminta maaf pada Icha, dan memohon agar Icha tidak menceritakan apa yang terjadi. Lagi pula, Reiki juga khawatir pada Icha. Bagaimanapun gadis itu juga sudah dianggapnya sebagai adik, jadi wajar Reiki khawatir saat Icha menghilang.
“Kak aku juga ya…” Claudia kembali menyalami Reiki, tentu saja ini membuat hati Reiki berbunga, dia merasa seperti sedang mengantarkan Claudia waktu masih TK dulu, karena gadis ini bisa berkali-kali mencium punggung tangannya.
“Iya Di, belajar yang bener jangan aneh-aneh” seru Reiki sambil tertawa, sedangkan gadis itu hanya manyun. Icha juga diam saja mengikuti sahabatnya itu, tidak seperti biasa dia akan menyapa Reiki, gadis ini memilih acuh.
“Icha….aku boleh ngomong sebentar sama kamu?” pinta Reiki tiba-tiba, yang membuat Claudia dan Icha saling bertatapan.
“Di kamu duluan aja…” seru Icha melepas gandengan tangan mereka.
“Hmmm ok deh”
Claudia akhirnya memilih pergi ke kelas lebih dahulu, dan membiarkan Icha berbincang dengan Reiki. Karena sepertinya lagi-lagi Claudia sadar, Icha tidak bersikap seperti biasanya, ingatkan gadis itu untuk mencari tahu apa yang terjadi.
Icha pun berbalik badan dan melangkah dengan berat, dia kini berada didepan Reiki, berusaha memasang wajah stoic tanpa ekspresi sama sekali.
“Kenapa kak?”
“Kamu gak-apa?, aku denger kamu hilang sehabis kita ketemu hari itu… aku khawatir banget…” seru Reiki dengan tulus.
“Allhamdulillah aku gak kenapa-kenapa…terima kasih sudah khawatir…kalau gitu Icha masuk dulu ka..” Icha pun kembali berbalik badan, dan melangkah masuk ke gerbang sekolah, sebelum Reiki memanggil namanya kembali.
“Cha…tunggu sebentar”
Reiki benar-benar terkejut dengan sikap Icha, semarah apapun gadis ini akan selalu berusaha untuk bersikap ramah, tapi lihat apa yang terjadi. Reiki bahkan dengan jelas bisa melihat Icha tidak sudi bicara dengannya. Ini membuat perasaan pria itu menjadi sakit, sadar atau tidak hati Reiki merasa ngilu.
Suara panggilan Reiki tadi rupanya sukses membuat Icha kembali membalikan badannya, ia kini menatap wajah Reiki dengan dahi yang dikerutkan.
“Aku cuma mau minta maaf dan terima kasih karena kamu cerita apapun sama Claudia, jadi aku…”
Icha mendekati pria itu, masih setia dengan dahi yang ia kerutkan. Reiki benar-benar berhasil membuka kotak Pandora milik Icha. Gadis ini kini dengan mudah bisa bersikap acuh walaupun hanya dengan Reiki saja.
“Icha bukannya gak mau cerita kak, tapi nanti disaat kakak sudah melakukan sesuatu yang menurut Icha tidak pantas, maafkan Icha kalau Icha harus sampaikan semua yang Icha dengar sama Claudia. Permisi ka, sebentar lagi bel masuk” Icha berlalu, dia merasa jawabannya sudah cukup untuk saat ini.
Jawaban Icha tadi membuat Reiki terdiam, pria ini mengeratkan kepalan tangannya, hingga buku-buku jari tangannya memucat. Tentu bukan kesal dengan jawaban Icha, tapi karena ia mereasa apa yang dikatakan gadis itu benar, sejak mereka pertama kali bicara soal rencana Reiki.
‘Icha, aku minta maaf tapi sekarang aku udah gak bisa mundur, apalagi Claudia yang datang menyerahkan dirinya sendiri, aku yakin Aksa bakalan lebih parah mengincar sahabat kamu itu, karenanya gak ada satu pun yang bisa bikin aku berhenti, buat nyingkirin Aksa’ gumam Reiki sambil melihat dengan tatapan kosong kearah Icha.
Lamunan Reiki terganggu, karena ponselnya bergetar, dia langsung mengechecknya, dan tersenyum sinis.
__ADS_1