
Udara yang dingin menusuk ke tulang, keheningan malam yang menyeruak membawa pikiran jauh melayang.
Setidaknya itu yang kini sedang dirasakan oleh Claudia, yang tengah terduduk lesu di depan kolam renang. Sudah 1 malam mereka menginap di villa, dan gadis ini sama sekali tidak senang.
Perhatian Aksa padanya benar-benar sudah lenyap, dan pria itu malah sangat mesra dengan Syakilla. Walaupun Claudia bilang mau ikhlas, tetap saja hatinya sakit melihat dengan mudahnya Aksa merangkul perempuan lain.
Pada prakteknya melupakan seseorang memang tidak semudah kelihatannya, butuh keikhlasan, konsisten tingkat tinggi, dan rasa sakit yang cukup. Tapi, terkadang butuh waktu yang singkat, untuk menyadari bahwa kehidupan itu memang harus didasari dengan toleransi cukup tinggi pada sesuatu yang bernama ‘kenyataan’.
Claudia menganggap apa yang ia lihat selama berada di villa, telah menjadi bukti dari kenyataan yang harus di jalaninya. Apalagi sejak awal dialah yang memutuskan untuk melepaskan Aksa, tapi kenapa sekarang jadi terasa sulit.
Gadis ini teringat kemarin saat baru sampai di villa, bagaimana Aksa memperlakukan Syakilla, ketika memindahkan barang di bagasi mobil.
Claudia, Syakilla membereskan tas dan menaruhnya di depan teras. Yang tersisa hanya barang-barang yang cukup berat.
Aksa beberapa kali melirik kearah Claudia, dia ingin sekali membuat adiknya itu duduk, karena jelas perempuan yang sangat ia cintai itu kelelahan. Di banding Syakilla, sejak tadi Claudia memang lebih banyak membereskan barang.
Tapi jika ia melakukannya, maka akan bertentangan dengan rencana mereka. Aksa berpikir ini malah moment yang bagus untuk membuat Claudia cemburu.
Aksa langsung menarik tangan Syakilla, dan mengelap peluh yang ada di dahi perempuan itu, sedangkan Claudia kini tepat berada di depan mereka berdua, berusaha untuk acuh dengan apa yang dilihatnya.
“Killa, kamu jangan bawa apa-apa nanti capek” Aksa mengelus lembut pipi Syakilla, hal ini sukses membuat Syakilla tersipu malu.
Tidak pernah terbayangkan oleh Syakilla, jika Aksa bisa bersikap manis seperti ini padanya, bahkan saat mereka berpacaran pun, Aksa selalu acuh dan kasar padanya.
Menyadari bahwa pria itu sudah memulai permainan, Syakilla pun mulai berakting dengan baik, ya katakan saja itu pura-pura, walaupun dalam hati Syakilla kegirangan karena bisa membuat Aksa perhatian padanya, seperti yang selama ini ia impikan.
“Gak apa-apa kok mas…” jawab Syakilla lembut, sambil turut menyentuh pelan wajah Aksa.
Melihat Claudia kembali lagi untuk mengambil tas jinjingnya, Aksa melirik kearah adik tirinya itu, dan langsung membuat Syakilla melepaskan gagang dari cooler box berisi bahan makanan yang cukup berat.
“Suruh Claudia aja…” ucap Aksa dengan dingin.
Mendengar namanya disebut Claudia langsung menatap kedua orang tersebut, yang bisa ia lihat Aksa menampakkan ekspresi sinisnya, sedangka Syakilla memasang wajah tidak enak pada Claudia.
Melihat Aksa menggeser cooler box itu ke depan Claudia, gadis ini tercengang. Tentu saja kotak berisi makanan itu berat, dan Claudia sudah kelelahan apalagi sehari sebelum berangkat dia bisa tidak tidur sama sekali.
“Lho kok aku kak?” protes Claudia.
Aksa berusaha melawan hati kecilnya, dia tau apa yang akan dikatakannya membuat Claudia sakit hati, tapi ia harus memastikan Claudia sendirilah yang merengek untuk kembali padanya.
“Bawel, cewe gorilla kaya kamu mah pasti kuat bawa cooler box. Kalo Killa dia ga bakalan kuat. Dengerin ya beda sama kamu, Syakilla itu bener-bener perempuan anggun dan lembut, bukan cewe kasar kaya kamu” Aksa benar-benar memasang wajah dingin. Dia juga mengucapkannya seluruh kalimat dengan penekanan.
Ya Aksa sukses membuat Claudia menatap nanar ke arahnya, gadis itu tidak percaya Aksa bisa kasar padanya. Akhirnya Claudia hanya menunduk sembari menahan tangisnya.
Syakilla tersenyum sebentar, sebelum meminta pada Aksa untuk membiarkan dirinya saja yang membawa barang itu.
“Mas…udah-udah….Claudia sini biar kak Killa yang bawa, kamu masuk aja gih…” Syakilla tersenyum dan menyentuh pundak Claudia. Gadis itu pun mengangguk dan melihat kearah Aksa dengan perasaan hancur.
“Kamu gak boleh bawa apapun Killa, nanti kalo asma kamu kumat gimana” Aksa menarik tangan Syakilla yang ada di pundak Claudia, dan menciumi punggung tangan perempuan itu.
Claudia sekali lagi terdiam, ia bisa melihat bagaimana Aksa bersikap sangat baik pada Syakilla, tidak ada bentakkan, dan kemarahan pada perempuan itu.
Menyadari Claudia memperhatikan aksi mesra antara Aksa dan Syakilla, pria itu pun langsung menatap Claudia dengan wajah jengkel, ia pun tidak lupa meninggikan suaranya.
“Liatin apa heh, cepet bawa tuh cooler box cewe gorilla” seru Aksa.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang lagi, Claudia langsung membawa box yang berat itu, jalannya tertatih dia kelelahan baik mental maupun fisik, apalagi gadis mungil ini masih shock mendengar Aksa menghardiknya seperti itu.
Aksa mengepalkan tangannya, dia merasa kesal pada diri sendiri. Bagaimana bisa dia bersikap kasar seperti itu, tapi ia berjanji pada dirinya sendiri, ketika Claudia telah menjadi miliknya dia tidak akan pernah membuat Claudia kelelahan dan merasa sakit seperti sekarang.
BRUUUGH, suara cukup keras terdengar. Hingga Reiki langsung berlari keluar dari dalam villa. Pria itu tadi diminta oleh Bram untuk membantu mengangkat kasur, karena itulah dia tidak bisa membantu Claudia.
Mata Reiki membelalak, yang terjatuh rupanya Claudia, tangan gadis ini tertimpa box yang dia bawa.
“CLAUDIA !!!” Reiki panik dan berlari kearah gadis itu, dengan sigap ia mengangkat cooler box yang posisinya menimpa tangan kanan gadis itu.
Gadis itu meringis, lututnya terluka dan sudah bisa dipastikan tangannya pasti bengkak, tapi ia berusaha untuk menahan rasa sakit itu. Claudia tidak ingin membuat orang-orang berhamburan dari dalam villa.
“Sayang kamu gpp?” ujar Reiki sambil memeriksa kaki dan tangan Claudia.
“Gak apa-apa kak..” Claudia menangis, ia merasa hatinya lebih sakit ketimbang kaki dan tangannya yang terluka.
“Kamu ngapain sih bawa barang berat kaya gini, kan bisa minta tolong sama aku Di”
“Biasanya aku kuat kok, cuma tadi aku oleng ka, kepala aku pusing” Claudia berusaha untuk tersenyum walau airmatanya masih mengalir.
Reiki mengerutkan alis matanya, pria ini langsung mengangkat Claudia dan membopongnya dengan perlahan.
Disaat bersamaan Aksa berlari kearah Claudia, dia terkejut melihat adiknya itu tertimpa barang yang ia perintahkan untuk dibawa oleh Claudia.
“CLAU…dia…” suara Aksa mengecil, ia melihat bagaimana Aksa menggendong Claudia dan menciumi kening gadis itu. Dia sangat marah, cemburu lebih tepatnya.
“Lebay banget sih, cuma jatoh segitu aja mesti di gendong ala-ala penganten baru, susah sih ya kalo sama-sama gila kawin hahaha. Yang satu sok polos, satu lagi sok pinter…pasangan yang cocok banget ya, sama-sama gatel” Aksa menyindir Reiki dengan suara yang cukup keras, tentu saja baik Claudia maupun Reiki bisa mendengarnya.
Wajah Claudia memerah, dia malu, kesal dan merasa tidak punya harga diri sama sekali, gadis ini malah semakin menangis, dan mulai terisak.
Reiki sudah mulai emosi, dia benar-benar ingin memukuli Aksa, rasanya dia tahu siapa dalang yang menyuruh Claudia membawa barang berat.
“Sayang, gpp….” Seru Reiki sambil tersenyum, tapi satu hal yang Claudia tahu, Reiki sangat-sangat marah sekarang, dia bisa dengan mudah memukuli Aksa, dan itu yang benar-benar tidak diinginkan oleh Claudia.
Gadis itu lansung memeluk erat leher Reiki, ia menyandarkan dahinya di sisi leher tunangannya. Berusaha menenangkan emosi Reiki.
“Kak, jangan kak….kita baru sampe, ade gak mau ada ribut-ribut…” seru Claudia, memohon sambil menatap lurus kearah Reiki.
“Gak tenang aja…” Reiki mencium kening Claudia, meyakinkan gadisnya bahwa dia tidak akan memulai keributan apapun.
Aksa semakin gerah melihat kemesraan kedua orang yang ada didepannya, sayangnya pelampiasan amarahnya ini salah sasaran. Aksa terus mengatakan sesuatu yang sudah pasti menyakiti gadis itu.
“HEH CLAUDIA, CEPET TURUN, TERUS LANJUT BAWA BARANG. DASAR GAK GUNA !, MANUSIA LEBAY, BERENTI WOY MESRA-MESRAANNYA, GAK PUNYA HARGA DIRI BANGET JADI PEREMPUAN” Teriak Aksa, sedangkan Syakilla hanya tertawa saja, tentu tidak dengan suara, ia berusaha menahan rasa senangnya.
Tapi tidak dengan Reiki, senyum di wajahnya menghilang. Dia membawa Claudia bersamanya dan berjalan kearah Aksa, dengan jelas kemarahan sudah menguasai pria itu.
“Memang kenapa kalau Claudia mesra-mesraan sama saya?” tanya Reiki sambil melihat kearah Aksa dengan tatapan penuh amarah, namun masih berusaha sabar, karena ada Claudia disisinya.
“Hah…” Aksa mengerutkan alisnya, ia tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh Reiki, tentu saja tidak boleh. Claudia hanya boleh bermesraan dengannya, pikir Aksa.
“Kamu bener Aksa, saya sama Claudia memang sama-sama ingin cepat menikah, bagi saya walaupun Claudia berkali-kali menolak saya, tidak akan pernah saya biarkan Claudia terluka. Untungnya disini, sayalah calon suaminya bukan orang lain.” Jawab Reiki sambil tersenyum, ia dengan jelas menyindir Aksa kembali.
Claudia ketakutan, ia lebih memilih membenamkan wajahnya di dada bidang milik Reiki, gadis ini gemetaran. Dia tahu Reiki sudah masuk mode murka.
Sedangkan Aksa juga tidak jauh berbeda, keduanya di batasi oleh Claudia, jika perempuan itu tidak ada didepan mereka, sudah bisa dipastikan akan terjadi baku hantam terparah di dalam sejarah keluarga Priambudi dan keluarga Alvaro.
__ADS_1
“Apa maksud lo hah…” Aksa mengepalkan tangannya dengan sangat kencang.
“Maksud saya, sekali lagi kamu bikin Claudia nangis gini, saya bakalan tunjukin kamu sedang berurusan sama siapa. Saya disini masih sabar, karena mempertimbangkan kamu sebagai calon kakak ipar saya, permisi. Oh ya, kalau kamu selemah itu, sampai gak kuat bawa barang-barang yang masih ada di bagasi, tinggal aja nanti saya yang bereskan semuanya.” Reiki tersenyum sinis, dan membalikan badannya, berjalan cepat meninggalkan Aksa dan Syakilla.
Reiki dan Claudia pun menghilang dari pandangan Aksa, tentu saja pria ini rasanya ingin meninju sesuatu.
Ia berteriak dan menendang keras pohon yang ada didepannya. Aksa benar-benar kesal, bukan hanya pada Reiki tapi juga pada dirinya sendiri.
“BRENGSEK !!!” Teriak Aksa.
Syakilla agak terkejut melihat Aksa yang lepas kontrol seperti itu, perempuan ini pun mendekati Aksa, dan berniat memeluk mantan kekasihnya tersebut.
“Mas…” seru Syakilla lembut.
Namun yang ia dapati adalah Aksa yang menepis kasarnya tangannya. Pria itu juga mendelik kearah Syakilla. Dia tidak ingin diganggu, ingin sendirian dan menyalahkan dirinya sendiri, karena terlalu berlebihan hingga membuat Claudia cedera.
“Jangan pegang-pegang Killa…mereka udah ga ada di depan kita, lebih baik kamu masuk sekarang ketimbang aku lampiasin kemarahan aku sama kamu. CEPET SANA PERGI !!!” bental Aksa diakhir ucapannya.
Claudia menghembuskan nafasnya dengan kasar, tangan kanannya bengkak, pergelangan kakinya terkilir, lengkap sudah penderitaan gadis cantik itu.
“Kamu mikirin apa Di?” seru Reiki sambil membawa piring berisi makanan.
“Gak kak, aku gak mikirin apa-apa” jawab Claudia sambil tersenyum.
Reiki pun duduk di samping Claudia dan memakaikan selimut kecil di pundak gadis itu.
“Diluar dingin, kamu pake jangan dilepas, kakak takut kamu masuk angin” seru Reiki, Claudia hanya mengangguk saja.
Sejujurnya tidak ada yang kurang dari pria bernama Reiki Delana Alvaro, Claudia memperhatikan wajah pria yang duduk disampingnya itu, sangat tampan hanya itu yang bisa didefinisikan tentang Reiki.
Pembawaannya yang tenang, serta perhatiannya yang lebih pada Claudia selalu membuat gadis itu nyaman, seumur hidupnya pun Claudia tidak pernah di bentak atau diperlakukan kasar oleh tunangannya itu. Tapi kenapa, perasaan yang bernama ‘cinta’ itu sepertinya sangat jauh. Claudia merasa sulit untuk mencintai Reiki lebih dari cintanya sebagai seorang adik.
“Kak…” seru Claudia pelan.
“Ya?”
Claudia langsung memeluk Reiki dengan erat, tentu saja Reiki senang. Dia membalas pelukan hangat tunangannya.
Ada satu hal yang sebenarnya diinginkan Reiki sejak dulu, walaupun dia sudah merasa lebih dekat dengan Claudia, tapi dia ragu apakah akan diijinkan atau tidak.
“Di…” seru Reiki perlahan, dengan wajah bersemu merah.
“Hmm..” Claudia masih meletakan kepalanya di dada Reiki, sebelum gadis ini menyadari bahwa debaran jantung Reiki benar-benar sangat keras.
“A…aku…uhm”
Claudia juga jadi grogi, karena sepertinya dia tahu apa yang di inginkan oleh tunangannya itu, apalagi suasana mendukung.
“Kenapa kak?” tanya Claudia berusaha untuk tenang.
“Aku boleh cium?”
Tubuh Claudia menegang, ia langsung melepas pelukannya dan menatap lurus kearah Reiki.
“Boleh aku cium kamu?” seru Reiki.
__ADS_1
‘Claudia, gimana ini…aduh…’ gumam Claudia bingung.