ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 88


__ADS_3

“Hah!!! Kita berangkat jam 23.40?!” Seru Hanif berlari mengecek keberangkatan pesawat.


“Aman lah, ini masih jam 8 kok...” ucap Nico.


Eros dan Hanif menatap Nico dengan wajah sebal, ya aman tentu saja wong ini masih jam 8 malam.


Nico tadi sibuk, heboh bilang kalau pesawat mereka sebentar lagi lepas landas, belum lagi masalah soal bagasi dan lain-lain, makanya mereka semua terburu-buru, sampai panik.


Masalahnya semua tiket di urus oleh Nico, jadinya mereka tidak tahu menahu, dan tiap di tanya Nico cuma bilang “Udah ga usah cerewet, gw yang atur”, begitu terus jawabannya.


“Heh bucin bangkotan !!! Lu ya !!! Tadi gw lagi ngerebus indomie tau gak!!! Hiks mie goreeeeng kuuuuuuu” Hanif kesal setengah mati, tapi ya mau gimana lagi sudah sampai juga di bandara.


“Udahlah kan bisa ke lounge, lagi gw mau beli oleh-oleh dulu” Nico langsung jelalatan melihat toko-toko yang berjejer.


Duh, boleh ga sih sekali aja nampar si Nico, pikir Hanif.


Sahabatnya itu pasti mempercepat kepergiaan mereka ke bandara karena mau beli oleh-oleh buat adiknya tercinta, Nura. Mau marah juga jadi susah pikir Hanif.


Hanif dan Eros cuma bisa menghela nafas, pasrah.


Tapi disisi lain ada satu orang yang nampaknya hampir saja mereka lupakan, Claudia sama sekali tidak bicara sepatah kata pun.


Melihat gadis itu begitu terganggu, Hanif pun menepuk pundak Nico, memberikan kode agar Nico bicara pada Claudia.


“Muka bisa dikondisikan gak?” Seru Nico sambil mencubit pipi adik sepupunya Claudia.


Hari ini setelah drama yang tak bertidak kesudahan, dengan sangat berat hati akhirnya Claudia mempasrahkan diri untuk mengikuti kemauan Nico.


Kalau biasanya dia selalu melayani ajakan adu mulut dari kakak sepupunya itu, kali ini Claudia memilih untuk tidak meladeni.


Gadis ini sudah terlalu pusing, memikirkan apa yang akan terjadi kepadanya ketika ia sampai di Indonesia.


Alasannya apalagi kalau bukan, Seseorang yang paling ia lupakan di dalam hidupnya, yaitu Aksa.


Semenjak kakak sambungnya itu menikah, Claudia sama sekali tidak ingin tahu ataupun mencari informasi perihal kakak laki-lakinya itu.

__ADS_1


Bahkan disaat Silvana ataupun saat Nesya, eyangnya, mengungkit atau memulai permbicaraan tentang Aksa, maka Claudia akan buru buru mengganti topik.


Apakah kalau dia kini membenci Aksa? Tidak bukan itu alasannya. Sejujurnya dia ingin tahu tentang kabar lelaki yang sangat ia cintai itu, akan tetapi banyak pertimbangan yang membuat dirinya mengurungkan niat.


Salah satunya adalah ia tidak ingin menjadi duri dalam daging di dalam perkawinan kakak nya, terlepas dari bagaimana cara mereka, Syakila dan Aksa menikah, perempuan itu dimata agama dan negara adalah istri sah dari Aksa.


Alasan lainnya adalah Claudia ingin move on, dia sama sekali tidak berniat untuk hidup terpuruk dan terus menerus berdiam diri dalam bayang-bayang masa lalu, keinginan nya cuma satu yaitu menjalani hidup dengan lebih baik di masa depan.


Baginya pulang ke Indonesia merupakan salah satu batu sandungan, ia sangat khawatir kalau kepulangannya membuat kegaduhan. Apalagi kalau bukan antara dirinya dan Syakila, karena gadis itu tau benar bahwa istri dari kakaknya itu benci setengah mati padanya.


Apalagi Claudia bukannya tidak tahu, kalau selama ini kakak nya itu berusaha mencari informasi mengenai dirinya. Setidaknya kabar dan kemungkinan kapan Claudia akan kembali, menjadi hal yang paling ingin diketahui oleh kakak sambungnya tersebut.


Apakah dia berhasil? Ya karena hanya sahabatnya yang tau akan kabar soal Claudia, orang tuanya pun menutupi seluruh info tentangnya dari Aksa.


Namun, pelariannya selama ini terasa amat sia-sia. Seberapa jauh pun ia ingin kabur, ternyata semakin dekat pula ia pada inti badai.


Orang yang paling tidak ingin ia lihat, justru jadi seseorang yang paling besar kemungkinannya ditemui setiap hari.


Adalah hal yang tidak mungkin bagi Claudia untuk menghindari bertemu dengan Aksa. Karena pikir Claudia, kalau kakanya itu tau bahwa dirinya telah kembali, sudah pasti Aksa akan terus berusaha mencari cara untuk mendekatinya lagi.


“Kakak jangan ganggu aku…” ucap Claudia sinis. Gadis ini tak suka dengan Nico yang tanpa henti terus menerus mengkritik ekspresinya.


Nico cuma menghela nafas, dalam hatinya ia tahu kalau Claudia pasti tengah merasa kebingungan, tapi mau bagaimana lagi, semua demi Nesya.


“Ade…kamu gak bisa lari terus dari masalah…kakak udah bilang berkali-kali sama kamu kan, gak akan ada ujungnya kalo kamu keukeh menghindar” Nico menatap wajah Claudia dengan serius.


“Aku tau kak…” Claudia menundukan kepalanya.


Claudia tau benar dia tak bisa terus menerus berpura-pura seakan tidak ada masalah, hanya saja sampai kapan?. Selama 5 tahun terakhir ini Claudia merasa hidupnya lebih baik, namun memang ada didalam hatinya ada spot kosong yang tak bisa diisi oleh orang lain, bahkan Reiki sekalipun.


“Kalau kamu udah tau jangan lemah, bukan sifat keluarga besar kita untuk menyerah begitu aja…lagian ya apa kamu pikir ka Aksa bakalan diem aja dan gak bergerak sama sekali ? cuman masalah waktu sampe batas kesabarannya jebol buat nemuin kamu…” jelas Nico.


Lemah?, tidak bukan begitu. Mungkin ada satu sisi dalam diri Claudia yang memang lemah tapi itu semua karena dia tak bisa melupakan Aksa, sehingga ia menganggap dirinya begitu lemah dan tak berdaya jika sudah berhubungan dengan kakak sambungnya itu.


Akan tetapi, kalau soal lemah karena ia menyerah, itu sama sekali tak benar. Selama ini ia sudah berjuang walaupun dengan caranya sendiri, yang terkadang memang tak bisa dan di pahami oleh orang lain. Ya, dirinya juga tak memaksa orang lain untuk menerima caranya.

__ADS_1


Dan ya memang benar, hanya masalah waktu saja sampai Aksa akhirnya menyerah untuk tidak menemui gadis pujaannya itu.


Tapi setidaknya tidak sekarang pikir Claudia, gadis ini belum punya pijakan yang jejal, untuk menghadapi dan mengatasi perasaan Aksa yang agresif itu kepadanya.


“Ka…dia itu udah punya istri, secinta apapun aku sama dia aku gak mau jadi perusak rumah tangganya, lebih baik aku ngilang selamanya di hidup dia…toh aku juga udah memilih untuk move on, lanjutin hidup aku.…aku juga berharap dia begitu ka, dan aku tau bener kalo ada aku disisi dia, selamanya dia gak akan bisa menerima pernikahannya. Itu yang paling aku hindari kak...”


Nico terdiam, ia agak terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh adik sepupunya itu. Bukan karena kesadaran adiknya yang begitu tinggi, namun kenyataan bahwa Claudia sama sekali tidak pernah mencari tahu tentang Aksa.


Sebegitu lama tidak tahu soal orang yang dikasihi tapi perasaan cinta itu masih ada?. Dalam hati Nico merasa bahwa cinta Claudia begitu tulus, wajar walaupun terpisah jarak yang jauh, secara emosional baik Aksa dan adik sepupunya itu masih terikat satu sama lain.


“Claudia…” panggil Nico pelan, sambil mengeryitkan dahinya.


“Kamu emang gak tau kalau kak Aksa udah kasih talak ke istrinya?” sambung Nico.


Terkejut itu yang pertama kali bisa di jelaskan oleh Claudia, gadis ini memang mati-matian menahan rasa ingin tahunya akan keluarga Aksa, tapi berita perceraian ini agak sulit untuk di percaya.


‘Talak? Gimana bisa? Rasanya gak mungkin…Syakila udah berbuat sangat jauh supaya bisa jadi istrinya ka Aksa’ gumam Claudia dalam hati.


Claudia mungkin saja tidak percaya, tapi munafik namanya kalau di dalam hati ia tidak merasakan apapun.


Ada perasaan lega mendengar kabar bahwa akhirnya Aksa bisa sedikit bernafas lega, tapi di sisi lain ia merasa kasihan pada istri kakak sambungnya tersebut.


Rasa syukur itu tak terhenti sampai disitu, Claudia juga merasa bahwa Reiki sangat beruntung, karena bisa terbebas dari jerat obsesi atas dirinya. Setidaknya kesalahan Reiki memberikan kakak sepupunya itu pelajaran hidup yang berarti.


Lamunan Claudia seketika terhenti saat Hanif menarik pundak Eros yang hampir terjatuh.


“Eros...lo kenapa ?! Sakit perut apa kenapa lo?!” Ucap Hanif dengan panik.


Claudia dan Nico segera membawa Eros ke lounge dan menyudahi belanja mereka.


Sesampainya di lounge dengan cepat Claudia membuatkan teh panas untuk seniornya itu. Tak lupa Claudia juga membuka tasnya, mengambil minyak angin dan meminta Hanif untuk membaruhkannnya ke tubuh Eros.


“Ka Eros, lo masuk angin apa gimana sih ? Mual gak ???” Claudia bingung, kenapa tiba-tiba kondisi Eros turun dengan begitu cepat, padahal tadi seniornya itu masih berbincang dan bercanda dengan Hanif.


Eros terdiam, dia masih tak bisa percaya dengan apa yang dibacanya tadi.

__ADS_1


‘Icha....’ gumam Eros dalam hati.


__ADS_2