
Aksa berjalan menuruni tangga dengan langkah yang berat, ia tidak ingin menemui siapa pun saat ini, keinginannya cuma bisa bersama dengan Claudia. Duduk disampingnya sembari memandangi wajah polos gadis yang dicintainya.
Namun semuanya tak mudah, ia tahu benar bahwa setiap tindakan ada konsekuensinya, mau itu baik atau tidak untuk dirinya.
Ketika sampai di hadapan orang-orang yang tengah bersiap untuk menuntutnya, Aksa tidak banyak bicara, ia langsung menyalami kedua orang tua Syakila dan juga neneknya Indah.
Walaupun sudah duduk Aksa merasa badannya seperti tak tertopang, ia seakan ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat, lalu pergi membawa kabur Claudia.
Memang terbesit di benak Aksa, rencana membawa lari gadis kesayangannya. Toh secara finansial, ia yakin bisa menafkahi Claudia dengan baik, jadi kenapa tak ia lakukan saja seperti itu, kawin lari mungkin opsi terbaik saat ini.
“Aksa, nenek gak mau banyak omong, kamu juga pasti udah tau apa yang nenek mau…”
Belum selesai Indah bicara, tiba-tiba kuping Aksa mendadak tak bisa mendengar dengan baik, hanya dengingan yang keras hingga membuatnya sedikit terperanjat.
Silvana yang menyadari perubahan kondisi putra sambungnya, langsung menarik tangan Aksa dan menggenggamnya.
Aksa mungkin merasa sedikit tenang, tapi apa yang ia rasakan masih juga belum berakhir. Rasa seperti terjebak di ruangan tanpa cahaya sama sekali, sesak. Ia bahkan mulai harus mengatur nafasnya.
Dengan cepat Silvana langsung mengambil air minum dan memberikannya kepada Aksa, ya segelas air putih itu nampaknya menyadarkan Aksa, ia tampak lebih tenang.
“Jadi intinya nenek mau kamu secepatnya tentukan tanggal lamaran, dilanjutkan dengan tanggal akad juga resepsi…gimana kalian setuju kan?” ujar Indah sambil menatap kearah Bram dan Silvana.
Aksa menunduk, walaupun ia tahu kenapa orang-orang itu memaksa bertemu, tapi tetap saja batinnya tak siap. Ia mengepalkan tangan lalu menatap kearah Indah dan kedua orang tua Syakila. “Maaf tapi Aksa gak bisa…Aksa…” Aksa merendah, ia akan melakukan apapun kecuali menikahi Syakila.
Indah berang, baginya Aksa sudah salah dan tak punya hak untuk menolak. “Jadi siapa yang mau kamu nikahi hah? Claudia???”
Semua orang terdiam, sedangkan Bram dan Silvana sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Indah. Darimana perempuan tua itu tahu, tentang niatan Aksa untuk menikahi Claudia.
“Mami…tau darimana?” tutur Bram sambil mengerutkan dahinya, ia tak menyangka akhirnya terjadi juga yang ia takutkan. Indah akan membuat perasaan putranya, jadi senjata untuk memojokkan posisi Aksa.
“Syakila sudah cerita semuanya…kalian itu sampai kapan mau menutupi keburukan anak ini hah?! Terus Aksa kamu tahu diri, kalau bukan karena dipungut anak ku, saat ini kamu menggelandang di jalanan…kamu ini cuma disuruh menjaga nama baik keluarga Priambudi, bukan disuruh bayar seluruh jasa kebaikan keluarga kami, tapi liat apa….kamu malah membuang kotoran ke wajah kami….harusnya kamu bersyukur tahu gak, pakai otakmu !!!!”
Akhirnya Indah berteriak juga, ia terus memaki Aksa hingga membuat Silvana langsung memeluk putra sambungya itu sembari menutup kuping Aksa. Ia tak sanggup mendengar ucapan Indah yang begitu buruk soal Aksa.
“Mami…tolong berhenti, apa yang mami ucapkan udah keterlaluan…” Silvana langsung meninggikan suaranya, berusaha menyetop segala macam makiannya untuk Aksa.
__ADS_1
Indah tersenyum sinis, ia tak mungkin bisa benci pada Silvana, tapi apa yang dikatakan Silvana padanya membuat wanita ini tersadar, Aksa sangat berarti bagi menantunya. Maka dari itu apapun yang dilakukan oleh anak itu, Silvana akan selalu berada di belakangnya dan mendukung Aksa.
“Ana, apa kamu gak takut kalau anak ini masih tinggal bareng sama Claudia, dia bisa jadi melakukan hal yang sama” tutur Indah.
Saat melihat Claudia pertama kali di pernikahan Bram dan Silvana, jujur saja Indah mengagumi kecantikan gadis itu. Tak aneh bagi Indah saat mengetahui bahwa Aksa ternyata cinta mati pada adik tirinya.
Akan tetapi situasi seperti ini sebenarnya sedikit mengecewakan bagi Indah, ia memang berpikir kalau pernikahan Aksa dan Syakila harus terjadi, namun melihat Syakila yang begitu jatuh hati pada Aksa, membuatnya ragu.
Ia berpikir bahwa semua rencananya untuk membuat kekayaan keluarganya tak jatuh sepenuhnya pada Aksa akan sulit.
Dilain pihak Silvana kini kesal setengah mati pada perempuan yang sudah dianggapnya bagai ibu kandung. Ia tak terima Claudia dilibatkan dalam masalah ini, terlebih jelas baginya bahwa Syakila adalah dalang dari video mesum tersebut.
Jelas bagi Silvana, ada perbedaan besar antara kedua perempuan yang tengah jadi fokus Aksa kini. Claudia yang berusaha mati-matian kabur dari Aksa, lalu ada Syakila yang mati-matian menyodorkan tubuhnya, agar bisa bersama dengan putranya. “Aksa gak begitu mi…lagipula sekali lagi, kita kan belum tahu kebenarannya seperti apa” jelas Silvana.
“Kamu juga dulu bilang Aksa gak akan mengulang kesalahannya, tapi lihat kenyataannya…udahlah mami gak mau ada tawar menawar, sekarang mami cuma mau kita tentukan tanggal pernikahan Aksa dan Syakila, secepatnya…sebelum lebih banyak orang lagi yang liat video mesum itu !!”
Apa yang dikatakan oleh Indah masuk akal, mereka memang harus melakukan sesuatu untuk memastikan video itu tak akan membuat mereka terlalu malu, setidaknya jika Aksa dan Syakila menikah, mereka bisa berkilah itu untuk dokumentasi pribadi, tujuannya agar kesalahan mereka sedikit tertutupi.
Bram terdiam sesaat, lelaki ini memegangi dadanya, ia merasakan sesak dan nyeri bersamaan.
Indah dan juga kedua orang tua Syakila mengiyakan, situasinya tidak kondusif. Dipaksa mengiyakan pernikahan pun tak mungkin terjadi hari ini, yang terbaik adalah memberikan waktu terlebih dahulu.
Setelah para tamu pulang, suasana menjadi semakin berat. Silvana dan Bram juga tak mengatakan apapun. Hingga pada akhirnya Bram berdiri dari duduknya, sambil menutup mata, berusaha menetralisir rasa sakit di dadanya. Tanpa terasa air mata mengalir dari matanya.
“Pa…” seru Aksa dengan suara parau, setelah sekian lama baru kali ini Bram terlihat menangis.
“Stop…papa gak mau denger apapun dulu…” Bram tidak ingin membicarakan apapun dengan putranya, saat ini dia sangat memerlukan ketenangan. Jika bicara lagi dengan Aksa, ia takut emosinya tak terkendali lagi nanti. Ia pun berlalu begitu saja, di ikuti oleh Silvana.
“Bunda…” Aksa sadar bahwa wajah Bram sangat pucat, ia khawatir dengan kondisi papanya.
Silvana membalikan badan, ia tersenyum sambil menepuk perlahan pundak putra sambungnya itu. “Nanti ya ka…kamu balik aja dulu temenin Claudia…”
Aksa kembali melangkah dengan gontai, ia kembali untuk menemui Claudia. Hanya keberadaan gadisnya, yang mampu membuat Aksa merasa lebih baik.
Saat sampai di depan pintu kamar Claudia, Aksa menjadi kalut. Ia tahu benar tidak ada jalan lain untuk kabur dari masalah ini. Perlahan ia membuka pintu kamar Claudia.
__ADS_1
“Kak?! Gimana??? Mereka bilang apa???….” ujar Claudia dengan wajah khawatir.
Mata Aksa kembali berkaca-kaca, saat melihat gadis yang sangat di cintainya itu menunjukan wajah khawatir.
Ia menatap lekat-lekat wajah gadis itu, berusaha menangkap semua detail yang ada di wajah Claudia. Ia ingin mengingat semuanya, sebelum menetapkan keputusan yang harus segara dibuatnya.
“Kak???”
Aksa tersenyum, cukup dengan suara Claudia saja dia merasa lebih tenang. Ia berjalan kearah Claudia, dan duduk di ujung tempat tidurnya.
“Di…aku udah gak bisa nolak lagi…setelah mama ku meninggal, baru kali ini aku ngeliat papa nangis lagi…aku bener-bener anak yang gak berguna…”
Aksa menunduk, air matanya mengalir. Tubuh Aksa juga bergetar hebat, membuat Claudia langsung menarik kakaknya itu dalam pelukan.
“Kakak harus kuat, kadang jalan hidup yang terlihat gak baik diawal bisa jadi awalan terbaik di hidup kita. Setelah kejadian ini kakak harus belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik. Gak boleh nyerah ka…”
“Claudia…”
Claudia hanya mengeluarkan suara ‘hmm’ untuk menjawab panggilan Aksa.
“Apa mendingan kita kawin lari aja ya? Rasanya aku mau kabur dari semua ini…”
Aksa tersenyum, ia mungkin tidak serius, karena tahu Claudia tak akan mau menerima ajakannya. Namun di sisi lain sudah jelas kalau apa yang dikatakannya itu ada niatan yang besar, ia memang ingin menikahi gadis itu dengan cara apapun.
Claudia sempat terdiam sesaat sebelum menghela nafasnya sambil tersenyum.
“Berapa lama tadi papa bilang minta waktu sama orang-orang itu?”
“1 minggu” jawab Aksa lesu.
“Yaudah ayo…”
Mata Aksa membelalak, ‘ayo’ apa maksud Claudia. Ia sedikit bingung.
“Ayo apa maksud kamu?”
__ADS_1
“Yang tadi kakak bilang itu, ayo kita kabur….” Seru Claudia.