ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 93


__ADS_3

 


 


 


 


 


~Ponyo Ponyo Ponyo is a fish child


She came from the blue sea


Ponyo Ponyo Ponyo grew big


A perfectly round-bellied little girl~


 


 


 


 


Suara lagu tema dari salah satu animasi kesukaan Claudia bergema diseluruh ruangan.


 


 


Dengan semangat Hana dan Claudia menari tanpa beban. Tertawa dengan hati gembira, membuat Claudia sejenak lupa akan apa yang tengah ia hadapi.


 


 


Gelak tawa itu ternyata terdengar sampai keluar, membuat bi Sumi mengintip aktifitas mereka.


 


 


‘Syukurlah, ternyata non Claudia sama non Hana bisa akur…’ gumam bi Sumi dalam hati.


 


 


“Bi…”


 


 


Bi Sumi pun berbalik, dan mendapati kalau ada Aksa di belakangnya.


 


 


“Den Aksa…kenapa disini? Kan udah mau makan malam? Nanti bapak sama ibu takutnya nunggu lho…” ucap Bi Sumi.


 


 


Kebiasaan keluarga ini memang makan di jam yang telah di tentukan dan haruslah di hadiri setiap anggota keluarga. Alasan Bram, karena ia tak punya banyak waktu untuk mengecek anak-anaknya, dan juga mengobrol dengan anggota keluarga lainnya, selain di sela waktu makan, entah itu sarapan, atau makan malam.


 


 


Aksa tersenyum, dia sebenarnya mau menjemput putri kecilnya dan kalau bisa sekalian Claudia untuk makan malam bersama.


 


 


“Mereka masih main ya Bi?” tanya Aksa.


 


 


“Iya den, seru banget mainnya. Bibi mau kasih tau kalau udah jam makan malem juga jadi gak enak…”


 


 


“Oh…” Aksa menatap kearah pintu kamar anaknya, sungguh Claudia dan Hana terdengar sangat senang, membuat pria ini tanpa sadar jadi ikut tersenyum.


 


 


Semua orang di rumah ini di buat terpana dengan kenyataan kalau nona kecil mereka bisa menjadi gadis yang begitu ceria kurang dari 24 jam. Entah bagaimana caranya Hana yang selalu saja menunduk, menangis, dan selalu ketakutan, menjadi begitu periang, penuh dengan semangat juga dan aktif.


 


 


Perubahan yang sangat positif itu agak membingungkan diawal, karena ketika Hana sedikit tantrum, metode yang selalu digunakan keluarga ini ternyata tidak mempan. Namun cara Claudia yang barulah ternyata bisa membuat gadis ini berhenti merengek dan melanjutkan aktifitasnya.


 


 


Aksa sendiri kaget saat melihat Hana tersenyum begitu lebar, ketika ia pulang dari kantor karena ada hal mendesak yang harus di urus, Aksa menyaksikan sendiri betapa Hana terlihat Bahagia saat disuapi oleh Claudia.


 


 


Dalam otaknya ada badai besar yang berkecamuk, apakah ini pertanda kalau sebenarnya bukan hanya Aksa yang membutuhkan Claudia di sisinya, tapi juga putrinya, Hana.


 


 


Tapi bagaimana caranya? Claudia bahkan dengan sangat jelas membatasi dirinya sendiri dengan Aksa.


 


 


Pria ini menghela nafasnya pelan, pasti ada caranya. Aksa yakin itu, hanya saja waktunya sedikit, ia tidak bisa menghentikan keinginan Claudia untuk segera angkat kaki dari rumah keluarganya.


 


 


Kecuali perasaan dan keinginan gadis itu berubah, dan dengan kehendaknya sendiri ia memutuskan untuk tinggal bersama Aksa dan Hana, tentunya sebagai sebuah keluarga bukan cuma karena kedua orang tua mereka terikat pernikahan.


 


 


“Den Aksa?”


 


 


“Bi, bibi duluan aja, biar Aksa aja bi yang kasih tau mereka, kalau ini udah jam makan malam…”


 


 


Bi Sumi mengernyitkan dahinya. Ia tidak yakin kalau Aksa bisa membawa Claudia ke meja makan, padahal jelas gadis itu menghindarinya.


 


 


“Den Aksa yakin?”


 


 


“Iya Bi…gak apa-apa..bukannya ini juga harus dilalui?”


 


 


Pria ini tersenyum tipis, kesedihan jelas terlihat dari ekspresi wajahnya. Bi Sumi disisi lain mengangguk, lalu menepuk pundak Aksa, memberi semangat pada pria yang sejak kecil telah diasuhnya itu, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Aksa sendirian.


 


 


Sebelum memasuki kamar itu, Aksa mengatur nafasnya. Berusaha mengkontrol emosinya, ia tidak ingin kesempatan ini terbuang sia-sia.


 


 


‘Sekarang atau gak sama sekali’ gumam Aksa dalam hati.


 


 


Tangan Aksa gemetar, ia merasa ragu selama beberapa saat, sebelum akhirnya mengetuk pintu beberapa kali, menunggu pintu itu dibuka dari dalam.


 


 


 


 


Mendengar ada ketukan dari luar, Claudia yang tengah menggelitiki Hana pun berhenti.


“Sayang bentar, ada yang ketuk pintu…” ucap Claudia sambil meninggalkan Hana yang masih tertawa.


 


 


Senyuman Claudia langsung menghilang berganti dengan ekspresi datar, saat melihat siapa yang ada di depan pintu.


 


 


“De…” ucap Aksa sambil tersenyum.


 


 


“Ka…”


 

__ADS_1


 


Claudia pun membuka lebar pintu kamar Hana, mempersilahkan kakak sambungnya itu masuk.


 


 


Melihat kedatangan papanya, wajah Hana menjadi lebih cerah daripada sebelumnya. Ia kini berlari dan melompat kearah papanya yang sudah bersiap untuk menggendonya.


 


 


“Papaaaaaaa” seru Hana sembari menciumi pipi Aksa.


 


 


“Sayang…yuk kita makan malem nenek sama kakek juga eyang sepuh udah nungguin di ruang makan…”


 


 


Hana mengangguk, lalu tak lama kemudian membalikan badannya dan menatap Claudia sambil tersenyum.


 


 


“Putli uga?” tanya Hana dengan riang.


 


 


Sesaat Claudia menatap wajah Aksa, lalu memalingkan mukanya. Ia bisa lihat dengan jelas bahwa Aksa sangat berharap Claudia ikut makan malam.


 


 


“Hana makan sama papa ya…tante belum laper…” ucap Claudia dengan posisi masih tak mau menatap Aksa.


 


 


“Claudia…tolong maafin a-“


 


 


“Jangan mulai ka !!! Gak di depan Hana…” Dengan nada yang sedikit tinggi Claudia langsung menatap Aksa dengan ekspresi tidak bersahabat.


 


 


Tatapan intens keduanya ternyata disadari oleh Hana, walaupun masih kecil, gadis ini termasuk anak yang sensitive. Hana menyadari bahwa alasan Claudia tetap tinggal adalah dirinya, dan disisi lain kenapa tantenya itu ngotot mau pulang pasti ada hubungannya dengan ayahnya.


 


 


Hana menundukan kepalanya, sedih. Ia mungkin tidak paham apa masalahnya, namun yang pasti ia dia mau kalau semuanya baik-baik saja, termasuk hubungan papa dan perempuan yang ada di hadapannya itu.


 


 


“Putli…” seru Hana lirih.


 


 


“Ya sayang?”


 


 


“Putli malah ma papa?”


 


 


Claudia marah? Tidak sebenarnya ia tidak marah. Tapi lebih kearah kecewa, sudah cukup perasaannya membuat dirinya sendiri sengsara.


 


 


“Gak kok, tante sama papa gak marahan” Claudia tersenyum, berusaha meyakinkan gadis itu kalau dirinya tidak bertengkar dengan Aksa.


 


 


“Pi putli sedih…papa uga…”


 


 


Tatapan sedih dari Hana turut membuat Claudia sedih, tapi tidak, dia sama sekali tidak boleh lemah.


 


 


 


 


“Tolong bawa Hana ke ruang makan, aku mau beresin kamarnya…” seru Claudia sambil mengambil kotak mainan Hana yang kosong.


 


 


Aksa cuma bisa menghela nafasnya, karena mendapatkan penolakan yang begitu keras dari Claudia.


 


 


“Ayo sayang..” Aksa pun berjalan keluar kamar.


 


 


Mendapati kalau tantenya tidak ikut mereka ke ruang makan, Hana mulai berteriak, histeris dan tantrum lagi. Bahkan gadis kecil itu kini meronta-ronta di gendongan ayahnya.


 


 


“GAAAAAAAA !!!! MA PUTLIIIIIII !!!”


 


 


“Sayang jangan begini, nanti kamu jatuh …” Aksa berusaha menenangkan putrinya


 


 


“GAAAAAAAAAAA…..MAEM MA PUTLIIIII !!! HUWAAAAAAAAAAAAAAA !!!!!!!”


 


 


Teriakan Hana semakin kencang, bahkan lebih kencang daripada saat pertama kali gadis kecil mengamuk karena tak mau ditinggal oleh Claudia.


 


 


Claudia menghela nafas dengan kasar. Dia pun akhirnya menaruh mainan Hana dan berlari keluar mengejar ayah dan anak itu.


 


 


“Hana sayang…udah ya jangan nangis, kan udah sama papa nak…”


 


 


“KAK !!!”


 


 


Aksa pun berhenti berjalan, lalu memutar badannya. Ia mendapati Claudia tengah mengejar dirinya.


 


 


“Sini Hana biar aku yang gendong…”


 


 


Aksa pun menyerahkan putrinya kepada Claudia, membuat anak itu kini ada dalam dekapannya.


 


 


“Hana mau makan disuapin sama tante?”


 


 


Hana menganggukan kepalanya, ia sangat ingin disuapi makan lagi seperti tadi siang. Sejak bertemu dengan Claudia kemarin siang, gadis ini tidak ingin terpisah sedikit pun dengan tantenya itu.


 


 


Kemarin malam Claudia tertidur karena kelelahan, makanya Aksa tidak bisa mengajaknya makan malam bersama. Saat sarapan dan makan siang pun Claudia memilih untuk makan di dapur, lalu setelahnya menyuapi Hana sembari mereka main bersama.


 


 

__ADS_1


Claudia dan Hana akhirnya berjalan duluan ke ruang makan, meninggalkan Aksa yang terkejut tapi senang. Kini pria itu tersenyum bagai orang tak waras.


 


 


Setelah berjalan beberapa langkah, Claudia berhenti dan membalikan badannya.


 


 


“Ngapain berenti di situ…” Claudia melihat kearah Aksa sambil cemberut.


 


 


“Iya…” seru Aksa sambil tertawa kecil.


 


 


 


 


 


“Kakak jangan harap Claudia bersikap biasa aja ke kakak, kalau kakak aneh begitu sama dia. Claudia gak selemah itu kak, bersikaplah biasa. Jangan terlalu banyak memikirkan hal yang gak penting, terlebih buat rencana-rencana yang gak jelas juntrungannya. Dengan bertindak spontan pasti bisa buat ade merasa nyaman ada di dekat kakak. Walaupun di awal-awal ade pasti nolak, tapi kalau kakak mengingatkan dia sama sifat kakak yang membuat dia jatuh cinta, tembok yang dia bangun pasti ujung-ujungnya bakalan runtuh juga”


 


 


 


 


 


 


Begitulah yang dikatakan Nico sebelum ia pulang kerumahnya.


 


 


‘Nico mungkin yang kamu bilang memang, aku ga perlu terlalu banyak bersiasat untuk mendapatkan hati Claudia. Karena aku tau hati kami sama-sama saling tertaut’ gumam Aksa dalam hati.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


*


*


*


 


 


 


 


“Icha kamu serius?” tanya Mey, ibu dari Icha dan Alif.


 


 


Keluarga mereka kini tengah berkumpul, mereka semua membahas tentang keinginan Eros untuk segera mempersunting Icha.


 


 


“Bu, kalau menurut Alif mah ya ga usah di buru sih. Lagi Icha kan juga masih muda…” Alif sebenarnya tidak terlalu setuju adiknya itu menikah secepat itu.


 


 


Masalahnya Alif tau, kalau kembarannya itu sama sekali tidak menganggap Eros sebagai lawan jenis. Iya Icha memang nyaman di dekat Eros, tapi tidak lebih sebagai teman dan saudara.


 


 


“Iya darling !!! aku masih ga setuju anak aku di kawinin gitu aja !!!” Bima berdiri dari duduknya dengan ekspresi emosi.


 


 


Namun Mey cepat-cepat mencubit perut suaminya, membuat Bima kembali duduk dengan tenang.


 


 


“A’ bukan di kawinin tapi di nikahin !!!”


 


 


“Eh iya itu, tapi kan tujuannya juga kawin !!” jelas Bima, yang dihadiahi cubitan lagi oleh istrinya,


 


 


Melihat kelakuan anak dan menantunya, kakek dari Icha dan Alif yang turut hadir disitu cuma bisa geleng-geleng kepala.


 


 


“Udah-udah, sekarang abah mau tanya sama Icha…kamu maunya gimana? Kalau abah pribadi sih suka sama Eros, dia baik, agamanya bagus. Tapi neng, yang jalanin semuanya itu kamu, bukan orang lain, jadi kamu harus yakin banget kalau soal pasangan hidup…jangan dengerin kata orang lain”


 


 


Yang dikatakan oleh kakeknya memang benar, dan satu lagi..


 


 


Ini sudah hari ke 3 Icha meminta petunjuk, ia meminta yang terbaik.


 


 


“Sebenernya Icha mau bilang sesuatu, kenapa Icha minta kita tolak dulu lamaran ka Eros…” ucap Icha sambil menundukan kepalanya.


 


 


“Sayang, ibu gak masalah kalau Icha mau tolak lamarannya Eros, tapi harus ada alasannya…” Mey ingin tahu kenapa tiba-tiba Icha menolak, padahal diawal gadis ini diam-diam saja.


“Icha ketemu ka Reiki 3 hari lalu…”


 


 


“Hah?! Kok kamu ga cerita sama abang, Cha?” tanya Alif kaget. Padahal biasanya Icha selalu cerita apapun padanya.


 


 


“Reiki bilang apa sama kamu neng?” tanya Bima


 


 


Icha terdiam sesaat.


 


 


“Dia….ka Reiki…dia juga ngelamar Icha…”


 


 


Hening…


 


 


Semua orang tentu saja terkejut, terlebih Alif yang sampai jatuh dari kursinya.


 


 


Entahlah, mungkin ini adalah waktu dimana adiknya jadi popular.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2