
1 minggu sudah lewat, dan Claudia dipaksa oleh sang bunda pindah ke rumah baru mereka. Semilir angin masuk ke kamar Claudia dari jendela yang dia buka lebar-lebar. Dari awal kepindahannya kerumah 3 lantai yang penuh fasilitas ini, ia hanya mengurung diri di kamar, yang sudah di siapkan jauh-jauh hari oleh ayah tirinya itu.
Dia makin kesal saat tau, ayah tirinya Bram Zaidan Priambudi, sengaja menyiapkan rumah megah ini dari 2 tahun lalu, berarti selam 2 tahun dia di tipu sang bunda, yang setiap kali ditanya selalu bilang tidak mau punya suami lagi.
Sejak awal Claudia berkeras tidak mau ikut tinggal dengan bundanya, dan lebih memilih stay dengan eyangnya, tapi apa yang dia lakukan saat resepsi pernikah membuatnya terpojok, ia pun mengingat kembali kejadian tepat setelah, ia menonjok muka kakak tirinya hingga bengkak.
Bundanya sama sekali tidak tenang, sedari tadi dia mondar mandir, sambil sesekali menenangkan Aksa yang masih mengompres wajahnya dengan es. Sedangkan papa tirinya hanya duduk tersenyum melihat Claudia. Jangan tanya soal Aksa, melihatnya aja Claudia udah kesel setengah mati, apalagi sekarang eyangnya malah duduk sambil mengelus kepala Aksa.
"Bunda gak mau tau ya de, ade udah cukup bikin bunda malu gara-gara nonjok, kakak mu. Apa gini bunda ajarin ade untuk bersikap ?, sekarang ade beresin baju-baju dan semua barang ade, kita bakal pindah ke rumah papa yang baru. Cepet!"
"GAK, ADE GAK MAU..." jawab Claudia dengan nada tinggi, sambil menahan marah dan tangis.
"ADE !!! BERANI KAMU PAKE NADA TINGGI KE BUNDA?" balas bundanya lebih marah.
"Sayang, sudah sudah, mungkin Claudia masih bingung, saya bisa ngerti kok. Namanya juga masih kecil, udahlah kita lupain aja, lagipula Aksa juga ga sampe pingsan, malah harusnya Aksa malu, kok di tonjok perempuan malah jatoh, bukannya menghindar" Ucap pria yang sekarang sudah jadi ayah tiri Claudia itu dengan santai sambil tertawa.
"BODO AMAT, POKOKNYA ADE GA MAU TINGGAL BARENG SAMA OM PLUS MANUSIA MESUM YANG ADA DISITU."
Claudia berdiri sambil menunjuk Aksa, yang hanya terdiam dan tak banyak komentar, kecuali sesekali dia melempar senyum licik, seakan memberi sinyal kalau dia yang menang dan Claudia yang kalah. Claudia pun berlari dan membanting pintu kamarnya.
"CLAUDIA!"
"Sudah-sudah, biarin dulu dia tenangin dirinya, dia pasti kaget, tau-tau mamanya nikah ga kabarin dia"
"Tapi mas, ga bisa begitu dong, Claudia udah keterlaluan banget, dia udah bikin malu saya, bikin malu kita semua. Apa nanti kata orang, masa baru mau mulai membangun keluarga baru, malah duel ala preman begitu, saya ga ngerti mas harus ngomong apa sama keluarga besar kamu dan kolega-koleganya Aksa. Malu saya mas, malu..." jawab ibu Claudia sambil berjalan duduk disamping suami barunya itu.
"Lho, ngapain kita pikirin omongan orang ke kita, yang penting saya tahu Claudia anak yang baik, saya sama kamu bukan setahun dua tahun, saya sering memperhatikan Claudia dari jauh, gimana karakternya dia saya tahu. Terus Aksa, kamu berenti gangguin ade'mu. Papa tahu kamu sengaja ga menghindar, ga mungkin orang yang bisa bela diri kaya kamu ga bisa menghindar"
"Dia lucu pa, aku gemes liatnya, maafin aku pa, bunda juga maaf banget aku udah bikin kacau pesta kalian, aku bakal berusaha untuk akrab sama Claudia, bunda mau maapin aku kan"
Aksa nampaknya tampaknya tidak punya rasa bersalah, ia malah menikmati apa yang terjadi, amarah bahkan pukulan dari Claudia justru jadi penyemangat Aksa untuk semakin mengerjai Claudia.
"Iya nak, tapi abis ini bunda boleh ngobrol kan sama Aksa?"
"Boleh bunda"
"BUNDA JAHAT, ADE BENCI SAMA BUNDA" Jerit Claudia di dalam kamarnya.
'BIP BIP BIP' Suara dering ringtone handphone Claudia berbunyi cukup keras. Claudia berusaha mencari-carinya, ia lupa menaruhnya dimana. Sejak tadi ternyata lamunannya tentang kejadian seminggu lalu hanya membuat ia terlelap.
Bahunya kaku, seluruh tubuhnya kesemutan, karena posisi tidurnya yang tidak baik. Ia tidur sambil duduk bersila.
'Duh tuh handphone dimana sih!' akhirnya ia menemukan handphonenya di bawah tempat tidur.
Ada ajakan untuk keluar dari teman-temannya, dan saat Claudia melihat jam, dia kaget karena ternyata ini sudah 19.30, sedangkan teman-temannya menghubunginya sejak jam 5 sore.
Claudia pun berusaha menghubungi salah satu karibnya, Mehrima adinda rizky.
"Ya halo"
__ADS_1
"Ma, lo dimana?"
"Di studio, lo mau kesini gak?"
"MAUUUU, lo pada bubar jam berapa?"
"Kalo Icha sih udah mau pulang, cuma gw sama Lia mesti selesein koreo dulu kan"
"Gw mau ikutan...."
"Yaudah gw tungguin, buruan"
"Ok sip"
Dengan sigap Claudia langsung lari ke kamar mandi, bersih-bersih dan segera mempersiapkan bawaannya untuk ke studio. Claudia bersama dengan beberapa temannya memang mengikuti kelas musik di salah satu sekolah musik terbaik di kota mereka, dan mereka sebentar lagi harus pentas. Lagu yang harus mereka buat memang belum 100% selesai, tapi karena kejadian mamanya ini, Claudia sama sekali ga bisa konsen dalam membantu teman-temannya.
Claudia keluar dari ruangan dan membanting pintu kamarnya. Penampilannya sudah rapih. Dibawah bunda, papa tirinya, Aksa dan eyangnya yang sedang makan malam, terlihat sangat bahagia, dan sekali lagi hati Claudia sangat sakit, apalagi saat melihat sesekali Aksa disuapi oleh sang bunda.
Ia menuruni seluruh anak tangga dengan perasaan emosi, hingga sampai di depan ruang makan, eyangnya menegurnya dengan baik.
"Ade kamu mau kemana sayang?, yuk makan malam dulu de" tanya eyangnya.
Saat eyang menanyai Claudia semuanya langsung berhenti makan, dan menatap Claudia sambil tersenyum.
"Clau, sini dek, ayo ikut makan sama kami, ini eyang kamu masak semur ayam, katanya kesukaan kamu?"
Tegur papanya dengan santai dan ramah. Claudia melihat masakan eyangnya, di meja itu sudah tersedia banyak sekali makanan, dan sebagian besar makanan kesukaan Claudia. Sebenarnya Claudia lapar, tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk bergabung dengan mereka semua, apalagi ada si orang mesum satu itu, Aksa.
"Ade mau ke studio" Jawab Claudia
"Ini udah jam 8, kamu mau pergi sama siapa coba?"
"Sendiri, ade bisa kok jaga diri"
"Gak kamu boleh keluar, kan dirumah ini ada studio buat kamu latihan, papa kamu udah buatin khusus buat kamu" Jawab mamanya gusar
"Papa? Papa yang mana ? maksudnya om ini?, maaf om saya ga bisa terima kebaikan dari orang yang ga saya kenal"
"CLAUDIA ARIADNA MAHENDRA ! KAMU INI"
"Nah mama sendiri udah tau kan nama belakang aku itu Mahendra, bukan Priambudi"
Aksa, langsung berdiri dan membawa Claudia keluar dari ruangan, sebelum perkelahian dimulai lagi. Tanpa basa-basi ia menarik tangan Claudia dengan paksa.
"LEPASIN"
Teriakan Claudia sama sekali tidak di gubris oleh Aksa, dia malah semakin kuat mencengkram pergelangan tangan Claudia. Sesampainya di taman depan rumah mereka, Aksa baru melepaskan genggammannya.
"LO GILA YA, SAKIT TAU" Teriak Claudia
__ADS_1
"bisa diem ga?! Jangan teriak-teriak kenapa sih!"
"BODO AMAT GW BAKAL TERIAK LEBIH KERAS LAGI DAN LAGI, BIAR SEMUA ORANG TAHU KALO LO CO...."
"CK..."
Aksa langsung mencium Claudia tanpa peringatan sama sekali, ciuman yang singkat tapi cukup membuat Claudia tutup mulut. Tubuhnya membatu, tak bisa bergerak. Pipi Claudia kini memerah, mirip seperti tomat. Dengan lembut Aksa merapikan rambut indah milik Claudia, ia pun menatap mata Claudia tanpa keraguan.
"Kamu tau ga, tadi sebelum makan malam, eyang baru aja minum obat jantungnya, tadi pagi pas kamu gak mau keluar eyang sempet sesek napas. Aku ga maksa kamu terima aku dan papa aku, tapi bisa ga, kamu balik ke cara kamu yang dulu kalo lagi kesel atau marah sama bunda, aku tau kamu bukan anak yang kasar"
Claudia hanya bisa menangis mendengar apa yang Aksa bilang, kalau tadi dia sampai mengamuk lagi, eyangnya bisa jadi kena serangan jantung lagi, dan bisa jadi itu akhir yang buruk. Ia kaget dan kesal pada dirinya sendiri, gimana Claudia ga tau harus melakukan apa sejujurnya, ini semua terlalu tiba-tiba.
"Hei, udah jangan nangis...ada aku disini..." Aksa berusaha meredakan tangisan Claudia.
"Aku...hiks...ga...hiks...terima...hiks...sedih...hiks...bunda...hiks..." Claudia menangis sambil terisak.
Aksa mencium lembut Claudia sekali lagi, Aksa dengan perlahan memagut bibir mungil gadis yang ada di depannya itu. Untuk ciuman mereka yang kedua ini Claudia sadar, dan tangisnya pun mulai reda, menyadari itu Aksa pun melepas pagutannya.
"Udah berenti nangisnya?"
Pertanyaan dari Aksa hanya di balas anggukan oleh Claudia. Aksa pun terkekeh, melihat tingkah adik tirinya itu. Wajah Claudia kini memerah, dia hanya menunduk, dan tak berani menatap Aksa, Claudia malu. Aksa yang tahu gadis di depannya ini malu, akhirnya memutuskan untuk menggoda Claudia.
"Aku baru tau ciuman aku dahsyat banget efeknya, sampe kamu berenti nangis gitu, sampe kamu klepek klepek ya" Aksa berucap sambil menaikan alisnya
"HAH, MA...MA...MAKSUDNYA APA?" Claudia tergagap menjawab pertanyaan.
"Ya emang sih, aku tuh ganteng, pinter, jago lagi ciumannya. Sampe anak perempuan begajulan kaya kamu aja bisa terlena sama aku" Aksa makin bertingkah tengil, ia pun tersenyum penuh kemenangan, seperti mereka sedang bertanding satu sama lain.
"WHAT THE F**K MAKSUD LO PEREMPUAN BEGAJULAN APA. LO LIAT NIH APA YANG GW BISA LAKUIN, COWO SINTING!" Claudia langsung mengingjak kaki Aksa dengan sekuat tenaga.
"AAA, GILA LO YA! SAKIT TAHU" Teriak Aksa, jempol kakinya tepat mengenai heels dari sepatu yang Claudia gunakan.
"DASAR LELAKI MESUM, MAKAN TUH CIUMAN" Claudia berjalan dengan cepat, sambil meninggalkan Aksa yang meloncat-loncat dengan satu kaki, karena sudah bisa di pastikan jempolnya saat ini pasti otw cantengan.
"CLAUDIAAAAAAAAAAAAAAAA, AWAS KAMU YAAAA...." Aksa terus berteriak karena kesakitan.
Claudia mengejek Aksa, seraya meninggalkannya sambil membanting pintu.
romance #love #story
__ADS_1