
Hari ini seperti biasanya, Claudia pergi ke sekolah. Namun yang mengantarkannya bukan supir namun Reiki sang calon suami.
Sejak Claudia meminta Reiki mengantarnya ke sekolah, sejak saat itu pulalah Reiki resmi mengantar jemput dirinya, bahkan pria ini rela ganti jam praktek demi bisa mengantarkan gadis kesayangannya itu.
“Nanti kakak jemput ya, abis itu kita jalan-jalan sebentar, kamu maukan?” tanya Reiki sambil membukakan seat belt yang dikenakan Claudia.
Gadis itu cuma mengangguk, entah kenapa sejak kemarin malam Claudia punya firasat tidak baik, dia berkali-kali teringat Aksa. Jujur saja dia khawatir pada kakak tirinya itu.
Bahkan saat menelepon bundanya, Silvana juga bilang Aksa sudah hampir 4 hari tidak pulang kerumah, tidak ada kabar juga. Terakhir yang didengar Silvana Aksa masih masuk kerja, tapi kembali ke apartemen yang dulu dia beli dari hasil proyek pertamanya.
Mungkin itu bisa menenangkan hati Claudia sedikit, tapi ia masih kepikiran. Semuanya terlalu damai dan itu bukan hal yang baik menurutnya. Kondisi seperti ini bagaikan masa tenang sebelum badai besar melanda
“Di…Claudia…hey???”
Sejak tadi ternyata Claudia melamun, dia tidak sadar dengan apa yang di ucapkan oleh Reiki “Eh iya ka? Kenapa??” jawab Claudia sambil kebingungan.
Reiki menunduk sesaat, dia tahu benar apa yang ada dipikiran tunangannya itu. Apalagi kalau bukan Aksa, rasanya Reiki ingin segera menyingkirkan pria yang terus menerus mengganggu pikiran tunangannya.
Namun bukan Reiki namanya kalau tidak pintar menyembunyikan perasaan, dia menenangkan hatinya lalu menatap wajah Claudia sambil tersenyum. “Aku tadi bilang, nanti pulang kita ke butik buat cari gaun untuk pesta ulang tahun kamu”
Lagi-lagi Claudia hanya mengangguk ada jeda beberapa saat hingga gadis itu tersadar kalau dia harus masuk kelas “Oh iya...uhmmm aku…aku mau masuk dulu ka….” Claudia mengambil tasnya yang ada di kursi belakang, dan langsung ingin membuka pintu mobilnya.
Akan tetapi gerakan tangan Claudia terhenti, Reiki menggenggam tangan gadis itu, membuat Claudia akhirnya menatap kearah Reiki yang kini tersenyum padanya. “Claudia…” ucap Reiki.
“Ya?”
Reiki mengelus perlahan kepala Claudia, membuat gadis ini menjadi kikuk. “Ciumnya?”
Selama Reiki bersama dengan Claudia, pria ini memang beberapa kali meminta Claudia menciumnya, bukan ciuman yang panas, hanya sekedar kecupan singkat saja.
Walaupun begitu tetap saja Claudia masih tidak nyaman ketika harus mencium tunangannya sendiri, apalagi setelah Claudia mengecup bibir Reiki pria itu pasti akan membalas ciuman Claudia di seluruh wajahnya, pertama dahi, kedua pipi, ujung hidung lalu bibir.
Semua itu membuat Claudia gila, Aksa mungkin suka mencium Claudia tiba-tiba tapi sesinya tidak terlalu lama seperti yang Reiki lakukan sekarang, pria ini bagaikan menandai seluruh wajah gadis itu, sehingga semua pria tersadar jika Claudia itu adalah miliknya.
__ADS_1
Claudia hanya bisa melakukan apa yang diminta Reiki, toh 6 bulan kedepan mereka akan melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman, jadi memang harus di biasakan pikir Claudia.
Gadis itu pun memiringkan kepalanya lalu mengecup bibir Reiki sekilas, dan seperti biasa Reiki membalasnya dengan paket lengkap. Namun saat sudah sampai di bibir pria ini justru menekan pelan tengkuk Claudia, membuatnya bukan jadi kecupan singkat.
Reiki kini mengigit pelan bibir bawah Claudia lalu melumatnya. Apa yang dilakukan Reiki diluar kebiasaan, hingga gadis ini mendorong pelan tubuh Reiki darinya, tentu saja dia kaget.
Namun Reiki kembali memeluk Claudia dan menciumi pucuk kepala gadis kesayangannya.
Reiki melakukan itu semata-mata karena ingin agar tunangannya berhenti memikirkan Aksa. Dia pun berbisik di telinga Claudia “Jangan pikirin laki-laki lain lagi Di, apa kamu gak bisa fokus liat aku yang sekarang ada didepan kamu?”
Mata Claudia membelalak, sepertinya tanpa sadar dia sudah membuat Reiki cemburu “Ka….aku….”
Reiki pun melepaskan pelukannya, sambil sekali lagi membelai pipi Claudia. Pria ini memasang wajah sedih, membuat tunangannya merasa semakin bersalah.
Raut wajah sedih itu tak lama dinampakan olehnya, ia lalu tersenyum kembali “Udah masuk sana nanti telat, jangan jajan sembarangan ya, besok kita ada acara pertemuan keluarga lho, gak lucu kan kalo kamu sampai diare” seru Reiki sambil mencubit kedua belah pipi Claudia.
Claudia langsung cemberut, dia kesala kalau Reiki mencubit pipinya. Berkali-kali gadis itu bilang kalau pipinya melar itu semua salah Reiki yang hobi sekali mencubit pipinya “Ish kakak mah…iya…yaudah aku masuk dulu”
Claudia tertawa lalu menarik tangan Reiki untuk salim, ia lalu dengan cepat keluar dari mobil, namun sebelum meninggalkan tunangannya Claudia mengatakan sesuatu “Kakak hati-hati di jalan jangan ngebut…”
Gadis itu pun langsung berlari masuk gerbang sekolah, tapi Reiki tidak langsung pergi, ia menunggu sampai Claudia tidak terlihat lagi.
Sebelum menghidupkan mobilnya, Reiki menelepon seseorang “Kamu dimana sekarang, saya mau ketemu. Ok saya tunggu di restaurant hotel Royal high cempaka”
Reiki menutup teleponnya, raut wajah menggelap, dia tidak seperti Reiki yang penuh senyum dan ramah.
‘Besok semuanya akan berakhir, dan jadi awal yang baru buat kita Claudia. Setelah ini Aksa gak akan ganggu hubungan kita lagi’ gumam Reiki dalam hati.
Di lain tempat, Aksa yang jadi target dari Reiki kini justru sedang tidak karuan. Kepalanya mau pecah, dalam kehidupan ini rasanya kebodohan yang ia lakukan 2 hari lalulah yang bisa membawanya kepada kehancuran.
Ia tidak ingat apa yang dilakukannya secara jelas, ia bahkan tidak paham bagaimana caranya dia bisa sampai di ‘tempat itu’.
Memeriksa cctv pun nampaknya tidak berguna, yang dikatakan teman-temannya juga menguatkan semua ketakutannya. Yang pasti saat ini ia harus berpikir dengan jernih, sebelum semuanya terlambat dan dia kehilangan Claudia selama-lamanya.
__ADS_1
Aksa memanggil sekretarisnya lalu meminta jadwal untuk hari ini, ketika ia melihat jadwal moodnya malah jadi makin tidak karuan, malam nanti dia ada acara makan malam dengan klien yang dibawa oleh Syakilla.
Kenapa dia kesal, karena saat ini satu-satunya manusia yang tidak ingin ia temui dimuka bumi adalah mantan kekasihnya. Ia muak dengan segala permainan Syakilla dan tidak ingin melanjutkan ‘game’ yang di gerakan oleh perempuan yang masih keponakan papanya itu.
Ponselnya bergetar, namun berat baginya untuk mengangkat panggilan itu, apalagi setelah melihat yang menelepon adalah Silvana, bundanya.
Aksa yang merasa bersalah cuma bisa menghela nafas, ia berkali-kali mereject panggilan dari Silvana, rasanya ini tidak adil bagi wanita yang selalu mendukung dirinya tersebut.
Dengan berat hati dia akhirnya mengangkat teleponnya.
Aksa ; “Iya bunda…”
Silvana ; “Kakak dimana sekarang?”
Aksa ; “Di kantor, maaf Aksa ga kabarin bunda, cuman Aksa mau nenangin diri aja”
Silvana ; “Gak apa-apa nak, yang penting bunda tahu kalau kamu sehat, hari ini kamu ada jadwal makan siang sama klien gak?”
Aksa ; “Aksa kalo siang kosong sih bun, kenapa emangnya?”
Silvana ; “Kita makan siang yuk, di Royal High Cempaka…ada yang bunda mau bicarain juga”
Aksa ; “Lain kali aja gimana bunda?”
Silvana ; “Jarang-jarang lho kak bunda bisa lowong pas siang, gak tau lagi kapan bisanya. Nanti siang pokoknya kakak mesti dateng ya bunda tunggu”
Silvana langsung menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban Aksa, kalau sudah begini mau gak pria itu harus pergi.
Aksa menghela nafas panjang, dia melihat sesuatu di ponselnya. Raut wajahnya berubah, ia jelas sekali marah dan kesal.
__ADS_1
‘Apa yang kamu rencanain Syakilla, aku benar-benar mesti cari tahu apa ini ada hubungannya juga sama Reiki. Liat aja kalian berdua, kalau memang ini semua rencana jahat kalian aku gak akan tinggal diam’