ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 38


__ADS_3

“Kamu lama Killa…” Aksa kesal karena dia merasa membuang waktu cukup banyak, menunggu Syakilla sejak tadi.


Berbanding terbalik dengan Aksa yang kesal, Syakilla justru terlihat sangat senang, ia merasa bahagia bisa makan siang bersama dengan Aksa. Sudah berapa tahun mereka tidak keluar berdua seperti ini, rasanya seperti saat mereka masih bersama. Tentu saja ia tidak bisa mengungkapkannya sekarang, bisa-bisa Aksa kabur mengetahui bahwa Syakilla terbawa perasaan saat setuju membantu pria itu.


“Maaf ya mas, tadi klien aku datengnya telat jadi aku ga bisa langsung kesini. Mas udah pesen makanan?” Syakilla langsung melihat menu yang ada di mejanya, tentu masih dengan ekspresi gembira.


“Ga perlu, aku kesini cuma mau ngomongin yang aku kasih tau kamu tadi lewat telepon” seru Aksa yang masih sangat kesal pada perempuan yang ada didepannya itu.


Kesal tentu saja, tapi bukan Syakilla namanya jika tidak bisa memasang wajah tersenyum disaat apapun. Perempuan ini menurunkan menu yang ada tepat di depan wajahnya secara perlahan.


“Hmmm tapi aku laper mas gimana dong…” seru Syakill sambil tersenyum manis.


“Ya makan aja sendiri nanti, ribet amat…yang pasti sekarang aku pengen kamu secepatnya bantuin aku” Aksa menaikan nadanya berusaha menyerukan bahwa dia tidak ingin bermain-main dan membuang waktu untuk mantan kekasihnya itu.


“Mas, gimana kamu bisa akting bagus dan meyakinkan, kalau sama aku sekarang aja kaya ngeliat musuh gitu. Kalau yang kamu ceritain soal Claudia, aku bisa ambil kesimpulan kalau Claudia itu anaknya sensitif, dia pasti sadar sama hal-hal kecil. Kalau kamu gak hati-hati usaha kamu bakal sia-sia, yang ada nanti dia makin nempel sama tunangannya itu”


“Iya iya, yaudah pesen deh makananya…” Aksa memutar bola matanya, ia paham maksud Syakilla, mungkin saat ini memang lebih baik bersikap sabar dan mengikutin rencana mantannya itu saja.


“Nah gitu dong, kan kita bisa ngobrol sambil makan” Syakilla sangat senang Aksa menuruti kemauannya. Dalam hati Syakilla seperti melompat-lompat saking girangnya. Ya ini baru awalan saja, kedepannya perempuan ini merencanakan agar Aksa akan terus mengikuti yang dia mau.


Waktu berlalu, sekarang sudah jam 5 sore, namun sayangnya Aksa masih terjebak dengan perempuan itu. Iya Syakilla tidak langsung bicara ke inti masalah, tapi berputar-putar, membahas banyak hal.


Alasan kenapa Aksa tidak bisa pergi begitu saja, karena yang di bicarakan oleh mantan pacarnya itu adalah soal pekerjaan. Aksa baru tahu bahwa proyek yang di ambil perusahaannya di urus juga oleh Syakilla, mau tidak mau mereka akhirnya membahas hal itu juga.


Apakah ini semua kebetulan?, tentu saja tidak. Bukan Syakilla namanya jika tidak bisa mengatur secara seksama. Perempuan ini mengarahkan kliennya dari luar negeri, untuk memberikan tender proyek perusahaannya kepada perusahaan milik Aksa.


Sekarang Aksa sedang menunggu Syakilla, ia perempuan ini memaksa Aksa untuk pergi ke mall terdekat, mereka sedari tadi berjalan dan keluar masuk outlet. Syakilla tentu saja kini membawa belanjaan baju, alasannya perempuan ini ingin membelikan pakaian untuk Claudia, sebagai hadiah perkenalan dari calon kakak ipar.


Aksa sebenarnya kesal, tapi setelah mendengar bahwa alasan Syakilla membeli banyak barang untuk Claudia agar gadis itu cemburu, karena mengira Aksa sudah berpaling lagi kepadanya dan melupakan adiknya itu. Aksa setuju, tentu saja apapun langkahnya saat ini, sangat penting bagi Aksa agar Claudia sadar bahwa hanya Aksa yang dia miliki.


“Udah teleponnya?” tanya Aksa kesal, Syakilla memang permisi ijin menjauh sebentar dari Aksa, karena dia harus menghubungi seseorang


“Hehehe udah, maaf ya mas lama. Soalnya tadi kita ada trouble sedikit di kantor”


Aksa hanya menghela nafas kasar, rasanya dia mau meledak sekarang. Aksa sadar jika saat ini, Syakilla sedang menggunakan kesempatan agar bisa bersama dengannya.


“Mas, kita mampir kesitu yuk” ujar Syakilla menarik tangan Aksa sambil, menunjuk kesalah satu café dengan konsep taman.


Sudah cukup Aksa tidak tahan lagi, ia langsung melepaskan tangan perempuan itu dengan kasar. Akhiri saja main-mainnya pikir Aksa, lebih baik ia bicarakan semuanya di telepon atau lebih baik batalkan saja rencana ini.


“Killa kamu nih yang bener aja sih, aku udah ikutin mau kamu muter-muterin mall kaya gini. Aku tuh mau kita obrolin soal rencana kamu bantuin aku biar bisa bikin Claudia cemburu” Aksa mengerutkan dahinya, ia menaikan suaranya dan benar-benar terlihat kesal.


Syakilla membatu, dia agak terkejut dengan sikap Aksa padanya, namun sekali lagi perempuan itu menguatkan mentalnya, ia tersenyum manis sambil menarik lagi tangan Aksa agar bisa dia gandeng dengan mesra.


“Yaudah makanya ayo duduk di café itu aja dulu, sambil ngeteh kan enak...”


“Killa….” Bentak Aksa, namun gadis ini malah semakin mengeratkan pelukannya pada lengan pria itu.

__ADS_1


“Udah ayoooooo……” Syakilla menarik Aksa untuk masuk kedalam café, sedangkan Aksa hanya bisa mendengus kesal.


Mereka berdua pun akhirnya terduduk disana memasan minuman dan cemilan, lalu mulai membicarakan berbagai rencana dan kemungkinan yang bisa terjadi pada hubungan Claudia dan Aksa.


Poin pertama Aksa harus terlihat natural, berdekatan dengan Syakilla adalah hal pertama yang harus pria itu lakukan, sebisa mungkin mereka harus sering bersama agar terlihat alami, selayaknya dua orang yang sedang melakukan pendekatan.


Poin kedua Aksa tidak boleh menolak Syakilla jika perempuan ini menyentuh Aksa di depan Claudia, malah jika Syakilla memulai Aksa harus ikut permainan perempuan itu tanpa membantah.


Poin ketiga jika Claudia sedang bersama Reiki usahakan agar Aksa terlihat tidak perduli, malah acuh atau berusaha bersikap ramah terhadap Reiki, tujuannya agar pria itu yakin bahwa Aksa bukanlah lagi ancaman antara dirinya dan Claudia.


Yang terakhir Aksa tidak boleh menyentuh Claudia, atau bahkan bersikap ramah dan berlebihan seperti diawal. Bersikaplah dingin dan seperti kakak lelaki pada umumnya, jika Claudia menginginkan posisi sebagai kakak dan adik maka kabulkan itu, tujuannya agar adiknya mulai mencari Aksa dan memohon kepadanya agar bersikap seperti biasa kembali pada Claudia.


“Jadi gimana mas menurut kamu rencana aku ?” tanya Syakilla.


“Bagus juga…terus apa yang kamu minta sebagai imbalannya”


Tanya Aksa penasaran, ia tahu gadis ini tidak akan memberikan service secara cuma-cuma. Pasti ada imbalan yang akan diminta oleh Syakilla. Namun yang ditanya hanya tersenyum, sambil meminum minuman yang ada didepannya.


‘Imbalan aku….ya imbalan aku itu kamu mas Aksa. Iya, menikah denganku dan jadi milik ku selamanya, itu imbalan yang harus kamu bayar atas semua ini’ gumam Syakilla sambil tersenyum.


“Aku…aku cuma mau…”


Belum selesai Syakilla bicara dua orang yang familiar masuk kedalam café yang sama dengan mereka. Konsep café yang terbuka tentunya membuat orang bisa langsung melihat siapa pengunjung yang baru saja datang.


Aksa langsung berdiri melihat pengunjung itu, Syakilla pun sampai kaget karena Aksa bangkit tiba-tiba dari duduknya.


“Claudia…” ucap Aksa pelan.


Tunggu dulu, perempuan itu tidak asing. Ia pernah melihat orang itu, Claudia berusaha mengingat-ingat lagi, Ya ampun perempuan itu Syakilla, bagaimana Claudia bisa lupa. Mungkin karena penampilannya sangat berbeda, saat datang kerumah mereka Syakilla berpenampilan sangat anggun, dress panjang dan longgar semata kaki, dan hampir tanpa make up sama sekali.


Namun perempuan yang kini juga ikut berdiri di samping Aksa itu, benar-benar bagaikan langit dan bumi dengan Syakilla yang ia lihat pertama kali. Baju super sexy yang memperlihatkan lekuk tubuh, make up super lengkap dan tatanan rambut bergelombang, membuat Claudia hampir tidak bisa mengenali perempuan yang ada dihadapannya.


Tanpa Aksa tahu, Syakilla langsung melingkarkan kedua tangannya dilengan Aksa, dan memasang senyum terbaiknya. Aksa tentu saja tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Syakilla, tapi dia teringat dengan rencana perempuan itu barusan, bahwa ia tidak boleh menolak apa yang dilakukan oleh Syakilla, jika sudah berhadapan dengan Claudia.


Disisi lain Claudia menatap lurus kearah Aksa dan Syakilla, gadis ini merasakan sakit di dalam hatinya, ia cemburu, kenapa Aksa tidak menolak perempuan itu, bukankah Aksa mencintai Claudia, kenapa semua berubah begitu cepat.


Reiki melirik kearah Claudia, lalu mengajak tunangannya itu berjalan kearah Aksa, tentu saja Claudia langsung paham maksud Reiki. Ia langsung tersadar bahwa ini adalah kesempatan yang bagus, agar Aksa paham jika ia sudah memilih Reiki sebagai calon suaminya.


“Wah, saya ga tau kalau ka Aksa udah punya pacar” ujar Reiki sambil mendekati Aksa dan Syakilla.


Syakilla tertawa, perempuan ini kian mengeratkan tangannya di lengan Aksa, dia bahkan menyandarkan kepalanya di pundak Aksa.


“Ups, bukan pacar tapi tunangan” seru Syakilla manja.


Claudia meradang mendengar apa yang dikatakan oleh perempuan yang kini ada didepannya. Berat untuk mengakui bahwa gadis ini cemburu, dia sangat tidak nyaman melihat Aksa yang tidak bereaksi sama sekali, tidak ada penolakan pula yang ditunjukan pria itu.


‘Dasar lelaki kardus, tadi pagi bilangnya sama aku kalau dia cinta, tapi apa coba liat sekarang. Mana itu cewe sengaja banget lagi ngenain tangannya ka Aksa ke dadanya’ gumam Claudia kesal, dengan spontan gadis ini mengerutkan dahinya dan cemberut.

__ADS_1


Tentu hal itu diperhatikan Aksa, dia merasa rencananya bisa berhasil, jika hanya menyentuh Syakilla begini saja bisa membuat adiknya terbakar emosi begini, bagaimana jika sedikit bermain-main pasti Claudia akan merangkak memohon Aksa untuk kembali padanya, itulah yang ada dipikiran Aksa.


“Hey, kamu Claudia kan? Kita sempet ketemu tapi belum pernah kenalan, aku Syakilla Ramadhani Syarif, kamu bisa panggil aku Killa” Syakilla lantas mengulurkan tangannya, berharap Claudia menjabatnya. Jangan tanya ekspresi wajahnya, perempuan ini sepertinya tidak lelah untuk tersenyum.


Claudia melihat kearah Aksa, lalu melihat kearah Reiki, gadis ini seperti bertanya apa boleh dia menjabat tangan perempuan yang ada didepannya. Reiki tersenyum lalu mengangguk.


“Aku Claudia, salam kenal kak…”


“Hehehe salam kenal, kalau masnya ini siapa?” Syakilla tentu saja berpura-pura tidak mengenal Reiki, kalau ketahuan mereka saling kenal, bisa buyar semua rencana yang telah mereka susun selama ini.


“Saya Reiki Delana Alvaro, calon suaminya Claudia” Reiki mengulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan Syakilla.


Aksa yang mendengar Reiki memperkenalan diri sebagai calon suami Claudia, rasanya sudah siap untuk baku hantam dengan pria itu, namun dia harus bersabar, ini demi masa depan.


“Kalian ngapain disini?” tanya Aksa dengan nada datar, ia tidak ingin terlihat kesal karena Reiki yang masih setia menggenggam tangan adiknya.


“Tadi kita baru ketemuan sama om Zen, ngobrolin soal rencana pernikahan kita, iya kan Di?”


Claudia hanya mengangguk, dia melihat Aksa sambil ingin menangis. Sedangkan Aksa masih bisa bersikap dingin tadi, tapi mendengar bahwa Claudia tidak main-main dengan ucapannya tadi pagi, membuat kesabaran Aksa runtuh. Tepat saat pria ini ingin memukul Reiki, Syakilla yang menyadari bahwa kotak sabar Aksa sudah jebol, langsung mencubit manja perut Aksa.


Tentu saja Aksa kesal, tapi Syakilla melihat kearah Aksa sambil memasang muka serius, secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa dia harus bisa kontrol emosi, jika mau usahanya berhasil.


“Duh, yaampun kok bisa samaan gini ya, kita juga lagi ngomongin soal pertunangan aku sama mas Aksa. ya ampun Claudia, aku seneng banget denger kabar ini, kita akur-akur ya, kamu bisa anggap aku kakak perempuan kamu mulai sekarang, gimanapun kedepannya aku bakalan jadi kakak ipar kamu, iya kan mas??” seru Syakilla sambil melihat kearah Aksa.


Aksa juga mengangguk, dia sebenarnya merasa perempuan yang masih memeluk posesif lengannya ini keterlaluan, tapi apa boleh buat, permainan baru saja dimulai dan Aksa tidak bisa kalah di babak pertama.


Berbeda dengan Aksa, Claudia tidak bisa menahan emosinya. Gadis ini akhirnya menangis juga tanpa dia sadari. Hatinya begitu perih mendengar ucapan perempuan yang mengaku-ngaku tunangan kakaknya itu. Baik Reiki, Aksa dan Syakilla cukup kaget melihat reaksi Claudia, gadis ini sudah bersiap untuk histeris nampaknya, tapi tidak ada satu pun dari ketiga orang yang ada disana, berusaha bertanya kenapa gadis ini menangis.


“Kak…ayo kita pergi aja dari sini…” Claudia langsung menarik tangan Reiki.


“Tapi Di, gak sopan dong pergi gitu aja…apalagi didepan calon kakak ipar kamu” ujar Reiki sambil menekankan kalimat ‘calon kakak ipar kamu’, pada tunangannya itu.


“Ka….” Claudia memohon pada Reiki sambil menarik ujung lengan kemeja Reiki.


“Iya, iya ayo kita pergi. Kita duluan ya Syakilla, ka Aksa…” Reiki pun memeluk pundak mungil Claudia, dan keluar dari café tersebut.


“Claudia…” Aksa juga langsung bergegas keluar, dia ingin memeluk Claudia yang menangis, karena pria ini tahu alasan gadis yang ia cintai itu menangis pasti karena Syakilla.


“Mas….” Syakilla menarik tangan Aksa, dan memaksa agar duduk kembali.


“Killa lepasin aku” bentak Aksa, sambil melepas genggaman tangan Syakilla.


“Mas dengerin aku, kalo kamu kejar Claudia sekarang semuanya akan jadi percuma”


“Tapi…” Aksa ragu, ia ingin mengejar gadisnya sedang terisak, dan menyatakan betapa ia mencintai Claudia, dan bisa melakukan apapun untuk gadisnya itu. Tetapi yang di katakan Syakilla juga masuk akal, dia tidak ingin rencananya gagal.


“Udah mas, ayo duduk lagi”

__ADS_1


Aksa pun menurut, ia melihat Claudia menjauh dari pandangannya, dalam hatinya ia bergumam.


‘Claudia maafin aku, maafin aku…tapi kalau ini bisa bikin kamu kembali lagi sama aku, aku bakalan lakuin apapun….aku cinta kamu Claudia’


__ADS_2