
“Aksa..Aksa ayo bangun ini udah siang nak!!!”
Silvana menghela nafasnya, melihat Aksa kini kacau wanita itu sama sekali tak senang.
Aksa mulai terbangun, dia memegang kepalanya yang terasa sakit. Sudah seminggu berlalu ia bekerja seperti orang tak waras.
“Ini jam berapa bun?” seru Aksa sambil mengusap matanya.
“Jam 12..” seru Silvana sambil membenahi barang-barang Aksa yang berantakan dilantai.
Aksa termenung, dipikirannya satu hari lagi yang harus dilewati tanpa kehadiran Claudia. Hidupnya yang hampa harus berlalu sehari lagi, entah sampai kapan akan terus begini. Pria itu sama sekali tak punya ide untuk melanjutkan hidupnya, kecuali dengan terus bekerja dan membereskan kekacauan yang terjadi di perusahaannya.
“Kemaren kamu pulang kerja jam berapa sih?” tanya Silvana sambil duduk di ujung tempat tidur milik Aksa.
“Jam 4 bun…” Aksa mulai memposisikan tubuhnya untuk duduk, tanpa terlalu memikirkan sakit yang ia rasakan kepada kepalanya.
Silvana menghela nafas kembali, ia tahu selama 3 tahun terakhir Aksa terus memaksakan diri untuk bekerja dan membereskan semua masalah yang diakibatkan oleh Syakila. Jujur saja Silvana merasa kasihan melihat kondisi anak sambungnya yang begitu hancur, tapi apa boleh buat merelakan perasaan itu memang sulit.
“Hana dimana bun?” tanya Aksa sembari mengambil paracetamol dan air di nakas.
“Sama bi Sumi dibawah, ka kamu mau sampai kapan kaya gini sih??? Bunda masih bisa ngerti kalau kamu begini 2 atau 3 tahun lalu, tapi kan semua di kantor juga udah lebih baik, apa gak bisa kamu ambil cuti dan ajak Hana liburan gitu, kasian lho dia nungguin papanya tiap malem gitu. Kalau sekarang dia masih kecil sih gak apa-apa tapi kalau nanti dia udah masuk SD gimana?, kan gak mungkin dia nungguin kamu sampai tengah malam tiap hari…”
Aksa terdiam, ia tahu kalau dirinya seperti menelantarkan putri semata wayangnya itu. Tapi berdiam diri di rumah dan mengajak Hana bermain-main juga membuatnya sama sekali tidak nyaman.
Satu-satunya alasan kenapa ia membawa Hana kerumah orang tuanya adalah karena ia tak ingin putri kecilnya itu belajar dari perempuan yang bahkan berusaha menggugurkannya berkali-kali.
Jelas bagi Aksa, Hana hanya jadi alat untuk Syakila agar bisa menikahinya dulu. Setelah mereka menikah berkali-kali Syakila meminum obat untuk mengugurkan janinnya, beruntungnya Hana adalah anak yang kuat, sehingga selama di kandungan obat-obatan yang di konsumsi Syakila tak mempan membuatnya keluar dari rahim perempuan itu.
“Aksa ngerti bun..” ucap Aksa lalu meminum paracetamolnya.
“Ka, bunda gak masalah kalau harus ngurusin Hana, tapi inget dia tetap butuh ayahnya…kalau kamu terus begini apa bedanya kamu sama Syakila?” Silvana hanya ingin Aksa memiliki kehidupan yang seimbang, melihat Aksa yang kini tampak sangat kurus dan berwajah seakan lebih tua, karena tidak punya waktu untuk merawat tubuhnya sendiri membuat Silvana meradang.
Aksa mengangguk, memang Aksa merasa bersalah tapi mau bagaimana lagi, dirinya sendiri saja tak mampu ia tangani dengan baik. Pikirnya ia harus segera mencari pengasuh baru mungkin untuk menemani Hana.
__ADS_1
Silvana disisi lain tak paham kenapa Aksa sangat sulit untuk move on, dan melanjutkan hidupnya dengan normal, seperti apa yang dilakukan oleh Claudia. Aksa nampak seperti terjerat dan tak sanggup keluar dari masa lalu. Sungguh membuat Silvana khawatir, bahkan ia lebih memikirkan kondisi putra sambungnya ketimbang Claudia, karena ia tahu saat ini putri kandungnya itu tengah menata hidupnya dengan baik.
Rasa-rasanya Aksa yang sekarang jadi lebih parah ketimbang saat di tinggal Aini dulu. Mungkin anaknya itu tak mabuk-mabukan atau main perempuan lagi, tapi dirinya yang sekarang bahkan tak sempat untuk makan dan istirahat.
Kesehatan Aksa jadi poin utama bagi Silvana, berkali-kali ia meresepkan obat herbal untuk menghentikan Aksa mengkonsumsi obat tidur dengan dosis berlebihan, semua di karenakan putra sambungnya mengalami insomnia akut selama beberapa tahun terakhir.
“Kamu sekarang mandi, kita makan siang bareng…eyang, papa sama Hana udah nungguin kamu di meja makan…terus…” Silvana berjalan kearah nakas milik Aksa, dan mengambil beberapa obat untuk membantu putranya terlelap.
“Stop minum ini, nanti malam bunda buatin teh lavender aja sama chamomile ok…sekarang ayo cepet, bunda tunggu dibawah…”
Aksa kembali mengangguk, sambil menatap lurus kearah meja tv nya. Ia menatap foto seorang perempuan dengan wajah mungil yang ada di atas meja itu, ya foto dirinya dan Claudia yang diambil disaat mereka pergi untuk kencan.
Dengan frustasi Aksa menarik-narik rambutnya, ia tahu benar bahwa semua orang disekelilingnya berharap lebih dan ingin dirinya melanjutkan hidup. Toh Claudia juga sudah lebih bahagia tanpa dirinya sekarang.
Tapi itu bukan perkara mudah bagi Aksa, ia menghabiskan waktu lebih dari setengah hidupnya untuk mencintai satu orang wanita, terlebih ketika ia tahu bahwa perasaannya itu bersambut, tentu menjadi semakin sulit untuknya move on dari masa lalu, karena pada dasarnya bukan kehendak mereka untuk berpisah dan memilih jalan yang berbeda.
Entahlah, ia berkali-kali mengutuk dirinya sendiri yang tak berani mengambil resiko untuk membawa kabur Claudia saat itu, atau bahkan sekedar mengunjungi gadis yang ia dicintainya itu, hanya karena Nesya, eyangnya meminta Aksa untuk tidak mengusik kehidupan Claudia.
Ia merasa dirinya seperti digerogoti oleh penyesalan tak berujung, bahkan saat tidur pun Aksa terus menurus mengalami mimpi buruk, ia sudah tak mampu lagi untuk meneruskan hidup normalnya.
Jelas segunung pekerjaan itu menjadi pelarian terbaik bagi pria ini, ia jadi bisa melupakan sesaat semua rasa pedih di hatinya. Sudahlah, tak perlu memikirkan semua itu sekarang.
Aksa pun bergegas mandi, dan membersihkan dirinya. Dia sudah punya rencana untuk pergi bertemu rekan bisnisnya nanti malam, ia memikirkan apa yang dikatakan oleh Silvana soal menelantarkan Hana, karena itu Aksa berpikir mungkin ia bisa mengajak Hana main sesaat sebelum bertemu dengan temannya itu. Terlebih tempat mereka bertemu nanti di mall yang cukup besar.
Ketika dirinya sudah rapih, mata Aksa kembali menatap foto Claudia, kini pria itu berjalan dan mengambil pigura foto dari atas meja. Dengan pelan ia menyentuh wajah Claudia, perasaan rindunya sudah sampai di ubun-ubun pada gadis itu, entah bagaimana caranya agar perasaan yang dimilikinya jadi lebih ringan.
Pintu kamar Aksa tiba-tiba terbuka “Papa…” seru seorang anak perempuan dengan dress merah mudanya.
Aksa menatap gadis kecil yang terlihat takut-takut mendekatinya.
“Ung..nenek…” gadis kecil itu menunduk sepertinya ia merasa telah mengganggu Aksa.
“Sini Hana…” Aksa tersenyum, ia tahu Hana takut kalau sudah membuatnya marah.
__ADS_1
Hana pun tersenyum kembali, gadis ini berjalan menuju kearah Aksa dan melihat apa yang dipegang oleh papanya.
Ah foto itu lagi pikir gadis kecil ini. Papanya terbiasa memandangi foto itu setiap harinya, bahkan terkadang membawa foto itu tidur bersamanya.
“Ung papa…makan….” Ucap Hana tak jelas.
“Ya, ayo kita makan kebawah” Aksa lalu meletakan foto dirinya dan Claudia kembali ketempat semula, setelahnya pria ini pun menggendong Hana dan membawanya turun ke lantai bawah untuk makan siang bersama.
Sedikit yang diketahui oleh Aksa, gadis kecilnya yang pendiam itu mulai tertarik dengan gadis yang di foto bersama sang ayah, siapa lagi kalau bukan Claudia.
Di tempat lain…
Claudia kini tengah sarapan dengan Reiki dan ayahnya, tidak ada yang aneh semua berjalan seperti biasa, kecuali Reiki yang terus menerus memandangi Claudia dan tak banyak bicara.
“Kakak kenapa sih dari tadi liatin aku terus? Kakak demam?” Claudia bingung, satu minggu yang lalu Reiki sama sekali tak muncul di restaurant tempat mereka janjian, kenyataannya Reiki malah pulang dengan tubuh basah kuyup hampir tengah malam.
Saat ditanya apa yang terjadi oleh Claudia, pria itu tersenyum dan mengatakan tidak ada yang perlu di khawatirkan, membuat gadis ini malah semakin bertanya-tanya.
“Gak…aku gak demam kok…” seru Reiki lirih.
“Serius ka??”
“Iya, aku baik-baik aja..”
Zen disisi lain paham apa yang terjadi, setelah bertemu dengan Nico. Ia merasa sepertinya sudah saatnya untuk membicarakan ini pada Reiki dan Claudia.
“Reiki, nanti malem temenin om ya…”
“Mau kemana ayah? Ade hari ini gak bisa lho mau pergi sama temen-temen kampus” seru Claudia.
“Bagus deh, ayah mau pergi sama Reiki aja…ayah mau cari stick golf baru” ucap Zen santai.
“Oh gitu ok baiklaaaaah” Claudia tersenyum lebar.
__ADS_1
Tapi sayangnya tidak dengan Reiki, ia jadi semakin bimbang. Nampaknya suka tidak suka ia harus segera bicara dengan Claudia.