ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 29


__ADS_3

Yudha dan Shiva terheran-heran, apa yang sebenarnya tengah di rencanakan oleh Claudia. Sahabat mereka itu sedang memaksa mereka untuk tutup mulut dari Alif dan Aksa.


Shiva berkali-kali memeriksa Claudia, dari kursi depan mobilnya. Mereka memang tengah di perjalanan, kearah rumah Reiki. Akan tetapi Claudia memaksa Yudha dan Shiva, untuk tutup mulut pada Alif dan Aksa.


“Tunggu dulu Di, maksud lo kita ga boleh kasih tau ke Ka Aksa sama Alif kenapa?, kan belum tentu juga kalo ka Reiki yang bikin Icha kabur” tanya Shiva di dalam mobil.


Claudia tertunduk, apa yang harus dikatakannya pada dua sahabatnya itu. Sejujurnya Claudia tidak punya niatan untuk menyembunyikan apa yang terjadi antara dirinya, Aksa, dan juga Reiki, tapi dia juga tidak tahu bagaimana cara menyampaikan dan mengatakan pada seluruh sahabatnya. Pikirannya carut marut, bimbang dengan pilihannya.


“Gw ga bisa jelasin sekarang Shiv…” jawab Claudia sambil menunduk.


“Bisa Di, gw gak mau nutup-nutupin sesuatu yang berpotensi bikin Icha dan yang lain dalam bahaya. Gw mau tau kenapa lo takut banget Ka Aksa tau kalo kemungkinan Ka Reiki ada campur tangan disini” Shiva mengerutkan keningnya, ia tidak senang dengan apa yang dilakukan oleh sahabat baiknya itu. Besar harapan Shiva pada Claudia, agar temannya berkata jujur dan menjelaskan kepadanya apa yang terjadi sebenarnya.


“Shiva, tenang aja. Icha ga akan kena masalah soal ini. Gw cuman minta lo sama Yudha untuk gak cerita sama Ka Aksa dan Alif aja. Please Shiv tolongin gw…” Claudia menahan tangisnya, ia berusaha untuk meminta pada temannya itu. Suatu hal yang membuat Shiva dan Yudha jadi khawatir, karena Claudia tidak pernah bertingkah seperti itu.


“Qy…” Shiva menatap Yudha penuh harap, mungkin tabiatnya yang keras tidak akan bisa membuat Claudia yang bungkam untuk cerita padanya. Yudha hanya membalas tatapan kekasihnya itu sambil menghela nafas dengan kasar.


Sebenarnya Yudha tidak ingin ikut campur walaupun dia tau Shiva sangat khawatir, jelas pacarnya itu tidak ingin Claudia juga mengalami masalah kedepannya, ia tahu niatan Shiva hanya agar, jika suatu ketika ada masalah di masa depan, yang berhubungan dengan kejadian di hari ini, Shiva bisa ada di belakang Claudia untuk membantunya.


“Di…mungkin bukan tempat gw buat ngomong, tapi apa ini ada hubungannya sama perasaannya bang Aksa ke lo?”


Mata Claudia membelalak, dia memang tau Yudha adalah type lelaki yang sangat perhatian dan sensitif dengan sekitarnya. Itulah kenapa hanya Yudha, yang bisa menaklukan hati Shiva yang dahulu terkenal benci dengan laki-laki.


Tebakan Yudha yang hampir selalu tepat, karena sifatnya yang jeli dengan keadaan sekitar, membuat Claudia harus mengakui bahwa Yudha memang terkadang menakutkan. Bagi gadis itu, setiap perkataan sahabatnya itu seperti seseorang yang sedang mencoba masuk kedalam otak orang lain. Tidak lebih dari itu, saat ini Claudia hanya bisa membeku terdiam, tubuhnya bergetar hebat, seperti seseorang yang ketahuan melakukan kejahatan.


“Hah, maksudnya gimana? Iqy ngomongin apa sih? Kak Aksa sama Claudia kan kakak ade, gak mungkinlah…..” Shiva tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Yudha, ia terus mencubiti pacarnya itu hingga ia membalikan badannya dan mencoba melihat kearah Claudia. Pupil mata gadis itu membesar, dalam hatinya dia tidak percaya, Claudia bisa terlihat begitu tegang dengan tatapan mata yang tak fokus.


“ASTAGA DI…KAMU….” Shiva menggelengkan kepalanya, kepalanya sangat sakit. Apa yang sebenarnya terjadi dengan para sahabatnya ini, apa yang sudah di lewatkan gadis ini, hingga sama sekali tidak tahu menahu dengan semua kejadian yang menimpa Icha dan Claudia.


Amarah membara di hati Shiva, ia merasa tidak dianggap, walau ia tahu Claudia pasti bingung, hanya saja hatinya sakit saat tahu sahabatnya mengalami kesulitan dan dia malah tidak membantu sama sekali.


“DI KAMU GILA YA?!” bentak Shiva kepada Claudia.


“Ga gitu Shiv…” Claudia akhirnya menangis, ia merasa bersalah dan banyak hal lagi yang ia rasakan namun tak bisa di jelaskan.


“TAPI TETEP AJA…..” seru Shiva, tapi belum selesai gadis ini menuntaskan kalimatnya, Yudha langsung mengelus pucuk kepala kekasihnya itu, berusaha untuk menenangkan.


“Sayang, kamu tenang dulu…” Yudha terus menerus mengelus kepala gadis yang ia sayangi itu, dirasa Shiva sudah mulai tenang ia pun akhirnya berhenti.


“Di, lo udah tunangan sama Ka Reiki. Lo inget itu, gw sebagai sahabat ga ikhlas kalo lo sampe menggila. Lo ga mikir apa hidup lo bakalan ribet binti ruweh kalo lo berharap sama ka Aksa, pikirin nyokap lo dan Eyang, gimana kalo mereka tau terus nyokap lo berantem sama bokap tiri lo?, seumur-umur gw ngeliat tante Silvana baru kali ini gw liat dia bisa senyum bahagia begitu” tukas Shiva dengan kondisi lebih tenang.


Yudha sepertinya harus menghentikan gadisnya itu, apa yang ia katakan pada Claudia hanya akan membuat Claudia semakin tertekan. Ia juga tidak ingin Claudia merasa stress karena Shiva mengatakan hal seperti itu.


“Di, untuk kali ini gw ga setuju sama Shiva..” seru Yudha sambil meminggirkan mobilnya.


“IQY!!!” Yudha pasti sudah gila pikir Shiva, apanya yang tidak setuju. Ia harusnya mendukung Shiva, untuk menghentikan Claudia melakukan hal yang menurut Shiva adalah kebodohan terbesar. Shiva tidak ingin melihat sahabatnya susah, itu alasannya ia tidak ingin Claudia memilih Aksa.


Yudha, menggenggam tangan Shiva, dengan lembut dia tersenyum gadis yang ada didepannya. Pemuda ini tau benar, sifat Shiva yang senggol bacok, sedikit banyak Claudia banyak terpengaruh dengan sikap Shiva yang keras, jadi dia berusaha untuk memperlakukan kekasihnya itu dengan lemah lembut, disaat Shiva sedang marah, kesal ataupun cemburu.


“Sayang, kamu ga bisa ngontrol perasaan manusia…” Yudha yang terus tersenyum seperti itu, membuat Shiva tidak bisa melakukan apa-apa gadis ini hanya bisa cemberut saja.


“Di kalo lo cinta sama bang Aksa, lo omongin baik-baik. Dan saran gw, jangan pernah mengorbankan kebahagiaan diri sendiri untuk orang lain, kalo bokap tiri lo emang punya cinta yang tulus buat tante Ana, hubungan lo sama Aksa gak akan berpengaruh sama pernikahan mereka, menurut gw sebagai suami dia wajib memimpin dan membimbing istri dan anak dengan baik, tapi kalau itu bertentangan dengan kebahagiaan anak-anaknya, kalo dia orang yang gak egois, dia pasti bisa paham kalau perasaan manusia itu gak sesimple itu. Terus jangan setengah-setengah Di, kalau emang lo gak suka sama bang Reiki, masih belum terlambat untuk mutusin tali pertunangan. Begitu juga sebaliknya, kalau lo mutusin untuk milih bang Reiki ketimbang bang Aksa, lo tegesin ke abang lo itu Di. Semua ini gak akan berjalan baik selama lo masih ragu-ragu, jatohnya lo ngasih harapan palsu ke dua orang itu”


Yudha khawatir, Shiva memang benar, tapi apa yang diinginkan oleh Claudia lah yang terpenting, jika memang ia memilih Reiki karena ayah tirinya, sedangkan hatinya memang sudah jatuh di pelukan Aksa, maka pernikahan Claudia kedepannya hanya akan penuh dengan rasa sakit. Yudha yakin dengan sifat Aksa yang begitu, apalagi sikap posesifnya pada Claudia yang ia perhatikan sejak mereka di café, sudah barang tentu akan menyulitkan Claudia di masa depan.


Pernikahan Reiki dan Claudia akan hanya jadi mimpi buruk, jika posisinya Aksa sudah tahu Claudia juga menyambut perasaannya. Dalam hal ini Claudia harus yakin dengan pilihannya dan segala konsekuensi yang akan ia tanggung.


“Gw paham Qy, tapi ini semua ga semudah itu. Eyang punya penyakit jantung, nyokap udah bahagia sama kehidupannya, terus ka Aksa juga udah punya calon istri, apalagi ka Reiki…” Claudia mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Yudha, tapi ini terlalu sulit baginya.


Shiva dan Yudha saling bertatapan, apa maksudnya dengan ‘Ka Reiki’. Apa yang di katakan oleh tunangan Claudia itu, hingga dia tidak bisa memutuskan apa yang harus dilakukan.


“Ka Reiki kenapa….?” Seru Shiva.


“Ka Reiki bilang, kalo gw nikah sama dia, gw bakalan bebas ketemu sama bokap gw”


“Udah Di pilihan lo udah bener, sekarang pelan-pelan lo belajar aja buat cinta sama Ka Reiki” seru Shiva sambil memandang Yudha, gadis ini tahu benar bahwa Claudia selalu merindukan ayahnya itu, dan dia tahu bahwa Silvana melarang semua kontak dengan ayah kandung Claudia.


“Sayang tapi…”


“Iqy, aku gak mau ya kamu komentar lagi, aku mau Claudia hidup tenang. Kamu mesti tahu bahagia itu belum tentu tenang, tapi kalo udah tenang pasti bahagia”


Yudha hanya menggeleng kepalanya, dia tahu bahwa sia-sia mendebat Shiva saat ini, harapannya hanya agar Claudia mempertimbangkan apa yang dia ucapkan tadi. Pemuda itupun menghidupkan mobilnya lagi, kini mereka melanjutkan perjalanan mereka.


Tak lama kemudian mereka sampai, di sebuah perumahan elit. Rumah Reiki tidak kalah besar dengan rumah baru Claudia. Sebuah rumah minimalis yang terkesan sangat teduh, itulah tempat yang menjadi kediaman Reiki dan keluarganya.


Claudia tidak buang-buang waktu lagi, ia langsung memencet bel dan disambut oleh security yang memang sudah mengenalnya. Ketiga orang itu pun dipersilahkan masuk.


“Non Claudia” sambut seorang wanita berusia 40an.


“Bi Ika, tante Kei ada ?” tanya Claudia.


“Ada non, masuk dulu ayo, silahkan…”


Claudia pun mengikuti bi Ika, mereka dipersilahkan duduk, lalu wanita itu pergi menghampiri Keiko, selanjutnya ia langsung membuatkan minum untuk Claudia dan teman-temannya.


Tak lama kemudian, Keiko datang menghampiri Claudia di ruang tamu. Mereka semua menyalami Keiko satu persatu.


“Anak mama, ya ampun ada apa kok tiba-tiba kesini, tau kamu dateng tadi mama masak banyak, buat kamu sama temen-temen kamu” sambut Keiko sambil memeluk Claudia.

__ADS_1


“Tante Kei, uhm anu…”


“Kenapa Nak?”


“Ka Reiki…ada dimana ya tante??”


Hati Claudia berdebar dengan keras, sejujurnya ia berharap Reiki tidak ada dirumah, dan lebih baik pria itu sedang praktek saja di rumah sakit.


“Reiki?, baru aja pulang, ada dikamarnya kok”


“Iya, ade boleh ke kamarnya ka Reiki?” Claudia menutup matanya sesaat, ia mengepalkan tangannya.


“Boleh-boleh” seru Keiko sambil tersenyum.


Claudia sama tidak bisa tersenyum, langkahnya berat. Ia bimbang apa yang harus ia katakan pada tunangannya itu.


“Kalian tunggu disini dulu ya” seru Claudia yang di tanggapi dengan anggukan kedua orang temannya.


Sesampainnya di lantai dua, saat menuju ke kamara Reiki, Claudia berpapasan dengan bi Ika, yang baru saja mengambil cucian di lantai dua.


“Non….itu…”


“Iya kenapa bi?”


“Dari jam 2 tadi mas Reiki gak mau diganggu, dia bilang gak boleh ketuk pintunya. Takut saya nanti kalo non ketuk pintu, mas Reiki ngamuk lagi”


‘DEGH’ debaran jantung Claudia semakin kencang, jika bi Ika bilang jam 2, berarti tidak lama sebelum Alif panik adiknya tidak dapat di temukan. Claudia berusaha untuk tenang, ia mengatur nafasnya lalu tersenyum.


“Insyaallah gak apa-apa bi…Aku kan calon istrinya, dia ga mungkin marah-marah sama aku” seru Claudia sambil tersenyum.


“Hehehe yasudah kalo begitu non…bibi tinggal dulu” Bi Ika pun pergi meninggalkan Claudia yang kini sudah berada di depan kamar Reiki. Perlahan gadis itu mengetuk pintu kamar tunangannya tersebut, tapi nihil tidak ada jawaban. Karena kesal beberapa kali tidak di gubris, akhirnya Claudia mengetuk denga lebih kencang lagi.


“Kan saya udah bilang jangan ganggu sa….Claudia” Reiki membuka pintu kamarnya, dia tercengang, kenapa ada Claudia di depan pintunya.


“Boleh aku masuk ka?” seru Claudia bersusaha untuk bersikap biasa saja, bahkan gadis ini sukses membuat senyum.


“Iya…” Reiki masih menunduk, kenapa bisa ada Claudia di rumahnya, apa Icha sudah memberitahu tentang kejadian tadi siang?. Reiki ragu, karena Claudia yang ada di depannya masih tersenyum. Seharusnya kalau Claudia tahu, saat ini pasti gadis kesayangannya itu akan melempar cincin pertunangan mereka di depannya.


“Kunci aja pintunya…” Claudia masih saja tersenyum. Sikap Claudia ini, membuat Reiki berpikir bahwa Claudia mungkin sudah mulai menerima dirinya.


Betapa terkejutnya Reiki, ketika Claudia langsung memeluk tubuhnya. Claudia mengeratkan pelukannya, di dalam hati Reiki sangat senang, namun ia masih bingung kenapa tiba-tiba Claudia bersikap mesra seperti ini, apa pelukan Claudia jadi pertanda bahwa gadis itu sudah menerimanya secara utuh, entahlah tapi yang pasti, Reiki tidak bisa menahan rasa senangnya, ia pun memeluk balik gadis itu.


“Di…” wajah Reiki kini memerah persis seperti tomat, dia sangat senang dan sejujurnya malu. Baru kali pertama Claudia menyentuhnya, dan bukan dia yang memulainya. Perlahan pemuda ini menciumi pucuk kepala gadis itu, siapa yang sangka bahwa hari yang selama ini hanya ada didalam benak Reiki, akhirnya muncul juga.


“Kakak tadi siang kemana?” Claudia membenamkan wajahnya di tubuh Reiki.


“Oh, café Vega ya…”


“Iya kok kamu bisa ta…”


‘BUGH’ tinju Claudia kini menghantam tepat kearah perut Reiki. Pria yang tidak menyangka bahwa Claudia sejak dari awal sudah merencanakan untuk memukulnya ini, terjatuh dan hanya bisa menampakan wajah terkejutnya. Bingung dengan apa yang terjadi, pasalnya baru beberapa menit lalu Claudia memeluknya dengan erat. Reiki sama sekali tidak bisa berpikir saat ini, dia hanya bisa menatap wajah Claudia yang penuh dengan air mata, dilengkapi raut wajah yang tak pernah Reiki lihat sebelumnya, marah dan jijik itu yang dinampakan oleg gadis itu.


“Claudia…” ujar Reiki dengan wajah kaget, pupil mata Reiki bergetar, sama sekali tidak fokus.


“APA YANG KAKAK PIKIRIN HAH?!”


Ini pertama kalinya Claudia membentaknya, sudah barang tentu membuat Reiki terperanjat, suara gadis yang marah diiringi dengan tangissan membuat pria ini semakin tidak dapat memperoses apa yang sebenarnya tengah terjadi.


“Di chan aku…aku gak paham maksud kamu…” jawab Reiki sambil menunduk, raut wajahnya sekarang mendingin, dia sudah seperti tidak tau apa yang harus dilakukan selanjutnya, di otaknya hanya ada kemungkinan Icha sudah menceritakan semuanya kepada Claudia.


“Gak paham ? ok sekarang aku tanya, apa yang kakak omongin sama Icha?!” tukas Claudia sambil mengelap air matanya yang masih mengalir.


“Icha???” Reiki menjawab dengan nada datar, tidak ada emosi sama sekali di suaranya itu.


“Iya Icha…apa kakak tahu Icha ilang sekarang…” seru Claudia sambil menarik kerah kemeja Reiki.


Mata Reiki kembali fokus, apa yang terjadi Icha tidak memberitahukan semuanya pada Claudia, dan yang terpenting sekarang gadis itu entah ada dimana.


“HAH HILANG? KOK BISA…KOK BISA ICHA HILANG DI?” Reiki benar-benar kaget, ia tidak menyangka Icha menghilang tepat setelah mereka bertengkar tadi.


“Harusnya aku yang tanya sama kakak, apa yang kakak bicarain sama Icha sampe Icha ga bisa dihubungin sampe sekarang”


Reiki diam seribu bahasa, tidak mungkin ia katakan bahwa ia kepergok oleh Icha saat merencanakan rencana jahat untuk Claudia dan Aksa.


“Kenapa kakak diem jawab kak?”


“Di…aku ga tau harus ngomong apa….”


Jawaban Reiki membuat Claudia semakin marah, kenapa bisa pria ini tidak tahu harus bicara apa, padahal mereka berdua sama-sama sudah tahu bahwa hilangnya Icha ada hubungannya dengan pertengkaran Reiki dan gadis itu tadi siang. Claudia hanya menunduk, emosinya sudah tidak terbendung lagi, begitu pula dengan Reiki, dia juga hanya bisa menunduk lesu.


“Aku cinta sama ka Aksa…” Claudia mengangkat kepalanya sambil menangis.


Apa yang tidak ingin di dengar oleh Reiki, akhirnya terjadi juga, ia sudah tahu bahwa gadisnya ini cinta dengan pria lain, tapi ia tidak bisa, tidak sanggup untuk menerima, cintanya kalah oleh Aksa. Reiki hanya bisa mendongakan kepalanya, berusaha meyakinkan dirinya bahwa yang ia dengar salah.


“Claudia…kamu…kamu pasti salah…kamu gak mungkin cinta sama Aksa” seru Reiki yang kini bangkit dari tempat ia terjatuh tadi.


Claudia menggeleng, ia menatap Reiki dengan wajah frustasi. “Aku cinta, aku sayang sama dia, bahkan aku rela jadi miliknya dia walaupun semua orang nentang, walaupun semua orang doain aku sama dia celaka, aku rela….” Seru Claudia lirih.

__ADS_1


Tak terima Reiki langsung menarik kedua pundak Claudia dengan kasar, ia sangat marah, apa-apaan Claudia, apa gadis ini buta. Hanya dirinya yang mencintai Claudia sampai mampu melakukan apapun, Claudia tidak boleh punya pikiran dan perasaan seperti itu pada pria lain.


“STOP !!! APA GAK BISA KAMU NGERTIIN AKU SEDIKIT AJA CLAUDIA…” Bentak Reiki pada Claudia, tapi gadis itu tak gentar, ia membentak balik Reiki dengan sekuat tenaga.


“KAKAK YANG GAK NGERTI….”


Claudia tak mampu berdiri lagi, dia merasa kakinya lemas, ia hanya bisa terduduk lemah di lantai. Tidak pernah ia merasa sehancur ini, dan semuanya karena perasaan cinta antara Aksa dan dirinya.


“Kakak gak paham, walaupun aku ngerasain itu, ngerasain perasaan cinta yang menggebu-gebu sama ka Aksa. Aku tetep lebih memilih kakak untuk jadi calon suami aku. Jujur aku emang takut atas ancaman kakak, tapi apa kakak pikir aku tipe perempuan yang bisa semudah itu ditindas?, apa kakak ga berpikir gimana perasaan aku, pengorbanan aku buat kakak?”


Claudia yang menutup wajahnya dengan kedua tangan sembari menangis, membuat hati Reiki hancur, ia pun kini hanya bisa terdiam. Memang betul Claudialah yang paling banyak berkorban dalam persoalan ini, tapi apa yang bisa dia lakukan. Claudia, gadis mungil itu adalah segalanya, hidupnya, dunianya, semua yang Reiki lakukan saat ini hanya untuk menyenangkan Claudia di kemudian hari.


“Aku benci sama kalian berdua. Kakak sama Ka Aksa memperlakukan aku kaya piala bergilir, kalian membuat aku jadi seperti barang. Aku ini manusia, aku punya perasaan kak, dan ga ada satupun dari kalian yang mau ngertiin aku, walaupun kalian selalu umbar kalimat cinta ke aku”


Reiki langsung memeluk Claudia, ia tidak bisa menahan tangisnya, Reiki kini turut menangis dalam diam. Ia tahu ini salahnya, tapi ia tetap harus melakukan hal ini, atau selamanya dia tidak akan bisa menggenggam erat tangan gadisnya lagi.


“Claudia, ma…maafin aku…”


Pelukan Reiki hanya sebentar, karena Claudia langsung mendorong pria itu. Gadis ini bangkit dan langsung berjalan kearah pintu kamar Reiki, ia menghapus air matanya.


“Ka… kakak dengerin aku ya, kalo sampe ada apa-apa sama Icha, jangan harap aku sudi ketemu sama kakak lagi, dan udah jelas saat itu juga pernikahan kakak dan aku bakalan cuman jadi mimpi” tukas Claudia.


Gadis itu pun pergi meninggalkan Reiki dalam kamarnya yang gelap tanpa cahaya, pria ini hanya bisa menunduk dengan tatapan kosong. Dalam otaknya apa yang dilakukan oleh Claudia, malah membuatnya semakin menggila.


Claudia berlari menuruni tangga, lalu pergi kearah teman-temannya, dengan cepat ia membereskan tasnya lalu menyalami Keiko.


“Tante, Claudia pulang dulu...ayo…”


“Lho de, kok buru-buru…”


Claudia tidak menjawab, dia pergi begitu saja. Sedangkan kedua temannya, menyalami Keiko dan keluar dari rumah itu.


“Kita pamit tante…”


“Eh iya…hati hati di jalan…”


Sesampainya diluar, Yudha dan Shiva hanya saling bertatapan, mereka menghela nafas, tahu bahwa terjadi sesuatu antara Claudia dan Reiki. Namun, mereka memilih bergegas dan masuk kedalam mobil.


Saat mereka di jalan, sekali lagi kedua orang sahabat Claudia ini saling bertatapan. Shiva pun akhirnya bertanya kepada Claudia.


“Di? Lo gak apa-apa?” ujar Shiva cemas.


“Dia emang ketemu sama Icha Shiv” Claudia menjawab dengan nada kesal.


“Maksud lo?, yang ribut sama Icha itu ka Reiki?”


“Iya Shiv, dia bilang ketemu sama kliennya di café Vega”


“Apa jangan-jangan ka Reiki ketahuan selingkuh lagi?” Shiva yakin ada kemungkinan seperti itu, bisa saja Icha mempergoki Reiki sedang bermesraan dengan perempuan lain, karena tidak terima akhirnya Icha melabrak Reiki.


“Kayanya gak mungkin sayang, bang Reiki kan bucin kaya aku ke kamu” jelas Yudha dan di balas anggukan oleh Shiva.


“Apa jangan-jangan karena itu ya…” tukas Claudia yang mulai berpikir.


“apa karena ka Reiki mau mutusin pertunangan, dan dia tau lo suka sama abang lo, terus Icha ga ngasih, gitu kali ya??” seru Shiva mulai berpikir tentang bermacam-macam teori konspirasi.


“Gak, bukan itu..” jawab Claudia.


“Terus Di?” tanya Shiva penasaran.


“Sayang….Icha itu suka sama ka Reiki” jawab Yudha.


Berita baru, sejak kapan, bahkan Shiva tidak tahu menahu soal ini, tapi kenapa Yudha dan Claudia sudah tahu bahwa Icha ada hati pada Reiki.


“Hah, sejak kapan?”


“Udah lama, masa kamu gak tau?” jawab Yudha.


“Lho cuma aku doang yang ga tau apa??”


“Lebih tepatnya cuma aku sama Claudia aja sayang yang sadar”. Yang sadar akan hal ini mungkin hanya Yudha dan Claudia, yang lain sepertinya hampir tidak mungkin sadar. Pasalnya menurut Yudha Icha sendiri tidak menyadari hal tersebut.


“Iya, gw rasa Icha juga ga sadar kalau dia ada rasa sama ka Reiki” Claudia ternyata sepemikiran dengan Yudha. Sahabatnya yang kini sedang menyetir itu pun agak kaget nampaknya.


“Hah gila, sumpah ini udah gila. Pusing kepala gw sumpah…” Shiva menarik-narik rambutnya karena frustasi, hari ini terlalu banyak informasi yang tidak bisa di prosesnya dengan benar.


“Shiv, tolong japri Rima sama Melvin suruh mereka ke Masjid As-salam, dugaan gw udah tepat, kalo ada hubungannya sama ka Reiki, pasti Icha ngehubungin ka Diah” seru Claudia.


“Kok lo bisa yakin Di?” tanya Shiva.


“Karena Icha selalu ngehubungin ka Diah, setiap dia butuh penjelasan, atau setiap kali dia ada masalah yang berhubungan sama orang terdekatnya, tanpa sadar itu yang selalu Icha lakuin”. Icha memang selalu seperti itu, tampaknya tanpa sadar, ada beberapa hal yang di lakukan Icha secara berulang, sehingga sebagai sahabat sejak kecil, cukup mudah bagi Claudia mengingat kebiasaan Icha.


“Dan lo pikir Icha menganggap ka Reiki sebagai salah orang terdekat dia gitu?”


“Iya…”


“Ok langsung gw japri”

__ADS_1


‘Secara gak langsung ini semua ada hubungannya sama aku, ya Tuhan aku harus gimana. Ini baru masalah pertama, apa aku sanggup dengan masalah-masalah lainnya’ gumam Claudia dalam hati.


__ADS_2