
Bagaimana cara melupakan hal buruk? Haruskah berpura-pura tidak ingat apapun. Mendengar apa yang dikatakan oleh bi Sumi tadi rasanya menimbulkan keberanian baru di hati Aksa.
Akan tetapi, walau berusaha untuk maju ia masih tetap bisa mengingat dengan jelas apa yang terjadi dengannya saat terbangun di ranjang yang jelas bukanlah miliknya.
Pagi itu, di apartemen Syakila beberapa hari yang lalu.
Aksa mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, seraya berusaha menyadarkan diri. Kepalanya sakit dan ia tak bisa mengingat apapun dengan baik.
Perlahan ia mulai memperhatikan sekitarnya, jujur saja ruangan itu terasa asing bagi Aksa, ia yakin ini pertama kalinya ia mendatangi tempat itu.
“Udah bangun mas?”
Mata Aksa langsung terbelalak, ketika dengan jelas ia mendengar suara seseorang yang sangat ia kenal. Siapa lagi kalau bukan mantan kekasihnya, Syakila.
“Killa…” tutur Aksa, matanya langsung tertaut pada perempuan yang hanya memakai kemeja putih itu.
Tunggu kemeja putih itu tidak asing, Aksa baru tersadar kalau ia saat ini tak memakai apapun di tubuhnya, hanya selimut yang menutupi badannya.
“Kamu tau tadi malem kamu bener-bener gila….” Ujar Syakila, sambil mendekati Aksa, perempuan itu tersenyum lebar, seperti baru memenangkan hadiah luar biasa.
Berbeda dengan Syakila, Aksa justru tak senang, pupil matanya bergetar, ia memijat pelipis matanya dengan pelan, berusaha untuk tenang, tetapi tentu saja gagal total. “Maksud kamu a…pa…” tutur Aksa dengan terbata-bata.
Melihat Aksa yang panik, tentu saja Syakila puas. Rasanya seperti melihat Aksa saat pertama kali bercinta dengannya. Ekspresi panik jelas tersirat di wajah pria yang ia cintai.
Pertama kali mereka melakukan hal terlarang itu, memang Syakila juga yang memulai. Dengan mudahnya dia membuat Aksa mabuk lalu menjalankan rencananya. Setelah tersadar atas apa yang dilakukannya, Aksa menangis sejadi-jadinya, karena dalam hati Aksa hanya ingin melakukannya dengan Claudia ketika mereka menikah nanti.
Namun bukan Syakila namanya kalau tak bisa membalik keadaan, dengan segala manipulasi yang berujung rasa putus asa, perempuan itu meyakinkan jika Aksa tak akan mungkin bertemu lagi dengan cinta pertamanya.
__ADS_1
Bahkan dengan segala bujuk rayu, mantan pacar Aksa itu memastikan bahwa Aksa tak akan rugi jika terus berhubungan badan dengannya. Secara sederhana Syakila menyatakan bahwa jika Aksa ‘jago’ di ranjang, Claudia sekali pun akan bertekuk lutut kepadanya.
Pemahaman yang tak karuan itu, sukses di tanamkan Syakila di kepala Aksa saat itu. Sulit dipercaya memang, ketika bertemu Syakila, kakak sambung Claudia ini memang tergolong polos, kesehariannya cuma di isi dengan belajar.
Gol Aksa memang cuman satu, ingin membuat kedua orang tuanya bangga. Terlebih dipikirnya jika ia belajar dengan giat, nenek angkatnya, Indah mungkin saja akan berhenti menghina Aini, ibunya.
Tapi, semua itu hancur dalam satu malam, persis seperti saat ini. Aksa sama sekali tak bisa berpikir, ia paham benar jika dalam waktu dekat akan ada masalah besar yang menimpa dirinya.
Dengan percaya diri perempuan itu menyentuh tangan dada bidang milik Aksa yang tak tertutup sehelai benang pun. Perempuan ini sudah gila mungkin, setelah apa yang terjadi Syakila masih bisa-bisanya menggoda Aksa, ia menggigit bibir bawahnya memprovokasi pria itu.
Jelas saja, tindakan provokatif dari Syakila malah membuat Aksa semakin jijik kepada perempuan itu. Dengan kasar ia mendorong tangan Syakila, membuat mantan kekasihnya terdiam sesaat, sebelum tertawa sekencang-kencangnya seperti tak waras lagi.
“Kamu tau, aku sama sekali gak tau kalau selama ini kamu bisa sebegitu liarnya, tapi tadi malem baru pertama kali sejak kita melakukan itu, kamu bener-bener bikin aku menggila hahaha” Syakila menyeringai, ia sebenarnya kesal karena padanya kenyataannya tanpa obat Aksa sudah pasti akan menolaknya, tapi ia tak memperlihatkannya sudah terlanjur ia akan menyeret Aksa ke depan penghulu dengan cara apapun, walau ia tahu telah di tolak mentah-mentah. Syakila kembali tertawa semakin keras dari sebelumnya.
“SYAKILA…BERHENTI KETAWA, KAMU KIRA INI LUCU HAH?!” bentak Aksa, namun perempuan yang ada di hadapannya itu malah menatapnya dengan ekspresi bercanda.
“APA YANG KAMU RENCANAIN KILLA…”
Tanpa bicara lagi Syakila mengeluarkan ponselnya, ia mengunduh sebuah file lalu menunjukannya kepada Aksa.
Dunianya hancur, itulah yang dirasakan Aksa tepat saat Syakila memutarkan sebuah video. Tepatnya video itu adalah rekaman dimana mereka sedang melakukan ‘hal’ itu.
Dengan cepat Aksa merampas ponsel yang tengah di genggam oleh Syakila, ia benci melihatnya dan langsung menghapus file itu.
Syakila menatap Aksa dengan tatapan kosong, melihat Aksa yang menunjukan rasa benci saat menatap video mereka, menyisakan rasa sakit di hatinya. Sekali lagi dengan cepat Syakila meyakinkan dirinya, jika rencananya berhasil walaupun sekarang Aksa mencintai Claudia, selamanya mereka tidak akan bisa bersama. “Delete aja, aku udah kirim itu lho…” serunya sambil tersenyum.
Jari Aksa langsung terhenti, dengan perlahan ia menatap Syakila, sorot matanya penuh dengan ketakutan. Ia nampaknya sudah paham pada siapa video itu akan di kirim.
__ADS_1
“Sekarang ini pasti udah sampe di Claudia….” Ujar Syakila sambil menunjukan ekspresi mencemooh Aksa.
Aksa langsung melempat ponsel milik Syakila ke dinding hingga hancur, ia bahkan menarik tangan perempuan itu dengan kasar sambil berteriak “KURANG AJAR!!!.....”
Rasa takut sama sekali sudah tidak ada lagi, bagi Syakila ia sudah paham resikonya, kini saatnya jadi ‘game master’ sementara. “Hahaha becanda…tapi percuma juga kamu delete sih, karena memang udah aku save dan juga udah aku kirim ke ‘seseorang’” jawabnya sambil tertawa kecil.
“SYAKILA !!!” teriak Aksa.
“Eits, mas jangan marah gitu dong….kamu lho yang dateng sendiri ke aku…” jawab Syakila sambil melepaskan cengkraman tangan Aksa.
Mendengar jawaban Syakila, Aksa semakin marah. Memang benar ia datang kepada Syakila dengan niatan baik. Akan tetapi, kenapa bisa dia sebodoh itu. Sejak awal seharusnya ia sadar mantan kekasihnya tak akan pernah bisa berubah. Orang yang selalu ambisius, dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, selamanya Syakila akan tetap jadi perempuan yang sama.
Aksa langsung bangkit dari ranjang, ia mengambil seluruh pakaiannya yang berserakan dilantai, sedangkan Syakila yang membelakangi Aksa, terdiam sambil memandangi tangannya yang memerah.
“Apa yang kamu mau….” Seru Aksa sambil memakai pakaiannya. Untunglah dia memakai kaos dalaman kemarin malam.
“Minggu depan ulang tahun Claudia kan ya…”
Tebakan Aksa tepat, Syakila memang ingin menghancurkan hubungannya dengan Claudia.
“Syakila apa yang kamu rencanain hah?!”
Syakila kemudian bangkit dari ranjangnya, sambil melepas kemeja milik Aksa, lalu mengambil bajunya yang juga berserakan dilantai. “Uhm gak ada…aku cuma lagi mikirin aja kita mesti kasih apa ke dia…” ujarnya sambil mengganti baju.
“Maksud kamu???!!!” Aksa mengerutkan dahinya, sambil menarik tubuh Syakila hingga gadis itu kini menghadap kearahnya.
“Gimana kalau kita kasih hadiah, kabar pernikahan kita…” jawab Syakila dengan senyum manis tersungging di wajahnya.
__ADS_1