
A/N
Merry Christmas 🎅 untuk semua reader yang merayakan 😊
Sebagai kado dari kami untuk menemani libur akhir tahun, spesial natal dan tahun baru kami akan update 2 episode di tanggal 25 dan 3 episode ditanggal 31....
Semoga semuanya senang ya hehehe....
Oh iya jangan lupa cek cerita kami yang lain ya, judulnya Tsundere boy vs Otaku girl....
Buat yang mau tanya-tanya soal novel ini bisa juga langsung ke instagramnya author kami, @momijileaves & @sxyaal hehehe....
Once again Merry xmas, and selamat liburan buat teman-teman semuanya....
XOXO MOXYAAL
----------------------------------------------------------
__ADS_1
Bagaimana kehidupan Aksa setelah Silvana datang mengurus semuanya?. Ajaibnya semua jadi lebih baik, entah karena ingin balas dendam atas perkataan perempuan yang sudah menjelek-jelekkan ibunya itu atau entah ada alasan lain.
Yang pasti sedikit banyak, Aksa kembali menjadi pribadi yang baik dan semangatnya untuk hidup semakin meningkat.
Sore itu sepulang sekolah, Aksa masuk kedalam rumah. Pemuda itu mendapati bi Sumi dengan Silvana tengah berbincang.
“Allhamdulillah bu, setelah ibu dateng kesini den Aksa jadi ga pernah bolos lagi, udah ga merokok dan mabok-mabokkan juga, saya seneng banget bu” seru bi Sumi dengan terharu.
Silvana hanya tersenyum, dia juga turut bahagia kalau Aksa sudah ada perubahan.
“Saya kira diawal ibu benci sama mas Aksa..” ucap bi Sumi sambil tersenyum.
Silvana tertawa, memang dia bersikap seakan-akan membenci anak itu, tapi dalam hati dia tidak ada kebencian sama sekali terhadap Aksa. Baginya semua yang terjadi dengannya dan Aini sudah jadi masa lalu.
“Gimana caranya saya bisa benci sama Aksa bi, saya sayang sama dia…lagipula saya juga punya anak perempuan yang sempet gak bisa saya temuin sama sekali, sedikit banyak saya paham perasaan Aini yang berkali-kali meminta saya untuk jagain Aksa”
Aksa terdiam saat mendengar ucapan Silvana, betapa bodohnya dia saat mengira semua yang dilakukan Silvana hanya karena ingin terlihat baik dimata ayahnya. Ia baru menyadari bahwa yang dilakukan oleh sepupu ibunya itu, justru lebih banyak manfaatnya ketimbangan keburukannya.
Mulai dari saat itulah Aksa mendekatkan dirinya dengan Silvana, dan tentu saja Silvana menerimanya dengan tangan terbuka, ia selalu menjadi sandaran bagi Aksa ketika ada masalah, bahkan jadi tempat curhat Aksa juga.
Hubungan Syakilla dan dirinya juga perlahan menjauh, ia semakin dingin pada gadis itu, walaupun beberapa kali Syakilla mengajaknya untuk hang-out seperti dulu di club langganan mereka, namun Aksa memilih untuk menolak tawaran Syakilla.
Pernah satu kali Indah datang dan memaki-maki Aksa, untungnya Silvana tak lama sampai. Indah yang bilang kalau Aksa hanya menghabiskan uang putranya saja membuat Silvana geram. Ia lantas tanpa sadar mengatakan kalau ibu dari Bram itu tidak bisa sembarangan marah pada anaknya.
Iya Silvana mengatakan pada Indah, bahwa Aksa adalah putranya. Tentu saja Aksa dan Indah terdiam, dari saat itulah Indah mundur secara perlahan, tidak lagi datang hanya untuk memaki atau menyindir Aksa.
Hubungan keduanya pun semakin akrab layaknya ibu dan anak, kejadian Indah itu pun juga membuat Silvana akhirnya memaksa Bram untuk pulang ke Indonesia.
Bram akhirnya pulang, dan seperti yang sudah di duga, kehadiran Silvana jadi penerang hidup untuk Bram. Aksa pun sangat senang karena papanya kembali jadi sosok yang perhatian.
Semua berjalan lancar, akan tetapi satu hal yang membuat hidup Aksa tak lengkap. Si gadis kecil yang sejak dahulu ia cari-cari keberadaannya, ia cuma tahu nama gadis itu adalah Ariadna, tapi sekarang anak itu juga pasti sudah dewasa, bisa jadi telah lupa pada Aksa.
Di titik itu pula Aksa membulatkan tekadnya, ia berusaha mencari tahu soal Ariadnanya itu. Aksa yang sering pulang larut, kembali membuat Silvana cemas. Saat itu Aksa baru saja masuk semester 3, ia memang sedang sibuk-sibuknya.
“Iya tante, uhm…Aksa ada urusan soalnya?”
Silvana mengerutkan dahinya, urusan apa yang membuat Aksa pulang larut selama beberapa bulan ini.
“Urusan apa ka? Kampus??? Tante boleh tau gak?” tanya Silvana sambil tersenyum.
Aksa menatap Silvana, ia ragu apa harus menceritakannya pada perempuan yang kini tengah menemaninya makan itu.
“Aksa lagi cari seseorang tante…”
Silvana bingung, apa Aksa sedang mencari kerabat kandungnya?. Tapi belum sempat ia bertanya lagi Aksa keburu menjelaskan semuanya.
Ia kini sedang mencari seorang anak yang pernah ia temui di rumah sakit, mereka bahkan sangat akrab. Masalahnya anak itu terpaut jarak kurang lebih 10 tahun dengan Aksa. Ia bahkan tidak yakin kalau anak perempuan itu masih ingat dengannya.
Kaget, tentu saja. Perbedaan umur mereka yang terlalu jauh mungkin tidak jadi masalah saat mereka sudah sama-sama dewasa, tapi kalau kasusnya seperti Aksa begini, anak yang tengah dicarinya itu mungkin seumuran dengan putrinya yang baru mau masuk SMP 2 tahun lagi. Bukannya itu masuk ke pedofilia, pikir Silvana.
Tapi semakin ia menggali tentang seberapa pentingnya gadis itu untuk Aksa, dia semakin sadar kalau Aksa terjebak cinta platonic, tanpa melibatkan nafsu ia tulus memiliki perasaan dengan gadis itu.
Alasan Aksa untuk hidup dan terus berjuang juga karena gadis itu, Silvana menyadarkannya beberapa tahun lalu, jika ia tak akan bisa melihat gadis kecilnya lagi kalau masih bersikap buruk.
Hari demi hari pencarian Aksa terus berlanjut, ia pun juga sering menceritakan tentang gadis itu pada Silvana. Namun pencarian itu terhenti beberapa saat ketika Bram mendiskusikan soal melamar Silvana pada Aksa.
Waktu Aksa akhirnya terpakai untuk mendekatkan kedua insan tersebut, ia semakin jauh dari tujuan mencari ‘Ariadna’ kesayangannya itu.
Kebahagiaan saat itu bagi Aksa adalah ketika Bram akhirnya mendapatkan lampu hijau dari Nesya untuk melamar Silvana. Memang awal kedekatan mereka Aksa tidak setuju, namun ia juga paham bahwa papanya itu masih muda dan butuh pendamping. Sejujurnya Aksa juga tidak membayangkan perempuan lain menjadi ibunya, selain Silvana.
Tapi bagaikan punya masa kadaluarsa, kebahagiaan Bram itu rupanya kembali harus dibayar mahal oleh orang lain. Aksa masih ingat benar saat itu.
Ia baru saja pulang dari kampus, ketika papanya sedang melihat album foto yang di pinjamkan oleh calon mertuanya. Isi album foto itu adalah kenangan ketika mereka masih muda, dan juga putri semata wayang Silvana, dengan kata lain calon putri sambungnya.
“Papa lagi liat apaan itu…” tanya Aksa sambil tersenyum, ia pun turut duduk bersama papanya di ruang tamu.
__ADS_1
“Ini lho fotonya Ana sama calon ade kamu Ka…”
Aksa yang penasaran pun mulai bertanya tentang calon adiknya itu, karena Bram memang sudah terlebih dahulu mengetahui dan beberapa kali bertemu dengan putri dari mantan tunangannya itu. Namun tentu saja tidak memperkenalkan dirinya sebagai calon suami Silvana, hanya bilang kalau mereka teman sejak kecil.
Walaupun diawal curiga, toh pada akhirnya putri dari Silvana itu tidak ambil pusing dengan Bram.
“Nama anaknya tante Ana siapa emangnya pa?” tanya Aksa sambil meminum jus jeruknya.
“Claudia…” jawab Bram santai.
DEG…Claudia? Aksa terkejut. Selama pencariannya itu ada satu fakta tambahan yang dia temukan, nama gadis kecil yang dulu sering main bersamanya itu adalah Claudia Ariadna Mahendra, pemilik rumah sakit tempat ibunya dirawat.
Tangan Aksa mendadak jadi dingin, ia menatap papanya seraya meminta papanya meminjamkan satu album yang memajang foto Claudia.
Aksa langsung lemas, benar saja dugaannya. Claudia yang dimaksudnya ada di foto itu. Ia membalik album foto tersebut berkali-kali dan mendapati memang ‘Claudia’ itulah yang di carinya selama ini.
“Oh ok, Aksa, kenalkan saya Zen, Zen Aramazd Mahendra ayahnya Claudia”
Aksa teringat waktu ayah dari Claudia memperkenalkan dirinya. Pemuda ini masih harap-harap cemas, dan berdoa semoga takdir tak sekejam ini padanya.
“Pa, mantan suami tante Ana, siapa namanya pa?” tanya Aksa dengan suara bergetar.
“Nama mantannya? Zen Aramazd Mahendra”
Aksa menjatuhkan album foto itu, dia langsung bergegas masuk ke kamarnya, berusaha menenangkan pikiran.
Keesokan harinya Aksa yang masih belum bisa menerima kenyataan pergi kerumah Silvana dengan membawa satu foto milik Claudia dengan mengenakan kimono dan riasan rambut khas Jepang.
Ia mengikuti Claudia yang sedang berjalan keluar dari rumah, gadis ini memang pulang pergi jalan kaki dari rumah kesekolah tiap hari, atau terkadang naik sepeda, namun karena hari ini dia harus membawa perlengkapan pramuka, berhubung ada perkemahaan sabtu minggu di sekolahnya, ia memilih jalan kaki.
Terlalu fokus mengikuti Claudia Aksa tidak sadar kalau ada lubang di depannya, ia pun terjatuh membuat gadis yang kini tengah di ikutinya tersadar dan menengok kearah Aksa.
“Ya ampun, kak…kakak gak apa-apa?” tanya Claudia pada Aksa.
Air mata Aksa mengalir, gadis itu memang ‘Ariadna’nya. Ia menangis sejadi-jadinya.
“Kak, aduh gimana ini kakak mau kerumah sakit?” tanya Claudia bingung, karena ia kira mungkin Aksa patah tulang atau apalah, pemikiran anak SD.
“Ng….nggak usah….saya gak apa-apa…cuma…”
“Claudia…”
Suara yang memanggil nama Claudia membuat gadis itu menoleh, ia lalu berlari kearah orang yang memanggilnya.
“YOOOO ALIF…”
“Lo lagi ngomong sama siapa ?”
“Itu sama kakak yang jatuh tadi….” Saat Claudia berbalik, dan ingin menunjuk ke arah Aksa, orangnya sudah tidak ada.
“Lha mana itu orang?” tanya Claudia bingung.
Icha yang pergi bersama Alif pun langsung menarik tangan Claudia, karena memang hari sangat mendung “Claudia yuk cepetan udah mau ujan ini, gerimis”
Claudia mengangguk, ia pun ikut Alif dan juga Icha berjalan masuk ke gerbang sekolah.
‘Aneh, kok kakak itu gak asing ya, suaranya juga…dia siapa ya?” gumam Claudia dalam hati, tapi ya memang dia tidak bisa mengingat semuanya.
Beda dengan Claudia, Aksa kini berjalan gontai ia menangis, namun untungnya hujan lebat sehingga air matanya pun tak tersamarkan. Ia langsung pergi ke kediaman Silvana, ia tidak bisa setuju kalau begini caranya, mana bisa dia menjadi kakak dari satu-satunya perempuan yang ia cintai di dunia ini.
Aksa kini sudah basah kuyup, ketika sampai di depan rumah Silvana. Ia memencet bel dengan kondisi tubuh yang sudah tidak punya tenaga lagi sebenarnya, dia masih shock berat.
Ketika pintu terbuka, ada Nesya yang menyambut Aksa. “Lho nak Aksa, ada apa kesini, ya ampun kamu basah semua”
“Eyang maaf, boleh Aksa ketemu sama tante Silvana?”……
Dimulai dari hari itulah kehidupan Aksa berubah, ia berusaha lebih keras bahkan memutuskan untuk putus dengan Syakilla, hubungan mereka juga sudah tidak bisa dipertahankan lagi, Syakilla kuliah di Yogyakarta dan beberapa kali Aksa mendengar kabar bahwa pacarnya itu selingkuh, namun karena pada dasarnya dia tidak mencintai Syakilla dia tidak ambil pusing.
__ADS_1
Akan tetapi saat ini berbeda, semua harus jelas. Dia harus menyelesaikan segala urusannya agar bisa membuat Claudia nantinya nyaman berada disisinya. Semua hanya untuk Claudia.