
“Udah semuanya?” tanya Silvana pada Claudia.
Claudia mengangguk, sedangkan bi Sumi memasukan tas terakhir miliknya kedalam mobil.
“Ade udah bilang sama Pak Alex, kalau nanti udah bisa cap tiga jari, pak Alex bisa langsung kabarin bunda…” ucap Claudia, ia memeluk Silvana dengan erat.
Di dalam rumah mereka kini penuh dengan orang-orang. Acara ijab Kabul itu akhirnya diadakan di rumah mereka sedangkan resepsinya di Gedung.
Pada detik-detik terakhir perempuan yang sudah sah jadi istri Aksa beberapa saat yang lalu itu, meminta hingga memohon agar acaranya diadakan di rumah saja dan mereka menyanggupinya. Alasannya, pasti karena ingin membuat Claudia menderita melihat pria yang di cintainya harus bersanding dengan orang lain.
“Kalau nanti kamu pulang kesini buat cap tiga jari, kamu bakalan pulang kesini kan??” tanya Silvana dengan suara sedih.
Claudia langsung terdiam, ia sama sekali tidak berencana untuk pulang ke rumah itu dalam waktu dekat. Bahkan menurutnya lebih baik bagi dirinya jika tidak kembali ke rumah yang dimana ada Aksa dan Syakila di dalamnya.
“Nanti ade kabarin ya bun…” ucap Claudia sambil memeluk Silvana dengan erat.
-----------------------------------------------------------------
Aksa yang kini duduk bersama-sama dengan Syakila termenung, ia masih bisa merasakan betapa mengerikannya saat ia harus mengucapkan ijab kabul kepada penghulu. Saat itu Claudia duduk persis di belakangnya, beberapa kali Aksa menoleh dan mendapati Claudia tertunduk lesu, menahan air matanya yang hampir saja menetes.
“Maaaas kamu laper gak?? Aku ambilin makanan ya???” seru Syakila sambil menarik mesra lengan Aksa.
Terlihat sekali bahwa perempuan ini sangat bahagia, ia bahkan tidak malu untuk menunjukan rasa cintanya yang teramat besar pada sang suami. Banyak orang yang mengira bahwa kedua pasangan itu sungguh tengah di mabuk cinta, padahal pada kenyataannya Aksa merasakan hal kebalikannya.
“Lepasin tangan aku Kila…” ucap Aksa dingin.
“Gak mau…sekarang kamu udah sah jadi suami aku !! terus kenapa kamu gak mau aku nempel sama kamu? Mas Aksa harus lupain Claudia, aku yang jadi istri kamu bukan dia tau gak!!!”
Mendengar Syakila menegaskan bahwa dialah yang telah menjadi istrinya dan berhak atas diri Aksa, membuat pria ini marah luar biasa.
Aksa langsung berdiri dari duduknya, rahangnya mengeras ia sudah muak duduk disamping Syakila dan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, seakan-akan mereka adalah pasangan yang sedang berbahagia. Ia sungguh sudah sangat muak.
Tanpa berlama-lama lagi Aksa pun meninggalkan Syakila di pelaminan sendirian, rasanya Aksa ingin berteriak dan membentak Syakila, namun ia juga masih tau diri. Bagaimanapun Syakila adalah seorang perempuan, terlebih statusnya sudah berubah kini.
__ADS_1
Ditinggalkan sendirian di pelaminan tentu bukan opsi yang ingin Syakila pilih, ia langsung tau kemana Aksa ingin pergi, sudah pasti suaminya itu ingin bertemu dengan Claudia. Seandainya saja Reiki bisa datang, semua akan jadi lebih mudah untuk perempuan itu, sayangnya patner kejahatannya tak bisa memenuhi undangan.
Reiki bilang hari ini ia harus pergi ke luar negeri karena ada sesuatu yang harus diurusnya, ia hanya mengirimkan karangan bunga, lengkap dengan sejumlah kado untuk perempuan itu, termasuk apa yang di janjikan Reiki ketika mengajak Syakila bekerja sama dengannya.
Syakila kini mengejar Aksa yang berjalan cukup cepat di depannya menuju ke lantai dua. “Mas Aksa, tunggu…kamu mau kemana…” ucap Syakila sambil memegang pundak Aksa.
Aksa membalikan badannya, ia menatap Syakila dengan dingin, perempuan itu sempat bergidik ketakutan. Selama bersama dengannya walaupun kesal Aksa tidak pernah memberikan ekspresi seperti itu, dalam hati kecilnya Syakila menyadari bahwa pria itu memang sudah sangat membencinya.
“Kamu jangan ngelunjak ya…aku ingetin lagi sama kamu, begitu anak itu lahir aku bakalan cek DNA, dia anak aku atau bukan. Kalau sampai bukan liat aja aku bakal ngapain kamu nanti…sekarang lepasin tangan aku…” ucap Aksa dingin.
“GAAAAAAAK !!!” Syakila berteriak sekencang-kencangnya hingga orang-orang yang ada di bawah mendengarnya.
Reaksi Aksa dengan cepat adalah menutup mulut istrinya itu lalu membawanya masuk ke kamar pengantin mereka.
“APA-APAAN KAMU KILA ?!! KAMU UDAH GILA APA HAH TERIAK-TERIAK KAYA DI HUTAN !!!” Hardik Aksa pada Syakila.
Aksa tidak habis pikir, bisa-bisanya Syakila berteriak kesetanan seperti itu. Padahal dirinya sudah menahan diri untuk tidak berteriak atau membentak Syakila.
“IYA AKU UDAH GILA, AKU BENER-BENER GAK BISA MIKIR LAGI…KAMU KIRA AKU SENENG KAYA GINI HAH?! KENAPA SUSAH BANGET BUAT KAMU LUPAIN PEREMPUAN BODOH KAYA DIA !!! APA BAGUSNYA PEREMPUAN BEGAJULAN, KASAR DAN BAHKAN GAK MAU PERJUANGIN KAMU SAMA SEKALI?!! KENAPA HARUS DIA, KENAPA BUKAN AKU !!!!” Syakila berteriak terus menerus, untunglah kamar Aksa lumayan kedap suara, jadinya walaupun perempuan itu berteriak tanpa henti, dia masih bisa bernapas lega karena pembicaraan mereka mungkin tak akan terdengar oleh orang lain.
“Jawabannya mudah, karena aku cinta dia dan dia jauh dari apa yang kamu pikirkan. Dia perempuan yang lembut, perhatian, dia tahu apa yang aku butuhin bukan apa yang aku mau, dia selalu ada untuk mensupport aku…dan kalau kamu bilang dia ga memperjuangkan aku…kamu salah…” Aksa berdiri berjalan kearah jendela sambil membuka tirai kamarnya, menatap ke arah luar.
“Selama ini akulah yang kurang berjuang untuk dia, kebodohan aku membuat kita berdua berakhir disini. Semestinya dari awal aku gak memikirkan jalan singkat untuk memenangkan hatinya, karena perasaan Claudia sendiri udah tertaut sama aku..” Ya kebodohan terbesar Aksa adalah meragukan perasaan Claudia pada dirinya, seandainya waktu bisa terulang ia akan mati-matian memperkuat perasaan gadis yang di cintainya ketimbang harus membuatnya cemburu.
Ia pun menyadari bahwa dirinya terlalu mudah menyerah dalam keadaan, namun ia tak menyesalinya. Baginya saat ini tujuan utamanya adalah menunggu anak yang ada di kandungan Syakila lahir.
Dalam kepalanya hanya ada bagaimana cara ia membuktikan anak itu bukanlah anaknya, memang bisa saja ia tidak menikahi Syakila namun jika memang ternyata yang dikandungnya itu adalah benih darinya, maka bayi yang tak bersalah akan jadi korban, itu yang ada dipikiran Aksa.
Terlebih bagi Aksa, ia pernah berada di posisi terombang-ambing tanpa orang tua, dan sejujurnya ia tak yakin jika bayi itu lahir Syakila akan menjaganya, apalagi ketika ia tahu perempuan itu hanya fokus kepada obsesi untuk memiliki Aksa.
Bahkan ia juga sudah memikirkan, mau itu anaknya atau bukan setelah bayi itu lahir Aksa lah yang akan merawatnya dan bukan Syakila.
“Selain itu kalau kamu tanya satu alasan besar kenapa aku gak memilih kamu, karena gak mungkin aku bisa cinta sama seorang perempuan yang menghalalkan segala cara buat mendapatkan apa yang dia inginkan…” ucap Aksa datar.
__ADS_1
Syakila terdiam, Aksa sudah sama sekali tak mau menjaga perasaannya. Apa yang ada di pikirannya itulah yang di ucapkan. Sepertinya Syakila harus memikirkan siasat lain untuk mendapatkan hati suaminya itu kembali, tentunya saat ini ia harus melakukannya sendiri tanpa bantuan Reiki.
Aksa pun membalikan badannya dan menatap perempuan itu dengan tatapan penuh kebencian. “Dengerin aku Kila…sebusuk-busuknya lelaki, tetap aja mereka tetap mau mendapatkan perempuan yang baik untuk jadi istri mereka, jadi kenapa kamu bisa dengan penuh percaya diri berpikir bahwa aku akan dengan senang hati menikah mau sama kamu?..” Aksa tersenyum sinis.
Jika Syakila ingin Aksa ikut dalam permainannya maka mari kita selesaikan dengan adil, Aksa tidak akan jatuh lagi, malahan ia sudah menyiapkan rencana balasan untuk perempuan itu, maaf saja Aksa juga bukan manusia pemaaf, ia bisa sama kejamnya bahkan lebih parah ketimbang Syakila.
Jujur saja Syakila lemas, sorot matanya berubah menjadi kelabu, senyumannya hilang begitu saja. Ia terduduk di lantai ketika Aksa mendekatinya dan berjongkok tepat dihadapannya sembari mencengkram dagunya, walaupun tidak kencang tapi ia tetap merasakan sakit. Iya, sumber sakitnya itu berasal dari kata-kata kejam yang diucapkan Aksa.
Tak pernah terlintas di benak Syakila bahwa lelaki yang kini sudah menjadi suaminya itu bisa berkata sekejam itu padanya. Tapi apa perempuan itu bisa menangis? Tidak Syakila sama sekali tidak menitikan air matanya, mana mungkin ia menangis dan terlihat lemah di depan Aksa.
“Ingat Kila, pernikahan kita ini jangan kamu harapkan bisa berjalan seperti pasangan pada umumnya. Kamu gak boleh lupa bahwa sejak awal, kita bersama untuk 2 tujuan, pertama untuk anak yang kamu kandung dan yang kedua adalah untuk bisnis. Kamu paham? Jadi jangan pernah menuntut hal lebih dari aku.” Aksa kembali tersenyum sinis, ia merasa sudah jadi gila.
Suara mobil yang di hidupkan langsung membuat Aksa melepaskan cengkramannya di dagu Syakila, ia berlari kearah jendela dan mendapati adik tirinya memasukan barang-barang ke dalam mobil. Terang saja Aksa langsung berlari keluar kamarnya meninggalkan Syakila sendirian.
“CLAUDIA !!!” teriak Aksa memanggil nama gadis yang ia cintai di dunia ini.
Tentu saja teriakannya membuat gadis itu menoleh, Aksa langsung berjalan kearah Claudia sedangkan Silvana yang masih menangis tak banyak bicara karena ia ingin memberikan waktu untuk kedua orang tersebut.
“Mau pergi sekarang?” tanya Aksa dengan wajah sedih.
Claudia tersenyum sambil mengangguk. “Iya…kakak jangan sedih terus ok…aku berangkat ya kak” ucap Claudia sambil menyalami tangan Aksa.
“Aku boleh peluk” Pertanyaan Aksa pada Claudia tak dijawab gadis itu, namun gadis itu langsung memeluk erat tubuh Aksa.
“Claudia…Claudia ku sayang….kamu harus selalu inget seumur hidup cinta ku cuma buat kamu…” ucap Aksa sambil menangis.
“Iya kak…dan aku cuma mau minta kakak untuk hidup bahagia, jangan mikir yang aneh-aneh ya kak…” Claudia pun merenggangkan pelukannya.
“Aku pamit sekarang….sehat-sehat ya semuanya….bunda salamin lagi sama papa ya…Bi Sumi ade pamit ya doain ade ya” ucap Claudia, yang di amini oleh bi Sumi.
“Bi Sumi coba tolong panggil eyang dulu, bilang kalau harus berangkat sekarang” ucap Silvana.
Claudia pun masuk ke mobil sembari menunggu eyangnya, sedangkan Silvana kini memeluk Aksa, seakan mencari sandaran kepada anak sambungnya.
__ADS_1
Di lain pihak tak ada satupun orang yang sadar bahwa dari kamar Aksa, Syakila habis-habisan mengutuki Claudia. Ia benar-benar benci gadis itu, kemarahannya memuncak ketika ia melihat Aksa memeluk gadis mungil tersebut.
‘Claudia, kamu liat nanti…kalau Aksa gak bisa jadi milik aku, dia pun gak akan pernah jadi milik kamu…’ ucap Syakila sambil menatap gadis yang dibencinya itu dengan tatapan penuh amarah.