ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 34


__ADS_3

Hari berganti, semua terlihat normal dan


berjalan seperti biasa, kecuali Claudia yang sama sekali tidak mau bicara. 3


hari sejak kejadian Icha menghilang, secara terang-terangan Claudia benar-benar


mengacuhkan Bram dan Aksa. Gadis ini hanya merespon pertanyaan Bram dengan


anggukan atau gelengan kepala.


Cemas melihat kondisi putrinya, namun


Silvana tidak bisa melakukan apapun. Secara garis besar dia tahu, bahwa Claudia


mendengar semua percakapannya dengan Zen. Sejujurnya Silvana sedih, namun ia tidak


menyesal mengungkap semua perasaannya kepada mantan suaminya itu, Zen perlu


tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ketika Aini memintanya untuk menjaga Bram dan


Aksa, apalagi memohon Silvana untuk menikahi Bram, wanita ini sesungguhnya


tidak dapat menerima permintaan saudaranya itu, tapi bagaimana lagi wasiat dari


Aini, tidak bisa ia tolak.


Beberapa tahun didekati oleh Bram, Silvana


pada akhirnya menyerah, ia kembali mencintai Bram, kehidupan wanita ini menjadi


lebih baik, ketika Bram datang dan selalu mendukungnya semenjak ditinggal oleh


Zen. Walaupun dalam hati Silvana juga masih tersisa rasa bagi Zen, namun rasa


sakit hatinya terdahulu menutupi semua perasaan cintanya. Menyesal itu kalimat


yang paling cocok untuk Silvana, seandainya saat itu dia bisa mengalahkan


egonya, mungkin saat ini dia tidak akan menempatkan siapapun pada posisi yang


sulit.


Silvana beberapa kali mencuri pandang pada


Aksa dan Claudia, dia tahu orang yang paling tersiksa akan semua kesalahan di


masa lalu itu adalah kedua anaknya itu. Jika ia bisa memutar waktu, dia pasti


akan memilih untuk menyelesaikan kesalah pahaman antara dirinya dan Zen, lalu


menjadi sahabat yang baik bagi Bram. Kalau saja bisa terjadi, Aksa dengan bebas


dapat mengutarakan perasaannya pada Claudia, dan mungkin Claudia juga tidak


akan kesulitan untuk jatuh hati pada Aksa. Tapi semua sudah terlambat, lagipula


ia juga merasa Bram mungkin adalah jodoh yang sebenarnya bagi Silvana.


Di sisi lain, hari ini Claudia sudah mulai


masuk sekolah, sambil menghabiskan sarapannya ia meminta Reiki segera


menjemputnya. Tentu saja Aksa berusaha mengetahui apa yang sedang dilakukan


Claudia, tapi gadis itu berusaha acuh, bersikap seakan Aksa tidak ada


didepannya.


“Bunda, hari ini ade ijin mau ketemu Ayah,


gak apa-apa kan?” seru Claudia dengan datar secara tiba-tiba, hingga membuat


semua orang yang sedang makan langsung berhenti.


“Jam berapa mau ketemu sama ayah de?”


tanya Silvana.


“Abis pulang sekolah, aku sama ka Reiki


mau ngobrol soal masalah lamaran” jawab Claudia tanpa ekspresi.


Aksa terkejut, ia bahkan sampai membanting


sendok dan garpunya. Lamaran apa, tidak mungkin Aksa membiarkan Claudia dan


Reiki mengadakan lamaran. Aksa langsung melihat kearah Silvana, seakan bertanya


apa yang sebenarnya telah terjadi, tapi Silvana juga tidak mengerti kenapa


Claudia tiba-tiba bersikap seperti ini, Silvana hanya bisa kebingungan dan


menggelengkan kepalanya. Sedangkan Bram yang melihat gelagat Aksa, semakin


curiga dengan putranya itu.


“Lamaran apaan Di, apa kakak gak salah


denger? kamu itu masih SMA!! Yang kamu pikirin harusnya masalah ujian, bukan


lamaran gak jelas begitu !!!!!!!” Aksa berusaha tenang, dan mengatakan bahwa


Claudia harusnya fokus dulu dengan ujian, bukan tentang persiapan berumah


tangga dengan Reiki.


Namun apa yang terjadi?, jika Claudia yang


biasanya dia pasti akan membalas omongan Aksa, dan berakhir dengan cekcok


mulut. Akan tetapi, gadis ini hanya diam, dia tidak membalas apa yang dikatakan


oleh Aksa, lebih parahnya lagi, dia bahkan bersikap seperti tidak mendengar


apapun.


“Jadi gimana bunda?, bolehkan?” seru


Claudia.


Silvana ragu harus menjawab apa, melihat


istrinya seperti itu Bram melepas kacamatanya sembari menghela nafas dengan


kasar. Ia akhirnya mengambil keputusan, membiarkan Claudia bertemu dengan Zen.


Saat ini Claudia juga merupakan putrinya, jadi menurut Bram wajar, jika dia


yang memberikan ijin.


“Pergi aja de, gak apa-apa” ujar Bram


tiba-tiba.


“Mas…” Silvana menyela, namun Bram tetap


acuh.


“Dia pergi gak sendiri, toh ada Reiki.


Lagian dia mau ketemu sama ayahnya, salahnya dimana?”


“Bukan gitu mas…” Silvana melirik kearah


Aksa yang terlihat sangat kesal.


“Udah kamu kalau mau pergi ketemuan sama


ayah, papa ijinin. Jangan lupa salamin salam papa buat ayah kamu ya de” ujar


Bram.


Tidak ada masalah sebenarnya bagi Aksa,


jika Claudia ingin bertemu dengan Zen, yang menjadi masalah adalah Reiki.

__ADS_1


Terlebih mereka ingin membicarakan soal lamaran. Yang membuat Aksa penasaran,


apa yang menjadi motivasi Claudia mempercepat semuanya, karena terakhir dengan


jelas Claudia, masih ingin lamaran terjadi tepat setelah dia menyelesaikan


ujian nasional, yang berarti hampir 1 tahun lagi, kenapa tiba-tiba semuanya


berubah setelah pulang dari rumah Icha.


“Bu, maaf itu mas Reiki udah di depan


katanya mau jemput non Claudia” seru mba Kokom.


Kaget tentu saja, karena Aksa sudah


menjelaskan berkali-kali bahwa Claudia akan diantar kesekolah olehnya, bukan


dengan Reiki. Tapi sekarang waktunya kurang tepat untuk marah, dia mengingat


apa yang dikatakan oleh Nesya dan Silvana, untuk berusaha memenangkan diri dari


amarah.


 “Semuanya


Claudia berangkat sekolah dulu” Claudia langsung berdiri dan menyalami


semuanya, sedangkan Aksa langsung berdiri, mengambil jasnya dan juga keluar


lebih dahulu daripada Claudia.


Saat Claudia sudah berjalan kearah luar,


Aksa ternyata menunggunya. Namun sekali lagi Claudia mengacuhkannya. Kesal


karena diacuhkan oleh Claudia selama 3 hari berturut-turut, Aksa pun menarik


tangan Claudia. Kini mereka sudah ada di gudang barang.


“Kakak apa-apaan ini” ucap Claudia kesal,


ia berusaha melepaskan cengkraman Aksa di bahunya, namun hasil nihil.


“Kamu yang apa-apaan Di…aku salah apa sama


kamu, sampe kamu jadi kaya gini sama aku?” Aksa menunduk, tak lama ia menaruh


dahinya tepat di pundak Claudia. Gadis itu ingin menangis, tapi ia berusaha


tetap untuk tenang.


“Aku salah apa sama kamu Di bilang ke aku…


kalau kamu kaya gini terus, aku bisa gila…” Aksa sungguh frustasi dengan apa


yang terjadi, dia sama sekali tidak ingin Claudia bersikap acuh, lebih baik


mereka bertengkar ketimbang Claudia diam, lebih baik gadis itu memukulinya


daripada menganggapnya tidak ada.


Dia rindu dengan semua yang biasa mereka


lakukan selama beberapa bulan ini. Perlahan Aksa memaksakan dirinya pada


Claudia, merengkuh gadis itu dengan posesif, satu hal yang Aksa tahu pasti


gadis yang ada di depannya ini tidak menolak pelukannya.


Claudia mungkin saja bisa dendam kepada


Aksa dan Bram, tapi ia juga tidak berbohong bahwa dia mencintai Aksa. Melihat


pria yang ia kasihi tidak berdaya di depan matanya, tentu membuat hati gadis


itu sakit. Tapi dia bisa apa, yang Claudia pikirkan hanyalah, bagaimana hidup


jauh dari orang-orang yang sangat sulit ia maafkan. Untuk itu dia harus segera


dengan Ayahnya di luar negeri.


“Ini yang terbaik ka…” seru Claudia pelan.


Aksa yang sedari tadi memeluk erat


Claudia, merenggangkan pelukkannya, dia menatap tidak percaya.


“Claudia…” Aksa memanggil pelan adik


tirinya itu, seluruh badannya begertar hebat, dia sangat shock. Menatap wajah


Claudia yang datar tanpa emosi, menambah ketegangan dalam dirinya.


“Aku…akan belajar menerima ka Reiki dan


melupakan semua tentang kakak…jadi tolong lepasin aku…” seru Claudia sembari


mendorong pelan tubuh Aksa.


Sedangkan Aksa, masih berusaha memperoses


apa yang dikatakan oleh Claudia, tentang menerima Reiki sebagai calon suaminya,


lalu melupakan semua perasaannya pada Aksa. Sesuatu yang tentu saja mengguncang


hebat mental Aksa.


“GAK…GAK, AKU GAK MAU DI!!!” Aksa kembali


menarik tubuh mungil Claudia, sedangkan adiknya itu berusaha mendorong Aksa


berkali-kali.


“Kak…tolong lepasin aku…aku bisa telat


pergi ke sekolah nanti…” Claudia mulai tidak bisa bersikap tenang, pelukan Aksa


padanya benar-benar berbeda dari biasanya.


Tanpa aba-aba Aksa langsung mencium gadis itu,


tentu saja serangan tiba-tiba dari Aksa ini membuat Claudia terperanjat, ia


berusaha menjauhkan tubuh Aksa darinya, memukuli dada bidang milik kakaknya,


namun Aksa sama sekali tidak terpengaruh. Ciuman yang tergesa-gesa dan kasar


itu Aksa paksakan pada Claudia.


Gadis ini masih berusaha melepaskan


jeratan tubuh Aksa darinya, namun Aksa masih tidak bergerak juga, bisa Claudia


simpulkan, pria ini memang punya tenaga yang kuat, seimbang dengan Reiki atau


bahkan lebih kuat, karena selama ini hanya Reiki saja yang tidak bisa


dikalahkan Claudia, tiap kali berhadapan dengan Reiki di dojo tempatnya


berlatih judo.


Lupakan soal itu, ciuman Aksa malah


bertambah liar, pria ini bahkan menarik kedua pergelangan tangan Claudia dengan


satu tangannya, dan menyematkannya di dinding yang memang berada persis di


belakang Claudia.  Tanpa ampun Aksa


memagut bibir gadis itu, bahkan leher Claudia jadi sasaran empuk bagi Aksa, ia


meninggalkan jejaknya disana sebelum akhirnya kembali mencium Claudia dan


memaksa gadis itu untuk membuka mulutnya, jelas saja Claudia berontak, tapi tangan

__ADS_1


Aksa memaksa masuk kedalam seragam sekolah yang dikenakan oleh Claudia, tangan


Aksa meraba perut mulus adiknya, ia tidak perduli dengan penolakan gadis yang


tengah ia ciumi itu.


Terkejut hingga akhirnya ia tanpa sengaja


membuka mulutnya, Claudia tak bisa percaya dengan apa yang terjadi. Pagutan


yang di lakukan Aksa semakin mendominasi, disana ia berusaha menegaskan bahwa


Claudia tidak akan pernah bisa kabur darinya.


Lalu apakah Claudia menikmati apa yang dilakukan


Aksa?, tidak sama sekali. Gadis ini merasa takut, ekspresi dan sorot mata Aksa


tidak seperti biasanya. Jelas terlihat Aksa tidak seperti biasanya, walaupun


begitu secara normal desahan masih lolos dari Claudia.


Hingga gadis ini sudah tidak sanggup


berdiri lagi, Aksa dengan sigap menopang tubuh Claudia, tanpa melepas ciumannya


yang panas itu. ia masih terus menyerang Claudia, hingga gadis itu menangis.


Pupil mata Aksa melebar, ia melepas dekapannya, dan melihat Claudia dengan


wajah yang sudah tidak karuan.


“Claudia….”


PLAAAAAAK, sebuah tamparan mendarat ke


wajah pria itu. Aksa bahkan tidak mengelak, ia secara tidak sadar merasa


pantas, jika Claudia memukulnya.


“Aku….aku benci sama kamu dan papa kamu


kak….”


“Claudia…..”


“OK, kalau kamu emang pengen kita menikah.


Buat papa kamu bercerai sama bunda aku, apa kakak bisa lakuin itu?” seru


Claudia dengan tatapan dingin penuh kebencian.


Aksa menatap Claudia tidak percaya,


memisahkan papanya dan bundanya adalah hal utama yang sama sekali tidak ingin


Aksa lakukan, dia menyanyangi Silvana dengan segenap hati, tentu ia ingin kedua


orang tuanya bersama sampai akhir hayat.


“Kamu gila apa?!” seru Aksa.


“Kenapa kakak bilang aku gila, liat apa


yang udah kakak lakuin ke aku !!!!!!”


Seragam sekolah Claudia berantakan, rambut


dan bibirnya yang bengkak selepas di serang Aksa, tentu bukan penampilan yang


cocok untuk seseorang yang akan berangkat ke sekolah.


“Aku kaya gitu karena kamu gak mau


dengerin aku Di…”


“Dan aku bersikap begini, karena kakak ga


ada berentinya nyiksa mental aku…”


Baaaam, rasanya hati Aksa seperti di tusuk


secara langsung, jadi apa yang dilakukannya selama ini hanya menjadi siksaan


mental bagi Claudia?, Aksa sungguh tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


“Claudia…kamu tahu aku cinta kamu….”


“AKU TAU !! AKU TAU….AKU JUGA CINTA SAMA


KAKAK!!!!” Claudia meninggikan suaranya, gadis ini menangis. Dia kesal dengan


apa yang dilakukan oleh Aksa.


Sedangkan Aksa sangat bahagia mendengar


Claudia bilang jika ia juga mencintai Aksa, lelaki itu kembali mendekati


gadisnya, berusaha menggapai tangan Claudia. Namun sebelum berhasil, Claudia


menampik tangan Aksa.


“Jangan….jangan sentuh aku lagi kak…”


“Di…tapi kamu bilang…”


“Aku cinta sama kakak? Iya, tapi hubungan


kita gak akan pernah berhasil kak….” Claudia menyeka airmatanya lalu kembali


melihat Aksa dengan tatapan dingin.


“Gak Di, aku yakin kita bisa….”


“Buat papa kakak bercerai dengan


bunda….kalau kakak mau aku hidup sama kakak, lakuin itu” raut wajah Claudia


berubah, walaupun masih ingin menangis tapi Aksa paham, gadis ini serius dengan


perkataannya.


Tubuh Aksa menegang, dia tahu bahwa sulit


bagi Claudia menerima keluarga barunya, tapi dia tidak tahu bahwa adik tirinya


itu sebegitu tidak bisa menerima kehadiran papa barunya.


“Kenapa kakak diam? Gak bisa kan?....”


Claudia memiringkan kepalanya, gadis itu bahkan mendongak. Gadis ini mengerti,


bahwa Aksa tidak akan mungkin bisa mengabulkan permintaannya itu.


“Claudia….” Seru Aksa sambil menunduk.


“Jadi kita udahin aja semua kebodohan ini,


jalanin peran kita sebagai adik dan kakak….” Claudia langsung bergegas pergi


meninggalkan Aksa yang kini terduduk lunglai di atas lantai. Namun saat berada


di depan pintu, Claudia berhenti.


“Aku, bakalan nikah siri sama ka Reiki,


tepat 1 minggu setelah aku ulang tahun, jadi jangan pernah lagi berpikir, kakak


bisa melakukan hal bodoh kaya tadi sama aku” Claudia pun keluar dari gudang itu


meninggalkan Aksa.


Aksa tidak bisa percaya, saat mendengar


Claudia matanya membelalak. Nikah siri, buat apa. Kenapa Claudia terlihat

__ADS_1


sangat tergesa-gesa, Aksa harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, secepatnya.


__ADS_2