
Hari berganti, semua terlihat normal dan
berjalan seperti biasa, kecuali Claudia yang sama sekali tidak mau bicara. 3
hari sejak kejadian Icha menghilang, secara terang-terangan Claudia benar-benar
mengacuhkan Bram dan Aksa. Gadis ini hanya merespon pertanyaan Bram dengan
anggukan atau gelengan kepala.
Cemas melihat kondisi putrinya, namun
Silvana tidak bisa melakukan apapun. Secara garis besar dia tahu, bahwa Claudia
mendengar semua percakapannya dengan Zen. Sejujurnya Silvana sedih, namun ia tidak
menyesal mengungkap semua perasaannya kepada mantan suaminya itu, Zen perlu
tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ketika Aini memintanya untuk menjaga Bram dan
Aksa, apalagi memohon Silvana untuk menikahi Bram, wanita ini sesungguhnya
tidak dapat menerima permintaan saudaranya itu, tapi bagaimana lagi wasiat dari
Aini, tidak bisa ia tolak.
Beberapa tahun didekati oleh Bram, Silvana
pada akhirnya menyerah, ia kembali mencintai Bram, kehidupan wanita ini menjadi
lebih baik, ketika Bram datang dan selalu mendukungnya semenjak ditinggal oleh
Zen. Walaupun dalam hati Silvana juga masih tersisa rasa bagi Zen, namun rasa
sakit hatinya terdahulu menutupi semua perasaan cintanya. Menyesal itu kalimat
yang paling cocok untuk Silvana, seandainya saat itu dia bisa mengalahkan
egonya, mungkin saat ini dia tidak akan menempatkan siapapun pada posisi yang
sulit.
Silvana beberapa kali mencuri pandang pada
Aksa dan Claudia, dia tahu orang yang paling tersiksa akan semua kesalahan di
masa lalu itu adalah kedua anaknya itu. Jika ia bisa memutar waktu, dia pasti
akan memilih untuk menyelesaikan kesalah pahaman antara dirinya dan Zen, lalu
menjadi sahabat yang baik bagi Bram. Kalau saja bisa terjadi, Aksa dengan bebas
dapat mengutarakan perasaannya pada Claudia, dan mungkin Claudia juga tidak
akan kesulitan untuk jatuh hati pada Aksa. Tapi semua sudah terlambat, lagipula
ia juga merasa Bram mungkin adalah jodoh yang sebenarnya bagi Silvana.
Di sisi lain, hari ini Claudia sudah mulai
masuk sekolah, sambil menghabiskan sarapannya ia meminta Reiki segera
menjemputnya. Tentu saja Aksa berusaha mengetahui apa yang sedang dilakukan
Claudia, tapi gadis itu berusaha acuh, bersikap seakan Aksa tidak ada
didepannya.
“Bunda, hari ini ade ijin mau ketemu Ayah,
gak apa-apa kan?” seru Claudia dengan datar secara tiba-tiba, hingga membuat
semua orang yang sedang makan langsung berhenti.
“Jam berapa mau ketemu sama ayah de?”
tanya Silvana.
“Abis pulang sekolah, aku sama ka Reiki
mau ngobrol soal masalah lamaran” jawab Claudia tanpa ekspresi.
Aksa terkejut, ia bahkan sampai membanting
sendok dan garpunya. Lamaran apa, tidak mungkin Aksa membiarkan Claudia dan
Reiki mengadakan lamaran. Aksa langsung melihat kearah Silvana, seakan bertanya
apa yang sebenarnya telah terjadi, tapi Silvana juga tidak mengerti kenapa
Claudia tiba-tiba bersikap seperti ini, Silvana hanya bisa kebingungan dan
menggelengkan kepalanya. Sedangkan Bram yang melihat gelagat Aksa, semakin
curiga dengan putranya itu.
“Lamaran apaan Di, apa kakak gak salah
denger? kamu itu masih SMA!! Yang kamu pikirin harusnya masalah ujian, bukan
lamaran gak jelas begitu !!!!!!!” Aksa berusaha tenang, dan mengatakan bahwa
Claudia harusnya fokus dulu dengan ujian, bukan tentang persiapan berumah
tangga dengan Reiki.
Namun apa yang terjadi?, jika Claudia yang
biasanya dia pasti akan membalas omongan Aksa, dan berakhir dengan cekcok
mulut. Akan tetapi, gadis ini hanya diam, dia tidak membalas apa yang dikatakan
oleh Aksa, lebih parahnya lagi, dia bahkan bersikap seperti tidak mendengar
apapun.
“Jadi gimana bunda?, bolehkan?” seru
Claudia.
Silvana ragu harus menjawab apa, melihat
istrinya seperti itu Bram melepas kacamatanya sembari menghela nafas dengan
kasar. Ia akhirnya mengambil keputusan, membiarkan Claudia bertemu dengan Zen.
Saat ini Claudia juga merupakan putrinya, jadi menurut Bram wajar, jika dia
yang memberikan ijin.
“Pergi aja de, gak apa-apa” ujar Bram
tiba-tiba.
“Mas…” Silvana menyela, namun Bram tetap
acuh.
“Dia pergi gak sendiri, toh ada Reiki.
Lagian dia mau ketemu sama ayahnya, salahnya dimana?”
“Bukan gitu mas…” Silvana melirik kearah
Aksa yang terlihat sangat kesal.
“Udah kamu kalau mau pergi ketemuan sama
ayah, papa ijinin. Jangan lupa salamin salam papa buat ayah kamu ya de” ujar
Bram.
Tidak ada masalah sebenarnya bagi Aksa,
jika Claudia ingin bertemu dengan Zen, yang menjadi masalah adalah Reiki.
__ADS_1
Terlebih mereka ingin membicarakan soal lamaran. Yang membuat Aksa penasaran,
apa yang menjadi motivasi Claudia mempercepat semuanya, karena terakhir dengan
jelas Claudia, masih ingin lamaran terjadi tepat setelah dia menyelesaikan
ujian nasional, yang berarti hampir 1 tahun lagi, kenapa tiba-tiba semuanya
berubah setelah pulang dari rumah Icha.
“Bu, maaf itu mas Reiki udah di depan
katanya mau jemput non Claudia” seru mba Kokom.
Kaget tentu saja, karena Aksa sudah
menjelaskan berkali-kali bahwa Claudia akan diantar kesekolah olehnya, bukan
dengan Reiki. Tapi sekarang waktunya kurang tepat untuk marah, dia mengingat
apa yang dikatakan oleh Nesya dan Silvana, untuk berusaha memenangkan diri dari
amarah.
“Semuanya
Claudia berangkat sekolah dulu” Claudia langsung berdiri dan menyalami
semuanya, sedangkan Aksa langsung berdiri, mengambil jasnya dan juga keluar
lebih dahulu daripada Claudia.
Saat Claudia sudah berjalan kearah luar,
Aksa ternyata menunggunya. Namun sekali lagi Claudia mengacuhkannya. Kesal
karena diacuhkan oleh Claudia selama 3 hari berturut-turut, Aksa pun menarik
tangan Claudia. Kini mereka sudah ada di gudang barang.
“Kakak apa-apaan ini” ucap Claudia kesal,
ia berusaha melepaskan cengkraman Aksa di bahunya, namun hasil nihil.
“Kamu yang apa-apaan Di…aku salah apa sama
kamu, sampe kamu jadi kaya gini sama aku?” Aksa menunduk, tak lama ia menaruh
dahinya tepat di pundak Claudia. Gadis itu ingin menangis, tapi ia berusaha
tetap untuk tenang.
“Aku salah apa sama kamu Di bilang ke aku…
kalau kamu kaya gini terus, aku bisa gila…” Aksa sungguh frustasi dengan apa
yang terjadi, dia sama sekali tidak ingin Claudia bersikap acuh, lebih baik
mereka bertengkar ketimbang Claudia diam, lebih baik gadis itu memukulinya
daripada menganggapnya tidak ada.
Dia rindu dengan semua yang biasa mereka
lakukan selama beberapa bulan ini. Perlahan Aksa memaksakan dirinya pada
Claudia, merengkuh gadis itu dengan posesif, satu hal yang Aksa tahu pasti
gadis yang ada di depannya ini tidak menolak pelukannya.
Claudia mungkin saja bisa dendam kepada
Aksa dan Bram, tapi ia juga tidak berbohong bahwa dia mencintai Aksa. Melihat
pria yang ia kasihi tidak berdaya di depan matanya, tentu membuat hati gadis
itu sakit. Tapi dia bisa apa, yang Claudia pikirkan hanyalah, bagaimana hidup
jauh dari orang-orang yang sangat sulit ia maafkan. Untuk itu dia harus segera
dengan Ayahnya di luar negeri.
“Ini yang terbaik ka…” seru Claudia pelan.
Aksa yang sedari tadi memeluk erat
Claudia, merenggangkan pelukkannya, dia menatap tidak percaya.
“Claudia…” Aksa memanggil pelan adik
tirinya itu, seluruh badannya begertar hebat, dia sangat shock. Menatap wajah
Claudia yang datar tanpa emosi, menambah ketegangan dalam dirinya.
“Aku…akan belajar menerima ka Reiki dan
melupakan semua tentang kakak…jadi tolong lepasin aku…” seru Claudia sembari
mendorong pelan tubuh Aksa.
Sedangkan Aksa, masih berusaha memperoses
apa yang dikatakan oleh Claudia, tentang menerima Reiki sebagai calon suaminya,
lalu melupakan semua perasaannya pada Aksa. Sesuatu yang tentu saja mengguncang
hebat mental Aksa.
“GAK…GAK, AKU GAK MAU DI!!!” Aksa kembali
menarik tubuh mungil Claudia, sedangkan adiknya itu berusaha mendorong Aksa
berkali-kali.
“Kak…tolong lepasin aku…aku bisa telat
pergi ke sekolah nanti…” Claudia mulai tidak bisa bersikap tenang, pelukan Aksa
padanya benar-benar berbeda dari biasanya.
Tanpa aba-aba Aksa langsung mencium gadis itu,
tentu saja serangan tiba-tiba dari Aksa ini membuat Claudia terperanjat, ia
berusaha menjauhkan tubuh Aksa darinya, memukuli dada bidang milik kakaknya,
namun Aksa sama sekali tidak terpengaruh. Ciuman yang tergesa-gesa dan kasar
itu Aksa paksakan pada Claudia.
Gadis ini masih berusaha melepaskan
jeratan tubuh Aksa darinya, namun Aksa masih tidak bergerak juga, bisa Claudia
simpulkan, pria ini memang punya tenaga yang kuat, seimbang dengan Reiki atau
bahkan lebih kuat, karena selama ini hanya Reiki saja yang tidak bisa
dikalahkan Claudia, tiap kali berhadapan dengan Reiki di dojo tempatnya
berlatih judo.
Lupakan soal itu, ciuman Aksa malah
bertambah liar, pria ini bahkan menarik kedua pergelangan tangan Claudia dengan
satu tangannya, dan menyematkannya di dinding yang memang berada persis di
belakang Claudia. Tanpa ampun Aksa
memagut bibir gadis itu, bahkan leher Claudia jadi sasaran empuk bagi Aksa, ia
meninggalkan jejaknya disana sebelum akhirnya kembali mencium Claudia dan
memaksa gadis itu untuk membuka mulutnya, jelas saja Claudia berontak, tapi tangan
__ADS_1
Aksa memaksa masuk kedalam seragam sekolah yang dikenakan oleh Claudia, tangan
Aksa meraba perut mulus adiknya, ia tidak perduli dengan penolakan gadis yang
tengah ia ciumi itu.
Terkejut hingga akhirnya ia tanpa sengaja
membuka mulutnya, Claudia tak bisa percaya dengan apa yang terjadi. Pagutan
yang di lakukan Aksa semakin mendominasi, disana ia berusaha menegaskan bahwa
Claudia tidak akan pernah bisa kabur darinya.
Lalu apakah Claudia menikmati apa yang dilakukan
Aksa?, tidak sama sekali. Gadis ini merasa takut, ekspresi dan sorot mata Aksa
tidak seperti biasanya. Jelas terlihat Aksa tidak seperti biasanya, walaupun
begitu secara normal desahan masih lolos dari Claudia.
Hingga gadis ini sudah tidak sanggup
berdiri lagi, Aksa dengan sigap menopang tubuh Claudia, tanpa melepas ciumannya
yang panas itu. ia masih terus menyerang Claudia, hingga gadis itu menangis.
Pupil mata Aksa melebar, ia melepas dekapannya, dan melihat Claudia dengan
wajah yang sudah tidak karuan.
“Claudia….”
PLAAAAAAK, sebuah tamparan mendarat ke
wajah pria itu. Aksa bahkan tidak mengelak, ia secara tidak sadar merasa
pantas, jika Claudia memukulnya.
“Aku….aku benci sama kamu dan papa kamu
kak….”
“Claudia…..”
“OK, kalau kamu emang pengen kita menikah.
Buat papa kamu bercerai sama bunda aku, apa kakak bisa lakuin itu?” seru
Claudia dengan tatapan dingin penuh kebencian.
Aksa menatap Claudia tidak percaya,
memisahkan papanya dan bundanya adalah hal utama yang sama sekali tidak ingin
Aksa lakukan, dia menyanyangi Silvana dengan segenap hati, tentu ia ingin kedua
orang tuanya bersama sampai akhir hayat.
“Kamu gila apa?!” seru Aksa.
“Kenapa kakak bilang aku gila, liat apa
yang udah kakak lakuin ke aku !!!!!!”
Seragam sekolah Claudia berantakan, rambut
dan bibirnya yang bengkak selepas di serang Aksa, tentu bukan penampilan yang
cocok untuk seseorang yang akan berangkat ke sekolah.
“Aku kaya gitu karena kamu gak mau
dengerin aku Di…”
“Dan aku bersikap begini, karena kakak ga
ada berentinya nyiksa mental aku…”
Baaaam, rasanya hati Aksa seperti di tusuk
secara langsung, jadi apa yang dilakukannya selama ini hanya menjadi siksaan
mental bagi Claudia?, Aksa sungguh tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
“Claudia…kamu tahu aku cinta kamu….”
“AKU TAU !! AKU TAU….AKU JUGA CINTA SAMA
KAKAK!!!!” Claudia meninggikan suaranya, gadis ini menangis. Dia kesal dengan
apa yang dilakukan oleh Aksa.
Sedangkan Aksa sangat bahagia mendengar
Claudia bilang jika ia juga mencintai Aksa, lelaki itu kembali mendekati
gadisnya, berusaha menggapai tangan Claudia. Namun sebelum berhasil, Claudia
menampik tangan Aksa.
“Jangan….jangan sentuh aku lagi kak…”
“Di…tapi kamu bilang…”
“Aku cinta sama kakak? Iya, tapi hubungan
kita gak akan pernah berhasil kak….” Claudia menyeka airmatanya lalu kembali
melihat Aksa dengan tatapan dingin.
“Gak Di, aku yakin kita bisa….”
“Buat papa kakak bercerai dengan
bunda….kalau kakak mau aku hidup sama kakak, lakuin itu” raut wajah Claudia
berubah, walaupun masih ingin menangis tapi Aksa paham, gadis ini serius dengan
perkataannya.
Tubuh Aksa menegang, dia tahu bahwa sulit
bagi Claudia menerima keluarga barunya, tapi dia tidak tahu bahwa adik tirinya
itu sebegitu tidak bisa menerima kehadiran papa barunya.
“Kenapa kakak diam? Gak bisa kan?....”
Claudia memiringkan kepalanya, gadis itu bahkan mendongak. Gadis ini mengerti,
bahwa Aksa tidak akan mungkin bisa mengabulkan permintaannya itu.
“Claudia….” Seru Aksa sambil menunduk.
“Jadi kita udahin aja semua kebodohan ini,
jalanin peran kita sebagai adik dan kakak….” Claudia langsung bergegas pergi
meninggalkan Aksa yang kini terduduk lunglai di atas lantai. Namun saat berada
di depan pintu, Claudia berhenti.
“Aku, bakalan nikah siri sama ka Reiki,
tepat 1 minggu setelah aku ulang tahun, jadi jangan pernah lagi berpikir, kakak
bisa melakukan hal bodoh kaya tadi sama aku” Claudia pun keluar dari gudang itu
meninggalkan Aksa.
Aksa tidak bisa percaya, saat mendengar
Claudia matanya membelalak. Nikah siri, buat apa. Kenapa Claudia terlihat
__ADS_1
sangat tergesa-gesa, Aksa harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, secepatnya.