ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 78


__ADS_3

 


 


“Claudia ayo foto dulu sini…” seru Zen sambil tersenyum.


 


 


 


 


 


Hari ini adalah hari dimana Claudia lulus dari kuliahnya, tentu kelulusan Claudia ini sangat di tunggu-tunggu oleh Zen. Rasa bangga dan lega membuat pria ini meneteskan air mata, dirinya juga merasa sedih.


 


 


 


 


 


Bukan apa-apa, waktunya bersama dengan Claudia terlewat begitu cepat hingga tahu-tahu gadis ini sudah menyelesaikan kuliahnya, entah sudah banyak momen kehidupan milik putrinya yang sudah di lewatkannya selama ini, tentu Zen tidak akan menyia-nyiakannya lagi. Pria ini tahu apa yang harus di lakukannya sekarang hingga menutup mata, ia ingin mendedikasikan hidupnya untuk menemani juga mendukung semua hal yang dilakukan oleh putrinya.


 


 


 


 


 


“Ih…ayah kenapa nangis???” Claudia menyeka air mata di pipi Zen.


 


 


 


 


 


“Ini wisuda pertama kamu yang ayah hadiri, selama ini ayah gak bisa nemenin kamu waktu wisuda SD, SMP sampai SMA juga…bahkan waktu kamu naik sabuk dan kejuaran judo pun ayah gak bisa dateng buat support kamu…maafin ayah…” Zen memeluk putri kecilnya, gelombang emosi serentak membuat keduanya menangis secara bersamaan.


 


 


 


 


 


“Claudia…”


 


 


 


 


 


Mendengar namanya dipanggil gadis itu pun menoleh, tak jauh dari Zen dan dirinya berdirilah Reiki dengan bouqet bunga berwarna-warni, di tangan kananya juga ada boneka teddy bear yang lumayan cukup besar, membuat Claudia tersenyum lebar.


 


 


 


 


 


“Ka Reiki” seru Claudia dengan semangat.


 


 


 


 


 


“Selamat ya….” Reiki tersenyum lalu memberikan hadiahnya pada Claudia, tentu saja Reiki tahu apa yang disukai oleh gadis itu. Claudia sangat suak teddy bear, semarah apapun gadisnya itu, tak mungkin ia menolak boneka beruang nan imut tersebut.


 


 


 


 


 


“Makasih ka, eh iya hari ini kita makan malam di luar, ayah bilang mau ngerayain kelulusan aku, kakak lowong kan nanti malem?”


 


 


 


 


 


“Uhm sebenernya…”


 


 


 


 


 


Reiki ragu untuk memberitahu kepada Claudia, dia sudah punya janji penting dengan seseorang dan tak mungkin di batalkan.


 


 


 


 


 


“Hari ini aku…”


 


 


 


 


 


“Kenapa? Kakak ada janji???” tanya Claudia sambil memiringkan kepalanya.


 


 


 


 


 


“Uhm iya…tapi mungkin aku bisa nyusul…” jelas Reiki.


 


 


 


 


 


Claudia mengerutkan dahinya, mungkin dia salah tapi saat ini Reiki terlihat sangat tak nyaman bahkan cenderung gugup. Semenjak kejadian soal video mesum beberapa tahun yang lalu, Claudia memang jadi lebih berhati-hati dan curigaan pada semua orang, ketimbang saat masih belum tahu soal keterlibatan Reiki dalam skandal yang melibatkan Syakila dan kakak tirinya, Aksa.


 


 


 


 


 


“Yaudah, aku juga paling ikut kumpul-kumpul dulu sebentar abis itu pergi duluan…kakak mau ketemuan sama temen-temen kakak juga???”


 


 


 


 


 


“Gak…” ucap Reiki singkat.


 


 


 


 


 


“Eeeee? Terus kakak mau ketemuan sama siapa dong kalo bukan temen-temen di kampus?” selidik Claudia.


 

__ADS_1


 


 


 


 


Seketika mata Reiki menjadi tak focus, kenapa ia tidak menjawab saja kalau yang ingin di temuinya adalah rekan sesama dokter di rumah sakit universitas tempatnya belajar. Kini ia merasa ingin mengutuk mulutnya.


 


 


 


 


 


“Maksud aku tadi iya aku mau ketemu dosen aku, mereka ngajakin aku buat ngebahas soal salah satu pasien yang lagi dirawat di rumah sakit…uhm jadi ya bukan temen kan….” Reiki berusaha menjelaskan, tujuannya jelas agar Claudia tak lagi curiga padanya.


 


 


 


 


 


“Oh gitu…ok deh…” Claudia tersenyum seakan puas mendengar penjelasan Reiki.


 


 


 


 


 


Tapi apa benar begitu?, tidak tentu saja tidak. Dalam hati gadis ini semakin curiga dengan apa yang di jelaskan oleh tunangannya itu. Alasannya mungkin sangat masuk akal, namun tindak tanduk Reiki saat menjelaskan sama sekali tidak seperti biasanya, Claudia yakin jika pria yang baru saja memberikannya boneka teddy bear itu tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


 


 


 


 


 


Yang kini bisa dilakukan oleh gadis itu adalah tetap waspada dan tak menampakan perasaannya pada Reiki, maksudnya jelas karena tak ingin Reiki juga jadi curiga pada dirinya.


 


 


 


 


 


Walaupun sudah memaafkan Reiki bukan berarti Claudia menerima kejahatan yang telah dilakukan oleh tunangannya itu, dengan alasan apapun gadis ini harus bisa menghentikan Reiki agar tak kembali berbuat suatu hal yang gila.


 


 


 


 


 


“Ka aku kesana dulu ya…di panggil sama temen-temenku…kalo nanti kakak bisa chat ayah aja ya ka….” Seru Claudia, gadis ini pun melambaikan tangannya dan di balas oleh Reiki.


 


 


 


 


 


Claudia, bagaimana bisa Reiki memberitahu dengan siapa dia akan bertemu sore ini. Ketakutan terbesarnya mulai muncul kepermukaan, kalau bukan karena hal yang penting tak mungkin ia lebih memilih untuk bertemu orang lain dan melewatkan momen perayaan kelulusan gadis yang amat ia cintai tersebut.


 


 


 


 


 


Reiki menghela nafas kasar, dia tahu berbohong sungguh tak cocok dengan dirinya. Ia memang melakukan kejahatan tapi berkata tak jujur di depan Claudia bukanlah pilihan yang akan ia ambil. Ia menutupi kesalahannya tapi memilih untuk menghindar dan tak membahas apapun yang berhubungan dengan Aksa dan juga semua keburukan yang sudah dilakukannya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


‘Mungkin ini pertama dan yang terakhir, setelah ini kita bisa hidup dengan damai…Claudia ku sayang…’ gumam Reiki dalam hati.


 


 


 


 


 


Sedikit yang diketahui oleh Reiki, bukan hanya Claudia yang memperhatikannya tapi juga Zen. Pamannya itu tahu benar apa yang sedang di lakukan oleh Reiki dan ia juga akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menghentikan Reiki, jika yang bersangkutan berusaha melakukan suatu hal yang berpotensi kembali menyakiti hati Claudia.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


Di tempat lain……


3 orang pemuda tengah duduk di sebuah restoran, salah satu dari mereka kini tengah sibuk menelepon.


 


 

__ADS_1


 


 


 


“Halo?...iya ini udah sampe kok di restoran yang di janjiin…iya tante tenang aja…gak apa-apa kok….ini udah pada sampai…ya, tante sabar semuanya pasti bisa di selesaikan baik-baik…ok, aku tutup dulu ya tan teleponnya…ok iya tan, makasih….wa’allaikumussalam…” ucap pemuda dengan syal berwarna merah tua.


 


 


 


 


 


Selesai menelepon ekspresi wajah pemuda tersebut berubah, ia benar-benar marah saat ini, rasanya ingin sekali dia membanting ponselnya di depan teman-temannya itu.


 


 


 


 


 


Ia menatap tajam kearah dua orang temannya yang kini berusaha mencari kesibukan masing-masing, karena merasa suasana menjadi sangat tidak nyaman.


 


 


 


 


 


Pemuda yang tadi bicara lewat ponsel itu menghela nafasnya kasar. Tidak bisa begini pikirnya, jika kedua orang di depannya itu masih bertingkah seakan tidak terjadi apapun, masalahnya tak akan selesai.


 


 


 


 


 


“Bisa berhenti gak ngelakuin hal-hal gak penting kaya gitu…” ucap pemuda dengan syal warna merah tuanya itu.


 


 


 


 


 


“Uhm….Co…gw….”


 


 


 


 


 


“Hanif, Eros jujur aja gw bener-bener kecewa sama kalian…lu orang tau gak, ini berhubungan sama keluarga besar gw lho…Claudia itu ade sepupu gw, lu semua gila apa ya? Nyimpen rahasia ini selama bertahun-tahun?!!”


 


 


 


 


 


Ya, ketiga pemuda itu adalah Hanif, Eros, juga Nico sepupu dari Claudia, dan merekalah yang akan di temui oleh Reiki nanti.


 


 


 


 


 


“Errrrr, gw sebenernya udah mau cerita tapi takut lo marah Co…” ucap Hanif takut-takut.


 


 


 


 


 


“Eh otak lalat emang lu kira sekarang gw gak marah? Kalo bisa gw pengen banget lempar lu pake kursi…lu gak tau nyokapnya ka Reiki udah pingsan pas denger kelakuannya ka Reiki..” jelas Nico luar biasa kesal.


 


 


 


 


 


Eros dan Hanif cuma bisa diam, mereka tau merahasiakan hal seperti ini mungkin bukan pilihan yang baik, tapi memberitahukan kepada semua orang juga bukan pilihan yang bijaksana.


 


 


 


 


 


Ditengah omelan Nico yang tidak ada hentinya pada Hanif, Eros malah memikirkan sepucuk surat yang kini tengah di genggamnya. Ia teringat sebelum berangkat untuk urusan pekerjaan bersama Hanif dan Nico.


 


 


 


 


 


‘Ka Eros, entah kenapa aku punya firasat kalo kakak bisa ketemu sama ka Reiki pas kakak pergi ke Jepang nanti…kalo kakak ketemu sama dia tolong sampein surat ini ke dia kak…’


 


 


 


 


 


Eros menundukan kepalanya lalu menutup mata, ia pernah berjanji akan selalu melakukan apapun yang diminta oleh gadis terkasihnya.


 


 


 


 


 


‘Icha, aku tau kemana hati kamu tertaut…setelah sekian lama pun kamu masih peduli sama dia…’ gumam Eros dalam hati.


 


 


 


 


 


Sebenarnya saat dititipi surat itu Eros mulai memahami alasan utama kenapa lamarannya selama 2 tahun terakhir selalu ditolak oleh Icha. Ia akhirnya mengerti kalau konflik yang dialami sahabatnya bukan satu-satunya pemicu utama hingga Icha mau melibatkan dirinya, tanpa sadar gadis itu bertindak karena ingin melindungi satu orang dan jelas itu adalah Reiki.


 


 


 


 


 


Hati Eros tentunya sakit, tapi ia berusaha mengikhlaskan semuanya, ia harus berserah diri karena semua hal yang terjadi di muka bumi ini sudah di gariskan.


 


 


 


 


 


‘Insyaallah aku amanah Cha, walaupun hati aku sakit…tapi aku akan sampaikan apapun yang ada disurat ini…’ Eros bergumam dalam hatinya sembari menghela nafas pelan.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2