
Indah berlari, rasa panik dan takut jelas terlihat padanya. Rumah sakit itu terasa sangat besar baginya.
Bagaimana tidak, adiknya Anton kecelakaan dan cukup parah. Rasanya Indah tidak sanggup lagi kehilangan orang yang ia sayangi, setelah suaminya pergi meninggalkannya akibat kecelakaan pula.
Kaki Indah mendadak lemas, saat memasuki ruangan gawat darurat. Ia merasa seluruh tubuhnya menjadi lemah.
“Astaga Anton kenapa bisa begini…” Indah membelalakan matanya, tak percaya kondisi adiknya itu sudah babak belur dan penuh luka.
Anton adiknya itu cuma bisa meringis, menyesali kejadian hari ini.
“Salahku mba….supir ku sebenernya lagi sakit, tapi aku gak bisa cari gantinya, jadi dia maksain diri untuk bawa mobil” Anton langsung murung, dia merasa sangat bersalah pada supirnya tersebut.
Apalagi supirnya itu tidak dapat diselamatkan. Beliau meregang nyawa di tempat. Tentu saja Anton semakin meradang.
Indah mengkerutkan dahinya, pada dasarnya perempuan ini tidak peduli dengan apa yang terjadi pada orang lain, yang terpenting baginya Anton baik-baik saja.
“Ya ampun Anton, kamu ga perlu mikirin supirmu, yang penting kamu selamat, fokus ke penyembuhanmu…” seru Indah.
Jelas saja Anton dan Bram terkejut dengan ucapan perempuan yang ada didekat mereka itu. Gila benar, apa nyawa orang lain itu seperti dari kertas yang tak apa kalau terkoyak?.
“Mi, mami bisa-bisanya bilang begitu…emang nyawa supirnya om Anton gak ada harganya apa?” Bram tidak habis pikir pada maminya, entah sejak kapan, maminya yang selalu terlihat baik dan sabar itu, berubah jadi pribadi yang egois.
“Mami gak peduli, yang penting adik mami sehat walafiat. Apa gunanya juga kita heboh, nanti kita kasih keluarganya uang kompensasi, beres ga usah pusing” ucap Indah dingin.
“Gila…mami udah gak waras…”
Bram tidak sanggup satu ruangan dengan ibunya, betapa tidak punya hati perempuan yang melahirkannya itu, pikir Bram.
Sesaat menunggu, tak lama suara seorang perawat memanggil.
“Keluarga bapak Bima Faresta??” Seorang suster membawa beberapa berkas, untuk ditanda tangani.
“Saya suster…” Bram mendekati suster tersebut.
“Pak ini bagaimana soal jenazahnya?
“Saya yang urus semua masalah pemakamannya…tolong sediakan aja mobil jenazahnya sekarang juga” pinta Bram.
Bram lalu menelepon Aini, meninggalkan rumah sakit dan bergegas kerumah duka.
Dengan cepat, Bram menyelesaikan semua urusan. Jenazah Bima Faresta, supir pribadi pamannya itu pun dimandikan dan di sholatkan, sesuai dengan tata cara pemakaman menurut agama islam.
Ada satu hal yang membuat Bima terenyuh, sosok anak lelaki yang kurus, dengan matanya yang bulat, dan terlihat seperti tidak terlalu keurus.
“Ayah kenapa bude….kok ayah ditutupin gitu?” tanya anak ini dengan polos. Tapi tidak ada satupun yang menjawab, semuanya larut dalam kesedihan.
“Istrinya dimana?” tanya Bram pada salah seorang bawahannya.
“Istrinya pak Bima meninggal setelah melahirkan anaknya pak, selama ini pak Bima itu single parent, anaknya satu itu, Aksa namanya” jawab bawahannya dengan nada sedih.
Aksa sebatang kara sekarang, dia tidak punya siapa-siapa lagi. Karena itulah Bram bertanya ke beberapa orang yang ada disana, mencari informasi yang mungkin saja berguna.
Rupanya dahulu Bima seorang pengusaha juga, lumayan sukses, tapi dia di tipu rekan bisnisnya. Bima masuk penjara selama beberapa tahun, setelah ia kembali, istrinya kemudian hamil dan melahirkan Aksa, naas saat mengandung, istrinya itu tidak dalam kondisi yang sehat, sehingga melahirkan pun mereka butuh biaya yang besar.
Alasan Bima memaksakan untuk bekerja padahal sedang sakit pun, karena hutang keluarganya masih banyak, dan dari perusahaan selalu ada uang tambahan, jika bekerja diluar jam kantor.
“Tolong kamu cari tahu, berapa jumlah hutang almarhum, dan juga kamu pastikan pada siapa beliau berhutang. Saya akan lunasi semuanya” titah Bram pada pegawainya.
Bram bersedih, ia merasa kasihan. Jika di posisi Bima, mungkin dia tidak akan sanggup memikul beban seberat itu, merawat dan membesarkan anak sendirian, belum juga harus dikejar-kejar hutang.
Aksa hanya terdiam melihat tubuh ayahnya yang sudah terbujur kaku di hadapannya. Yang diingatnya adalah, janji sang ayah tadi pagi sebelum berangkat kerja, untuk membelikannya es krim saat kembali nanti.
Aini dilain pihak, tidak hanya merasakan sedih, tapi juga duka yang luar biasa. Bagaimana tidak, ia pernah berada di posisi anak itu.
__ADS_1
Tidak sedetikpun Aini meninggalkan anak lelaki itu, dengan telaten dia menyuapi Aksa, yang berkali-kali menolak untuk makan, padahal hari sudah malam.
Khawatir pada nasib anak itu, perempuan ini pun berpikir untuk membawa Aksa kerumah mereka.
“Mas, apa aku boleh ajak Aksa kerumah kita?” tanya Aini, sambil memangku Aksa yang tidur.
“Sayang…”
“Aku mohon…” pinta Aini sambil menitikan air matanya.
Begitulah, Aini jatuh hati pada Aksa, dan anak itu mulai tinggal dirumah keluarga Bram dengan damai selama beberapa hari, hingga keluarganya datang dan membawa Aksa kembali.
Hati Aini terus terang saja, hancur. Dia ingin mengadopsi Aksa, tapi keluarga Aksa tidak mengijinkan.
2 bulan setelahnya karena terlalu kangen Aini tanpa sepengetahuan Bram berniat pergi menemui Aksa, tapi sayangnya anak itu tidak ada di tempat.
Menurut para tetangga, kerabat Aksa tidak ada yang berniat menampung anak itu, jadilah Aksa menghilang tanpa jejak.
Yang parah setelah mencari tahu lebih lanjut, seluruh uang pertanggung jawaban dari perusahaan keluarga Bram, di bawa kabur oleh kerabat Aksa.
Dengan seluruh usaha, akhirnya mereka menemukan Aksa. Lalu membuat anak lelaki itu masuk kedalam yayasan yang didirikan oleh mendiang ayah Bram.
Sebuah yayasan yatim piatu, iya ayahnya memang seorang dermawan, dan sosok yang sangat lemah lembut dan baik hati. Mungkin itulah kenapa Tuhan memanggilnya lebih dahulu, karena Tuhan lebih menyayanginya.
Bram baru saja pulang kerja, saat mendapati istrinya tidak ada dirumah. Dia sudah tahu Aini pergi kemana, dan hanya bisa menghela nafas pelan.
“Ibu kemana bi Sumi?” tanya Bram pada bi Sumi.
“Anu pak, tadi ibu bilangnya sama saya ada urusan sebentar…”
“Dari jam berapa perginya?”
“Siang tadi pak..”
Bi Sumi pun mengangguk, dan langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Sedangkan Bram hanya bisa menggelengkan kepalanya, Aini sudah terlalu terikat secara emosional dengan anak itu.
Hanya jadi persoalan waktu saja, saat Aini akan merengek dan meminta Bram untuk mengadopsi anak itu.
Dilain tempat, Aini baru saja selesai bermain dengan Aksa. Perempuan ini menyadari jika hari sudah larut, dan bersiap untuk pulang.
Aini melirik kearah anak itu dengan tersenyum, dia ingin membawa Aksa kerumahnya, dan tidak mengembalikannya lagi panti asuhan.
“Tante mau pulang sekarang?” Aksa selalu bersikap seperti ini, menunduk dan menahan tangis, tiap kali Aini bersiap pulang meninggalkannya sendirian.
“Hmmm iya…” Aini kini mendekati Aksa, dan memeluk anak itu.
Aksa pun membalas pelukan erat dari perempuan yang selalu ada untuknya.
Bukan hanya Aini saja yang merasa terikat batin dengan Aksa, tapi anak itu pun merasakan hal yang sama. Ditinggal pergi oleh ibunya sejak masih bayi, Aksa bahkan tidak tahu bagaiman rupa ibunya.
Bagi anak itu kini, jika ditanya bagaimana rupa ibunya dia hanya bisa menjawabnya dengan menggambarkan sosok Aini.
Anak ini sudah mulai merasa istri dari Bram itu, adalah ibu yang dikirimkan oleh Tuhan baginya.
Melihat Aksa yang murung, Aini tidak tega. Ia berpikir untuk mengajak Aksa ikut dengannya hari ini, menginap dan membicarakan proses adopsi secepatnya.
“Aksa mau ikut tante pulang kerumah?” tanya Aini sambil tersenyum.
Mendengar Aini mengajaknya pulang juga, wajah Aksa langsung berseri-seri. Dia senang luar biasa, hingga tanpa sadar Aksa melompat kegirangan.
“Emang boleh tante…” tanya Aksa sambil tersenyum.
__ADS_1
Aini ikut bahagia melihat Aksa sesenang itu, padahal hanya diajak menginap, dan biasanya mereka cuma akan membaca buku bersama-sama.
“Coba tante tanya dulu ya…” ujar Aini lalu bergegas menanyakan kepala panti asuhan.
“Ung iya hehehe”
Sebenarnya, setelah kerabat Aksa membawa kabur uang pertanggung jawaban dari perusahaan, Aksa sempat menggelandang beberapa saat, namun itu tidak berlangsung lama, karena pencarian tersebut berbuah hasil manis, dan Aksa di temukan.
Aini pun lanjut memohon kepada pengurus yayasan, yang memang stay ditempat itu.
“Tapi bu, saya takut nyonya Indah marah….” Seru pengurus dengan raut ketakutan.
“Saya bakalan bilang sama suami saya, ibu tenang aja…besok siang saya bakalan balikin Aksa kesini kok, boleh ya bu….saya mohon…”
Pengurus yayasan itu pun kasihan pada Aini dan Aksa, dimata mereka semua, kedua orang itu bagaikan ibu dan anak kandung yang terpisah.
“Baiklah kalau begitu bu…”
“Terima kasih banyak…” Aini kegirangan dan memeluk pengurus tersebut, tentunya melihat hal itu banyak orang yang tertawa kecil.
Aini berlari menuju Aksa yang menunggunya sambil duduk di bangku taman.
“Ayo Aksa kita pulang…” Ucapan Aini itu membuat Aksa tersenyum, anak kecil itu langsung berdiri dan memeluk Aini.
“Aksa boleh ikut tante?” tanya Aksa dengan tersenyum lebar, dia tidak menyembunyikan kebahagiaannya itu.
“Uhum iya boleh, bahkan tante janji besok terakhir kali kamu pulang kesini?” sudah cukup pikir perempuan ini, dia sudah bolak balik panti asuhan, dan sudah membulatkan niat, malam ini dia akan meminta Bram, agar bisa mengadopsi Aksa.
“Terakhir kali ???….”
----------------------A/N--------------------
Mana suaranya yang makin kesel dan rasanya ingin berkata kasar sama keluarganya Bram hahaha…
Kali ini author kasih note, karena chapter ini termasuk sangat sensitif bagi banyak orang, termasuk author sendiri.
Apa yang dilakukan Indah di chapter ini saat tahu kalau papa kandungnya Aksa wafat menurut kalian bisa dimaafkan gak?
Pasti banyak yang bilang dan berpikir, ‘mana bisa’ atau ‘mana mungkin’.
Faktanya, di banyak kejadian seperti ini, normalnya banyak manusia yang bersyukur ketika kerabatnya selamat, dan memilih untuk tidak peduli pada korban yang lain.
“Untung bukan keluargaku/ Untung bukan dia…”
Hal seperti ini manusiawi, karena manusia memang sudah pada dasarnya egois, yang membedakan hanya di rasa simpati dan empati.
Apa yang dilakukan Indah merupakan kesalahan, tentu saja iya, dia tidak punya rasa empati dan simpati yang cukup, untuk turut berduka.
Lalu dari cerita novel ini apa sih yang bisa di ambil?, karena saya yakin banyak teman-teman yang kesal, konflik di cerita ini terlalu ribet. Jawaban saya adalah, saya tidak menyarankan kalian yang dibawah umur 13 tahun membacanya, karena ya kehidupan orang dewasa itu memang seperti itu, ruwet bin ribet, walaupun banyak juga yang enjoy-enjoy aja, tapi ingat tidak semuanya. LOL.
Beberapa dari teman-teman, pasti mumet kan banyak masalah dari novel ini. Itu semua sengaja, karena memang problematika kehidupan, tidak akan menunggu untuk diselesaikan satu persatu. Hidup manusia memang bagai drama korea, yang lebih banyak sad endingnya.
Di novel ini pun, saya berusaha menggambarkan bahwa memang ada manusia-manusia yang karakternya seperti Indah, Syakilla, Reiki, Bram, Silvana, Claudia dan juga Aksa, cerita ini pun beberapa konfliknya saya sadur dari kejadian nyata, betapa dramanya hidup manusia itu.
Terakhir, batasan benar dan salah itu sangat tipis, tergantung sudut pandang seseorang.
Tapi saya yakin tidak ada satupun manusia yang dari awal jahat, banyak aspek pendukung yang membuat orang itu berubah. Karena pada dasarnya manusia itu makhluk dinamis.
Intinya hidup merupakan pilihan, kita bisa maju atau mundur dari pertaruhan takdir. Namun pada intinya sejauh apapun kita memutar, proses kehidupan itu tidak akan bisa di curangi.
Selamat membaca chapter selanjutnya,
__ADS_1
xoxo Moxyal.