ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 43


__ADS_3

PLAAAAAK, sebuah tamparan melayang ke wajah tampan milik Aksa. Iya, Bram menampar Aksa dengan sekuat tenaga. Aksa sampai tersungkur di lantai, pemuda ini memilih untuk tidak membalas pukulan dan tamparan dari ayahnya.


“KAMU MASIH WARAS GAK?!” tanya Bram sambil menarik kerah baju Aksa.


“Mas udah mas…” Silvana menangis melihat Aksa yang sudah pasrah menerima tamparan juga makian dari Bram.


Silvana dan Bram memang pulang terakhir, kedua orang ini bersama pengurus vila milik mereka membereskan barang yang ditinggalkan semua orang.


Dalam situasi yang tidak kondusif itu, Silvana berkali-kali memohon kepada Bram, untuk bicara dengan tenang saat bertemu Aksa nanti, tapi ayah sambung Claudia ini geram atas apa yang diperbuat oleh anak sulungnya itu.


Sebenarnya yang membuat Bram sangat murka, bukan hanya karena Aksa memukuli Reiki sampai babak belur begitu, tapi kenyataan bahwa semua kekhawatirannya itu terjadi juga.


Sejak awal Bram memang sudah mencium gelagat tidak beres dari putranya, tapi ia masih menepis semua kekhawatirannya. Pikir Bram, si sulung berusaha dekat dengan Claudia, karena ia ingin putri sambungnya menganggap Aksa sebagai seorang kakak.


Tapi semua kenyataan yang ada di depannya itu, seperti menamparnya hingga titik terendah. Sejujurnya pria ini hancur melihat Aksa kembali berbuat onar, setelah sebelumnya sempat tobat karena di bimbing oleh Silvana.


“Aksa masih waras pa, kalo Aksa ga waras udah dari dulu Aksa culik Claudia, atau bisa aja Aksa hamilin Claudia, kalo udah gitu kalian bisa apa?!” jawab Aksa sambil tersenyum sinis pada papanya.


Silvana langsung terduduk lemas, ketika mendengar Aksa bicara semudah itu soal menghamili anak gadisnya, rasanya wanita ini mau pingsan. Untungnya, Nesya sedang tidak ada dirumah, ibunya itu sedang berkunjung kerumah Zen, untuk membawakan barang-barang Claudia.


Bram dilain pihak merasa Aksa melemparkan kotoran kewajahnya, dia malu akan sikap Aksa, bagaimana anak lelaki yang selalu dia banggakan itu, bisa berpikir serendah itu. Tamparan dari Bram pun terbang sekali lagi kearah Aksa, namun untuk kali ini Aksa menepisnya.


“AKSA!!!”


“Udah cukup pa, papa pukulin Aksa….” Aksa mengenggam kuat pergelangan tangan Bram.


Sedangkan papanya itu, sudah kepayahan untuk melepaskan diri. Namun pria ini masih tetap berusaha melepaskan tangannya dari Aksa.


“KAMU !!!”


Aksa mengambil nafas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia merasa seluruh hidup dan masa depannya dipertaruhkan saat ini.


Dia sudah lelah dengan seluruh sandiwara yang harus dilakukannya. Ia juga muak dengan kondisinya saat ini. Dia mau Claudia, dia ingin gadis itu jadi istrinya, dan yang pasti papa juga bundanya, harus memberikan izin agar bisa menikah dengan adiknya tirinya.


“Satu hal yang papa harus tau, dari awal Aksa gak pernah anggap Claudia itu sebagai seorang adik. Dari dulu sampai sekarang, bagi Aksa, cuman Claudia satu-satunya perempuan yang akan Aksa nikahi nantinya”


Wajah Bram memerah, bukan karena malu tapi karena emosinya sudah memuncak, entah apa yang dipikirkan oleh anaknya itu. Aksa sudah tidak waras pikir Bram.


“GILA KAMU…” teriak pria itu dengan sekuat tenaga.


Aksa awalnya tersenyum, lalu senyumnya itu berubah jadi tawa. Kakak tiri Claudia itu kini tertawa terbahak-bahak.


Silvana yang melihat anak sambungnya bertingkah begitu, merinding. Aksa sudah tidak dalam kondisi yang normal.

__ADS_1


Bram dilain pihak sangat ingin memukuli anaknya itu, seandainya dia tahu hal ini lebih cepat, itulah yang sangat ia sesali saat ini.


“HAHAHAHAHAHA…..kalian ini lucu ya….udah Aksa bilang sama papa, Aksa masih waras. Kalo gak percaya tanya aja sama bunda….” Seru Aksa sambil tersenyum lebar.


Bram langsung melihat kearah istrinya itu, Ia mengkerutkan dahinya, melihat lurus kearah Silvana, seakan meminta penjelasan. Sedangkan Silvana histeris, ini semua salahnya dan dia tau itu.


“Asal papa tahu ya, selama ini Aksa udah cari-cari Claudia lebih dari 10 tahun” Aksa yang tadi masih tersenyum, seketika tertunduk.


Raut wajahnya berubah tiba-tiba. Dia seketika menangis, bayangan akan masa lalu menyeruak dalam benak Aksa.


“Sebelum papa menikah sama bunda, Aksa selalu cerita sama bunda soal anak perempuan yang setiap hari nemenin dan selalu kasih semangat buat Aksa, saat mama dirawat di rumah sakit” Semua ini sangat sulit baginya, pria itu merindukan gadisnya, benar-benar sangat rindu.


Semua senyuman, tawa riang, serta tangisan dari Claudia, hanya itu satu-satunya yang membuat Aksa merasa menjadi manusia, bukan sebuah robot yang mengharuskannya menjadi manusia tanpa celah.


“Setelah dia pergi pun, anak perempuan itu, ah bukan Claudia, yang memberikan Aksa alasan buat tetap hidup, ketika mama meninggal dan papa pergi keluar negeri terus nelantarin Aksa gitu aja” Aksa tersenyum sini kearah Bram.


Ya pria ini pernah menelantarkan Aksa selama 2 tahun, disaat Aksa butuh seseorang untuk menguatkan hatinya, Bram justru meninggalkannya.


Ketimbang memilih untuk saling menguatkan, pria itu justru kabur menenangkan diri keluar negeri, jadilah Aksa hidup tidak karuan.


Apalagi semua diatur oleh Indah, ibunda dari Bram yang memang benci setengah mati pada Aini dan Aksa.


Bram membatu saat mendengar Aksa mengatakan apa yang dilakukannya dimasa lalu, pria ini tahu bahwa dia bersalah pada Aksa, karena itulah dia ingin memperbaikinya.


Namun putranya itu tidak berdiam diri saja, Aksa menarik tangan Bram dari kerah bajunya itu, dan menghempaskannya.


“Hah, kenapa Aksa mesti diam pa?, apa papa malu mengakui dosa-dosa papa di masa lalu?. Kalau seorang Bram Zaidan Priambudi, yang terkenal sebagai pengusaha hebat, bahkan gak bisa melindungi istrinya sendiri?. Gak bisa menjaga wanita yang katanya paling dicintai, walaupun sudah dalam keadaan sekarat?!” Aksa tertawa sinis, seakan mengejek pria yang ia panggil ‘Papa’ itu.


Kali ini Bram benar-benar tidak tahan, ia sangat marah pada Aksa. Dengan cepat ia meninju kembali wajah Aksa.


Anaknya itu pun tidak mengelak, seakan menunggu untuk dipukul setelah menyampaikan apa yang ada di otaknya selama ini, Aksa yang terjatuh bahkan tidak ingin bergerak sama sekali.


“ANAK KURANG AJAR !!!!” seru Bram.


Silvana segera berlari kearah suaminya itu, memegangi tubuh Bram agar berhenti memukuli Aksa yang sudah babak belur.


“MAAAAAS UDAH MAS!!!” teriakan Silvana yang berusaha menyadarkan suaminya, ternyata Nihil hasilnya. Bram malah semakin membabi buta memukuli Aksa.


“DASAR GAK TAHU DIRI KAMU, KALAU AKU GAK SETUJU UNTUK AMBIL KAMU DARI PANTI ASUHAN, SEKARANG KAMU ITU BUKAN SIAPA-SIAPA”


Silvana dan Aksa langsung terdiam sambil menatap Bram tidak percaya, bagaimana bisa Bram mengatakan hal yang paling pantang di bicarakan di depan Aksa.


Silvana langsung berlari ke arah putra sambungnya itu dan membantunya untuk berdiri, ia marah pada Bram yang kesetanan sendiri.

__ADS_1


Padahal sebelum Aini meninggal, Bram sudah berjanji tidak akan mengatakan dan mengungkit soal latar belakang Aksa.


Ini sudah sangat keterlaluan, apalagi akar dari masalah anak-anak mereka, ini berasal dari dari kesalahan mereka di masa lalu.


Mental Break down, itu yang dirasakan lelaki berusia 27 tahun itu, semua perlakuan kasar dan tuntutan tinggi dari keluarga besar Bram yang selalu diterima dan dijalankan olehnya, semua itu sia-sia.


“Hahaha….Oh ya, jangan lupakan rasa kasih sayang luar biasanya, buat Aksa Faresta”


Dia mulai tertawa tak terkontrol sama sekali. Dugaannya selama ini memang tepat, Bram bisa saja tidak pernah mengaggapnya sebagai anak.


“HAHAHAHAHAHA…..ANDA BENAR BAPAK BRAM ZAIDAN PRIAMBUDI YANG TERHORMAT, SAYA BUKAN SIAPA-SIAPA, SEJAK AWAL SAYA INI BUKAN ANAK ANDA. YA SAYA CUMA SEORANG ANAK YATIM PIATU, YANG ORANG TUANYA MATI KARENA KELUARGA ANDA!!!!” Aksa berteriak dengan kencang kepada Bram.


Melihat suaminya bergerak mendekati Aksa kembali, Silvana langsung pasang badan memeluk Aksa, agar tidak di pukuli oleh Bram lagi.


“Kakak udah ya kak, kita bicarain ini baik-baik” Silvana berusaha menenangkan Aksa, tapi sama saja nihil. Anak sambungnya itu menggeleng dan melihat Silvana sambil menitikan air mata.


Wanita itu akhirnya merenggangkan pelukannya, hingga Aksa melepaskan tangan Silvana dari lengannya.


“KALIAN DENGAR YA, SAYA SUDAH TIDAK PEDULI LAGI, DENGAN INI SEMUA SUDAH JELAS, SAYA PUNYA HAK UNTUK MENIKAHI CLAUDIA, KAMI BAHKAN TIDAK TERIKAT SAMA SEKALI !!!” Aksa langsung bergegas pergi meninggalkan kedua orang tuanya itu.


Silvana panik melihat anaknya seperti itu, ia pun langsung bergegas untuk mengikuti Aksa, namun lengannya di tarik oleh Bram.


“AKSA….Mas Aksa mas…”


“Biarkan, sekarang di kejar juga gak ada gunanya”


“Tapi…” Silvana takut terjadi apa-apa pada putranya, ia menangis karena khawatir.


Namun hati Bram sepertinya tidak tergerak, dia bahkan menyuruh Silvana untuk duduk dan tenang. Dia punya banyak pertanyaan untuk istrinya itu.


“Silvana, kamu gak perlu panik, Aksa sudah besar. Selain itu saya mau tanya, sejak kapan kamu tahu tentang semua ini?”


Mata Silvana yang berlinang air mata, membelalak. Ia memang tahu cepat atau lambat dia harus menceritakan semuanya pada Bram, dan ini adalah saatnya.


“Saya mau cerita, tapi mas janji satu hal sama saya…” Silvana menatap Bram dengan raut wajah sangat serius.


“Janji ?” seru Bram yang mengerutkan dahinya. Kenapa dia harus berjanji untuk sesuatu yang bahkan sudah terlihat keburukannya.


“Apapun yang terjadi, setelah saya cerita mas harus maafin Aksa, dan biarkan dia pilih jalan hidupnya sendiri, walaupun itu berhubungan dengan Claudia”


“Silvana…”


Silvana menggenggam tangan suaminya itu dengan erat, ini kesalahan mereka, dosa mereka. Bahkan tanpa sadar, keegoisan mereka telah menghancurkan hidup orang lain.

__ADS_1


“Mas tolong, aku mohon sama kamu. Semua ini dosa kita, kesalahan kita. Biarkan kita menebus semua dosa-dosa kita dimasa lalu, aku mohon mas”


__ADS_2