ME VS MY BROTHER

ME VS MY BROTHER
Episode 70


__ADS_3

Claudia memasuki sebuah café tempatnya janjian dengan Eros. Kakak angkatannya itu memintanya datang, karena ada hal yang ingin di bicarakan.


Ketika masuk kedalam café itu, betapa kagetnya ia saat melihat seorang pemuda melambaikan tangannya sambil tersenyum, tentu saja Claudia menghampiri orang itu.


Terlebih yang ada disampingnya adalah Eros yang tengah mengotak atik laptopnya.


“Lah kok ada ka Hanif disini?” ujar Claudia bingung, ia menaruh tasnya disamping dan langsung duduk.


“Ada dong, kan akoooh yang menyediakan informasi untuk kalian semua hehehe” ucap Hanif sambil tersenyum.


“Eros, lo gila ya? Kalo sampe ka Nico tau soal ini, bisa di gantung gw !!!” Claudia panik, kalau Nico sampai tahu ada kejadian seperti ini selama 3 tahun kepergiaanya untuk kuliah S2, tentu saja dia pasti murka dan menyeramahi Claudia tanpa ampun.


Hanif menepuk bahu Claudia, ia seakan mengelap air matanya, tentu hanya gesture saja.


“Bukan cuma kamu aja Di, yang keselamatannya terancam kalau Nico sampe tau. Aku pun begitu, bisa di tenggelamkan saya…jadi tenang aja, aku gak akan bilang apapun, rahasia ini aman dan selesai sampai dikita aja” terang Hanif, yang sama takutnya dengan Claudia.


“Udah gak usah pikirin itu dulu, nih lo liat Di…” Eros membalikan laptopnya kearah Claudia.


“CCTV???” tanya Claudia bingung.


Eros mengangguk, ia menunjuk kearah dua orang lelaki yang memakai hoodie berwarna hitam.


“For your information, dua orang lelaki ini ngikutin gw udah hampir sebulan”


Selama ini Eros menyadari jika gerak-geriknya selalu dipantau, walaupun ia tak mengatakan apapun, ia menyadari orang-orang yang tertangkap di CCTV depan rumahnya itu, beberapa kali terlihat di sekitaran kampusnya, bahkan di dekat masjid dimana ia biasa mengikuti kajian.


Kaget bukan main, Claudia mulai bertanya siapa yang seniat itu sampai menyewa seseorang untuk mengawasi Eros.


“Eros mungkin mereka orang suruhan keluarga lo? Secara mereka kan semua di luar negeri, mungkin mereka khawatir” ujar Claudia sambil memaksa tersenyum, ia sudah tahu kemana arah omongan Eros, dan siapa yang dituduhnya.


Senyuman Claudia menghilang tepat disaat Eros menggelengkan kepalanya. Kedua orang tua Eros sudah pulang sejak beberapa minggu lalu, tapi para pria berhoodie itu tetap ada disekitarannya.


Saat bertanya kepada kakaknya, Eros juga mendapatkan jawaban yang membuatnya langsung berasumsi.


“Gw udah tanya sama kakak gw, dia bilang bokap sama nyokap udah ga hiring orang lagi untuk mata-matain gw setelah gw aktif ikut pengajian, mereka bilang gw udah tobat ini ngapain buang-buang duit buat ngawasin gw” jelas Eros.


Telapak tangan Claudia berubah dingin, bahkan kini dirinya merasa pusing. “Ja…jadi…maksud lo…”


“Asumsi gw mereka itu orang yang disuruh Reiki buat ngikutin gw sama Icha selama beberapa bulan ini, mereka bersepuluh, tiap hari ganti-gantian ngawasin gw sama Icha”


Claudia terdiam, Icha? Kenapa sahabatnya sampai harus terlibat dalam hal seperti ini. Sungguh diluar dari yang bisa di bayangkan oleh Claudia.


Tunggu dulu kalau asumsi Eros benar, bisa jadi Icha tidak baik-baik saja. Apa sudah terjadi sesuatu pada sahabat karibnya itu? bisa jadi Icha tidak menceritakannya, karena tak ingin Claudia cemas padanya.


“Icha? Gimana kondisinya?” tanya Claudia panik.

__ADS_1


“Tenang aja, Icha gak akan disentuh sama mereka…” Hanif dengan santai membuka laptopnya, sambil memasang headset.


“Gimana kakak bisa tahu?” tanya Claudia.


“Dengerin ini…dan kamu akan tau kalau asumsi Eros itu tepat sasaran” Hanif lalu membuka sebuah folder dan memberikan headsetnya kepada Claudia.


“Perkembangan hari ini gimana…..”


Mendengar suara di file itu, jantung Claudia berdetak lebih cepat daripada biasanya, ia kenal betul siapa yang tengah berbicara. Gadis ini sama sekali tidak bisa mendengar suara orang lain yang kini tengah menjawab pertanyaan Reiki, kupingnya seketika mendenging.


Eros yang menyadari bahwa Claudia terlihat sangat pucat, langsung menghentikan rekaman yang tengah diputar. Sedangkan Hanif menepuk pelan pundak Claudia.


“Di…lo gak apa-apa???” tanya Eros.


Claudia yang tersedar langsung mengatur nafasnya kembali, ia mengangguk memberikan sinyal bahwa ia ingin mendengar lebih lanjut. Hanif lantas melanjutkan rekaman tersebut. Kini Claudia fokus kembali mendengarkan.


“Jadi gitu, ok ikutin terus anak itu….gak saya gak mau nyakitin dia, kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi sama dia gara-gara kamu, kamu sudah tahu kan apa yang bakal terjadi sama kamu dan anggota geng kamu itu?!....Ok, terus taruh anak buah kamu untuk awasin mereka, dan ingat jangan sampai ketahuan, setiap hari ganti orangnya, paham ?....Iya, bayarannya saya akan lipat gandakan kalau kalian kerjanya bener….Ok”


Air mata mulai berkumpul di matanya, Claudia hidup dengan mendengarkan suara yang tadi berbicara di rekaman tersebut. Sejak kecil Reiki lah yang menjaganya, membacakan cerita tiap kali ingin tidur, bahkan jauh sebelum ia bisa mengingat apapun, Reiki selalu menjaganya, disaat bunda dan ayahnya sibuk bekerja.


“Sekarang aku tanya, kita perlu memastikan, apa kamu kenal sama pemilik suara di rekaman tadi?”


Pertanyaan Hanif dijawab dengan anggukan oleh Claudia.


Eros dan Hanif entah mengapa merasa iba dengan Claudia, gadis ini sungguh terluka atas apa yang diperbuat oleh Reiki. Kenyataan memang sulit diterima, tapi itulah kehidupan.


“Iya, cukup sulit buat dapetin full pembicaraan mereka. Kayaknya Reiki tau betul kalau ada kemungkinan kita nyadap pembicaraannya, jadi cuma itu bisa yang aku dapetin…” ujar Hanif.


“Claudia, ini coba lo cek” Kini giliran Eros yang memberikan laptopnya.


Tubuh Claudia langsung bergetar hebat, yang ditunjukan oleh Eros adalah daftar hitam, kejahatan yang telah dan tengah dilakukan oleh Reiki.


Entah dia harus berkata apalagi, Claudia cuma ingin percaya bahwa yang terjadi padanya kini adalah mimpi.


Namun sayangnya, ini bukan mimpi semua ini nyata. Hanif mulai menjelaskan satu persatu apa saja yang di perbuat oleh Reiki. Sedangkan Eros tidak ikut menjelaskan dan sibuk dengan ponselnya.


Eros tiba-tiba mengatakan, bahwa Icha sudah berhasil meminta Reiki untuk bertemu dengannya. Seperti yang direncanakan oleh Hanif, ia ingin Icha menghentikan Reiki, atau setidaknya membuat Claudia mendengar apa yang sesungguhnya terjadi.


“Claudia, aku tau kalau membuka kebenaran itu menakutkan, apalagi disaat kamu sudah punya hint kalau ada kemungkinan besar kamu dipaksa ikut permainan mereka. Tapi, apapun itu kamu harus tau, setelah itu terserah kamu mau kaya gimana”


Ucapan Hanif menjebol pertahanan terakhir yang Claudia miliki, gadis ini akhirnya menangis sesunggukan.


“Ini sulit kak…aku sayang sama ka Reiki, dia juga segalanya buat aku…walaupun aku gak melihat dia sebagai seorang pria, dia tetap salah satu orang yang keberadaannya penting buat aku”


Hanif dan Eros saling bertatapan, kedua pria ini bingung harus berbuat apa, melihat Claudia yang mentalnya mulai down.

__ADS_1


“Aku gak tau gimana caranya hidup tanpa dia, tapi disisi lain aku gak bisa cinta sama dia, buat aku dia selalu jadi kakak yang aku sayang” ucap Claudia.


Eros menghela nafas kasar, ia merasa harus menyadarkan Claudia. Gadis itu tidak bisa bersikap manja dan langsung terpuruk begitu saja. Semua masalah ini berawal dari dirinya, jika ia lebih tegas mungkin semua ini tidak akan terjadi, pikir Eros.


“Beda sama bang Aksa?” ucap Eros ketus.


“Eros, gw sama kak Aksa itu….”


“Kakak ade??? gw tanya beda gak sama Aksa? Dari awal lo juga gak pernah liat dia sebagai kakak? Jujur aja gw bisa memahami posisi Reiki yang panik, karena gadis yang dia sukain di ambil gitu aja sama orang lain yang baru kenal kurang dari 1 tahun….”


Lelaki mana yang tidak marah, ketika perempuan yang sangat ia cintai dan jaga seumur hidupnya, begitu saja diambil orang. Sangat wajar Eros rasa, ia bisa mengerti perasaan lelaki itu.


“Di, sorry aku bukannya mau nyalahin kamu…tapi aku pikir ini makin melebar karena kamu kurang tegas de…anggaplah ini pembelajaran kamu dalam mendewasakan diri, jadi tolong jangan diulangi lagi. Kali ini pastikan siapa yang kamu pilih, atau….”


“Atau apa ka Hanif???”


“Atau jangan pilih dua-duanya…Mendingan abis ujian nasional ini, kamu pergi ikut om Zen sana, jauhin mereka berdua, mulai hidup yang baru. Tapi, kalau selama kamu kuliah, hati kamu masih terpaut sama satu orang ya kamu  tinggal balik aja kesini. Aku sih yakin manusia-manusia bucin macem Reiki sama si Aksa itu, pasti dengan senang hati bakalan menunggu”


Eros mengangguk beberapa kali, memang masih ada opsi seperti itu. Tidak perlulah memaksakan diri untuk memilih sekarang.


Setelah membahas apa yang akan mereka lakukan esok hari, akhirnya mereka menyudahi pertemuan dihari itu. Claudia keluar dari café dengan sangat lesu.


“Di…” panggil Hanif sambil tersenyum.


Claudia berjalan mendekati pria itu, ia masih menunduk sambil cemberut.


“Kakak tau kayanya bukan tempatnya untuk ceramahin kamu seperti tadi, kita gak sedekat itu sampai kamu harus dengerin yang aku omongin, tapi percaya deh aku peduli sama kamu. Buat aku adiknya Nico berarti adik ku juga, keluarga harus saling melindungi kan?” ucap Hanif menyemangati Claudia.


“Iya makasih ka…” Claudia tersenyum, ia merasa bersyukur memiliki banyak orang yang peduli padanya.


“Dan satu lagi Di…mendingan kamu ubah niat kamu…”


“Maksud kakak?”


“Sepengeliatan aku, sisi dimana kamu ingin membuktikan kalo Reiki bersih dari semua kejahatan yang dituduhkan, lebih besar daripada keinginan kamu untuk move on dan bersikap tegas…”


Apa yang dikatakan Hanif tepat sasaran, sejujurnya ia memang ingin membuktikan bahwa dugaannya selama ini salah, namun bukti-bukti yang ada berkata lain, itulah pukulan telak bagi Claudia.


“Ingat Di, kadang sebagai manusia bersikap fleksibel itu penting, tapi bersikap bimbang secara berlarut-larut itu bisa menjebak kamu dimasa depan. Kamu harus bisa membedakan, galau lama-lama dan menjadi fleksibel dalam bertindak disetiap kondisi itu ‘berbeda’ kamu paham kan?”


 


 


Claudia mengangguk, besok adalah hari penentuan….

__ADS_1


__ADS_2